Santet

Santet
Nisa Yang Cekatan



Mawar dan Nisa yang terkejut mendengar suara teriakan teman-temannya kini langsung berlari menuju ke tempat Siri, Sani dan Mawar berteriak.


Nisa dan Mawar berlari sekencang mungkin. Saat sampai Mawar dan Nisa terkejut karena ada seorang pria paruh baya yang sedang menyiksa Sani, Sri dan Marni.


Nisa saat melihat seorang pria paruh baya menyiksa teman-temannya dengan cekatan mencari ranting pohon di hadapannya dan setelah menemukan ranting pohon Nisa berlari ke arah seorang pria paruh baya itu lalu memukul nya sekeras mungkin dengan ranting.


Pria paruh baya yang terkena pukulan ranting pohon oleh Nisa kini berhenti menyiksa Sri, Sani dan Marni. Pria paruh baya itu kini menoleh ke arah Nisa lalu memukul Nisa akan tetapi dengan cekatan Nisa menghindari pukulan nya, karena Nisa Suka olah raga silat jadi Nisa sedikit nya bisa bela diri.


Nisa terus melawan dengan memukul mengunakan ranting pohon ke arah pria paruh baya itu, kini pria paruh baya itu geram karena tidak bisa melukai Nisa. Pria paruh baya itu mengeluarkan golok dari sarung nya yang dari tadi berada di samping pinggang nya, Nisa terkejut dan semakin waspada karena pria paruh baya di hadapan nya kini mengunakan golok untuk menyerang.


“Apa ini pembunuh yang di katakan Arwah pendaki itu, aku harus mengalihkan dan memancing lebih jauh dari sini agar teman-teman ku menjauh dari nya.” Gumam nisa.


Mawar yang terkejut dan tak menyangka bahwa Nisa bisa bela diri, karena melihat Nisa yang begitu cekatan saat melawan pria paruh baya di hadapan nya, kini Mawar menghampiri Sri, Sani dan Marni untuk menolong nya, Mawar kaget saat melihat kondisi teman-temannya, karena melihat tangan Sri patah dan melihat Marni tangan nya berdarah serta Sani wajah nya yang lebam karena bekas pukulan.


“Apa kalian bisa berdiri ayo kita lari selagi pria itu sedang mengarah ke Nisa.” Ucap Mawar, panik.


“Mawar aku sudah tak kuat badan ku lemas dan tangan ku sakit sekali.” Ucap Sri, sambil menangis.


“Mawar sebaik nya bantu Nisa orang itu kejam aku kuat tetapi aku pusing karena melihat darah ku sendiri terus mengalir.” Ucap Marni.


Sani hanya terdiam dan menahan sakit karena wajah nya yang lebam, Sani hanya bisa mengangguk kan kepala saat Mawar berbicara padannya.


“Apa orang itu yang di sebutkan Arwah pendaki tadi yang akan dantang kemari dan ingin membunuh siapa saja.” Gumam Mawar.


Kini Mawar mencoba untuk membantu Sri menjauh dari tempat itu dan menyuruh Sri bersembunyi. Marni pun begitu, dia di suruh untuk bersembunyi oleh Mawar. Mawar pun sama menyuruh Sani untuk bersembunyi, akan tetapi saat Sani ingin berdiri sebuah ranting pohon yang keras mengarah mengenai kepala Sani, Sani pun tersungkur. Mawar kini menoleh ke arah di mana asal lemparan Ranting pohon yang mengenai kepala Sani, Mawar terkejut ternyata pria paruh baya itu yang melempar ranting pohon ke arah Sani.


Dan Mawar terkejut serta berteriak kencang saat melihat Nisa tertangkap oleh pria paruh baya itu, Lalu Mawar berlari ke arah pria paruh baya itu untuk membantu Nisa, karena leher Nisa ingin di gorok oleh golok yang di pegang pria paruh baya itu.


Mawar berlari kencang dan menubrukkan badan nya ke arah Pria paruh baya itu, tangan Mawar terluka dan berdarah karena menabrak golok yang dipengan oleh pria paruh baya itu, pria paruh baya itu tersungkur begitu juga dengan Nisa dan Mawar.


“Kau siapa kau mengapa ingin melukai kami, kami tidak punya masalah dengan mu Paman.” Teriak Mawar.


Mawar yang melihat pria paruh baya itu tidak menyerang dan tidak menjawab ucapan nya, kini Mawar membantu Nisa untuk berdiri.


“Nis kamu tidak apa-apa kan ayo kita sama-sama hadapinya.” Ucap mawar.


“Mawar aku tidak apa-apa cuma tadi aku terpeleset jadi aku tertangkat oleh nya, makasih sudah mau membantu ku kalau tidak aku akan di gorok oleh pembunuh itu, Mawar tangan mu berdarah.” Ucap Nisa yang semakin waspada.


“Sudah aku masih kuat ko Nis lebih baik kita waspada terhadap pembunuh itu.” Jawab Mawar.


Pria paruh baya itu kini masih mencari golok yang terjatuh karena hanya di teramgi oleh senter yang terjatuh di tanah jadi penglihatan hanya terlihat samar tidak jelas melihat semuannya. Pria paruh baya itu kini menemukan Golok nya lalu dia mulai berbicara.


“Kalian sebaiknya jangan melawan agar hidup kalian berguna bagiku, aku hanya ingin darah kalian, apa kalian masih perawan cepat jawab.” Ucap pria paruh baya itu. Yang memacarkan aura aneh.


“Apa hubungan nya dengan kami masih perawan atau tidak.” Ucap Mawar, geram.


Mawar kini mengingat ucapan Arwah pendaki. Seorang pria paruh baya yang membunuh nya pernah menanyakan apa masih perawan atau tidak. ternyata Arwah pendaki mati karena orang ini kini Mawar semakin Waspada.


“Oh kalian ingin aku siksa seperti tiga gadis itu karena tidak mau menjawab pertanyaan ku, baik kalau begitu aku akan menyiksa dulu kalian supaya kalian jujur dan menjawab pertanyaan ku, apa kalian masih perawan atau tidak, aku hanya ingin darah perawan saja kalau kalian tidak menjawab akan aku bunuh kalian semua, tetapi bila kalian menjawab nya aku akan melepaskan kalian tetapi aku butuh satu orang darah perawan saja.” Ucap pria paruh baya.


“OH jadi kau ingin darah kami yah, aku tak ingin memberi mu darah kau pria gila.” Ucap Nisa, geram.


Pria paruh baya yang ada di hadapan Mawar dan Nisa tidak menjawab ucapan Nisa melainkan dia berdiri dan mematung.


Marni, Sri dan Sani hanya melihat dari balik pohon sambil bersembunyi karena ketakutan.


“Ternyata gadis di hadapan ku ini sangat berani dan bisa bela diri kalau dia serius dan tidak terpeleset akan sulit menangkap nya lagi, kalau aku membunuh nya aku tak bisa membuka halaman Kitab Buhun terakhir, kalau hanya darah manusia untuk menguatkan ku aku akan menangkap kedua orang tadi, tetapi aku ini harus mendapatkan darah perawan dulu selagi ada di hadapan ku, karena membuka kitab Buhun harus dengan darah perawan yang masih hidup lalu memasukan Arwah ke dalam nya, aku harus bisa menangkap dan menyiksan gadis ini agar aku tidak sia-sia membunuh, kalau bukan darah perawan yang aku tumbalkan aku butuh banyak korban lagi untuk membuka kitab Buhun ku.” Gumam Pria paruh baya.


Mawar dan Nisa kini semakin waspada karena apa bila pria paruh baya di hadapannya bergerak Mawar dan Nisa bisa dengan sigap bertindak..,