Santet

Santet
Gelap Gulita Dan Suara Misterius



Mawar, Andri, Dasep dan Nisa saat sudah sampai di tempat di mana jasad Arwah pendaki berada mereka berempat sangat terkejut saat mendengar suara cekikikan Arwah pedaki yang melayang-layang dan menghampiri mereka berempat.


Andri, Dasep dan Nisa sangat ketakutan saat Arwah pendaki yang buruk rupa dan cekikikan itu menghampiri mereka bertiga sedangkan Mawar dengan santai nya menanggapi saat Arwah pendaki itu mendekatinya.


“Terima kasih, kau telah baik dan menolongku Hik Hik Hik Hik Hii.” Ucap Arwah pendaki.


“Aku menolong mu karena ingin menolong teman-teman ku, cepat kembalikan teman-teman ku yang kau culik dan kau sembunyikan di alam mu Arwah pendaki.” Ucap Mawar.


Andri tubuhnya merinding dan gemetar saat melihat Mawar berbicara dengan Arwah pendaki yang sangat buruk rupa rambut terurai dan mata yang menyala sebelah.


Dasep terbata-bata serta tubuhnya sama merinding tetapi tidak gemetar seperti Andri karena Dasep sudah mulai berani untuk menghadapi situasi bila berhadapan dengan Arwah yang menyeramkan.


Sedangkan Nisa yang melihat Mawar berbicara dengan Arwah yang Buruk rupa itu, sangat melongo karena Nisa baru kali ini melihat Mawar begitu berani saat berbicara dengan Arwah yang menyeramkan karena sebelumnya Mawar tidak seperti itu melaikan gemetar dan merinding akan tetapi sekarang Mawar sangat berbeda, Nisa melongo sampai Mawar berhenti berbicara dengan Arwah pendaki.


“Hik Hik Hik hik hii, kalian telah baik maka dari itu cepat ambil jasad teman ku dan kalian kuburkan 3 jasad yang kalian temukan dan tolong kubur di dekat jalur gunung babadakn ini, Hik Hik Hik Hik hii.” Ucap Arwah pendaki.


“Baik kami akan melakukan apa yang Arwah pendaki ingin kan, tetapi kembalikan dulu teman-teman kami cepat.” Jawab Mawar.


“Hik hik hik hik hii, Kalian membawa jasad satu nya lagi juga belum, Hik Hik hik hik hii, dan menguburkan 3 jasad pun belum, hik hik hik hik hii, maka aku tak akan mengembalikan teman-teman mu sebelum itu di lakukan.” Ucap Arwah pendaki.


“OK, baiklah kalau begitu aku akan mengambil dulu jasad satu lagi yang di sini dan setelah itu kami akan kembali ke Pos, karena jasad 2 pendaki kami sudah simpan di Pos, kalau begitu cepat jangan muncul lagi dan tolong tepati janji mu Arwah pendaki setelah kami menuruti apa keinginan mu.” Ucap Mawar.


“Hik Hik hik hik hii, Aku pasti menepati janji ku tidak seperti kalian para manusia yang selalu PHP in aku, kalau kalian PHP in aku maka jangan harap teman-teman mu akan kembali, Hik hik hik hik hii.” Ucap Arwah pendaki, sambil melayang dan pergi menjauh dari Mawar, Andri, Nisa, dan Dasep.


Setelah melihat Arwah pendaki pergi Mawar melihat Andri dan Dasep yang masih terkejut dan sedikit ketakutan karena terlihat dari wajah pucat Andri dan Dasep, Mawar pun menyadarkan mereka dari keterkejutan nya.


“Hey Dasep, Andri, cepat sadar jangan begitu, kalian ini Masih terkejut dan merasa ketakutan saja.” Ucap Mawar.


“Bukan nya aku taku Mawar tetapi aku terkejut.” Ucap Dasep.


“Iah Mawar aku juga gak takut Ko.” Ucap Andri.


“Lah sudah lah kalian berdua ini jelas-jelas kalian ketakutan.” Ucap Nisa, yang baru berheti melongo karena melihat Mawar telihat santai.


“Sudah-sudah lebih baik kita cepat ambil jasad pendaki dari semak belukar itu, setelah mengambilnya lalu kita segera kembali ke Pos yah, agar kita semua selamat ayo.” Ucap Mawar.


“Loh emang yah elo udah tahu letak jasad Arwah pendaki itu.” Ucap Dasep, dengan raut wajah terkejut dan penasaran.


“Sudah tahu maka dari itu ayo cepat, dan jangan bertanya dulu ok, mengapa aku tahu letak jasad pendaki itu ok ok.” Ucap Mawar.


Nisa, Andri dan Dasep pun kini menuruti apa kata Mawar dan mereka berempat memasuki semak belukar, setelah menerobos ke dalam semak belukar cukup lama untuk menuju letak jasad pendaki akhirnya mereka berempat menemukan Jasad pendaki yang tergeletak di tanah yang tertutup semak belukar.


“Ini jasad Arwah pendaki ayo segera ambil, tetapi gue minta tolong Andri dan Dasep yang membawa jasad pendaki ini yah.” Ucap Mawar.


Andri, Dasep dan Nisa semakin bingung dan penasaran karena Mawar sangat tahu jelas lokasi Jasad pendaki padahal sebelum nya dengan Nisa mencari sangat lama, tetapai mereka bertiga hanya menuruti apa kata Mawar saja karena agar semuanya cepat selesai.


“Baik Mawar, Ayo Sep aku sama kamu aja yang bawa jasad ini.” Ucap Andri.


“Ok siap Andri.” Ucap Dasep.


Kini Andri dan Dasep membawa jasad Arwah pendaki untuk menuju Pos, sedang Nisa dan Mawar kini berjalan paling depan.


“Mawar setelah kita sampai apa kita akan langsung menguburkan jasad Arwah pendaki.” Ucap Nisa.


“Tidak perlu Nis, kita serahkan jasad pendaki ini kepada pengurus Pos dan warga yang ada di sana, biar mereka saja yang menguburkan nya, kita setelah itu menunggu pasti teman-teman kita akan kembali percaya lah sama gue Nis.” Ucap Mawar.


“Sebenarnya sih gue makin penasaran sama elo Mawar mengapa jadi aneh gini, tetapi entar lah jelasin lagi yah mengapa elo bisa begini, sekarang sebaiknya kita selesaikan saja dulu masalah soal jasad pendaki agar teman-teman kita selamat.” Ucap Nisa.


“Hehe, ok siap Nis, iah yang terpenting itu dulu Nis.” Jawab Mawar.


“Kalau begitu kita harus cepat untuk menguburkan jasad mereka sebelum matahari terbenam, setelah itu aku ingin tidur pulas rasanya badan ku remuk.” Ucap Dasep.


“Iah ayo kita percepat langkahnya, liat Dasep udah lelah.” Ucap Mawar.


Andri dari tadi tidak berbicara karena masih memperhatikan dan memikirkan tentang Mawar yang menjadi serba tahu.


Kini Andri, Dasep, Mawar dan Nisa kembali lagi menulusuri jalan lajur pendakian untuk menuju Pos, tetapi keadaan untuk kembali ke Pos sangat gelap gulita, karena senter yang di berikan penjaga Pos batrenya habis jadi mereka berempat dari tandinya ingin mempercepat langkah kakinya menjadi berjalan pelan-pelan karena meraba-raba jalan untuk dilalui.


“Haduh bagaimana ini mengapa senter nya bisa habis batre lagi.” Ucap Dasep.


“Iah mengapa juga ini, padahal kita sebentar lagi akan cepat sampai kalau terang tetapi kalau gelap begini kita harus jalan pelan-pelan karena takut salah jalan dan tersesat lagi.” Ucap Nisa.


“Iah kita pelan-pelan saja yang penting kita sampai ke Pos, dari sini mungkin sudah dekat ke Pos kan.” Ucap Andri.


“Iah kita sebaiknya pelan-pelan saja, iah kalau tahu ini senter bakalan habis batre aku akan bawa senter ku saja, tetapi ya sudah lah kita saling pegangan tangan saja agar kita tidak berjauhan.” Ucap Mawar.


Ketika mereka berempat berjalan pelan-pelan dan saling berpegangan tangan dikeadaan yang gelap gulita bahkan melihat tangan pun tidak kelihatan samar, saat mereka berjalan pelan-pelan di lajur pendakian untuk kembali ke Pos, mereka berempat tidak lagi melangkahkan kakinya karena mendengar suara gerusukan di samping jalan yang di lalui mereka berempat, semak belukar yang berada di samping jalan mereka menuju Pos, mereka berempat pun saling berbisik untuk menanyakan suara apa yang terdengar itu...,