Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
KONFLIK BATIN



[Sha!]


Sasha mengerutkan kedua alisnya saat ada sebuah pesan dari nomor asing masuk ke dalam ponselnya. Nomor siapa ini?


Sebuah pesan dari nomor yang sama kembali masuk ke ponsel Sasha.


[Sha, aku Allegra. Kau masih menyimpan nomorku?] -Allegra-


Sasha langsung terkejut saat membaca pesan yang rupanya dari Allegra tersebut. Sudah lama memang Sasha menghapus nomor pria itu dari kontak ponselnya. Tepatnya setelah Allegra mengenalkan Neeta sebagai calon tunangannya beberapa tahun silam. Hati Sasha begitu sakit kala itu hingga semua hal yang berhubungan dengan Allegra langsung Sasha musnahkan dari hidupnya.


Namun Sasha memang tak pernah memblokir nomor Allegra. Sasha hanya menghapusnya, dan setelah saat itu mereka berdua memang tak lagi saling bertukar kabar maupun pesan. Terutama setelah Sasha menikah dengan Ando,sama sekali tak ada komunikasi di antara mereka.


Lalu kenapa sekarang Allegra mendadak mengirim pesan pada Sasha?


Setelah kemarin mereka berjumpa di bandara.


Aneh!


[Aku ganti ponsel beberapa waktu silam dan beberapa kontak termasuk kontakmu hilang. Maaf!] -Sasha-


[Aku akan menyimpan nomormu sekarang] -Sasha-


[Ya! Nomormu juga sempat hilang dari ponselku. Namun anehnya, kepalaku malah masih mengingatnya] -Allegra-


Sasha sedikit tercekat saat membaca pesan Allegra yang seolah mengisyaratkan kalau sebenarnya Allegra tak pernah melupakan Sasha. Pria itu bahkan masih mengingat nomor Sasha di dalam pikirannya.


[Ngomong-ngomong, selamat atas kehamilanmu, ya! Senang rasanya melihat kau dan Ando yang baru menikah tiba-tiba sudah mau menggendong bayi] -Allegra-


[Terima kasih! Semoga kau dan Neeta juga secepatnya menyusul.] -Sasha-


[Andai dulu kita bersama dan aku mau berjuang] -Allegra-


Kedua bola mata Sasha sontak melebar saat membaca pesan Allegra yang terakhir. Namun beberapa detik kemudian, Allegra langsung menghapus pesannya yang terakhir tadi.


[Maaf, salah ketik!] -Allegra-


[Aku sudah membacanya.] -Sasha-


[Semoga kau tidak salah paham] -Allegra-


[Kita sudah sama-sama menikah, Alle!] -Sasha-


[Aku tahu! Hubungan di antara kita dulu juga mustahil untuk diperjuangkan, jadi aku memutuskan menikah dengan Neeta] -Allegra-


[Meskipun sekarang aku menyesalinya] -Allegra-


Pesan kembali dihapus beberapa detik kemudian, namun Sasha tentu saja sudah membaca semua keluh kesah Allegra.


Apa maksudnya Allegra menyesal?


Allegra menyesal dengan pernikahannya bersama Neeta? Tapi kenapa? Mereka selalu terlihat romantis dan mesra!


Apa ini ada hubungannya dengan Neeta yang tak kunjung hamil?


Sasha mengusap perutnya sendiri sebelum kemudian wanita itu mengetik pesan balasan untuk Allegra.


[Boleh aku memberi saran, Alle? Maaf bukan bermaksud sok bijak atau mengguruimu. Tapi saat kau memutuskan untuk menikahi Neeta, seharusnya kau juga siap menerima semua kelebihan serta kekurangan Neeta. Termasuk saat Neeta tak kunjung hamil, maka seharusnya kaloan berjuang bersama dan kau todak langsung menghakimi Neeta ataupun melimpahkan semua kesalahan kepadanya. Pernikahan itu bukan sebuah permainan, Allegra!] -Sasha-


Cukup lama Sasha menunggu balasan pesan dari Allegra.


[Pernikahanku dengan Neeta hanya sebuah pelarian. Aku masih mencintaimu, Sha! Aku masih sangat mencintaimu meskipun kini kau sudah menjadi istri pria lain. Aku akan tetap mencintaimu] -Allegra-


[Dan soal Neeta yang tak kunjung hamil, itu tak seperti yang kau duga. Itu adalah permainan Neeta! Andai kau yang sekarang menjadi istriku dan anak di dalam kandunganmu itu adalah anakku] -Allegra-


Sasha menutup mulutnya dengan telapak tangan saat membaca dua pesan terakhir Allegra.


"Aku masih mencintaimu, Sha!" Kalimat itu terus terngiang di benak Sasha yang kini menggeleng-gelengkan kepalanya. Sadha langsung menghapus semua riwayat pesannya bersama Allegra, lalu memblokir nomor pria itu.


"Aku juga masih mencintaimu, Alle!" Gumam Sasha pelan sebelum kemudian wanita hamil itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak! Kau tidak bisa mengkhianati Ando seperti ini, Sha!"


"Kau istri Ando!" Sasha ganti merutuki dirinya sendiri yang masih saja memikirkan Allegra padahal ia sedang mengandung anak Ando sekarang.


"Lupakan Allegra! Lupakan pria pengecut itu!" Sasha terus men-sugesti dirinya sendiri agar melupakan Allegra.


Sasha kembali mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan sembarangan, lalu mencari kontak Ando dan meneleponnya. Cukup lama sampai telepon diangkat oleh Ando.


"Halo, Sha!" Suara Ando terdengar serak. Sepertinya suami Sasha itu sudah tidur tadi dan Sasha baru saja mengganggunya.


"Kau sudah tidur? Maaf aku mengganggu-"


"Tidak! Tadi aku sedang lembur menyelesaikan pekerjaan kantor, lalu ketiduran di meja kerja."


"Pekerjaanmu masih banyak? Aku mendadak rindu padamu, Sayang!" Ucap Sasha seraya mengusap perutnya. Sasha langsung bisa merasakan calon bayinya yang menendang.


"Ya! Pekerjaanku masih banyak hingga minggu dengan aku rasa. Aku belum bisa menyusulmu ke sana. Maaf!"


"Tidak apa-apa." Sasha sedikit memelankan suaranya dan memasang pendengaran baik-baik,karena samar-samar terdengar tangisan seorang bayi dari telepon. Atau mungkin seorang anak?


"Anak siapa yang menangis, Ando?" Tanya Sasha bersamaan dengan suara tangisan yang sudah tak terdengar lagi.


"Siapa? Tidak ada yang menangis!"


"Tapi barusan aku mendengar ada suara anak menangis." Sasha masih merasa sangsi. Namun kemudian Ando malah tergelak.


"Aku sedang di rumah, Sayang! Dan calon anak kita masih di dalam perutmu. Jadi mana mungkin ada suara anak menangis di rumah."


"Kau benar! Mungkin aku sedang berhalusinasi." Sasha akhirnya tertawa sendiri.


"Kau mau menyapa calon bayi kita, Ando?" Tanya Sasha selanjutnya dengan nada mesra.


"Dia pasti sudah tidur, Sha! Kau juga sebaiknya tidur karena malam sudah larut. Jangan begadang!"


"Ya!" Sasha sedikit berdecak kecewa karena Ando yang seperti enggan memberikan perhatian pada calon bayi mereka. Ando memang kurang peka terhadap anak-anak. Tapi ini anak kandungnya. Lalu kenapa sikap Ando masih acuh begitu?


"Kau masih belum mau pulang? Masih betah disana?"


"Aku baru tiga hari disini, Ando!" Sasha mengingatkan.


"Baiklah! Aku hanya bertanya."


"Dan aku akan pulang setelah kau menjemputku," imbuh Sasha lagi masih berharap.


"Akan aku usahakan."


Lagi-lagi jawaban Ando hanya mampu membuat Sasha mendes*h kecewa.


"Baiklah! Jaga kesehatan di sana dan jangan terlambat makan! Aku mencintaimu!" Pungkas Sasha akhirnya setelah menelan ribuan rasa kecewa pada Ando yang menomorsatukan pekerjaannya.


"Aku juga mencintaimu. Bye!"


Telepon terputus!


Sasha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu berbaring miring dan menatap kosong ke arah dinding kamar. Bayangan seorang pria yang beverahari krmarin mengusap perut Sadha di bandara kota mendadak berkelebat di benak wanita itu.


Sasha memejamkan kedua matanya!


"Dia bukan suamimu, Sasha!" Sasha merutuki dirinya sendiri.


Namun kemudian bayangan Allegra malah kembali memenuhi benak Sasha.


Astaga!


"Suamimu adalah Ando, Sasha! Pikirkan Ando! Pikirkan Ando! Pikirkan Ando!" Sasha terus bergumam dan men-sugesti dirinya sendiri hingga akhirnya wanita itu terlelap dan pergi ke alam mimpi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.