Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
KENAPA?



"Sasha! Kau sedang apa disini?" Tanya Allegra pada Sasha yang masih bergeming dan terkejut.


"Kau-" Allegra tiba-tiba sudah menangkup wajah Sasha seolah sedang memeriksa keadaan Sasha.


"Kau baik-baik saja, kan?" Allegra melanjutkan pertanyaan.


"Kau kemana saja, Sha! Semua orang mencarimu dan mencemaskanmu-"


"Mbaksha!" Panggilan dari Mbak Lina membuat Sasha seolah tersadar dan wanita itu cepat-cepat melepaskan tangan Allegra dari wajahnya.


"Iya, Mbak!"


"Claire sudah bangun dan sepertinya haus, Mbak!" Lapor Mbak Lina yang langsung membuat Sasha bergegas masuk ke dalam ruang UGD.


"Claire siapa, Sha?" Tanya Allegra yang sudah mengekori Sasha masuk ke ruang UGD, saat seorang bayi perempuan mungil yang terbaring di atas bed perawatan membuat Allegra terperangah dan mematung.


Sasha yang langsung mengangkat dan memangku Claire, lalu menyusui Claire seolah menjadi pemandangan yang memukau untuk Allegra.


"Kamar untuk Claire masih belum siap, Mbak?" Tanya Sasha pada Mbak Lina yang setia berada di sampingnya.


"Yang kelas tiga belum ada yang kosong, Mbak," jawab Mbak Lina.


"Adanya kelas berapa?" Tanya Sasha lagi.


"VIP kata perawat," ujar Mbak Lina lagi yang langsung membuat Sasha menghela nafas dengan berat. Sasha mana kuat membayar kamar VIP?


"Ini putrimu?" Tanya Allegra yang sudah mendekat ke arah Sasha yang masih memangku sambil menyusui Claire.


"Ya!"


"Kau sedang apa disini, Alle?" Sasha balik bertanya pada Allegra.


"Mengantar pasangan paruh baya yang tak sengaja aku tabrak tadi." Allegra mengendikkan dagunya sehenak pada pasangan paruh baya yang masih diobati oleh perawat di ruang UGD, sebelum kemudian kembali fokus pada Claire yang masih menyusu.


"Kau sedang lihat apa?" Gertak Sasha yang merasa risih karena Allegra terus saja menatap pada Claire yangmenyusu. Tak tahu sebenarnya pria itu fokus melihat Claire atau melihat gundukan milik Sasha yang kini sedang dihisap Claire. Tangan Sasha refleks meraih selimut Claire untuk ia jadikan apron menyusui.


"Claire sakit apa? Kenapa menutupi wajahnya begitu? Bagaimana kalau dia tidak bisa bernafas?" cecar Allegra merasa khawatir.


"Dia sudah dibantu bernafas denagn oksigen! Apa kau tak lihat?" Sergah Sasha sedikit bersungut. Sasha kembali membuka selimut yang menutupi Claire karena bayinya itu bergerak-gerak dengan tidak nyaman.


"Jadi, Claire sakit apa?" Tanya Allegra sekali lagi karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Sasha.


"Batuk dan muntah-muntah. Sementara masih menunggu hasil tes darah," jawab Sasha lirih.


"Lalu kenapa tak dipindah ke kamar perawatan?" Sergah Allegra lagi yang sepertinya perhatian sekali.


Bahkan papa kandung Claire saja tak pernah peduli pada Claire! Lalu kenapa Allegra yang bukan siapa-siapa untuk Claire malah begitu perhatian?


"Tidak ada kamar perawatan yang kosong!" Jawab Sasha sedikit emosi.


"Suster! Apa benar tidak ada kamar perawatan kosong untuk bayi Claire?" Allegra akhirnya bertanya pada salah satu perawat di ruang UGD.


"Kamar kelas tiga penuh semua, Pak!"


"Lalu bagaimana dengan kamar yang lain? Pasti ada yang kosong!" Sergah Allegra lagi mulai emosi.


"Ada kamar VIP dan VVIP yang kosong. Tapi ibu pasien menolak-"


"Pindahkan segera ke kamar yang kosong itu!" Potong Allegra cepat.


"Alle!" Tegur Sasha yang tak digubris oleh Allegra.


"Bapak silahkan ke bagian administrasi untuk mengurusnya," perawat tadi segera mengarahkan Allegra dan dengan cepat mengurus kepindahan bayi Claire ke kamar perawatan.


"Mari, Bu! Kamarnya sudah siap," ujar perawat seraya meminta Sasha yang masih memangku Claire agar naik ke atas kursi roda. Allegra juga sudah kembali ke ruang UGD dan mendekat ke arah Sasha.


"Mbak!" Panggil Mbak Lina yang wajahnya terlihat penuh tanya serta sepertinya mulai lelah karena menjaga Claire.


"Mbak Lina pulang dan istirahat dulu saja! Claire biar saya yang jaga," ujar Sasha pada sang ART.


****


"Ciluk baaa!" Suara Allegra yang sedang mengajak Claire bermain cilukba langsung menarik perhatian Sasha untuk mendekat ke arah pria tersebut. Terlihat Claire yang tertawa dan begitu senang dengan permainan Allegra.


"Ciluk baaa!" Allegra mengulangi permainanya dan Claire kembali tertawa senang membuat Sasha turut menyunggingkan senyum. Sepertinya Claire begitu menyukai Allegra.


"Putri Dad!" Allegra tiba-tiba sudah ganti mengangkat tubuh gembul Claire lalu menggendongnya dengan hati hati dan lanjut menimang-nimang bayi enam bulan tersebut.


"Claire senang main sama Dad,ya!" Mulai sekarang, Dad akan menjaga Claire dan juga Mom!" Ucap Allegra seraya mendekap Claire dengan penuh sayang. Sebuah pemandangan yang mrmbuat Sasha mendadak menitikkan airmata.


"Oweeek!"


"Sha!"


Sasha terlonjak saat mendengar tangisan Claire beserta guncangan lembut Allegra yang membangunkannya dari mimpi di siang bolong barusan.


Ya ampun!


Ternyata Sasha tadi cuma mimpi.


"Claire menangis dan sepertinya haus," lapor Allegra seraya menyodorkan Claire ke arah Sasha yang masih sedikit linglung. Namun meskipun begitu, Sasha cepat-cepat mengambil Claire dari tangan Allegra, lalu membuka kancing bajunya dan menyusui Claire tanpa peduli pada Allegra yang masih berada di depannya.


Glek!


Allegra menelan saliva saat melihat gundukan milik Sasha yang sempat terpampang nyata sebelum Claire melahapnya.


Allegra pria normal!


"Kenapa kau masih disini, Alle? Tudak pulang? Nanti Neeta mencarimu,"cecar Sasha dengan nada ketus pada Allegra yang sedang sekuat tenaga mengendalikan sesuatu yang mengganggu di dalam celananya.


Sial!


"Kau tadi tanya apa?" Allegra balik bertanya pada Sasha karena tak fokus pada pertanyaan Sasha tadi.


"Kenapa kau tak pulang? Apa Neeta tidak mencarimu?" Sasha terpaksa mengulangi pertanyaannya dengan nada kesal.


"Aku sudah berpisah dari Neeta!"jawab Allegra datar yang terang saja langsung membuat Sasha membelalakkan kedua matanya.


"Apa?"


"Tapi kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Neeta yang tak kunjung hamil?"


"Seharusnya kau menguatkan dan memberikan semangat untuk Neeta dan bukan malah menceraikannya seperti ini, Alle!"omel Sasha panjang lebar yang hanya ditanggapi datar oleh Allegra. Pria itu juga hanya diam seolah memberikan kesempatan pada Sasha untuk menyelesaikan omelannya.


"Seharusnya kau tidak bersikap egois!" Sergah Sasha lagi masih berapi-api.


"Bukan aku yang egois, tapi Neeta!" Ujar Allegra akhirnya menyangkal semua tuduhan Sasha.


"Neeta yang sudah bersikap egois dan membunuh calon anakku!"


"Dia membunuh calon anakku, Sha!" Ulang Allegra yang tentu saja langsung membuat Sasha ternganga.


Membunuh?


Neeta membunuh calon anak Allegra?


Apa maksudnya?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.