Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
KAMAR



"Silahkan masuk, Mbak Lina! Anggap saja rumah sendiri," ujar Allegra pada Mbak Lina yang juga ikut ia boyong ke rumah sementaranya di kota ini bersama Sasha dan Claire tentu saja.


"Anggap saja rumah sendiri? Memangnya ini rumahmu?" Cibir Sasha sedikit berbisik pada Allegra yang kini menggendong Claire.


Hanya saat mengemudi mobil saja Allegra baru melepaskan bayi itu dari gendongannya. Saat sudah turun, Sasha seolah kehilangan perannya sebagai ibu karena Allegra langsung mengambil Claire dan menggendong bayi enam bulan itu masuk ke dalam rumah.


Terserah saja!


"Ini rumahku satu tahun ke depan. Aku sudah melunasi uang sewanya," jawab Allegra pamer.


"Kau akan di kota ini selama satu tahun?" Tanya Sasha penuh selidik.


"Hanya sampai pekerjaanku selesai. Mungkin minggu depan kita sudah bisa pulang," terang Allegra yang langsung membuat Sasha menatap heran pada pria itu.


"Lalu untuk apa kau menyewa rumah selama satu tahun jika pekerjaanmu hanya sampai tahun depan?" Tanya Sasha berapi-api dan Allegra malah mengendikkan bahu tanpa rasa berdosa.


"Ya, mungkin saja beberapa bulan lagi aku harus kembali kesini untuk mengurus proyek lagi atau melakukan hal lain."


"Hal lain apa maksudnya?" Tanya Sasha tak paham.


"Entahlah! Aku belum memikirkannya!"


"Aku akan membawa Claire ke kamar dulu!" Pamit Allegra yang segera melangkah menuju ke salah satu kamar di dalam rumah tipe 72 tersebut.


"Mbaksha! Kamar saya yang mana?" Tanya Mbak Lina seraya mendekati Sasha yang sudah selesai berbicara dengan Allegra. Ada tiga kamar di rumah tersebut dan Sasha juga tidak tahu kamar Allegra yang mana dan kamar yang kosong yang mana.


Sasha akhirnya memeriksa dua kamar yang masih kosong untuk memastikan,sebelum kemudian wanita itu kembali menghubungi Mbak Lina.


"Itu dua kamar masih kosong semua, Mbak! Mbak Lina mau pilih yang mana?"tanya Sasha memberikan pilihan pada asisten rumah tangga yang sudah ia anggap sebagai saudara tersebut.


"Yang di dekat dapur saja boleh, Mbak?"


"Boleh," jawab Sasha cepat.


"Trus ini baju Mbaksha dan Claire?" Mbak Lina menunjuk ke tas yang berisi baju-baju Sasha dan Claire.


"Nanti biar aku yang bawa ke kamar. Mbak Lina bisa istirahat dulu saja," ujar Sasha.


"Nggak masak buat makan malam, Mbak?"


"Tadi kata Allegra sudah pesan dari luar. Nanti saja kalau ada yang datang antar-" Sasha belum menyelesaikan kalimatnya saat sudah terdengar suara bel dari pintu depan.


"Mungkin itu yang antar makanan, Mbak! Biar saya yang buka," ujar Mbak Lina seraya berlalu ke arah depan untuk membuka pintu.


Sasha lanjut menyusul Allegra ke kamar untuk memeriksa Claire yang sejak tadi masih digendong Allegra.


"Alle!" Panggil Sasha seraya mendorong pintu kamar. Wanita itu langsung terkejut melihat Allegra yang sudah terlelap bersama Claire di atas ranjang.


Sasha mengedarkan pandangannya ke dalam kamar yang sedikit berantakan tersebut. Ada laptop serta beberapa kertas di atas nakas, lalu kemeja yang tersampir di sofa. Sepertinya ini adalah kamar Allegra. Lalu apa maksudnya pria itu membawa Claire ke kamarnya? Allegra akan membiarkan Claire tidur bersamanya?


Dasar!


Sasha akhirnya membereskan kamar Allegra tersebut, lalu membawa keluar baju-baju Allegra yang berserakan di kamar. Sepertinya Allegra tinggal sendirian di rumah yang ia sewa ini, karena saat Sasha ke dapur, Mbak Lina terlihat sedang mencuci tumpukan piring yang kata Mbak Lina sudah ada di sana saat ia masuk ke dapur.


"Makanannya sudah saya siapkan di atas meja, Mbak!" Lapor Mbak Lina pada Sasha.


"Mbak Lina sudah makan?" Tanya Sasha seraya memasukkan baju-baju Allegra ke dalam mesin cuci, lalu mulai mencucinya.


"Belum. Kan Mbaksha sama Pak..." Mbak Lina terlihat mengingat-ingat nama Allegra.


"Oh. Iya maksud saya kan MbakSha dan Pak Alle belum makan." Mbak Lina mengulangi kalimatnya.


"Mbak Lina makan duluan nggak apa-apa, kok! Kalau memang sudah lapar," ujar Sasha santai.


Wanita itu lanjut memeriksa makanan yang dipesan Allegra yang kini sudah ditata rapi oleh Mbak Lina di atas meja makan. Cukup lengkap ternyata ada dessertnya segala.


"Ayo makan berdua kalau begitu, Mbak! Aku sudah lapar," ajak Sasha akhirnya pada Mbak Lina yang sudah selesai mencuci piring.


"Pak Alle nggak diajak, Mbak?" Tanya Mbak Lina.


"Dia masih tidur bersama Claire," jawab Sasha sebelum kemudian wanita itu mulai menyendokkan nasi dan pelengkap lain ke dalam piringnya.


****


"Sha!" Panggil Allegra pada Sasha yang masih berkutat dengan baju-baju Allegra yang sudah selesai ia cuci.


"Ya! Claire sudah bangun?" Tanya Sasha seraya menghampiri Allegra yang kini menggendong Claire yang menangis. Bayi itu sudah haus dan lapar sepertinya. Mbak Lina segera mengambil alih pekerjaan Sasha tadi dan lanjut menjemuri baju-baju Allegra.


"Sepertinya sudah lapar," ujar Allegra seraya memberikan Claire pada Sasha.


"Kau lapar juga tidak? Makananmu sudah sampai sejak tadi." Sasha ganti melapor pada Allegra.


"Kau dan Mbak Lina sudah makan?" Allegra balik bertanya.


"Sudah tadi!"


"Kau makan saja dulu! Aku akan menyusui Claire," tukas Sasha seraya menuju ke salah satu kamar yang tadi kosong. Bukan ke kamar Allegra.


"Kenapa ke sana? Kamar Claire yang itu!" Allegra menunjuk ke arah kamarnya sendiri.


"Itu kamarmu!" Sergah Sasha.


"Kamar Claire juga! Masuk ke sana!"


"Yang kamar itu belum dibersihkan. Nanti Claire batuk-batuk lagi!" Ujar Allegra beralasan.


"Ck!" Sasha enggan berdebat lagi karena Claire sudah semakin meronta di gendongannya. Sasha akhirnya membawa Claire masuk ke kamar Allegra, meninggalkan Allegra yang kini tersenyum tipis.


"Pak Alle mau makan?" Tawar Mbak Lina yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Nanti saja, Mbak! Saya mandi dulu!" Jawab Allegra seraya berlalu dan menyusul Sasha masuk ke kamarnya.


Hei, tapi itu kamar Allegra juga dan baju-baju Allegra ada di sana.


.


.


.


Modus!


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.