Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
I LOVE YOU



Sasha menelan saliva berulang kali saat melihat Claire dan Allegra yang kini menyusu bersamaan. Claire di sebelah kanan dan Allegra di sebelah kiri.


Ck!


"Alle!"


Sasha sedikit menggelinjang, saat Allegra menggigit kecil ujung pay*daranya.


"Aku gemas!" Ucap Allegra blak-blakan seraya mengangkat wajahnya.


"Claire sudah tidur," ujar Allegra lagi kali ini dengan suara berbisik. Allegra mengusap lembut punggung Claire agar bayi itu semakin lelap. Sedangkan Sasha kembali memeriksa suhu tubuh Claire yang sudah tak lagi demam. Sepertinya Claire hanya tak mau jauh dari Sasha ataupun Allegra.


"Aku pindahkan ke tempat tidur, ya!" Usul Allegra masih sambil bisik-bisik.


"Nanti bangun," sergah Sasha khawatir.


"Tidak!" Allegra merasa yakin dan pria itu mengangkat tubuh Claire pelan-pelan. Claire langsung menggeliat dan hebdak menangis, namun Allegra sigap mendekap dan menimang bayi itu. Allegra juga bersenandung kecil hingga Claire tak jadi menangis, lalu kembali terlelap di dekapan Allegra.


Benar-benar Allegra yang daddyable!


Setelah beberapa saat dan memastikan Claire benar-benar sudah terlelap, Allegra segera meletakkan Claire perlahan ke atas tempat tidur. Bayi itu tetap terlelap hingga Allegra menyelimuti dan mencium keningnya.


"Bobok nyenyak dan mimpi indah, Princessnya dad!" Bisik Allegra lembut sebelum meninggalkan Claire, lalu kembali menghampiri Sasha yang masih duduk di sofa.


"Ayo ke kamar!" Ajak Allegra pada Sasha.


"Kita tidur disini saja! Aku takut Claire demam lagi kalau kita tinggal," ujar Sasha menolak sekaligus mengungkapkan kekhawatirannya.


"Memang ada hubungannya?" Tanya Allegra bingung. Sementara Sasha langsung mengendikkan kedua bahunya.


"Aku berpikir, kalau tadi Claire demam mungkin karena dia tidak mau jauh dari kita berdua."


"Kau tahu sendiri Claire selalu tidur bersama kita saat di rumah sewa itu," tutur Sasha yang langsung membuat Allegra mengangguk.


"Ada benarnya." Allegra masih mengangguk-anggukkan kepala.


"Lalu bagaimana kita akan menikmati malam pengantin di kamar Claire?" Tanya Allegra selanjutnya menatap penuh tanya pada Sasha.


"Yang penting jangan berisik dan kunci pintunya," jawab Sasha santai.


"Di sofa sini?" Tanya Allegra lagi seraya menunjuk ke sofa yang masih mereka duduki.


"Ya!"


"Atau kita bisa di bawah kalau kau ingin yang lebih lebar dan lapang," sambung Sasha seraya menunjuk ke karpet yang menutupi lantai kamar Claire.


"Aku tak keberatan!" Ucap Allegra akhirnya seraya melepaskan kaos yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Pria itu lalu merbahkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sasha yang sejak tadi memang belum beranjak.


"Begini saja?" Tanya Sasha seraya mengusap-usap kepala Allegra.


"Apanya?" Allegra balik bertanya bingung.


"Malam pengantinnya." Sasha memeriksa lebih dekat sesuatu di wajah Allegra.


"Kenapa kau jerawatan? Seperti remaja kemarin sore saja," ledek Sasha sembari masih memeriksa jerawat yang ada di pipi Allegra bagian atas.


"Itu karena aku terlalu lama menahan," jawab Allegra sedikit geram.


"Menahan apa? Menahan poop seperti Claire?" Ledek Sasha lagi seraya tergelak.


"Ck!"


"Kau suka sekali membuatku geregetan!" Allegra akhirnya bangun dari pangkuan Sasha dan ganti mengungkung ustrinya tersebut.


"Alle!" Pekik Sasha saat Allegra memaksa untuk membuka piyama Sasha.


"Ssssttt! Bukankah katamu tadi kita tidak boleh berisik?" Allegra membungkam mulut Sasha yang hendak kembali berteriak.


"Jangan merusak piyamaku!" Protes Sasha saat Allegra kembali membuka paksa piyamanya.


"Ck! Kancingnya terlalu banyak! Kenapa tadi tidak pakai lingerie saja?" Allegra balik protes pada Sasha.


"Memangnya kau mau aku menggendong dan menimang-nimang Claire di depan keluargamu hanya memakai lingerie saja?"


"Dasar!" Sasha memukul dada Allegra yang begitu bidang dan otot yang terbentuk sempurna. Sasha diam sejenak dan tangannya masih mengusap pelan dada dari suaminya tersebut.


"Apa kau hanya akan mengusapnya seperti itu semalaman?" Tanya Allegra yang sudah benar-benar gemas sekarang.


"Ck! Kau bisa melakukan hal lain, Sha!" Decak Allegra mulai tak sabar


"Hal lain? Bisa kau mengajariku?" Sasha sedikit memancing, meskipun Allegra tahu kalau sebenarnya Sasha tengah menggodanya sekarang.


"Apa kau seorang remaja yang masih polos?"


"Aku rasa begitu." Sasha memasang senyuman nakal, sebelum kemudian wanita itu mendorong Allegra hingga kembali jatuh telentang di atas sofa. Sasha langsung menindih tubuh sang suami dan menyatukan bibir mereka. Pasangan pengantin baru tersebut langsung larut dalam pagutan yang dalam dan panas.


Tangan Allegra sudah mulai bergerilya untuk melucuti satu persatu baju Sasha. Pun dengan Sasha yang tak sedikitpun segan untuk membuka kancing celana Allegra, lalu menarik turun benda tersebut. Menyisakan sebuah underwear saja yang kini menutup milik Allegra yang sudah terlihat menyembul.


"I love you!" Bisik Allegra di sela-sela pagutannya pada Sasha yang masih belum mau berhenti.


"I love you too!" balas Sasha dengan nafas terengah.


"Aaa!" Sasha terpekik saat Allegra mengajaknya berguling dan mereka berdua terjatuh ke atas karpet yang terbentang di bawah sofa, masih dengan posisi yang saling memeluk.


Sasha dan Allegra melanjutkan pagutan mereka di atas karpet dan keduanya seolah masih tak mau berhenti.


"Aku rasa kepalaku terbentur sesuatu," ucap Sasha di sela pagutannya bersama Allegra.


"Sebelah mana? Biar aku periksa," Allegra melepaskan tautan bibirnya bersama Sasha. Lalu pria itu ganti menyibak rambut ikal Sasha untuk memeriksa. Sasha sendiri hanya tertawa kecil, seolah memberikan kode kalau keluhannya tadi hanya sebuah bualan belaka.


Allegra langsung berdecak denagn kelakuan istrinya tersebut, lalu mencium belakang telinga Sasha dan lanjut menggigit kecil cuping telinga Sasha hingga wanita itu sedikit menggeliat.


"Bagian ini yang sakit, hah?" Tanya Allegra sebelum kembali mencium bagian belakang telinga Sasha lalu sedikit menghisapnya.


"Alle! Itu akan berbekas!" Protes Sasha sedikit berbisik yang malah membuat Allegra tertawa puas.


"Sengaja! Agar semua orang bisa melihatnya!" Jawab Allegra blak-blakan. Allegra lanjut menyematkan beberapa tanda kepemilikan di leher dan tengkuk Sasha.


Lalu cecapan pria itu turun ke bawah menuju ke dada Sasha yang kini sudah terpampang nyata tanpa tertutupi sehelai benangpun.


Allegra menyukai bentuknya yang bulat dan besar. Dan pria itu langsung melahap benda kenyal tersebut dengan rakus. Bergantian antara kanan dan kiri.


"Alle! Pelan-pelan!" Sasha melengkungkan punggungnya serta menjambak rambut Allegra karena pria itu menghisap dengan kuat kedua gundukan Sasha seolah ia adalah Claire yang sedang menyusu karena kelaparan.


"Aku gemas!" Ucap Allegra blak-blakan seraya mengangkat wajah dan menatap pada wajah Sasha yang sudah memerah.


"Kau akan melakukannya berapa lama?" Des*h Sasha terbata karena Allegra yang tak kunjung berhenti bermain-main di area dadanya. Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka melakukan pemanasan dan belum ada tanda-tanda Allegra akan berhenti.


Meskipun sebenarnya Sasha juga menikmati, karena permainan Allegra begitu lembut serta tak tergesa. Bahkan Allegra selalu membisikkan kata penuh cinta pada Sasha disela-sela cumbuannya yang membuat hati Sasha menghangat dan merasakan cinta yang sesungguhnya.


Cecapan Allegra semakin turun ke bawah dan lidah pria itu sidah bermain-main di area perut Sasha.


"Alle, hentikan! Itu geli sekali!" Protes Sasha yang bahkan sama sekali tak dihiraukan oleh Allegra.


Allegra terus melanjutkan cecapannya ke pangkal paha Sasha yang masih tertutup underwear berwarna hitam yang begitu kontras dengn kulit putih Sasha.


"Kau tidak perlu mencecap yang itu," gumam Sasha yang mendadak merasa malu. Entah malu atau rendah diri, tapi Sasha bukan lagi gadis kemarin sore yang baru sekali ini bercinta dengan seorang pria.


"Memangnya kenapa?" Tanya Allegra yang sudah dengan gesit menyingkirkan penutup terakhir di tubuh Sasha tersebut.


Oh, ya ampun!


Sekarang Sasha benar-benar full naked!


Semoga Claire tidak buru-buru bangun sampai Sasha dan Allegra menyelesaikan permainan mereka.


Cup!


Sasha sedikit tersentak, saat Allegra mengecup pangkal pahanya dengan cukup lama. Pria itu mengangkat wajahnya sejenak untuk menatap Sasha, seolah sedang meminta izin. Sasha juga tak tahu kenapa ia refleks mengangguk samar.


Allegra tersenyum tipis setelah anggukan Sasha tersebut, lalu yang terjadi selanjutnya....


.


.


.


Lanjut ke part 2 🤪


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.