Santet

Santet
Waktu Yang Tak Terasa



Pak Rt dan Mantri Eman yang sudah tidak kuat karena situasi yang sangat mencekam, kini sesosok di balik jendela yang menyeramkan ingin menghampiri pak Rt dan Mantri Eman, tiba tiba menghilang seketika.


Mantri Eman, pak Rt merasa lega dan merasa aneh karena sosok yang menyeramkan itu tiba tiba menghilang.


Pak Rt dan Mantri Eman kini kembali untuk menolong pak Danar, kondisi pak Danar pun menjadi membaik, perut membuncitnya pun kembali normal akan tetapi kejadian yang membuat lega itu tidak berselang lama. Jendela kamar pak Danar kembali bergerak sendiri, dan alangkah kagetnya pak Rt dan Mantri Eman saat melihat ke arah jendela mereka melihat sesosok.


Sesosok Dedemit yang muncul secara tiba tiba, dan kini dikagetkan lagi dengan teriak histeris pak Danar yang perutnya kembali membuncit.


Situasi kembali mencekam saat bau busuk mulai menyelimuti ruang kamar pak Danar, pak Rt dan Mantri Eman pun berlari ke luar rumah.


Setelah di luar rumah, Mantri Eman dan pak Rt pingsan karena melihat Pocong menyeramkan yang tiba tiba muncul di hadapan mereka berdua.


Mantri Eman dan pak Rt pingsan di halaman rumah pak Danar, sedangkan kedua warga dan Sutaman pingsan di dalam rumah pak Danar.


Pak Danar yang masih berteriak histeris karena kesakitan.


"Haduuh sakit haduh sakit tolong tolong sakit."


Pak Danar terus menerus merintih dan berteriak histeris kesakitan sampai pagi.


setelah pagi Pak Danar seketika perutnya kembali normal dan rasa sakitnya pun hilang ketika matahari muncul menyinari kampung Lorong Badak.


Kini pak Danar membangunkan istrinya Sulastri, dan mengajak melihat keluar rumah, alangkah kagetnya pak Danar melihat dua warga dan Sutaman yang pingsan di dalam rumahnya, setelah mereka sadar dari pingsan karena di bangunkan oleh pak Danar, mereka yang melihat pak Danar baik baik saja pun kaget, karena semalaman pak Danar begitu kesakitan, tetapi mereka bertiga memilih untuk diam ketika mereka ingin pulang kerumah masing masing mereka di kagetkan karena melihat Mantri Eman dan pak Rt yang tergeletak pingsan di halaman rumah pak Danar.


Kini pak Danar, Sutaman dan kedua warga membangunkan pak Rt dan Mantri Eman.


Pak Rt dan Mantri Eman pun kaget saat tersadar karena melihat pak Danar yang baik baik saja.


"Sebenarnya apa yang terjadi semalam mengapa kalian bisa pingsan di rumah ku dan halaman rumah ku?. Tanya pak Danar.


" Apa kami boleh menceritakan pada pak Danar." Ucap Sutaman.


"Ia apakah boleh kami menceritakan pada pak Danar." Ucap kedua warga.


Pak Rt dan Mantri Eman saling menatap dan merekapun berkata.


"Benar apakah pak Danar semalam tidak sadar juga, saat merasa kesakitan."


"Baiklah pak Danar biar aku saja yang menjelaskan semuanya, Semalam Mawar ke rumah saya dan berteriak minta tolong, Mawar histeris seperti ketakutan, saya dan warga cepat kemari ke rumah pak Danar, akan tetapi rumah pak Danar sangat mencekam banyak Mahluk halus yang bergentayangan, sebagian warga pun ketakutan dan berlari, saya yang tidak menghiraukan mahluk halus itu bersama kedua warga karena mendengar teriakan histeris pak Danar yang kesakitan. Ketika saya dan kedua warga melihat kondisi pak Danar, kondisi pak Danar sangat memperihatinkan karena itu saya dan kedua warga memanggil Mantri Eman untuk memeriksa pak Danar, dan yang menunggu pak Danar Sutaman yang kembali bersama sebagian warga. Akan tetapi saat kami membawa Mantri Eman suasananya semakin mencekam karena banyak Mahluk halus yang bermunculan kami semua kuat menghadapinya, tetapi lama kelamaan kami pun tidak kuat akan kondisi malam tadi, karena bukan hanya kami ketakutan melainkan kami juga harus menahan bau yang menyengat maka dari itu kami semua pingsan karena takut dan karena bau yang menyengat." Ucap pak Rt.


"Apakah itu benar apa yang pak Rt katakan." Jawab pak Danar, dengan kaget.


"Benar Bapak semalam ibu juga ketakutan saat melihat Bapak histeris kesakitan ibu juga pingsan karena melihat mahluk yang menyeramkan di arah jendela kamar, ibu baru tersadar pas Bapak membangunkan ibu." Ucap Sulastri.


"Benar pak Danar saya yang menunggu di sini sendirian pingsan karena teror Dedemit." Ucap Sutaman.


"Iya pak Danar kami juga semalam pingsan di sini karena kami takut." Ucap kedua warga.


"Benar pak Danar, kurasa pak Danar bukan sakit karena biasa melainkan pak Danar sakit aneh, semalam saya memeriksa pak Danar sangat kritis saya menyarankan pak Danar untuk di operasi karena perut pak Danar membuncit tetapi saat pagi ini terlihat jelas pak Danar baik baik saja tidak kondisi parah melainkan kondisi pak Danar yang terlihat seperti kurang istirahat, saya juga merasa ini penyakit aneh lebih baik pak Danar cari orang pintar agar bisa mengobati pak Danar." Ucap Mantri Eman.


Pak Danar yang setengah tidak percaya kini merenung dan mengingat kembali ketika masih sadar. Akan tetapi semua itu menjadi yakin karena melihat bekas darah dari baju pak Danar yang baru terlihat


"Apakah yang di maksud penyakit aneh pak Mantri Eman dan mengapa pak Mantri Eman menyarankan saya untuk berobat kepada orang pintar?" Tanya pak Danar.


"Karena penyakit itu akan datang lagi pada pak Danar kalau pak Danar tidak mengobatinya." Ucap Mantri Eman.


Semua yang ada di sana menyimak percakapan Mantri Eman, pak Danar yang kini berpikir keras kini setelah berdiri entah mau ke mana pak Danar tiba tiba pingsan dan semuanya kaget terutama istrinya Sulastri.


"Mengapa dengan bapak." Ucap Sulastri.


"Tenang Bu Sulastri biar saya periksa." Jawab Mantri Eman.


Pak Rt, Sutaman dan kedua warga hanya membantu membaringkan pak Danar ke tempat tidurnya dan kini Mantri Eman memeriksanya.


"Bu Sulastri pak Danar hanya kelelahan mungkin karena semalam terus berteriak histeris meski pak Danar sendiri tidak sadar akan dirinya, lebih baik saya sarankan kepada Bu Sulastri untuk mencari orang pintar untuk mengobati pak Danar karena ini bukan penyakit yang bisa di tangani oleh medis. Karena bila malam menjelang saya takut kejadian semalam akan terulang lagi." Ucap Mantri Eman.


"Apakah benar bila menjelang malam akan kembali lagi seperti tadi malam Mantri Eman?" Tanya pak Rt.


"Benar begitu, bila malam akan kejadian lagi?" Tanya Bu Sulastri.


"Benar karena kalau belum di kalahkan sumbernya akan terus seperti ini kasian kalau begitu akan tersiksa pada pak Danar." jawab Mantri Eman.


Kini semuanya berkumpul untuk mendiskusikan di mana orang pintar itu berada Mantri Eman yang ingin pulang ke rumah pun kini ikut diskusi, Sutaman dan kedua warga dan pak Rt beserta bu Sulastri memikirkan dan mengingat siapa orang pintar yang dekat dari kampung Lorong Badak, yang bisa mengobati penyakit aneh pak Danar...,