
Sasha masih diam dan kaget dengan kabar uang baru saja diberitahukan oleh Marsya.
"Ando sudah meninggal? Kapan?" Allegra yang turut mendengar kalimat Marsya tadi yang akhirnya buka suara.
"Sekitar dua bulan yang lalu, dan posisiku juga sudahberpisah dari Ando. Kami hanya menikah siri," jawab Marsya seolah sedang menjelaskan pada Sasha yang masih diam.
"Itu anak Ando?" Tanya Sasha seraya mengendik ke arah anak laki-laki yang kini digendong oleh seorang pria yang tadi bersama Marsya. Mungkin saudara atau pacar baru Marsya. Entahlah!
"Ya," jawab Marsya lirih seraya menatap penuh bersalah pada Sasha.
"Jenis kelaminnya perempuan. Selamat!" Ucap dokter suatu hati saat Sasha memeriksakan kandungannya.
"Yakin perempuan, Dok? Bukan laki-laki?" Tanya Ando yang sepertinya tak senang saat tahu calon bayi yang dikandung Sasha berjenis kelamin perempuan.
"Sudah terlihat dengan sangat jelas, Pak!" Jawab Dokter seraya menunjuk ke foto hasil USG.
"Ada apa, Ando? Kenapa wajahmu kesal begitu?" Tanya Sasha berbisik-bisik pada Ando.
"Tidak apa-apa!" Jawab Ando ketus.
Sasha hanya menghela nafas dan lanjut berkonsultasi pada dokter. Meskipun sebenarnya Sasha sangat paham kalau Ando sedang kecewa karena calon bayi mereka perempuan. Ando selalu ingin bayi laki-laki.
"Sepertinya sudah berusia lebih dari setahun," celetukan Allegra segera membuyarkan lamunan Sasha tentang kejadian beberapa bulan silam saat Ando kecewa pada calon bayi Sasha yang ternyata berjenis kelamin perempuan. Pantas saja Ando langsung berpaling pada Marsya dan menikahi wanita itu. Rupanya Marsya sudah memberikan anak yang begitu diidam-idamkan oleh Ando. Seorang anak laki-laki!
"Sudah hampir dua tahun tepatnya," timpal Sasha yang langsung membuat Marsya terdiam.
"Itu kejadian yang tak disengaja!" Marsya seolah masih berusaha mencari pembenaran.
"Lalu kenapa kau tidak langsung mencari Ando dan meminta pertanggungjawaban? Dan kenapa kau baru muncul setelah Ando menikahiku?" Cecar Sasha penuh emosi.
"Aku kehilangan jejak Ando!" Sergah Marsya cepat.
"Lalu aku juga tidak tahu kalau Ando sudah menikah denganmu saat kami bertemu lagi di acara perusahaan malam itu! Ando tak mengatakannya!"
"Kalau aku tahu Ando sudah menikah denganmu, aku juga pasti akan menjauhinya!" Sambung Marsya yang tetap bersikap layaknya korban.
Korban dari buaya baj*ngan bernama Ando!
"Berarti memang Ando yang brengsek!" Celetuk Allegra lagi menengahi perdebatan antara Sasha dan Marsya.
"Marsya! Kita jadi belanja atau tidak?" Tanya pria yang tadi bersama Marsya dan menggendong putra Marsya yang kini merengek. Berbeda dengan Claire yang sudah terlelap di gendongan Allegra.
"Masuklah duluan dan bawa Rafsya ke bagian mainan agar tak rewel!" Perintah Marsya pada pria tadi. Tak ada jawaban dan pria itu lanhsung menjalankan perintah Marsya untuk membawa Rafsya masuk ke babyshop.
"Jadi bagaimana pria brengsek itu meninggal?" Tanya Sasha selanjutnya seraya melipat tangannya di depan dada. Meskipun Ando ayah kandung Claire, tapi kebencian Sasha pada pria itu sudah terlanjur dalam. Bukan hanya soal perselingkuhan, tapi kebohongan yang Ando lakukan, lalu sikap kasarnya saat di atas ranjang hingga hampir pernah mencelakakan kandungan Sasha. Rasanya terlalu pedih untuk diingat-ingat!
"Kecelakaan. Itu yang aku dengar," jawab Marsya yang langsung membuat Sasha menghela nafas dengan berat.
"Ando berubah seperti orang gila setelah kau pergi tanpa kabar. Lalu keluargamu juga menemuiku dan bertanya keberadaanmu. Tapi aku tak tahu menahu, jadi aku jawab apa adanya." Marsya mengendikkan kedua bahunya.
"Dan dua bulan lalu, video kecelakaan Ando sempat viral di kota. Aku pikir kau sudah tahu-"
"Aku tidak tahu!" Potong Sasha cepat. Sasha lalu menoleh pada Allegra dan menatap penuh selidik pada pria itu.
"Aku juga tidak tahu menahu!" Sergah Allegra seolah sudah tahu pertanyaan yang hendak dilontarkan oleh Sasha.
"Ngomong-ngomong, itu putrimu?" Tanya Marsya mengalihkan pembicaraan. Dagu wanita itu mengendik ke arah Claire yang masih terlelap di gendongan Allegra.
"Ya! Dia putriku!" Jawab Sasha dengan nada tegas.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah jadi perusak rumah tanggamu bersama Ando-"
"Tidak! Tidak perlu minta maaf!" Sergah Sasha menyela.
"Justru aku yang berterima kasih karena kau sudah membantu menguak semua kebusukan Ando!"
"Semoga pria itu beristirahat dengan tenang!" Ucap Sasha menahan amarah yang membuncah di dadanya.
"Marsya!" Panggil pria yang tadi bersama Marsya dari dalam babyshop.
"Putramu menangis! Sebaiknya kau tenangkan sebelum histeris!" Pungkas Sasha sebelum kemudian wanita itu berlalu dan masuk ke dalam mobil Allegra.
Allegra juga tak berbasa-basi pada Marsya dan memilih untuk menyusul Sasha saja ke dalam mobil.
"Ando sudah menerima karma-"
"Tidak usah lagi membahasnya!" Sergah Sasha memotong kalimat Allegra yang belum selesai.
"Baiklah! Kita pulang sekarang," pungkas Allegra akhirnya yang sudah duduk di belakang kemudi. Claire sudah berpindah ke pangkuan Sasha, dan mobil segera melaju meninggalkan babyshop.
****
"Oweek! Oweek!" Claire tak berhenti menangis sejak bangun dari tidur sore tadi. Sementara Allegra masih belum tiba di rumah, karena setelah dari babyshop tadi pria itu memang langsung pergi bekerja.
"Oweeek!" Tangis Claire semakin kencang seolah bayi itu sedang gelisah sekarang.
"Coba disusui, Mbak!" Saran Mbak Lina yang ikut menenangkan Claire yang terus menangis dan meronta-ronta.
"Tidak mau, Mbak! Dari tadi sudah aku coba tapi ditolak terus!" Jawab Sasha mulai hilang kesabaran. Ini kali pertama Claire rewel tanpa sebab. Biasanya bayi ini begitu anteng dan mudah dibujuk.
"Mbaksha lapar mungkin. Jadi ASI-nya hambar," Mbak Lina menerka-nerka.
"Badannya sedikit hangat, Mbak!" Lapor Mbak Lina yang sudah menggantikan Sasha menggendong Claire.
Sadha segera memeriksa suhu tubuh sang putri. Dan benar saja, Claire sedikit demam.
"Mungkin kecapekan karena tadi MbakSha ajak keluar," pendapat Mbak Lina lagi.
"Apa perlu ke dokter, Mbak?" Tanya Sasha mulai khawatir.
"Demamnya tidak tinggi. Mungkin nanti segera turun setelah minum obat dan diberi ASI."
"Siapa yang sakit? Kenapa minum obat?" Sahut Allegra yang rupanya sudah tiba di rumah.
"Claire! Gara-gara kamu ajak ke babyshop tadi padahal kondisinya masih ringkih!" Omel Sasha pada Allegra.
"Aku cuci tangan sebentar!" Pamit Allegra yang bergegas ke kamar mandi untuk cuci tangan, lalu pria itu sudah kembali lagi seraya menggulung lengan kemejanya.
"Sini, Sayang! Ikut Dad!" Allegra mengambil Claire yang masih sesenggukan dari gendongan Mbak Lina.
"Obat demamnya masih ada, kan, Mbak?" Tanya Sasha pada Mbak Lina yang langsung mengangguk.
"Sebentar saya ambilkan, Mbak!" Ujar Mbak Lina seraya pergi untuk mengambil obat Claire.
"Demamnya tidak terlalu tinggi. Sepertinya tidak perlu diberi obat," pendapat Allegra seraya membawa Claire masuk ke kamar.
"Tadi sudah kau susui?" Tanya Allegra selanjutnya pada Sasha yang mengekorinya ke kamar.
"Ditolak terus!" Jawab Sasha frustasi. Wanita itu meletakkan obat demam Claire ke atas nakas.
Allegra diam sejenak dan memperhatikan raut wajah Sasha yang terlihat tak tenang. Sementara Claire malah sudah tenang di dekapan Allegra meskipun bayi itu masih sedikit sesenggukan.
"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Allegra selanjutnya pada Sasha yang langsung menatap Allegra dengan bingung.
"Maksudnya?"
"Kau sedang gelisah, makanya Claire menolak kau susui." Ujar Allegra yang selalu sok tahu seperti biasa.
"Coba tenangkan pikiranmu dulu! Buang jauh hal-hal yang tak perlu atau aku bisa cerita kepadaku tentang masalahmu!" Nasehat Allegra panjang lebar.
"Aku sedang tidak memikirkan apa-apa!" Sergah Sasha kembali menyangkal. Wanita itu menghela nafas panjang berulangkali dan memejamkan mata.
"Duduklah di sofa atau ranjang, terserah kau mau dimana, lalu buka bajumu," titah Allegra selanjutnya pada Sasha yang langsung membuat wanita itu melotot horor.
"Apa katamu?"
"Buka bajumu agar kau bisa skin to skin dengan Claire sambil menyusuinya! Aku tidak akan mengintip!" Ulang Allegra menjelaskan dengan lebih detail.
"Meredakan demam dengan skin to skin. Itu metode lama," gumam Sasha yang akhirnya mendaratkan bokongnya di atas ranjang, lalu menarik selimut sebelum mulai membuka kancing bajunya.
"Metode lama tapi selalu bekerja! Daripada memberikan Claire obat," sahut Allegra tetap dengan pendapatnya
"Jangan mengintip!" Gertak Sasha memperingatkan Allegra yang kini memejamkan kedua matanya.
"Iya ini sudah merem!"
"Berikan Claire!" Titah Sasha seraya mengulurkan tangannya.
"Bramu sekalian dibuka!" Allegra mengingatkan.
"Iya, sudah!" Sasha yang kesal melempar branya ke kepala Allegra hingga pria itu terkekeh. Allegra mengulurkan Claire pada Sasha masih sambil memejamkan mata. Sasha langsung mengambil sang pytri dengan sigap dan membuka baju Claire,lalu menempelkan bayi itu di dadanya. Tak lupa Sasha menarik selimut untuk menutupi tubuh setengah nakednya agar Allegra tak melihat.
"Sudah?" Tanya Allegra masih memejamkan mata.
"Belum!"
"Merem terus sampai aku selesai!" Seloroh Sasha yang langsung membuat Allegra membuka matanya dan mengambil bra Sasha dari kepalanya.
"Ini untukku?" Tanya Allegra seraya mengayun-ayunkan bra Sasha.
"Kembalikan!" Gertak Sasha galak, namun Allegra malah melempar bra itu serampangan. Dasar sinting!
"Mau apa?" Gertak Sasha lagi saat Allegra sudah ikut duduk di atas ranjang dan mengusap punggung Claire yang sudah mau menyusu pada Sasha.
"Menikahlah denganku, Shabrina!" Ucap Allegra lembut seraya menyatukan keningnya dengan kening Sasha.
Apa ini sebuah lamaran?
.
.
.
Bukan!
Itu perintah 🤣🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.