
Andri, Dasep, Nisa dan Mawar kini berhenti melangkah karena mendengar suara gerusukan di dalam semak belukar yang berada di samping jalan.
Suasana yang gelat gulita di tambah suara gerusukan di dalam semak belukar membuat mereka berempat saling berbisik karena takut ada seseorang atau hewan buas yang akan menerka mereka berempat, dengan wajah panik serta jantung deg-degan Andri, Dasep, Nisa dan Mawar berbisik sambil berhenti berjalan sejenak.
“Andri elo dengar suara di samping kita kan di dalam semak belukar, suara apa yah kira-kira.” Bisik Dasep, dengan panik.
“Gue juga dengar suara gerusukan itu Sep tetapi apa yah, tak mungkin setan gerusukan, sebaiknya kita waspada takutnya hewan buas.” Jawab Andri berbisik.
“Mawar suara apa itu.” Bisik Nisa, dengan gugup.
“Gak tahu Nis aku juga mau nanya ke kamu tetapi sebaiknya kita lanjutin pelan-pelan melangkah nya aja, dan kamu Nis jangan gugup gini dong tenang aku ada di sini, Dasep dan Andri juga ada di belakang kita misalkan ada hewan buas, kita harus tetap tenang aja, gue juga takut tetapi gak gugup juga.” Ucap Mawar berbisik.
“Duh Mawar gue takut dan tangan gue gemetar nih.” Bisik Nisa, dengan semakin erat memegang tangan Mawar.
“Iah sudah gak apa-apa ada aku ko Nis, kita lanjut jalan pelan-pelan saja yah.” Jawab Mawar.
Suara semak belukar itu kini sudah tidak terdengar lagi. Nisa, Mawar, Dasep dan Andri merasa lega dan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Pos meski keadaan masih gelap gulita, tak terasa mereka berempat kini sudah melihat cahaya terang dari Pos dan tenda yang berada sekitar Pos.
Mawar dan Nisa sangat senang saat pertama kali melihat cahaya terang dari tenda yang dekat dengan Pos, begitu pun Andri dan Dasep yang mempercepat langkah kakinya.
“Duh akhirnya kita sampai juga yah, pegel nih dari tadi bawa jasad Arwah ini.” Ucap Dasep.
“Iah gue juga Sep tetapi sukurlah kita sudah sampai dan kita selamat.” Ucap Andri.
“Mawar setelah ini kita bisa tertidur pulas, aku sudah lelah.” Ucap Nisa.
“Iah setelah ini kita bicarakan kepada panitia sama pengurus agar besok nya mengurus jasad Arwah pendaki yang kita temukan ini, dan kita bisa tertidur pulas memanjakan badan yang sudah lelah.” Ucap Mawar.
Akhirnya mereka berempat sampai ke Pos dan mereka pun menghampiri panitia nge camp dan pengurus dan menceritakan semuanya dan menyimpan jasad Arwah pendaki dengan yang sudah di temukan terlebih dulu. Setelah mereka berempat selesai berbicara kepada panitia dan pengurus Pos jalur pendakian, kini Mawar sangat panik karena Arwah pendaki belum juga mengembalikan teman-temannya.
“Mawar mengapa kamu jadi panik begini.” Ucap Nisa.
“Iah Mawar ada apa dengan mu hingga panik begini apa terjadi sesuatu terhadap diri mu Mawar.” Ucap Andri.
“Mungkin Mawar lelah sama seperti kita, sebaik nya kita istirahat, ini kan sudah hampir pagi.” Ucap Dasep.
“Aku panik karena Arwah pendaki belum juga mengembalikan teman-teman kita yang di culik.” Ucap Mawar.
“Waduh bener juga yah padahal kita sudah menemukan ketiga jasad Arwah pendaki yah, jadi bagaimana ini Mawar.” Ucap Dasep.
“Iah Mawar gimana ini kita sudah menuruti apa yang Arwah pendaki itu ingin kan tetapi dia belum juga mengembalikan teman-teman kita.” Ucap Nisa.
“Iah aku juga gak tahu tetapi kita tunggu saja, aku jadi panik karena belum datang juga Arwah pendaki ini kan udah jam 06:00 pagi.” Ucap Mawar.
Ketika Nisa, Mawar, Dasep dan Andri panik karena menunggu Arwah pendaki yang belum muncul, tak di sangka teman-teman yang menghilang oleh Arwah pendaki muncul di jalur menuju Pos mereka semua berlari dan berteriak meminta tolong dan semua yang ada di Pos kini menghampiri mereka yang menghilang di culik Arwah pendaki.
Mawar yang melihat teman-teman nya sudah kembali merasa lega dan tenang sehingga Mawar pun kini ingin tertidur karena sudah lelah begitu pun Nisa, Andri dan Dasep mereka pun setelah melihat teman-teman nya kembali, mereka berempat masuk ke dalam tenda yang berisi Marni, Sri dan Sani yang sudah tertidur pulas.
“Akhirnya teman-teman kita sudah kembali, ternyata Arwah pendaki menepati janji nya.” Ucap Mawar.
“Iah benar Mawar, akhirnya pengalam ini yang sangat menyeramkan sudah berakhir aku ingin pulang dan tidak mau nge camp lagi.” Ucap Nisa.
“Iah aku juga ingin pulang ingin segera tertidur di rumah saja.” Ucap Andri.
“Sama aku juga, oh ya tetapi bagaimana teman-teman kita yang sudah kembali apa kita harus ke sana agar mengetahui apa yang terjadi.” Ucap Dasep.
“Sudah lah kita sebaiknya istirahat untuk memulihkan tenaga dan pastinya kita lelah agar siang kita bisa beraktifitas atau izin pulang ke panitia.” Ucap Mawar.
“Iah bener kata Mawar, karena teman-teman kita yang sudah kembali dan sedang di tanya oleh panitia dan pengurus apa yang menimpa mereka sehingga di culik oleh Arwah pendaki, nanti juga kita akan tahu lebih baik istirahat saja, tetapi ke mana Arwah pendaki pergi nya yah ko gak pamitan yah.” Ucap Andri.
“Lah elo berani juga kaga liat itu Arwah pendaki yang menyeramkan ini ingin minta datang dan ingin pamitan dulu aneh loh Andri, gue mah ogah.” Ucap Dasep.
“Yeh gue kan nanya Sep.” Ucap Andri.
Kini Andri, Dasep, Mawar dan Nisa berada di dalam tenda, mereka berempat malah asik ngobrol tidak beristirahat, dan tak terasa waktu pun berlalu, sinar matahari sudah muncul menyinari tenda dan membuat semua orang terbangung. Sri, Marni dan Sani pun terbangun mereka bertiga pun sudah agak baikan meski belum sembuh total terutama Sri yang tangan nya patah oleh pria tua gila itu. Mawar yang melihat Sri, Marni dan Sani sudah terbangun dari istirahat tidurnya kini menghampiri merek bertiga.
“Sukur lah kalian sudah bangun, bagaimana keadaan kalian apakah sudah agak membaik.” Ucap Mawar.
“Aku sudah baikan badan ku sudah gak letih lagi Mawar.” Ucap Marni.
“Iah Mawar aku juga sudah membaik ko meski banyak bekas luka lebam, oh ya sebelum nya maafkan aku yah Mawar sudah ngerepotin kamu.” Ucap Sani.
“Mawar aku masih sakit tangan aku patah tetapi tidak terlalu sakit seperti awal di patahkan, terus ke mana sekarang pria gila itu aku sangat takut, aku ingin pulang saja tak ingin bertemu lagi dengan pria gila itu.” Ucap Sri.
Kini Nisa pun menghampiri Mawar dan yang lainnya Nisa tidak banyak bertanya hanya duduk di samping Mawar saja sedang Andri dan Dasep baru bisa tertidur pulas karena kelelahan.
“Gak apa-apa Sani kita kan teman udah seharusnya saling membantu saat ke susahan bukan. Dan kamu Sri nanti setelah pulang cepat di obati yah patah tulang nya semoga cepat sembuh sudah jangan memikirkan pria gila aneh itu dia tak akan muncul lagi ko. Dan Kamu Marni sebaiknya istirahat dulu saja atau tidur kembali seperti nya kamu masih kelelahan loh wajah mu pucat.” Ucap Mawar.
Kini setelah teragedi kelompok 7 dan meninggal nya Firman serta menemukan tiga jasad Arwah pendaki, panitia dan pengurus pos menguburkan terlebih dahulu jasad Arwah pendaki, dan setelah itu acara nge camp yang tadinya seminggu kini di batalkan, dan para Mahasiwa yang sudah berada di puncak gunung babadakan kini di suruh untuk kembali dan berkumpul di Pos 2. Dimas selaku panitia di atas puncak pun kini terkejut saat mendapat kabar dari pengusur Pos yang memberi tahu Dimas untuk segera kembali beserta kelompok pendakian Mahasiswa lainnya.
Setelah semuanya berkumpul di Pos 2 mereka berpamitan kepada pengurus jalur pendakian dan semuanya pun kembali menuju Bus untuk pergi pulang menuju kampus, karena teragedi itu saat sudah kembali ke kampus orang tua Firman sangat marah dan meminta pihak panitia bertanggung jawab tetapi karena secara musawarah kini keluarga Firman pun menerima dengan ikhlas kematian Firman.
Mawar pun kembali ke rumah dan yang lainnya pun kembali kerumah masing-masing, dan semanjak saat itu Mawar memiliki Kitab Buhun, setelah membuka beberapa halaman di dalam kitab Buhun Mawar pun memiliki indra keenam yang belum mawar sadari, itu lah awal Mawar menemukan Kitab Buhun, tetapi Mawar tidak bercerita kepada siapapun tentang keanehan pada dirinya yang semakin hari semakin bisa melihat kejadian dan mahluk astral semenjak memperdalam Kitab Buhun tersebut...,