Santet

Santet
Ternyata Kiriman Mahluk Halus Lagi



Pak Sutaman yang pergi ke Kampung Lorong Sebrang untuk memanggil lagi Embah Yai Dores, kini memiliki pertanyaan di pikirannya, "Mengapa jimat yang di berikannya tidak berfungsi menangkal Dedemit dan setan serta tidak bisa menyembuhkan orang yang sakit, ini tidak sesuai apa yang dibicarakan Embah Yai Dores."


Pak Sutaman pun mempercepat langkah kakinya, setelah berjalan cukup lama akhirnya pak Sutaman sampai di halaman rumah Embah Yai Dores, tetapi terlihat di pagar halaman nya ada bendera kuning, sempat terbesit di pikiran pak Sutaman siapa yang meninggal, karena banyak orang yang masih lewat kini pak Sutaman menanyakan siapa yang meninggal di rumah Embah Yai Dores.


"Pak permisi, siapa ya yang meninggal di rumah Embah Yai Dores." Ucap pak Sutaman.


"Masa gak tahu pak, yang meninggal itu Embah Yai Dores, meninggal nya pun sangat teragis dan gak tahu penyebabnya apa kalau ingin lebih jelasnya masuk saja ke rumah nya." Jawab Bapak yang lewat.


"Oh terima kasih pak." Ucap pak Sutaman.


"Iah sama sama, mari pak." Ucap bapak yang lewat.


Alangkah terkejutnya pak Sutaman saat mengetahui yang meninggal itu Embah Yai Dores. Kini pak Sutaman melihat ke dalam rumah Embah Yai Dores, ternyata memang benar Embah yai Dores telah meninggal, masih banyak orang dan keluarga Embah Yai Dores yang berkumpul untuk mendoakannya.


Sesudah melihat dan ikut bela sungkawa kini pak Sutaman pulang dengan perasaan cemas karena tidak ada orang pintar yang sakti lagi di kampung Lorong Sebrang selain Embah Yai Dores.


"Haduh aku harus cari ke mana lagi ini, orang pintar seperti Embah Yai Dores malah meninggal dan meninggalnya pun mengerikan, sudah lah aku pulang saja." Gumam pak Sutaman.


Pak Sutaman pun kembali ke Kampung Lorong Badak meski tanpa hasil, kini pak Sutaman pun mempercepat langkah nya karena merasa hawatir pak Rt dan yang lainnya menunggu kedatangan Pak Sutaman.


**


Kediaman pak Danar.


Akwal dan pak Rt kini sudah memindahkan yang pingsan di halaman ke rumah pak Danar, kini semuanya sudah tersadar ketika Akwal berdoa dan membangunkan warga dan bu Sulastri.


"Duh kepala aku pusing." Ucap Bu Sulastri, sambil memegang kepalanya.


tak selang lama bu Sulastri mulai panik saat teringat suaminya, pak Danar.


"Haduh, bagaimana keadaan suami saya." Ucap Bu Sulastri, panik.


"Bu tenang, pak Danar sudah membaik sekarang lagi beristirahat di kamar nya jangan panik Bu." Ucap pak Rt.


Kini warga pun sudah tersadar dan pamit karena warga tidak bisa berbuat apa apa dan juga ketakutan. Kini tinggal Akwal, pak Rt dan Bu Sulastri. Pak Danar yang sudah merasa membaik kini beristirahat di kamar nya. Akan tetapi itu tak selang laman melainkan pak Danar mulai kesakitan kembali dan perut pak Danar membuncit, pak Danar pun berteriak histeris.


"Sakiit Saaaaakkkiiitt haduuuh, Saaakkitt."


Pak Rt, Akwal dan bu Sulastri yang sedamg mengobrol kini panik dan menghampiri pak Danar yang berteriak kesakitan, semua terkejut dan kaget saat melihat kondisi pak Danar karena perut membuncit lagi serta muntah darah. Bu Sulastri menangis melihat suaminya yang begitu kesakitan.


"Bagaimana ini, pak Danar menjadi parah, pak Sutaman mengapa lama sekali ya. Akwal bagaimana ini." Ucap pak Rt.


"Tenang paman kita tunggu pak Sutaman, sambil kita bantu dengan berdoa saja agar pak Danar membaik lagi, karena ini ulah Dedemit dan setan pasti dengan berdoa bisa sembuh." Ucap Akwal.


Bu Sulastri kini keluar kamar pak Danar saat pak Rt mencoba berbicara dan menenangkan, Bu Sulastri menghiraukan ucapan pak Rt dan berjalan menuju kursi untuk duduk sambil menangis karena tidak kuat melihat suaminya kesakitan kini Bu Sulastri merenung.


Akwal kini berdoa di hadapan pak Danar yang sedang histeris kesakitan, pak Rt kini hanya bisa berdiam diri tak melakukan apa apa karena memikirkan pak Sutaman yang belum datang, pak Rt mundar mandir.


Ketika pak Rt yang sedang cemas dan Akwal masih terus berdoa di hadapan pk Danar, pak Sutaman datang.


"Mengapa kamu sendiri Sutaman, ke mana Embah Sakti itu." Ucap pak Rt, yang panik.


"Haduh bagaimana ya pak Rt, Embah Yai Dores yang sakti itu sudah meninggal, dan meninggal ya pun sangat teragis entah apa penyebabnya warga dan keluarga ya pun tidak tahu maka nya aku tidak membawa kemari." Jawab pak Sutaman.


"Apa. Embah Sakti yang siang ke sini meninggal bagaimana bisa tadi siang terlihat sehat dan sakti mana mungkin bisa terjadi padanya." Ucap pak Rt.


"Mungkin pak Rt, meski sakti pun bisa meninggal, aku tak tahu harus cari lagi orang pintar yang seperti Embah Yai Dores, pak Rt." Ucap pak Sutaman.


"Kalau begitu bagaimana nasib pak Danar." Ucap pak Rt.


"Aku juga bingung harus apa pak Rt." Ucap pak Sutaman.


Bu Sulastri yang melihat pak Sutaman datang tetapi tidak bersama Embah Yai Dores yang sakti, kini merasa putus asa dan melamun sambil menangis. Akwal yang mendengar percakapan pak Rt dan pak Sutaman kini Akwal menghampiri pak Rt dan membiarkan Pak Danar di kamar ya terbaring kesakitan.


"Paman, bagaimana kalau kita memanggil pak kiyai Santri saja paman, karena dengan doa bisa mengalahkan Setan dan Dedemit, aku baru ingat sekarang makanya aku mengusulkan ini." Ucap Akwal.


"Iah benar juga kamu Akwal, mengapa kita baru terpikir sekarang, kalau begitu kita harus cepat memanggil kiyai Santri yang ada di Kampung Lorong Hilir, siapa yang akan kesana." Ucap pak Rt.


"Pak rt sama Akwal di sini saja biar saya saja yang memanggil Kiyai Santri kemari." Ucap pak Sutaman.


"Iah kalau begitu cepat ya pak Sutaman, maafkan merepotkan lagi untuk kesana kemari." Ucap pak Rt.


"Tidak apa apa pak Rt, kalau begitu saya berangkat menuju Kampung Lorong Hilir dulu ya." Ucap pak Sutaman.


"Iah hati hati." Jawab pak Rt.


Kini pak Sutaman berangkat ke Kampung Lorong Hilir untuk memanggil Kiyai Santri, untuk membantu mendoakan kesembuhan pak Danar, Akwal bersama pak Rt kini memasuki kamar pak Danar dan menemani pak Danar serta mendoakan terus menerus agar pak Danar cepat sembuh.


Ketika pak Rt dan Akwal sedang mendoakan pak Danar. Bu Sulastri yang sendiri duduk di kursi berteriak histeris. "Aaaaaahhh Aaaaah haaaah."


"Akwal, mengapa? dengan Bu Sulastri, ayo liat dulu." Ucap pak Rt.


"Iah ayo paman Rt." Jawab Akwal....,