Santet

Santet
Jalur Pendakian



Andri kini sudah mulai membaik dan bisa bergerak dan tidak gemetar lagi, begitu pun Firman, Nisa pun sudah biasa lagi dan langsung menghampiri Mawar.


"Bagaimana ini Andri, mengapa mereka bisa menghilang, lalu apa yang harus kita lakukan." Tanya Firman, panik.


"Aku juga bingung Man, tetapi kita harus membangunkan Dasep dan Marni dulu, setelah itu kita ikuti ke mana mereka membawa Sri, Sani dan yang lainnya pasti ada jejak bila kita mengikuti semak yang mereka lalui." Ucap Andri.


Nisa kini memeluk Mawar yang masih menangis.


"Mawar sudah jangan menangis aku juga tak mengerti ini bisa begini, tetapi kita harus cepat menyusul mereka Mawar, aku sudah kuat ko, sekarang kamu kuat dan jang menangis yah Mawar jangan bikin situasi semakin panik karena kamu menangis ya." Ucap Nisa, yang masih merasa panik.


"Iah Nis, tetapi aku sangat sedih Nis melihat banyangan Arwah tadi, saat aku memegang tangan Sri yang kerasukan Arwah yang terganggu oleh kita, aku melihat jelas kejadian mereka saat mati, jadi aku menangis karena melihat mereka, aku sudah biasa dengan situasi berhadapan dengan mahluk halus, tetapi melihat kejadian mereka mati aku sangat sedih dan ingin menangis padahal aku hanya sepintas melihat kejadian tersebut." Ucap Mawar.


Nisa tekejut saat mendengar penjelasan Mawar.


"Apa itu benar Mawar, jangan membuat aku semakin takut dan gugup, Kamu jangan aneh aneh dong Mawar aku jadi semakin gak tenang ini." Ucap Nisa.


Mawar menganggukan kepala nya dan melepas pelukan Nisa.


"Iah, percaya sama aku Nis, kita tak perlu mengejar Sri, Sani dan yang lainnya, tetapi kita harus cari jasad Arwah mereka, agar Sri, Sani dan yang lainnya bisa kembali." Ucap Mawar.


"Kamu ngomong apa sih Mawar, jangan aneh begitu kita harus kejar ke mana mereka pergi jangan ngomong ngawur." Ucap Firman.


"Benar Firman, aku gak ngomong ngawur, aku jelas mendengar mereka ingin menemukan jasad ya, dan aku jelas melihat mereka mati kalau tidak bisa menemukan jasad mereka makan Sri, Sani dan yang lainnya gak akan bisa kembali, percaya lah pada ku." Ucap Mawar.


"Iah aku percaya kamu Mawar, tetapi tenang kan dulu dirimu Mawar." Ucap Nisa.


"Bukan ya aku gak percaya, tetapi kita lebih baik berpikir logis kita kejar mereka, mungkin belum jauh membawa nya." Jawab Firman.


"Sudah kalian jangan berdebat dulu kita harus tenang, sebelum kita mengambil keputusan untuk mengejar dan menuruti omongan Mawar, sebaiknya bantu aku untuk membangun kan Dasep dan Marni cepat, Firman bantu aku, biar kan Marni di bangunkan sama Nisa dan Mawar" Ucap Andri.


"Baik Andri." Jawab Firman.


Firman pun mendekati Andri yang sedang mengoyang goyangkan tubuh Dasep dan sesekali menepak nepak pipi nya.


"Duh si Dasep ngompol ya Andri, bau pesing gini, bacot nya aja gede liat begituan ngompol dan pingsan." Ucap Firman.


"Iah Man, sudah lah cepat bantu gue bangunin nih Anak, jangan ngeledek, leo juga gemeteran ketakutan." Jawab Andri.


"He he, iah tetapi kan gue gak ngompol Andri." Ucap Firman, sambil mengoyang kan badan Dasep.


Dasep meski sudah di goyang goyang badan nya tetap tidak bangun-bangun, karena Firman masih kesal dan ada kesempatan lagi kini Firman memukul mulut Dasep dengan kencang, alhasil Dasep langsung terbangun dan berteriak.


"Aw sakit." Teriak Dasep, sambil memegang mulut nya.


Andri hanya melongo saat Firman memukul mulut Dasep dengan kencang.


"Sudah bangunkan Andri, kalau gituh ini beres kita harus kejar mereka sebelum jauh." Ucap Firman.


"Haduh mengapa mulut ku ini sakit haduh." Ucap Dasep, sambil memegang mulut nya.


"Itu karena mulut mu yang gede bacot dan penakut, jadi Arwah gentayangan di sini terganggu oleh bacot mu." Ucap Firman, dengan girang.


"Benar kah itu Andri, yang di katakan Firman, kalau begitu aku ingin ikut kamu aja gak mau balik arah." Ucap Dasep.


"Idih ini anak tadi nyolot banget mulut nya nge gas mulu tetapi saat ada kejadian seperti ini menciut, gue juga sih takut tetapi ya sudah lah." Gumam Andri.


"Benar itu Dasep, Andri gak bisa jawab karena sama kaya elo ketakutan, hanya gue yang berani di sini." Jawab Firman, So berani.


"Sudah jangan basah hal tidak perlu, kita harus menyusul mereka, Dasep kamu ingin ikut kan mencari mereka yang telah membawa Sri, Sani dan yang lainnya, kalau kamu gak ingin ikut aku tinggal kan kamu di sini." Ucap Andri.


"Mereka siapa Andri." Ucap Dasep, gugup.


"Lah, mana berani dia di ajak Andri." Ucap Firman.


"Diam kau Firman, gue gak nanya elo." Ucap Dasep.


"Lah nge gas itu mulut, gue tampol lagi biar diam tuh mulut." Gumam Firman.


"Kalian ini, sudah kalau begitu kita bersama sama akan menyusul mereka, Dasep ikuti saja jangan banyak tanya." Ucap Andri.


Andri, Firman dan Dasep kini menghampiri Mawar dan Nisa yang sedang menyadarkan Marni dari pingsan.


Mawar dan Nisa kini masih membangunkan Marni yang pingsan, tak butuh waktu lama untuk membuat sadar Marni, kini Marni pun bertanya apa yang sebenar nya terjadi, Mawar dan Nisa menjelaskan apa yang terjadi, Marni yang tidak percaya bahwa ini benar-benar nyata, kini Marni jadi ketakutan saat melihat tidak ada Sri, Sani dan yang lainnya, akan tetapi di kuat kan oleh kata-kata Mawar.


"Aku takut, aku ingin pulang." Rengek Marni.


"Ingat Marni, bahwa takut saja tidak akan bisa menolong mu, kuat kan hati mu, aku juga takut tetapi itu tak bisa membantu apa-apa, jadi kuat kan hati mu Marni, kalau kamu ketakuan siapa yang akan membantu menolong Sri, Sani dan yang lainnya." Ucap Mawar, sambil menatap Marni.


Kini semuanya melihat ke arah Mawar, Andri kini timbul rasa kekaguman terhadap Mawar, saat Mawar bicara untuk menguatkan Marni, kini Marni pun menjadi lebih berani.


"Ayo kita susul mereka sebelum jauh." Ucap Firman.


"Tunggu Firman, jangan mengejar mereka, lebih baik kita cari jasad Arwah para pendaki itu, lalu kita kuburkan dengan layak, maka mereka akan mengembalikan teman-teman kita." Ucap Mawar.


"Mawar, usul mu itu tak masuk akal, sudah lah kita kejar sebelum menjauh." Ucap Firman.


"Iah Mawar, sebaiknya kita kejar mereka ayo sama-sama, benar kata Firman kita harus logis." Ucap Andri.


"Aku percaya Sama Mawar, lebih baik kita ikuti omongan Mawar siapa tahu benar." Ucap Nisa.


"Aku juga percaya sama Mawar, tetapi lebih baik kita kejar mereka benar kata Andri dan Firman." Ucap Marni.


Dasep hanya mendengarkan saja apa yang di ucapkan teman-teman nya dan sesekali melihat sekeliling jalur pendakian, Dasep merasa ketakutan dan tubuhnya merinding saat melihat ke atas pohon yang hanya di sinari oleh senter yang dipegang nya, Dasep melihat sesuatu di atas pohon yang membuat nya semakin gugup dan ketakutan...,