
Sasha masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan gedung apartemen. Wanita itu memukul-mukul stir mobil demi meluapkan kemarahannya.
Ya, Sasha sedang marah pada Allegra sekarang!
"Sayang!" Panggil Allegra seraya mengetuk kaca jendela mobil Sasha. Namun Sasha tak menghiraukan, dan wanita itu langsung memasang sabuk pengaman, masih dengan wajah yang berurai airmata.
"Sasha! Dengarkan aku dulu!" Seru Allegra dari luar kaca mobil seraya berusaha menghentikan Sasha yang hendak pergi.
"Sasha!" Panggil Allegra lebih keras. Namun Sasha tak peduli dan wanita itu langsung menginjak pedal gas,saat tiba-tiba Haezel sudah berdiri di depan mobilnya.
Hah?
Sasha menginjak rem dengan refleks hingga mobil berhenti mendadak dan kepala Sasha terantuk kemudi mobil.
Dasar Haezel sinting!
"Kau gila!" Teriak Sasha memaki sepupunya yang hanya menengadahkan tangan tanpa dosa.
Allegra kembali mengetuk kaca jendela mobil Sasha dan raut wajahnya terlihat memohon.
"Buka sebentar pintunya!" Pinta Allegra memohon.
Sasha hanya membuang wajahnya seraya melipat tangan di depan dada.
Tak berselang lama, Sasha melihat Neeta yang meronta-ronta dan kedua tangannya dipegang kuat oleh dua polisi.
Apa?
Neeta terus digelandang dan akhirnya dipaksa masuk ke dalam mobil polisi, lalu tak berselang lama mobil melaju pergi meninggalkan kawasan apartemen.
Tapi kenapa Neeta dibawa oleh polisi?
"Sayang! Buka pintunya!" Allegra mengetuk kaca pintu mobil sekali lagi, dan Sasha akhir menurunkan kaca jendela mobil.
"Aku minta maaf!"ucap Allegra cepat setelah Sasha membuka kaca jendela mobil.
"Kenapa Neeta dibawa oleh polisi?" Tanya Sasha seraya menyingkirkan tangan Allegra yang berusaha untuk menangkup wajahnya.
"Biarkan aku masuk dan nanti aku ceritakan semuanya." Jawab Allegra yang hanya ditanggapi Sasha dengan rengutan dan delikan marah.
"Ezel!" Sasha ganti memanggil sang sepupu yang sepertinya sedang sibuk menelepon seseorang.
"Ya!" Haezel segera menyimpan ponselnya, lalu menghampiri Sasha.
"Kenapa Neeta-"
"Neeta memakai dan mengedarkan narkoba. Tapi dia sekalu pandai mengelak dan kami juga kesulitan menemukan barang bukti untuk menangkapnya."
"Jadi aku minta tolong pada Allegra untuk membantu menjebaknya serta agar Neeta mau memberi info darimana ia memperoleh pasokan barang haram itu." Jelas Haezel panjang lebar menjawab pertanyaan Sasha yang bahkan belum selesai.
"Lalu kenapa harus Allegra?" Tanya Sasha tak senang.
"Neeta masih tergila-gila pada suamimu dan dia beberapa kali datang ke apartemen Allegra juga." Jawab Haezel seraya mengendikkan kedua bahunya. Sasha tidak tahu kenapa para pria gemar melakukan hal itu!
Sasha ganti menatap pada Allegra seolah bertanya kenapa Allegra masih memberikan akses untuk Neeta datang ke apartemennya. Meskipun Sasha tahu kalau Allegra tak pernah lagi datang ke apartemennya itu sejak ia dan Allegra menikah.
"Aku sudah mengganti kata sandinya. Tapi aku lupa kalau Neeta masih punya kartu akses."
"Dan lagi, aku juga berniat menjual apartemen itu. Aku baru saja membuat iklan," terang Allegra menjelaskan alasannya pada Sasha.
"Aku pikir Allegra sudah mengatakan kepadamu tentang rencana penjebakan Neeta ini," tukas Haezel yang langsung membuat Sasha berdecak.
"Dia tak mengatakan apapun! Mungkin dia memang masih ada something pada mantannya," sindir Sasha pedas yang langsung membuat Haezel terkekeh.
"Aku hanya mencintaimu!" Sergah Allegra berusaha meyakinkan Sasha yang masih terlihat kesal.
Tentu saja Sasha kesal karena Allegra tidak mau jujur dan seolah menikmati aktingnya untuk bermesraan bersama Neeta.
"Jadi, kesalahpahaman ini sudah selesai, kan? Aku sudah bisa pergi?" Tanya Haezel menatap bergantian pada Sasha dan Allegra.
"Ya!" Jawab Sasha lirih.
"Terima kasih atas ide konyolmu, Haezel! Lain kali aku akan langsung menolaknya mentah-mentah!" Allegra turut menjawab namun dengan tutur kata sinis dan Haezel hanya tertawa kecil seraya memainkan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manis pria itu.
"Jelas-jelas kau itu yang tidak mau berkata jujur kepadaku! Kenapa jadi menyalahkan Haezel?" Sasha berucap ketus pada Allegra
"Iya, aku minta maaf dan aku mengaku salah, Sha!" Ucap Allegra kembali memohon pada Sasha.
"Boleh aku masuk ke dalam?" Lanjut Allegra berusaha membuka pintu mobil yang masih dikunci oleh Sasha.
"Tidak!" Jawab Sasha galak.
"Ngomong-ngomong, aku pergi dulu," Haezel kembali pamit karena sejak tadi pasangan suami istri di depannya itu masih tak berhenti berdebat.
"Pergilah!" Jawab Allegra ketus.
"Baiklah, Bye! Dan berhentilah bertengkar!" Pesan Haezel pada Sasha dan Allegra.
"Ezel!" Panggil Sasha lagi saat Haezel sudah berbalik dan hendak pergi.
"Ya!"
"Bagaimana kondisi Mayra? Apa sudah ada perkembangan berarti?" Tanya Sasha menatap prihatin pada sepupunya tersebut, dan Haezel langsung mengulas senyuman terpaksa. Pria itu juga menggeleng samar.
"Belum ada kemajuan apapun. Kondisinya masih sama," jawab Haezel lirih dengan raut wajah yang menampakkan kesedihan.
Selalu begitu setiap pembahasan tentang Mayra dimulai.
"Semoga Mayra bisa segera pulih seperti sedia kala," ucap Sasha penuh harap yang langsung diaminkan oleh Haezel.
"Aku pergi dulu!" ait Haezel sekali lagi dan kali ini tak ada jawaban ketus dari Allegra. Suami Sasha itu hanya membisu hingga Haezel pergi meninggalkan kawasan apartemen.
"Sayang!" Panggil Allegra lagi berusaha membujuk Sasha.
Namun bukannya membuka pintu mobil atau menjawab panggilan Allegra, Sasha malah menaikkan lagi kaca jendela mobilnya, lalu tangan wanita itu menggerakkan persneling dan bersiap pergi.
"Sasha!"
"Sayang!" Panggilan Allegra hanya diabaikan oleh Sasha yang masih kesal pada Allegra.
"Sasha!"
.
.
.
Spoiler dikit tentang kisah Haezel sebelum rilis besok tanggal 1 🙈
Silahkan ditebak-tebak
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.