Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
TERPAKSA



"Sayang, aku lapar!" Rengek Sasha saat tangan Ando mulai meraba dadanya dengan nakal. Mereka bahkan baru sampai di rumah,dan Ando seolah tak mau melewatkan kesempatan sedetikpun.


"Kita tadi sudah makan di bandara, Sha! Bagaimana ceritanya kau bisa lapar lagi?" Tanya Ando heran.


"Aku juga nggak tahu! Tapi ini perut aku lapar!" Sasha sudah bangkit dari sofa dan meninggalkan Ando yang hanya berdecak berulang-ulang. Sasha masuk ke dapur, lalu terdengar wanita itu memanggil maid di rumah. Dan setelahnya, terdengar Sasha yang mengobrol bersama maid di dapur serta denting suara piring. Sepertinya Sasha sudah mulai makan lagi.


"Ando! Kau mau makan?" Seru Sasha bertanya dari arah dapur.


"Aku masih kenyang!" Jawab Ando malas tanpa beranjak dari sofa. Sasha ternyata sudah keluar dari dapur seraya membawa piring berisi makanan dan kembali duduk bersama Ando di sofa.


"Makan!" Tawar Sasha seraya menyuapkan satu sendok makanan pada Ando.


"Aku sudah kenyang, Sha!" Tolak Ando yang tangannya masih asyik mengutak-atik ponsel. Sepertinya sedang bertukar pesan dengan seseorang. Sedangkan Sasha hanya acuh dan lanjut melahap makanannya.


"Dia aktif sekali. Kau tidak mau merasakan tendangannya?" Sasha yang akhirnya selesai makan, meraih tangan Ando dan membawanya ke atas perutnya yang membola. Sasha seolah sedang menunjukkan pada Ando, kalau calon bayi mereka suka sekali menendang. Tapi entah mengapa, saat tangan Ando berada di atas perut Sasha, calon bayi Sasha itu malah diam.


"Apa, sih?" Tanya Ando heran.


"Biasanya dia menendang kalau diusap. Coba kamu usap atau kamu ajak ngobrol," saran Sasha yang langsung membuat Ando berdecak.


"Kurang kerjaan!" Jawab Ando seraya bangkit berdiri lalu meninggalkan Sasha yang kini merengut.


Sasha tidak tahu kenapa Ando seolah tak peduli pada calon bayi mereka. Padahal jelas-jelas kalau ini adalah benih Ando dan anak kandung Ando. Ada apa sebenarnya dengan pria itu?


"Biar Mom yang usap, Sayang!" Ucap Sadha seraya menahan perih di hatinya. Sasha mengusap lembut perutnya sendiri sembari menitikkan airmata.


"Mom sayang kok sama kamu," gumam Sasha lagi dan langsung terasa tendangan dari calon anaknya yang seolah juga paham dengan kesedihan Sasha.


"Sha!" Panggil Ando yang langsung membuat Sasha cepat-cepat menghapus airmatanya.


"Ya!" Sasha mengangkat wajahnya dan menatap pada Ando yang kini melambaikan tangan ke atahnya dan memberikan isyarat agar Sasha menghampiri Ando yang sudah bertelanjang dada di ambang pintu kamar.


"Ada apa?" Tanya Sasha sekali lagi yang sudah menghampiri Ando.


"Masuk!" Titah Ando seraya merangkul Sasha, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Kamu gosok gigi dulu sana!" Titah Ando lagi pada Sasha.


"Gosok gigi?" Tanya Sasha sedikit bingung.


"Iya tadi kan kamu saja makan!" Sergah Ando mulai tak sabar.


Sasha memilih untuk tak membantah lagi, dan wanita hamil itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk gosok gigi, sekalian mengganti bajunya dengan piyama.


"Emmh! Ando!" Sasha menggelinjang dan sedikit kaget, saat Ando yang sudah menyusul masuk ke dalam kamar mandi tiba-tiba memeluknya dari belakang, lalu menyusupkan tangannya ke bawah bra Sasha.


"Kenapa? Aku merindukanmu!" Bisik Ando yang sudah mulai menciumi tengkuk serta leher Sasha.


Sasha tahu ini nanti akhirnya akan mengarah kemana. Tapi Sasha terlalu lelah setelah tadi mereka melakukan perjalanan.


"Ando, apa tidak bisa ditunda besok saja?" Tanya Sasha mencoba bernegosiasi.


"Kau menolak melakukan kewajibanmu?" Sergah Ando tak senang. Pria itu bahkan sudah melepaskan pelukan mesranya pada Sasha.


"Bukan begitu-"


"Kau sudah mangkir dari kewajibanmu selama hampir satu pekan, Sha! Dan sekarang saat aku memintanya, kau malah menolak begitu!" Potong Ando emosi.


"Aku tidak mangkir! Toh tadi malam di rumah Mom kita sudah melakukannya!" Kilah Sasha menyangkal.


"Melakukan satu ronde! Itu masih kurang!" Sergah Ando seraya mendengus frustasi. Pria itu lalu keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Sasha.


"Lalu malam ini kenapa kau menolak? Kau lelah lagi?" Tanya Ando menatap tak senang pada Sasha.


"Kita tadi baru saja melakukan perjalanan, Ando." Sasha mengungkapkan alasan.


"Hanya naik pesawat satu jam!" Sergah Ando seolah tak peduli.


"Baiklah!" Sasha akhirnya membuka kancing piyamanya satu persatu. Sasha tak mau membuat Ando marah atau illfeel malam ini.


"Tapi lakukan perlahan dan jangan barbar," pinta Sasha mengajukan syarat.


"Apa yang semalam termasuk barbar?" Tanya Ando kembali emosi. Namun Sasha langsung menggeleng dengan cepat. Wanita itu sudah selesai membuka atasan piyamanya.


"Lakukan pemanasan dulu!" Titah Ando seraya membuka celananya.


Ya, Sasha akhirnya tahu alasan Ando menyuruhnya gosok gigi tadi. Sasha menghela nafas panjang sebelum mulai 'melahap' milik Ando.


Dulu sebelum hamil, Sasha menyukai kegiatan ini. Tapi sekarang Sasha terpaksa melakukannya agar Ando tidak marah.


****


Allegra memperhatikan Neeta yang sedang mengambil blister pil kontrasepsi dati dalam laci, lalu mengambil satu pil dari kemasan dan menelannya. Wanita itu tampak berpikir untuk beberapa saat, setelah menelan pil berwarna putih tersebut. Tangan Neeta yang masih memegang kemasan pil kontrasepsi, lalu membolak-balik kemasannya, seolah sedang mencari tahu sesuatu.


"Ada apa?" Allegra bertanya penasaran.


"Rasanya sedikit berbeda," Neeta masih membolak-balik kemasan pil kontrasepsi.


"Tapi kemasannya sama aku lihat," ujar Allegra berpendapat.


"Ya! Aku juga bingung."


"Mungkin mereka mengubah rasanya," Neeta tertawa kecil, lalu mengembalikan pil kontrasepsi tadi ke dalam laci. Wanita itu lanjut menghampiri Allegra yang masih duduk santai di atas sofa.


"Tumben kau tidak marah melihatku meminum pil kontrasepsi itu," tanya Neeta yang sudah mulai bergelayut pada Allegra.


"Marah juga tak berpengaruh apa-apa!"


"Kau masih terus meminumnya," jawab Allegra yang hanya terkesan pasrah. Sedangkan Neeta langsung tergelak mendengar pengakuan pasrah Allegra tersebut.


"Begitu kontrakku selesai, aku janji untuk langsung berhenti minum pil kontrasepsi itu," ujar Neeta berjanji pada Allegra yang hanya diam.


"Kalau kau hamil sebelum kontrakmu selesai?" Tanya Allegra setelah pria itu diam untuk beberapa saat.


"Itu mustahil! Aku rutin minum pil kontrasepsi," jawab Neeta penuh percaya diri.


"Ya!" Allegra hanya tersenyum tipis sebelum kemudian pria itu menarik Neeta ke dalam pelukannya.


"Kita lihat saja satu atau dua bulan ke depan," batin Allegra sambil masih mengusap-usap kepala Neeta.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.