Santet

Santet
34 Pria Paruh Baya



Andri dan Dasep yang sudah berlari kini berhenti karena merasa sudah jauh dari pria tua misterius yang menyerang nya.


“Andri apa lo tidak apa-apa tangan mu berdarah itu.” Ucap Dasep.


“Gue tidak apa-apa Sep, kita harus cari bantuan, di jalur pendakian ini ada pembunuh dan juga Setan.” Jawab Andri.


“Jangan ngomongin tentang Setan lah Andri gue takut bikin tubuh gue merinding kalau soal pembunuh asal dia sama manusia gue berani, tetapi lebih baik kita ke jalur menuju atah Pos 2 saja, oh yah sekarang jam berapa Andri.” Ucap Dasep.


“Iah gue gak akan ngomon setan lagi Sep, Sep kita harus ke jalur agar mudah balik ke Pos 2 tetapi kita tidak tahu ini di mana, apa lebih baik kita ke gubuk yang tadi yah kurasa dekat dari sini, siapa tahu ada orang yang bisa membantu kita, sekarang ini jam 21:01 Dasep.” Jawab Andri.


“Apa, ini sudah jam 21:01 kurasa kita harus ke jalur saja, jangan kembali ke gubuk itu deh Andri, gue takut ada Arwah gentayangan, oh ya lihat itu darah di tangan mu terus mengalir, lebih baik tutup dulu pakai kain biar gak terus seperti itu, lo akan pingsan kalau terus mengeluarkan Darah.” Ucap Dasep.


Kini Dasep pun merobek kaus yang di pakai nya lalu sobekan kain dari kaus nya di pakai untuk mengingat luka tangan Andri.


“Terima kasih Sep ternyata elo baik juga.” Ucap Andri.


“Elo juga baik sama gue Andri, kita istirahat dulu sebentar lagi, setelah itu kita lanjut untuk ke jalur dan mencari teman-teman kita.” Ucap Dasep.


Dasep dan Andri pun beristirahat di bawah pohon, setelah beristirahat dan merasa tenaga nya kembali bertenaga, kini mereka berdua pun melanjutkan berjalan untuk mencari jalur arah ke Pos 2 dan sekalian mencari teman-teman nya.


**


Pria paruh baya yang tersungkur karena di tendang Dasep dia langsung berdiri kembali akan tetapi tidak mengejar Dasep dan Andri melainkan pria paruh baya itu kini kembali ke gubuk nya untuk mengambil sesuatu.


“Ternyata di antara mereka ada yang bisa berkelahi aku harus mengambil Kitab Buhun ku dulu ke gubuk, untuk membantu ku mencari mereka.” Gumam pria paruh baya.


Pria paruh baya itu pun kini berlari menuju gubuk nya, tak membutuh kan waktu laman untuk sampai ke gubuk karena pria paruh baya itu berlari kencang, setelah sampai gubuk pria paruh baya itu pun langsung masuk dan membuka sebuah almari kecil lalu mengambil sebuah Kitab Buhun, setelah mengambil Kitab Buhun miliknya lalu pria paruh baya itu berlari keluar gubuk dan langsung menuju ke dalam semak belukar.


Pria paruh baya itu pun setelah masuk ke dalam semak belukar dia langsung membuka Kitab Buhun yang di ambil nya dan membaca satu halam, setelah membaca satu halaman selesai dari Kitab Buhun itu muncul Arwah, lalu Arwah itu di suruh oleh pria paruh baya itu untuk melakukan pengejaran kepada Dasep dan andri. Seketika Arwah dari Kitab Buhun itu melayang.


“Hah hah hah, Aku akan mendapatkan darah mereka lalu akan aku bunuh karena telah berani menendang ku.” Gumam pria paruh baya.


Kini pria paruh baya itu pun menelusuri semak belukar untuk mengikuti Arwah yang melayang.


Dasep dan Andri yang terus berjalan untuk kembali ke jaul Pos 2, kini melihat sorot senter yang menyala di kejauhan.


“Andri apa elo lihat itu ada senter yang menyala.” Ucap Dasep.


“Iah Sep gue lihat juga, apa itu temen-temen yah ayo kita ke sana.” Ucap Andri.


“Ayo Andri tetapi kita harus pelan-pelan dan memastikan apa itu benar teman kita atau orang lain karena di jalur pendakian ada seorang yang ingin membunuh kita, pasti pria gila itu mengejar kita.” Ucap Dasep.


“Kita ke sana untuk memastikan kalau begitu matikan senter kita lalu dekati sorot senter itu.” Ucap Andri.


Kini Andri dan Dasep pun menuju ke arah soroh senter yang menyala dengan mengendap-ngendap untuk memastikan apa itu teman atau pria gila yang mengejarnya, ketika sudah mendekati dan memastikan nya lebih dekat, Andri dan Dasep terkejut bahwa yang di lihat nya ialah Firman yang sedang terbaring, Andri dan Dasep pun langsung menghampiri Firman yang sedang terbaring.


“Firman kau kah itu, mengapa kau terbaring sendirian ke mana Mawar, Marni dan Nisa.” Ucap Andri, sambil membantu Firman untuk duduk.


“Iah dia Firman, Sukurlah kita bertemu sama elo Man gue kira elo mati.” Ucap Dasep.


“Iah gue Firman, emang siapa lagi, harus nya gue yang nanya ke kalian ke mana Mawar, Marni dan Nisa gue lari lebih dulu jadi gue gak merhatiin kalian gue kira cewek-cewek ikut berlari sama elo Andri, lah elo Dasep mengapa juga elo masih Hidup.” Ucap Firman.


“Sudah kalian ini jangan pada ngebacot apa situasi sekarang sangat gawat, kita harus cepat cari Mawar, Marni dan Nisa karena ada seorang pria gila di jalur ini yang suka membunuh loh Man, untung elo gak bertemu sama pria gila itu.” Ucap Andri.


“Apa yang elo omongin Andri gue gak ngerti.” Ucap Firman.


“Sudah lah Andri ngapain juga ngasih tahu situasi yang kita alamin sama orang bodoh kaya dia, gue enek liat nya.” Ucap Dasep.


“Eh elo nyolot yah Sep apa mau gue tampol mulut mu itu yah.” Ucap Firman.


“Lah berdiri juga gak bisa ini mau nampol mulut gue, sudah anak manja diem aja.” Ucap Dasep.


“Kalian ini masih pada ngebacot sudah diem, Sep tolong matikan senter Firman yang masih menyala itu gue bantu Firman dulu agar dia mendingan kaki nya, ternyata kaki Firman tergilir.” Ucap Andri.


“Ok siap Andri gue mati kan senter nya.” Ucap Dasep.


“Lah mengapa senter nya di mati kan, bagaimana bisa liat, gelap ini.” Ucap Firman.


“Sudah elo jangan banyak tanya dan jangan banyak ngomong Firman, sekarang kita ngomong pelan-pelan dari mulai sekarang ok.” Ucap Andri, sambil berbisik.


“Iah Loe anak manja tergilir begitu doang malah tiduran sudah diem jangan berisik.” Ucap Dasep sambil berbisik.


Andri dan Dasep pun merasa lega meski baru bertemu dengan Firman, setelah Firman duduk dan Andri membantu Firman untuk berdiri lalu mengandengnya untuk segera menjauh dari tempat Firman terbaring.


“Loh ko gak di nyalakan senter nya.” Ucap Firman.


“Sudah jangan banyak tanya nanti di kasih tahu ok, sekarang yang terpenting kita menjauh dulu dari sini.” Ucap Andri, berbisik.


“Iah nih anak manja banyak naya.” Ucap Dasep.


“Iah-iah gue akan diam, kalau gue udah gak sakit gue tampol elo Sep enek sama lo.” Ucap Firman.


Kini Andri, Dasep dan Firman pun berjalan menjauh. Firman di gandeng oleh Andri sementara itu Dasep yang di depan untuk memastikan jalan yang di injak nya aman karena mereka bertiga berjalan tanpa penerangan senter yang di bawa nya karena takut pria gila mengetahui lokasi nya...,