
Di bawah pohon besar di jalur pendakian Gunung Babadakan, Nisan dan Mawar bengong saat Arwah pendaki mengembalikan Sani, Arwah pendaki pun langsung menghilang setelah nya. Nisa dan Mawar yang masih bengong, kini di sadarkan oleh Sri yang baru tersadar dari di rasuki tubuh nya oleh Arwah pendaki.
“Kalian mengapa bengong begitu, oh ya itu di depan kita yang tergeletak apakah itu Sani, dan mengapa kepala ku pusing dan tubuh ku lemas sekali serta ke mana Arwah pendaki yang tadi menakuti kita.” Ucap Sri.
Mawar dan Nisa yang sudah tersadar dari bengong nya kini menoleh ke arah Sri lalu menjawab ucapan Sri.
“Sri kamu sudah sadar juga yah sukur lah, benar itu Sani, kalau Arwah pendaki dia sudah menghilang, sudah yang penting kita selamat, kamu istirahat dulu saja Sri pulihkan dulu agar tidak lemas dan pusing setelah itu kita lakukan pencarian lagi.” Ucap Mawar.
“Iah Sri kamu istirahat dulu saja agar pulih kembali.” Ucap Nisa.
“Memang nya aku ini mengapa jadi seperti ini.” Ucap Sri.
“Oh tidak apa-apa Sri, sudah kamu istrahat dulu aja. Nis kamu bangunin Marni supaya dia cepat sadar biar aku yang tolong Sani yang tergeletak yah.” Ucap Mawar.
“Iah sipa Mawar.” Ucap Nisa.
Marni yang tergeletak pingsan kini di tolong oleh Nisa untuk di sadarkan, sedang kan Sani yang baru saja di kembalikan oleh Arwah pendaki masih tergeletak pingsan, kini Mawar pun mendekati Sani untuk menolong menyadarkan nya, Sri hanya bisa melihat ke arah mereka berdua karena badan nya yang masih merasa lemas.
“Marni bangun Mar, cepat bangun Mar, jangan pingsan begini, kita masih harus mencari jasad Arwah pendaki, Mar cepet bangun Mar .” Ucap Nisa, sambil menggoyang-goyangkan badan Marni.
Mawar pun yang sudah mendekati tubuh Sani kini tubuh Sani di baringkan dan kepala Sani di letakan di pangkuan Mawar.
“San, San, Sani bangun elo harus bangung San, cepet kita gak boleh di sini terus-terusan San, Sani.” Ucap Mawar sambil menepak-nepak kedua belah pipi Sani.
Tak selang lama Marni pun tersadar saat terus di bangunkan oleh Nisa.
“Nis gue takut banget, gue pingin pulang gak mau di sini dan gak mau nyari jasad Arwah pendaki lagi gue takut melihat Arwah itu yang menyeramkan, gue pingin pulang, pingin pulang Nis.” Ucap Marni tersedu-sedu yang baru tersadar.
“Mar elo janga begini elo harus kuat kita di sini sama takut tetapi kita harus berani, kita juga gak mau seperti ini, tenang Mar, lihat Sani sudah kembali Mar, tarik napas pelan-pelan dan ini kamu minum dulu, jangan ngomong lagi Mar tenangin diri dulu, Mar jangan menangis yah.” Ucap Nisa, sambil memberi kan minum yang ada di tas nya.
Sani yang masih tidak sadar kini di basuh muka nya oleh Mawar pakai air minum yang ada di tas nya,
Sani pun kini tersadar dan membuka mata nya, saat membuka mata nya Sani kaget karena ada Mawar di hadapan nya.
“Sukur lah kau sudah sadar Sani aku hawatir karena kamu susah sadar.” Ucap Mawar.
“Di mana ini Mawar mengapa badan ku terasa lemas sekali dan kepalaku pusing.” Ucap Sani.
“Sudah jangan dulu banyak tanya kamu sebaik nya istirahat aja dulu San, setelah agak baikan nanti aku jelaskan apa yang terjadi.” Ucap Mawar.
“Iah Nis aku ingat tetapi apa mungkin akan ada seorang pembunuh lewat ke sini yah, ini kan sudah malam liat deh jam berapa sekarang, ini jam 21:10 wib, tetapi kita tetap harus lebih hati-hati saja.” Ucap Mawar.
Sani, Marni dan Sri yang sedang beristirahat untuk memulihkan kondisi agar lebih baik kini bingung saat mendengar pembicaraan Mawar dan Nisa.
Sani yang sudah membaik kini berdiri dan ingin bersandar di bawah pohon besar untuk duduk, tetapi saat Sani berdiri dia berteriak karena baru menyadari bahwa ada tengkorak manusia.
“Aaaaah Setan tengkorak Aaaahhh.” Teriak Sani, sambil gugup dan ketakutan.
Mawar, Nisa, Sri dan Marni kaget karena mendengar teriakan Sani, akan tetapi dengan sigap Mawar menjelaskan ke Sani bahwa emang itu tengkorak manusia yang di cari untuk menyelamatkan Sani, kini Sani pun terdiam karena mendengar pejelasan Mawar meski belum memahami semua penjelasan Mawar, Sani pun menguatkan diri nya meski masih gugup ketakutan karena di samping Sani duduk ada tengkorak Manusia. Sani pun masih tidak tahu dengan kodisi nya sekarang.
“Sebenar nya ini di mana dan mengapa aku bisa di sini, yang aku ingat kita salah jalur bukan, tetapi mengapa sekarang kita ada di sini.” Ucap Sani, gugup.
“Sebaiknya kamu jangan dulu banyak tanya San, tenang kan diri mu dulu, tadi kan aku sudah menjelaskan apa yang sebenar nya terjadi bukan.” Ucap Mawar.
Kini Sani pun tidak menjawab melainkan duduk dan bengong. Sri yang sudah pulih kini duduk bersadar di dekat Sani begitu pun dengan Marni.
Nisa dan Mawar melihat teman-teman nya merasa kasihan karena pasti ketakutan. Saat Mawar dan Nisa ingin kembali masuk ke semak belukar untuk mencari jasad pendaki yang lainnya agar cepat di temukan, kini badan Mawar dan Nisa merinding dan berat begitu pun Sani, Sri dan Marni sama mengalami apa yang di rasakan Mawar dan Nisa.
“Mawar apa kamu juga merasakan merinding dan badan berat.” Ucap Nisa.
“Iah Nis mengapa yah, ini aneh padahal tidak ada apa-apa, lebih baik kita cari berdua saja jasad Arwah pendaki nya biar cepat, ayo biarkan Sani, Sri dan Marni menunggu di sini saja.” Ucap Mawar.
Saat Mawar dan Nisa ingin memasuki semak belukar lagi, di atas Nisa dan Mawar Setan buruh rupa melayang melewati mereka berdua, tubuh Nisa dan Marni semakin lebih merinding dan berat tetapi rasa itu hanya sebentar. Nisa dan Mawar tidak menyadari akan hal itu.
Sri, Sani dan Marni pun merasakan hal yang sama akan tetapi mereka bertiga memilih untuk diam saja dan menguatkan diri masing-masing dari rasa ketakutan nya.
Nisa dan Mawar berhenti sejenak saat merasakan hal aneh itu, lalu memasuki semak belukar kembali untuk mencari jasad Arwah pendaki.
“Nis kurasa sebelah sini deh jasad yang lainnya, tadi kan Arwah pendaki memberi tahu bahwa yang dia cari hanya 3 jasad teman nya, karena yang lainnya mati oleh pembunuh itu, nah kita sudah menemukan dua pasti satu lagi ada sekitaran sini, karena masih berdekatan saat mati nya kan.” Ucap Mawar.
“Iah Mawar aku rasa sebelah situ juga.” Ucap Nisa.
Ketika Mawar dan Nisa sedang mencari Jasad Arwah pendaki di dalam semak belukar terdengar teriakan Sri, Sani dan Marni yang sangat keras.
“Sakit Nisa, Mawar tolong aku, tolong.” Teriak Sri, Marni dan Sani.
Sontak Mawar dan Nisa terkejut dan langsung berlari menuju tempat Sri, Marni dan Sani berteriak minta tolong...,