
Mawar dan Nisa yang sudah membangunkan Sri dan Marni dari pingsan nya, kini membawa tengkorak manusia dan menyimpan di tempat yang mudah di ingat, kini Mawar mengajak semuanya untuk mencari jasad Arwah pendaki.
“Nis, Sri, Marni kita lebih baik cari sekitaran sini saja pasti jasad para pendaki itu tidak jauh dengan tengkorak yang tadi.” Ucap Mawar.
“Mawar apa kamu gak salah ngomong mau nyari malam-malam begini jasad mereka, lebih baik besok saja, kita seharunya kembali ke jalur agar mudah ke Pos 2 setelah di Pos 2 kita minta bantuan, gimana, aku takut Mawar.” Ucap Marni, gugup.
“Marni kamu ini jangan penakut kamu gak liat itu Sri, Sri sudah kembali liat di samping mu dia Sri, Arwah pendaki mengembalikan Sri setelah aku dan Mawar menemukan salah satu jasad mereka.” Ucap Nisa.
“Iah aku melihat Sri tetapi aku sangat takut Nis, kalau masuk lagi ke dalam semak belukar, lebih baik kita cari jalur untuk kembali ke Pos 2, dan untuk mencari jasad para pendaki lebih baik besok saja, liat Sri juga pasti lelah, benar kan kamu lelah Sri.” Ucap Marni.
“Aku tidak lelah Marni, tetapi aku merasa aneh mengapa tiba-tiba bersama kalian padahal tadi aku sedang di kurung bersama Sani dan yang lainnya, ini seperti mimpi bagi ku.” Ucap Sri.
“Sudah Sri jangan bahas itu nanti kamu akan mengingat hal tidak mengenakan bagi dirimu, Marni benar lebih baik kita kembali ke Pos 2, akan tetapi apa kamu tidak melihat ini di mana, ini di jalur pendakian Gunung Babadakan
Marni, ingat kata-kata Arwah pendaki kita harus cepat mencari jasad mereka karena bila kita tidak menemukan Jasad mereka sampai matahari muncul teman-teman kita tidak bisa kembali, apa kamu tidak kasian pada mereka.” Ucap Mawar.
“Iah Marni, aku tadinya tidak percaya ucapan Mawar akan tetapi saat kita menemukan tengkorak manusia, Arwah pendaki itu mengantarkan Sri kembali, kamu tidak tahu karena kamu pingsan Marni, Arwah pendaki juga bilang kita harus menemukan jasad mereka agar teman-teman kita di kembali kan.” Ucap Nisa.
“Iah Marni lebih baik kita cari jasad Arwah pendaki, kita ikuti saja apa kata Mawar, kamu jangan takut nya.” Ucap Sri.
“Iah-iah tetapi kalian jangan ninggalin aku sendirian yah.” Jawab Marni.
Kini Mawar, Nisa, Sri dan Marni sepakat untuk memasuki semak belukar kembali dan mencari jasad yang kemungkinan berdekatan, mereka semua memberanikan diri. Suasana gelap gulita hanya di terangi oleh sorot senter saja.
Ketika sudah di dalam semak belukar Nisa, Marni, Sri dan Mawar berjalan pelan-pelan dan melihat ke bawah, ternyata setelah menelusuri semak belukar tidak jauh dari tempat menemukan tengkorak manusia. Mawar, Marni, Nisa dan Sri menemukan lagi satu tengkorak manusia yang masih lengkap dengan pakean dan tas di punggun nya, akan tetapi saat ingin membawa nya kepala tengkorak manusia itu tidak ada semuannya pun terkejut, dan merinding.
“Ini aneh mengapa tengkorak manusia ini tidak ada kepala nya, kurasa ini bukan mati karena tersesat atau kelaparan tetapi ada yang membunuh nya.” Ucap Sri.
“Lah elo jangan ngomong aneh-aneh Sri, lihat tubuh gue jadi merinding denger elo ngomong, dan tahu dari mana ini pembunuhan Sri.” Ucap Nisa.
“Iah Sri jangan nakut-nakutin gue lah, liat gue juga jadi merinding elo ngomong begitu, masa di tengah jalur pendakian ada seorang pembunuh, jangan ngomon aneh Sri.” Ucap Marni, gugup.
“Sudah-sudah kita sekarang bawa ini tengkorak ke tempat yang tadi, kita simpan dulu siapa tahu kita menemukan kepala tengkorak nya di dekat sini.” Ucap Mawar.
“Elo kaya yang gak takut sama sekali Mawar saat Sri ngomong begitu.” Ucap Marni.
“Iah Mawar ayo kita bawa ini tengkorak.” Ucap Sri.
Kini semuanya membawa tengkorak tanpa kepala dan meletakannya berdekatan dengan tengkorak yang sebelumnnya, setelah menyimpan nya. kini Mawar, Marni, Nisa dan Sri beristirahat sejenak di dekat tengkorak yang di simpan di bawah pohon besar, karena lelah sudah menelusuri semak belukar untuk mencari tengkorak.
Ketika Semuanya sedang beristirahat tubuh Nisa, Marni, Sri dan Mawar merasa berat dan merinding dan di barengi suara cekikikan Arwah pendaki yang semakin terdengar jelas mendekati Mawar dan yang lainnya.
“Hik Hik Hik Hik Haaa, Hik Hik Hik Hik Haaa.” 3x cekikkan Arwah pendaki.
Arwah pendaki yang melayang-layang kini menghampiri Mawar dan yang lainnya. Marni yang ketakutan kini terbata bata dan pingsan, Mawar dan Nisa tidak takut karena sudah terbiasa sedang kan Sri hanya menatap kosong ke arah Arwah pendaki yang ada di hadapannya.
“Hik Hik Hik Hik haa, terima kasih kalian baik , kalian telah menemukan jasad teman ku, kalian telah menuruti apa mau aku, Hik Hik Hik Hik Hik, akan aku kembalikan satu teman mu tetapi kalian harus berhati-hati untuk mencari ke dalam semak belukar karena akan ada seorang pembunuh, Hik Hik Hik Hik haa.” Ucap Arwah pendaki.
“Memang nya siapa pembunuh itu, mengapa ada pembunuh di jalur pendakian ini, mengapa kau menjadi Arwah, sebenar nya kau sudah mati atau belum.” Ucap Mawar.
“Hik Hik Hik Hik haaa, sebenar nya aku ini adalah tumbal, di bilang mati aku tidak mati di bilang mati aku ini hidup, Hik Hik Hik Hik haa.” Ucap Arwah pendaki.
“Apa maksud ucapan mu itu wahai Arwah pendaki, jelaskan mengapa ada pembunuh dan mengapa Arwah seperti mu memberi tahu ku.” Ucap Mawar.
“Hik Hik Hik Hik, baik lah, karena kalian baik, Hik Hik Hik, aku akan ceritakan mengapa aku menjadi seperti ini dan akan ku beritahu mengapa seorang pembuhun itu akan kemari, aku akan masuk ke jasad teman mu itu dulu, Hik Hik Hik Hik haa.” Ucap Arwah pendaki.
Sri yang menatap kosong dari tadi kini di rasuki Arwah pendaki, Nisa hanya melongo melihat Arwah pendaki masuk ke jasad Sri.
Mawar hanya membiarkan semuanya mengalir apa ada nya. Arwah pendaki yang sudah merasuki tubuh Sri kini mulai bercerita bagaimana bisa menjadi Arwah.
“Hik Hik Hik Hik Hik , aku sebelum seperti ini, aku bersama teman-teman ku ingin naik ke puncak Gunung Babadakan ini, tetapi di tengah jalur arah yang kita lalui teman kita hilang, aku mencari bersama teman-teman lainnya, akan tetapi satu persatu teman-teman ku hilang, aku panik dan berteriak, ketika aku sudah berhenti berteriak ada seorang pria paruh baya yang membawa golok di tangan nya menghampiri ku, aku kira pria paruh baya itu warga yang sedang mencari kayu bakar, ternyata pria paruh baya itu saat mendekati ku aku bertanya pada nya dia tidak menjawab aku pun menjadi takut, tetapi ketika ingin berlari tubuh ku bergetar dan tak bisa di gerakan, aku di pukul dan pingsang, ketika bangun aku sudah berada di dalam gubuk dan aku di ikat saat mata ku melihat ke arah depan, aku menagis sejadi jadinya karena di depan ku aku melihat kepala teman ku yang berlumuran Darah aku berteriak dan meminta tolong tetapi tidak ada yang menolong ku, ketika aku sudah lelah berteriak pria paruh baya itu datang menghampiriku. Dan dia hanya bertanya pada ku.”
“Apa kau masih perawan.”
”Aku hanya menagis ketakutan dan dia memukul kepalaku keras aku pusing dan lemas suara pun aku tak keluar meski sudah sekuat tenaga berteriak. Setelah itu aku di angkat dan di baringka di atas meja, lalu pria paruh baya itu membuka sebuah Buku dan membaca buku tersebut, setelah membuka buku pria paruh baya itu mengiris lengan ku dan darah ku di ambil oleh nya, lalu dia hanya tertawa riang dan hanya terdengar dia berbicara. “Aku berhasil, aku berhasil membuka jilid ke delapan ternyata kau masih perawan, aku akan mengambil sumber hidup mu gadis cantik.”
"Setelah aku mendengar ucapannya aku merasa tubuh ku sakit karena di iris-iris dari tangan sampai kaki, aku menagis tak bersuara, dan aku pun setelah itu tidak ingat apa-apa, hanya yang teringat wajah pria paruh baya itu dan aura yang di pancarkan nya, Aku menjadi Arwah seperti ini karena kutukan sebuah Buku yang dia punya, aku bisa keluar dari buku itu hanya pada malam Hari, Hik Hik Hik Hik, setelah siang hari aku akan masuk lagi ke dalam buku, aku setiap malam mencari teman-teman ku, aku bukan untuk menakut nakuti, karena kalian baik maka aku memberi tahu kalian berhati hatilah pria paruh baya itu akan kemari. Aku akan keluar dari tubuh teman mu ini, Hik Hik Hik dan akan aku kembalikan salah satu teman mu Hik Hik Hik Hik haa"
Arwah pendaki pun kini keluar dari tubuh Sri. Mawar dan Nisa hanya melongo saat Arwah pendaki keluar dari tubuh Sri yang langsung menghilang. Dan setelah menghilang Arwah pendaki muncul kembali sambil membawa Sani ke hadapan Mawar dan Nisa, Sani yang tak sadarkan diri kini tergeletak di depan Mawar dan Nisa...,