
Mawar dan Akwal yang sudah sampai di rumah, di tanya oleh kedua orang tua Mawar.
“Loh kalian ini sudah dari mana, terlihat capai gitu.” Ucap Ibu Sulastri.
“Iah sudah dari mana Akwal sama Mawar.” Ucap pak Danar.
“Kami sudah dari pak Mantri Eman pak, pak Mantri Eman meninggal karena terjatuh saat memeriksa anak-anak panti asuhan,” ucap Akwal.
“Apa pak Mantri Eman meninggal, terus sekarang dia di mana.” Ucap Pak Danar.
“Sekarang pak Mantri Eman sudah di bawa ke rumah nya pak, untuk di keramasi dan ingin langsung di kuburkan oleh keluarga nya.” Ucap Akwal.
“Haduh ibu sebaiknya bapak ke sana, Mantri Eman kan sudah banyak membantu keluarga kita, kalau begitu kamu di sini jaga Mawar ya Akwal, jangan di ajak jauh dari rumah Mawar harus banyak istirahat.” Ucap Pak Danar.
“Iah pak sebaiknya ibu ikut juga ya pak, biar Mawar di sini sama Akwal saja.” Ucap Ibu Sulastri.
“Iah pak saya dan Mawar akan tetap di rumah ko, gak akan ke mana-mana.” Ucap Akwal.
“Iah ibu, bapak, Mawar akan di rumah gak akan ke mana-mana, kalau ibu sama bapak ingin ke rumah pak Mantri Eman Mawar sama Akwal akan menunggu di rumah sampai ibu dan bapak pulang.” Ucap Mawar.
“Ya sudah kalau begitu bapak sama Ibu ke rumah pak Mantri Eman dulu nya, ingat jangan ke mana-mana kamu masih perlu banyak istirahat loh nak.” Ucap Pak Danar.
“Iah Akwal tolong jagain anak ibu ya.” Ucap ibu Sulastri.
“Mawar sudah besar ibu, jangan nyuruh Akwal lah,” Ucap Mawar.
“Iah ibu siap saya akan jagain anak Ibu.” Jawab Akwal, terseyum.
Pak Danar dan ibu Sulastri pun pergi menuju rumah pak Mantri Eman. Kini tinggal Mawar dan Akwal yang berada di rumah.
“Mawar kamu mau melakukan apa sekarang.” Ucap Akwal.
“Tunggu di sini aku ke kamar dulu mau mengambil Kitab Buhun dulu.” Ucap Mawar, yang langsung menuju kamar nya.
“Haduh apa yang akan dilakukan Mawar yah, aku jadi tidak enak hati.” Gumam Akwal.
Kini Mawar pun sudah mengambil Kitab Buhun miliknya dan menghampiri Akwal.
“Nah ini loh Akwal, jilid Ke lima dari Kitab ini akan memberika jawaban apa yang kita ingin ketahui.” Ucap Mawar, sambil membuka Kitab Buhun di hadapan Akwal.
“Haduh Mawar kamu ini jangan aneh-aneh lagi nanti ada sebab nya loh.” Jawab Akwal.
“Sudah lah gak akan terjadi apa-apa sama aku percayalah, lihat nanti kamu juga akan takjub loh, coba lihat tangan mu.” Ucap Mawar.
“Lah buat apa melihat tangan aku Mawar.” Ucap Akwal.
“Sudah sini aku lihat tangan mu dulu dan jangan bergerak ya.” Ucap Mawar.
“Gak akan lah tetapi mau ngapain kamu dengan melihat tangan aku Mawar.” Ucap Akwal.
“Kamu ini, perih tahu, Mawar mau ngapain itu darah aku di teteskan kepada Kitab Buhun mu.” Ucap Akwal.
“Sudah lah nanti kamu akan tahu juga, dan tak akan mati kalu cuma darah segini kan, terima kasih atas bantuan nya.” Ucap Mawar, sambil tersenyum.
“Mawar kamu ini, aneh ya, sebaiknya jelaskan apa yang ingin kamu lakukan, jangan hanya terseyum begitu lah, aku gak tergoda dengan seyuman mu.” Ucap Akwal.
“Ya elah siapa yang ingin mengoda mu Akwal, aku hanya ingin meminta sedikit darah mu ini untuk bisa bertanya kepada Jilid kitab Buhun ini.” Ucap Mawar.
“Kamu ini aneh, makin ke sini Mawar.” Ucap Akwal.
“Sudah kamu liat saja ok, ini sudah beraksi loh daramu, terima Kasih darah segar nya.” Ucap Mawar.
Akwal hanya mengerutkan dahinya saat Mawar bertingkah aneh dan dia pun hanya memperhatikan apa yang ingin di lakukan Mawar sambil memegang tangan yang luka akibat goresan silet oleh Mawar.
“Ini anak mengapa jadi seperti ini setelah pingsan.” Gumam Akwal.
Mawar pun setelah melihat reaksi Jilid ke lima Kitab Buhun dia pun berkata.
“Wahai jilid ke lima Kitab Buhun, apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi teror nanti malam.” Ucap Mawar.
Jilid Kitab Buhun pun dari tadinya kosong kini membentuk kalimat dari jawaban pertanyaan Mawar.
“Tuan aku, kamu tidak perlu panik, kamu bisa menyuruh Jin cantik untuk melindungimu tetapi harus mengorbankan darah mu bila ingin semakin kuat jin cantik untuk menolong mu.” Kalimat yang terdapat di jilid kelima Kitab Buhun.
Akwal yang melihat itu sangat tidak percaya karena melihat Jilid Kitab Buhun yang tadinya kosong menjadi nampak sebuah kalimat seperti itu. Akwal pun yang sangat kaget kini memperingati Mawar untuk tidak melakukan hal yang aneh.
“Mawar sebaiknya kamu jangan melakukan nya ini sangat aneh, aku sampai merinding melihat ini, dan aku merasakan perasaan yang tak enak.” Ucap Akwal.
“Sudah lah Akwal kalau tidak begini aku harus melakukan apa lagi, aku ingin melindungi Bapak dan Ibu kalau malam terjadi sesuatu kepada mereka.” Jawab Mawar, sambil memegang Kitab Buhun.
“Mawar jang begitu ini sangat berbahaya, sebaiknya kita cari hal lain untuk menghadapinya, sebelum kamu memiliki Kitab Buhun ini pun keluarga mu selamat kan, meski ada teror mahluk halus.” Ucap Akwal.
Ketika Akwal selesai berbicara jilid kelima Kitab Buhun kembali memberi jawaban kepada pemiliknya.
“Jangan dengarkan ucapan teman-mu itu.” Kalimat dalam jilid ke lima Kitab Buhun.
Mawar yang seperti terhipnotis oleh kalimat Kitab Buhun nya menghiraukan setiap ucapan Akwal meski ada di sampingnya, Akwal yang melihat Mawar seperti menatap Kosong ke arah Kitab Buhun itu Akwal dengan cepat mengambil Kitab Buhun dari pegangan Mawar dan langsung melemparkan Kitab Buhun itu, seketika Mawar kaget.
“Akwal apa yang terjadi mengapa kamu melempar Kitab Buhun aku yang akan menolong aku nanti Malam.” Ucap Mawar, kaget.
“Mawar kamu dari tadi tidak mendengarkan ucapan aku, kamu malah terbawa ke dalam Kitab Buhun itu makanya aku melemparkan nya, lebih baik kamu buang saja itu Kitab aneh mu akan sangat berbahaya bila kamu terus menggunakan nya.” Ucap Akwal.
“Akwal kamu ini ngomong apa sih, ya sudah kalau kamu tidak mau membantu aku jangan kasar begtiu dong, kamu jadi begini sih sama aku.” Ucap Mawar sambil mengambil Kitab Buhun nya yang di lempar kan oleh Akwal.
“Mawar aku bukan kasar, aku hanya ingin melindungi mu saja, Kitab Buhun Itu sangat berbahaya, soal nanti Malam jangan di pikirkan itu kan belum tentu akan terjadi.” Ucap Akwal.
Mawar pun terdiam sejenak saat mendengarkan ucapan Akwal yang sangat keras dan tegas kepadanya.,,