Santet

Santet
Salah Jalan



Suasananya begitu indah, pepohonan dan udara yang sejuk membuat yang ada di bawah kaki Gunung Babadakan sangat betah.


Kini sudah waktu nya kelompok 7 untuk berangkat, semuanya sudah mengecek kembali barang bawaan agar tak ada yang ketinggalan.


"Kalian sudah siap, ingat ikuti arah yang sudah di tandai oleh kami dan jangan melewati tanda X, semangat ayo semangat." Ucap Dimas panitia nge camp.


"Ayo semuanya, berangkat." Ucap Andri.


Mawar, Sri, Marni, Nisa da yang lainnya berangkat, mereka sangat antusias untuk segera sampai ke puncak, mereka pun memasuki jalan yang membuat mata memandang takjub, pohon pinus disetiap pinggir jalan nya. Andri berjalan paling depan dan di belakang nya di ikuti oleh Nisa, Marni, Sri dan Mawar serta enam cewek lainnya dan Dasep serta Firman paling belakang.


Tak terasa waktu sudah sore hari, mereka berjalan sudah hampir sampai pos dua.


"Haduh aku capai sekali istirahat dulu lebih lama di sini saja ya." Ucap Sri.


"Jangan terlalu lama dong Sri, nanti kita ke maleman kita semua juga capai loh Sri." Ucap Mawar.


"Iah Sri, lebih baik kita jalan lagi jangan kelamaan di sini kelompok paling akhir akan segera tiba loh." Ucap Mawar.


"Kalian sudah siap untuk melanjutkan pendakian." Ucap Andri.


"Nanti dulu sebentar lagi yah, aku masih lelah." Ucap Sri.


"Baiklah kita tambah 5 menit lagi untuk istirahat." Ucap Andri.


Perjalanan dari lokasi berhenti Bus sampai ke pos 2 Gunung Babadakn, merasa tidak ada hambatan akan tetapi saat melanjutkan perjalanan menuju pos 3 jalur pendakian ada dua jalan dan tidak ada tanda X, dua jalan menuju puncak pun menjadi perdebatan untuk memilih jalan mana yang akan di lalui.


"Kita harus memilih jalan mana ini." Ucap Nisa.


"Iah kita seharus nya sudah sampai pos 4 dan puncak Gunung, kalau tidak banyak istirahat." Ucap Sani, salah satu dari 6 cewek kelompok 7, dengan sinis, mata mengarah ke Sri


"Apa, kamu nyalahin aku ya, karena banyak istirahat." Ucap Sri.


"Sudah Sri jangan begitu, biarin dia aja." Ucap Mawar.


"Benar Sri yang terpenting kita selamat dan kita harus cepat memilih jalan." Ucap Nisa.


"Sudah, sudah kalian jangan bertengkar, kita harus cepat memutuskan mau pilih jalan yang mana, apa bila kita tidak berjalan takutnya kita akan ke malam di jalan, ayo kita putuskan sama sama mau ambil jalan kiri apa kanan." Ucap Andri.


"Aku kanan saja." Ucap Dasep dan dua cewek lainnya.


"Aku kiri saja." Ucap Firman dan yang lainnya.


"Ini semua gara gara Sri tuh yang minta istirahat lama jadi kita tersusul oleh kelompok delaman, seperti ya kelompok terakhir iseng pada kita hingga tanda X ya di hilangkan." Ucap Sani, yang sinis.


"Oh jadi kamu nyalahin aku ya, aku istirahat kalian juga mengapa ingin istirahat coba." Ucap Sri, emosi.


"Kalian berdua sudah jang saling menyalahkan istirahat sudah keputusan bersama bukan, kita di dahului sama kelompok lagi juga sudah keputusan bersama bukan, sebaik nya kalian berdua diam, kita ini lagi mau memutuskan jalan mana yang harus di lalui, kalian malah saling menyalahkan." Ucap Andri.


Sri yang emosi pun reda saat Andri bicara, Sani pun berhenti bicara hanya saja Sani mengumat di dalam hati nya.


Semuanya yang sudah saling memilih jalan kini di putuskan untuk mengambil jalan kiri karena dari 13 orang yang memilih jalur kiri 10 orang dan jalur kanan 3 orang jadi semuanya sepakat untuk mengmbil jalur kiri.


"Semuanya kita lanjutkan perjalanan ini, agar kita sampai ke pos empat dengan cepat, kalian sudah beristirahat di sini cukup lama jadi pasti tenaga kalian semua sudah fit kembali kan, maka ayo jalan." Ucap Andri.


Sepanjang perjalanan terasa sunyi dan berbeda dengan sebelum nya yang masih terdengar suara burung, semakin berjalan semakin rimbun pepohonan hari pun sudah mulai gelap.


"Kurasa kita salah jalan, kata nya dari pos tiga ke pos 4 tidak membutuhkan waktu berjam jam ini sudah mau magrib." Ucap Dasep.


"Hus jangan asal ngomong salah jalan salah jalan Dasep, jangan sompral." Ucap Mawar.


"Aku bukan nya sompral kita akan tersesat, akan tetapi memang benar kan, harus nya tadi pilih kanan sudah aku ingat kan ambil jalan kanan mengapa kalian malah ambil jalur kiri, jadi begini kan lama, hari sudah mulai gelap apa kita mau bikin tenda di jalur." Ucap Dasep.


"Sudah kau diam Dasep, kita itu sudah mengambil lajur ini dengan keputusan bersama, mengapa juga kau tidak ambil lakut kanan sendiri." Ucap Firman.


"Apa kau nyuruh nyuruh aku diam jelas jelas ini salah jalan lama begini." Ucap Dasep dengan kesal.


"Eh lo malah nyolot yah Sep, gue ngomong gak nge gass lah elo malah nge gas ke gue mau lo apa sih Sep." Ucap Firman.


"Sudah kalian ini jangan berdebat kita jalan saja terus." Ucap Mawar.


"Diam kau Mawar, sama saja dengan si Firman." Ucap Dasep.


"Eh lo jangan gitu sama cewek napa, udah ngomong nge gas, malah marah marah gak jelas aneh lo, pantas gue gak enak saat lo masuk kelompok gue." Ucap Firman.


"Oh jadi lo gak mau sama gue satu kelompok ya udah lo aja keluar dari kelompok ini." Ucap Dasep.


"Lo nge nyel banget Sep, gue lama lama emosi sama lo." Ucap Firman, dengan kesal.


Semua cewek ketakutan saat melihat ke arah Dasep dan Firman yang saling berdebat dan ingin berkelahi, Andri yang dari tadi diam saja kini mulai kesal karena mendengan cekcokan Firman dan Dasep, Andri pun mererai perdebatan mereka.


"Kalian berdua diam, ingat ini di mana, ini itu di tengah Gunung Babadakan, kalian mau berkelahi di sini gara-gara ambil salah jalan dengan sepakat kita ambil jalur kiri ini kalian masih berdebat, kalian mau berkelahi apa gak malu sama cewek yang ada di sini mereka melihat ketakutan pada kalian, seharusnya kalian bisa menenangkan suasana ini malah bikin suasana tegang, sebaik nya kita istirahat dulu dan siap kan senter masing masing hari sudah mulai gelap." Ucap Andri.


"Tetapi Andri Dasep nge nyel sama gue." Ucap Firman.


"Sudah kau juga sama saja Firman, sebaik nya kau diam." Ucap Andri.


Kini Dasep pun terdiam dengan kesal kepada Firman, begitu pun Firman yang sangat kesal, karena malu sama Andri kini mereka berdua diam. Mawar, Nisa Marni, Sri dan yang lainnya, kini merasa was was, melihat mereka berdua yang masih terlihat emosi satu sama lain, tetapi di sisi lain merasa tenang karena ada Andri yang bisa mererai mereka berdua....,