
“Andri gue gak apa-apa cuma sakit lengan sedikit, tetapi kalau elo mau ke gubuk itu gue gak mau Andri, gue takut, lebih baik kembali ke Pos 2, tetapi gue gak tahu sekarang ada di mana ini.” Ucap Dasep, sambil menahan rasa sakit.
“Lah elo Sep masa liat gituan aja takut sih, berani lah dikit Sep kita kalau tidak berani kita tak akan bisa mencari teman-teman kita.” Ucap Andri.
“Iah Andri, tetapi kita juga jangan asal masuk gubuk, ingat ini di tengah jalur pendakian Gunung Babadakan Andri, bila kita salah jalur kita akan muter-muter terus di situ gue takut itu terjadi pada kita sama teman-teman kita Andri.” Ucap Dasep.
“Iah-iah kalau gituh ayo kita cari jalur, lebih baik kita kembali ke Pos 2 saja lebih aman dan kita harus meminta bantuan pada panitia nge camp.” Ucap Andri.
“Nah itu gue setuju, tetapi kita harus lewat mana nih. Eh Andri lo diam dulu, denger ada suara yang berjalan di semak belukar menuju kemari apa elo dengar.” Ucap Dasep, berbisik.
“Iah Sep gue denger itu apa kita berteriak saja.” Ucap Andri, berbisik.
“Eh jangan Andri gue punya pirasat buruk sepertinya itu hewan buas, lebih baik kita berhati hati, ingat di dalam semak belukar itu banyak hewan buas bersarang, kita matikan dulu senter kita, lalu berjalan mengendap-ngendap ok.” Ucap Dasep, berbisik.
“Mengapa si Dasep jadi bisa membaca situasi, apa karena dia menabrak pohon otak nya jadi bagus yah tetapi bagus lah biar gak ngerepotin.” Gumam Andri.
Andri dan Dasep pun kini berjalan pelan-pelan karena mendengar suara yang mendekat akan tetapi setelah Dasep dan Andri berjalan mengendap-ngendap suara yang mendekat pun berhenti.
*
Pria paruh baya yang mengejar Dasep dan Andri ke dalam semak belukar kini menemukan Andri dan Dasep dari kejahuan karena terlihat jelas cahaya senter yang menyorot, akan tetapi setelah pria paruh baya yang semakin mendekat untuk menangkap Andri dan Dasep dia ke hilangan jejak Andri dan Dasep karena senter nya di matikan, pria paruh baya itu pun kesal.
“Mengapa mereka senter nya di matikan apa mereka tahu bahwa aku sedang mengejarnya.” Gerutu peria paruh baya, sambil berjalan pelan-pelan.
Andri dan Dasep yang berjalan pelan-pelan di situasi yang gelap gulita kini tak mengira bahwa mereka berpapasan dengan peria paruh baya yang ingin menangkap nya, setelah berpapasan dan sudah jauh jarak dari pria paruh baya itu, kini Dasep dan Andri menyalakan lagi senter nya karena merasa sudah tidak ada suara yang mengikuti nya.
“Nah benar kan kata gue itu pasti hewan buas yang ingin mendekati karena melihat ada cahaya yang mereka kira cahaya ialah makanan atau sesuatu yang menarik bagi mereka, kita sudah aman ayo kita cari jalur untuk kembali ke Pos 2 dan setelah itu kita cari teman-teman kita.” Ucap Dasep.
“Lah elo itu tahu dari mana dan juga loe emang nya gak takut sama hewan buas.” Ucap Andri.
“Gue gak takut sama hewan buas tetapi kalau sama setan gue takut, apa lagi saat melihat setan yang tadi bulukuduk gue merinding Andri.” Ucap Dasep.
“Heem ada-ada aja lo mah Sep sama hewan buas gak takut aneh, ayo kita percepat langkah nya Sep biar cepat ke jalur.” Ucap Andri.
“Mengapa mereka tidak ada di sini aku rasa tadi mereka ada, aku harus sampai dapat kedua orang itu agar aku tidak jauh menculik orang lagi dari kampung.” Gumam peria paruh baya.
Peria paruh baya pun kini melihat ke sekeliling ternyata tidak melihat apa-apa, akan tetapi saat menoleh ke belakang cahaya sorot senter Andri dan Dasep terlihat jelas karena menyorot senter nya kadang ke atas kadang ke depan. Peria paruh baya itu pun kini berlari karena tidak mau kehilangan Andri dan Dasep.
“Andri apa benar ini jalan menuju jalur kembali.” Tanya Dasep.
“Kurasa iah Sep karena ada jejak semak belukar yang di terobos.” Ucap Andri.
Andri dan Dasep yang sedang berjalan menelusuri semak belukar kini mendengar suara yang berlari menerobos semak belukar karena sudah menyadari dari alah belakang kini Dasep dan Andri menoleh kebelakang. Andri dan Dasep kaget karena yang berlari itu setelah di sorot oleh senter adalah seseorang yang membawa golok dan ingin menyerang mereka berdua dengan cekatan Dasep mendorong Andri hingga terjatuh karena seseorang yang berlari itu ingin menebas leher Andri dengan golok nya, akan tetapi Dasep mendorong Andri terjatuh jadi Andri pun selamat dari tebasan peria paruh baya itu.
“Siapa kau mengapa kau ingin membacok teman ku, aku memang takut sama setan tetapi aku tidak takut sama orang, tetapi kamu orang apa setan huh, tiba-tiba datang ingin membacok.” Ucap Dasep.
“Hah hah hah hah, kau anak muda lebih baik pasrah saja agar hidup mu berguna bagi ku, kalian akan aku tebas karena kalian tumbal ku.” Ucap pria paruh baya, sambil menyerang Dasep dengan golok nya.
Dasep yang cekatan kini bisa menghidari setiap serangan peri paruh baya itu, sambil berteriak mengingat kan Andri.
“Andri cepat bangun dan bantu lawan, dia orang tua gila masa kita ingin jadi tumbal nya.” Teriak Dasep.
Andri pun yang terjatuh kini bangun saat mendengar teriakan Dasep dan menyorot ke arah pria paruh baya itu yang sedang menyerang Dasep. Andri pun kini berusaha untuk tetap tenang dan waspada karena melihat pria paruh baya itu membawa golok dan pasti akan menyerang lagi.
Andri yang melihat Dasep terus di serang oleh pria paruh baya yang mengunakan golok nya, kini Andri mencoba untuk membantu Dasep dengan cara mencabut semak belukar dan melempar ke arah pria paruh baya itu.
“Hey siapa kau, kau sepertinya manusia mengapa kau menyerang kami.” Ucap Andri.
Pria paruh baya itu pun berhenti menyerang Dasep, karena Dasep yang sangat cekatan dan di tambah lagi lemparan semak belukar yang mengenai wajah peria paruh baya itu.
Andri yang merasa cukup aman karena menyorot pria paruh baya itu diam tak menyerang Dasep, kini Andri terkejut karena pria paruh baya itu menyerang Andri dengan golok yang di pengan nya.
Andri yang tak mengira akan hal itu kini tebasan golok yang ingin mengenai leher nya di tahan oleh tangan Andri, tangan Andri pun sobek dan berdarah. Andri berteriak kesakitan.
Dasep yang melihat itu terjadi langsung dengan cepat menendang pria paruh baya itu sampai tersungkur dan Dasep pun langsung mengajak Andri untuk berlari..,