Santet

Santet
Arwah-arwah Yang Bergentayangan



Pria paruh baya yang terus berlari kini berhenti saat menemukan tenda dan Pos yang banyak orang-orang, pria paruh baya itu kini mengintai di sekeliling untuk mencari yang membawa Kitab Buhun nya dan ingin menculik seorang gadis yang masih perawan untuk di tumbal kan dan ingin mebunuh setiap orang untuk di ambil darah nya tetapi karena banyak orang jadi pria paruh baya itu pun bersembunyi dan berhati-hati.


“Ternyata di sini sangat banyak orang, aku harus lebih berhati-hati meski sekarang aku menjadi kuat tetapi tidak akan bertahan lama, kalau aku tertangkap di sini bisa mati. Mengapa ada warga kampung juga di sini, apa mereka sudah mengetahui keberadaan ku.” Gumam pria paruh baya.


Pria paruh baya itu kini mengeluarkan sesuatu dan dia duduk bersila di atas tanah, lalu dia melakukan ritual pemanggilan Arwah-arwah gentayangan penghuni jalur Gunung Babadakan ini, setelah lama melakukan ritual, angin dan suara cekikikan terus berdatangan di berbagai arah.


Pria paruh baya itu pun kini sudah selesai melakukan ritual pemanggilan Arwah-arwah gentayangan lalu dia berdiri dan melihat ke arah tenda dan Pos yang berisi orang-orang.


**


Mawar, Andri, Dasep , Nisa  yang sedang duduk untuk beristirahat dan melihat Sri, Marni dan Sani yang sedang di obati penanganan pertama oleh pengurus Pos dan panitia, kini mereka semua merasakan hawa yang dingin dan seluruh tubuh mereka semua merinding.


“Andri apa elo merasa angin malam ini terasa dingin menusuk ke tulang, dan apa elo merasakan tubuh elo merinding sama seperti yang gue rasakan.” Ucap Dasep.


“Iah Sep gue juga tadinya ingin nanya sama elo, ternyata elo juga sama, tetapi kalau kamu Mawar, Nisa apa tidak merasa merinding seperti aku dan Dasep.” Ucap Andri.


“Gue juga sama loh Andri seperti kalian berdua, ini juga tubuh gue berat sekali dan merinding.” Ucap Nisa.


“iah nih ini aneh sekali apa ada sesuatu di luar yah.” Ucap Mawar.


“Iah coba kita lihat ke luar tenda aja yuk biar tahu apa yang ada di luar tenda.” Ucap Dasep.


Di luar tenda ternyata banyak sekali Arwah-arwah yang bergentayangan yang di panggil oleh pria paruh baya itu, akan tetapi semuanya tidak bersuara melainkan hanya melayang-layang di atas tenda dan sebagian lagi hanya berdiam diri di atas pohon, semuanya menyorot ke arah tenda yang ada Mawar dan teman-temannya beristirahat.


Dasep mengajak keluar tenda dan semuanya setuju untuk melihat apa yang terjadi di luar tenda, saat beberapa langkah kaki keluar tenda. Dasep, Andri, Mawar dan Nisa sangat terkejut dan merinding lebih dari yang sebelum nya, mereka melihat Arwah-arwah yang bergentayangan dan aneh nya hanya mereka berempat yang melihat nya, panitia dan pengurus tidak melihat para Arwah yang begentayangan dan melayang-layang di atas mereka. Dasep, Andri, Mawar dan Nisa kini mematung tak bergerak karena saking terkejutnya, akan tetapi itu tidak lama saat panitia nge camp bertanya pada Andri.


“Andri mengapa kalian ini mematung di depan tenda, bapak kan menyuruh kalian untuk beristirahat di dalam tenda.” Ucap panitia nge camp.


“Pak, apa bapak tidak melihat ada Arwah yang bergentayangan di atas kita.” Ucap Andri.


“Andri kamu ini ngomong jangan sompral pamali tahu, ini di jalur pendakian, bapak tidak melihat apa-apa, cuma bapak merasa angin dingin maka nya bapak ke sini untuk memberikan kalian selimut untuk beristirahat, ini kalian berempat malah mematung di luar cepat masuk.” Ucap panitia nge camp.


“Haduh kalian ini cepat ini ambil selimutnya dan kalian istirahat di dalam tenda saja, kalian berhalusinasi, biar bapak dan pengurus di sini yang akan mencari pria paruh baya yang kalian bicarakan dan bapak akan cari jasad pendaki yang kalian bicarakan juga, tetapi kalian jangan membuat bapak hawatir seperti ini cepat istirahatkan saja kalian biar gak berhalusinasi.” Ucap panitia nge camp.


“Iah baik pak kami akan ke dalam tenda lagi untuk beristirahat.” Ucap Dasep.


Kini panita nge camp pun kembali ke Pos dan Dasep, Andri, Nisa serta Mawar kini kembali ke dalam tenda dan beristirahat.


“Oh ya mengapa hanya kita berempat saja yang melihat Arwah-arwah yang bergentayangan di luar tenda ini mengapa yah ini.” Ucap Nisa.


“Iah aku juga tak mengerti dengan situasi ini Nis.” Ucap Mawar.


“Apa jangan-jangan pria gila itu ada di sini dan ingin menelor kita, soalnya kita berempat saja yang pernah bertemu dengan Pria gila itu, dan juga pria gila itu memiliki ilmu aneh, saat aku ingin memukul nya juga aku terpental dan pria gila itu bisa mengendalikan Arwah, bagaimana ini.” Ucap Dasep, panik.


“Iah tetapi kita tidak boleh berpikir seperti itu mungkin ini hanya halusinasi kita berempat saja lihat ini sudah jam 23:40 malam sudah mau berganti hari lagi mungkin kita perlu istirahat agar tak berpikiran aneh-aneh karena capai dan takut. Tetapi bagaimana nasih 6 teman-teman kita yang masih di tangkap oleh Arwah pendaki kalau kita tidak menemukan sampai matahari terbit.” Ucap Andri.


“Iah Andri  apa kita saja yang harus mencarinya karena panitia nge camp dan pengurus Pos tidak bertindak, mereka hanya berdiskusi saja, bagaimana kalau mereka tidak mencari jasad Arwah pendaki dan mereka hanya memikirkan tentang kematian Firman dan hanya ingin menangkap pria paruh baya itu, karena mencari pria paruh baya itu akan di bantu oleh warga lereng Gunung Babadak ini katanya sudah di kasih tahu ke bawah lelereng kampung oleh salah satu pengurus untuk mengajak warga menangkap pria yang selama ini warga cari, ciri-cirinya hampir sama seperti yang kita temukan, apa kita meminta bantuan sama warga juga, bila sudah ada di sini yah.” Ucap Mawar.


“Iah lebih baik begitu siapa tahu warga bisa bantu kita mencari jasad Arwah pendaki sekalian, tetapi warga juga kata pengurus pos di sini ingin kita mengantar ke lokasi gubuk yang kami temukan di dalam jalur pendakian jadi kita sekalian saja mencari jasad Arwah pendaki agar teman-teman kita kembali.” Ucap Dasep.


“Iah tetapi apa kah benar gubuk itu tempat pria gila itu takutnya kita salah Dasep.” Ucap Andri.


“Sudah sebaiknya kita melihat ke sana lagi dan memastikan nya langsung, kan kita akan di temani oleh warga jadi kita tidak akan takut kalau ada apa-apa menimpa kita.” Jawab Dasep.


“Iah Andri apa yang di katakan Dasep benar juga, aku juga ingin ke sana melihat gubuk itu.” Ucap Mawar.


“Lebih baik jangan Mawar, kamu di sini saja kita tungguin Sri, Marni dan Sani saja di sini sama aku, biar Dasep sama Andri saja yang ke sana nya, kan Andri sama Dasep juga sudah tahu lokasi Jasad Arwah pendaki yang kita temukan, pasti satunya lagi tidak jauh dari sana, kamu di sini sama aku saja yah di sini yah Mawar aku merasa takut kalau tidak sama kamu, apa lagi kembali ke sana lagi.” Ucap Nisa.


“Iah sudah aku akan di sini sama kamu saja yah Nis.” Ucap Mawar.


Saat Mawar, Nisa, Dasep dan Andri sedang ngobrol angin kencang menghantam tenda mereka dan suara cekikikan terdengar jelas di atas tenda. Semuanya panik dan terkejut serta bulukuduk semuanya yang ada di dalam tenda merinding...,