Santet

Santet
Jin Cantik Kitab Buhun



Arwah yang menyeramkan yang di panggil oleh pria paruh baya itu masih berwujud, saat Andri, Dasep, Nisa dan Mawar menangis di dekat jasad Firman yang meninggal.


Arwah yang menyeramkan itu pun kini di acuhkan.


“Duh aku di cuek kin padahal tadi aku di perhatikan sama manusia-manusia penakut ini, kalau sudah gak di anggap ada, aku jadi BT kalau di cuek kin gini terus, dasar manusia menangis karena mati teman nya, padahal dia yang menangisi temannya pun akan mati juga, harus nya di doa kan agar tak seperti aku jadi Arwah gentayangan, malah menangisi nya, orang mati kalau mati ya mati meski menangis banyak juga, kesal lihat manusia yang begitu, kalau begitu aku akan masuk lagi ke Kitab Buhun ah BT.” Gerutu Arwah yang menyeramkan.


Kini Arwah yang menyeramkan itu pun menjadi asap tebal dan masuk ke dalam Kitab Buhun yang di jatuhkan pria paruh baya itu, Mawar yang memperhatikan Arwah itu memasuki Buku tebal kini Mawar yang tadinya menangis dan lemas karena melihat Firman Mati dengan cara tergais, kini Mawar berjalan untuk mengambil buku tebal itu, padahal itu Kitab Buhun pria paruh baya yang terjatuh.


Mawar karena penasaran kini mengambil buku tebal itu akan tetapi saat mawar mengambil Buku tebal itu darah Mawar yang masih mengalir dari tangan yang terluka bekas menubruk golok pria paruh baya itu, darah Mawar yang Masih perawan terhisap oleh Kitab Buhun, kini Kitab Buhun itu bercahaya serta halaman terakhir Kitab Buhun itu terbuka, seketika dari dalam Buku tebal itu keluar Jin yang begitu cantik. Mawar terkejut dan terbata -bata saat melihat nya.


Andri, Dasep dan Nisa masih menangis karena melihat Firman yang tergeletak tak bernyawa, mereka bertiga pun masih tidak menyadari bahwa Mawar melihat jin yang cantik.


Andri yang sudah mulai menguatkan diri kini mencoba untuk menguatkan serta menenangkan Dasep dan Nisa untuk tidak bersedih lagi.


“Dasep, Nisa, kita harus segera membawa jasad Firman dan kita tak boleh terus menangis seperti ini.” Ucap Andri.


“Andri gue tak menyangka Firman akan meninggal seperti ini, gue ingin menangkap pria gila itu.” Ucap Dasep.


“Andri gue lemes tetapi apa yang elo katakan benar kita harus membawa jasad Firman, tetapi kita harus menyadarkan Sri, Marni dan Sani yang pingsan terlebih dahulu saat bersembunyi di balik pohon besar itu.” Ucap Nisa.


“Apa kalian bersama Marni Sri dan Sani sebelum nya, mengapa kalian tidak bilang, terus ke mana yang lainnya.” Ucap Andri.


“Yang lainnya masih belum di temukan Andri, tetapi kita harus menolong mereka Karena Sri tangan nya patah, Marni terluka dan Sani wajah nya lebab karena di siksa oleh lelaki tua itu.” Ucap Nisa.


“Sial pria gila itu malah melarikan diri akan aku tangkap kalau sudah tertangkap dia harus membayar semua yang telah dia lakukan terhadap teman-teman ku.” Ucap Dasep, Geram.


“Sudah kita sekarang sadar kan Sri, Marni Dan Sani saja dulu Sep, Oh ya ke mana Mawar, tadi Mawar ada di sini.” Ucap Andri.


“Mawar tadi berjalan ke belakang Andri entah mau melakukan Apa.” Ucap Sri.


Ketika Andri, Dasep dan Nisa menoleh ke arah Mawar berjalan, alangkah kaget nya saat Mawar sedang mematung dan seperti melihat sesuatu.


Mawar yang masih tidak berkedip saat jin cantik keluar dari buku tebal itu kini terkejut saat jin cantik itu berbicara ke Mawar.


“Wahay pemilik ku aku adalah Jin dari Kitab Buhun itu yang kau sentuh, karena kau telah membuka Kitab halaman terakhir oleh darah perawan maka kau lah yang akan menjadi pemilik ku.” Ucap Jin Cantik.


“Kau bisa berbicara, apa kah kau benar yang ada di dalam buku tebal ini.” Ucap Mawar.


Andri, Dasep dan Nisa kini merasa hawatir karena melihat Mawar berbicara sendiri, kini Nisa mencoba untuk mendekati Mawar dan bertanya.


“Mawar kamu mengapa berbicara sendiri dan cepat buang buku tebal itu, itu milik pria gila itu kan.” Ucap Nisa.


Mawar pun terkejut saat Nisa mendekatinya dan bertanya seperti itu dan Mawar merasa aneh juga karena Nisa tidak bisa melihat Jin yang keluar Dari Buku yang di pegang nya, kini Mawar pun menjawab ucapan Nisa dan menoleh ke arah Nisa.


“Aku sedang mengobrol dengan Jin di hadapan ku apa kau tidak melihatnya Nis, mengapa aku harus membuang buku tebal ini Nis, ini mungkin sangat berguna loh.” Jawab Mawar.


“Aduh Mawar kamu jangan aneh dan bikin aku takut, kamu jangan berbicara sendiri, lebih baik kita segera kembali ke Pos 2, kita juga harus segera menyadarkan Sri, Marni dan Sani yang pingsan agar cepat kita kembali dan meminta bantuan.” Ucap Nisa.


“Oh iah siap Nis ayo.” Ucap Mawar.


Kini Mawar dan Nisa pun berjalan mendekati Sri, Marni dan Sani yang pingsan. Mawar pun masih bingung tetapi kebingungan nya terjawab oleh Jin Cantik itu.


“Wahai pemilik ku aku akan terlihat oleh mu saja dan yang lain tidak bisa melihat ku.” Ucap Jin cantik.


“Kau diam dulu aku masih belum memahami situasi ini.” Ucap Mawar.


Mawar yang tujuannya menjawab Jin Kitab Buhun Malah Nisa yang menanggapinya.


“Loh ko ngomong gituh sih Mawar emang nya ada apa.” Ucap Nisa.


“Oh bukan apa-apa Nis ayo kita bangunkan Sani, Sri dan Marni saja.” Jawab Mawar.


Andri dan Dasep kini sudah tidak menangisi kematian Firman lagi, mereka berdua merasa aneh saat melihat Mawar tetapi tidak ingin bertanya karena ingin bersiap untuk membawa jasad Firman ke Pos 2.


Nisa dan Mawar kini sudah di dekat Sri, Sani dan Marni yang tergeletak pingsan di bawah pohon besar. Nisa dan Mawar pun mencoba untuk membangunkan mereka bertiga.


Jin cantik kini masih melayang-layang di dekat Mawar, Mawar kini mencoba untuk bersikap biasa karena tidak ingin terlihat aneh di hadapan teman-temannya.


Nisa kini mencoba membangunkan Sani dan Sri sekaligus, sedangkan Mawar mencoba membangunkan Marni.


“Mawar bagaimana ini mereka sepertinya bukan hanya sekadar pingsan melainkan mereka juga lemas.” Ucap Nisa.


“Iah Nis tetapi mau gimana lagi kita harus membangunkan mereka untuk segera kembali ke Pos 2 untuk meminta bantuan, kita harus mencari jasad Arwah pendaki satu lagi, belum lagi kita di kejar pria aneh itu, kita juga harus membawa jasad Firman, kalau kita terus di sini takutnya pria aneh itu datang kemari lagi untuk mengancam kita dan membunuh kita semua, kita harus cepat bergegas.” Ucap Mawar..,