
Ketika semuanya sedang berdiskusi tentang apa yang harus di lakukan antara menyusul Arwah pendaki yang membawa Sri, Sani serta cewek lainnya, atau harus mengikuti perkataan Mawar yang harus menemukan jasad Arwah pendaki. Kini semuanya melirik ke arah Dasep karena tubuh nya gemetar dan suara Dasep yang membuat semua orang mengira Dasep kesurupan.
"Haa haan haan haan." Ucap Dasep, gemetar.
"Dasep kesurupan." Ucap Marni.
"Iah bener si Dasep kesurupan." Ucap Firman.
"Bukan dia itu ketakutan, coba liat arah senter dan mata Dasep mengarah ke mana." Ucap Mawar.
"Iah dia ketakutan, coba liat ke arah mana itu senter Dasep menyorot nya." Ucap Andri.
"Iah dia ketakutan, kamu salah Firman dan kamu juga Marni." Ucap Nisa.
Firman yang pertama melirik ke arah senter Dasep yang menyorot, Firman juga gemetar dan ketakutan karena melihat sesuatu.
Andri yang memantapkan hati nya untuk tidak takut kini Andri melihat ke mana Arah senter menyorot, Andri kaget karena melihat sesuatu yang loncat-loncat hitam dan ada yang berdiri di atas pohon, tetapi Andri mencoba untuk tenang karena tidak ingin membuat takut siapa pun.
Marni dan Nisa pun ketakutan saat melihat ke arah senter Dasep menyorot, jantung Marni dan Nisa berdebar seperti jatuh cinta tetapi di tolak, ingin berteriak tetapi tak bisa, keringat dingin bercucuran karena melihat yang bergerak gerak hitam.
Mawar yang sudah biasa dengan situasi penampakan, kini mencoba tenang dan Mawar mencoba untuk memakai senter nya untuk menyorot ke arah yang sama yang di sorot Dasep agar terlihat lebih jelas, ketika senter Mawar mengarah pas yang di sorot Dasep, ternyata yang loncat- loncat dan diam mematung di atas pohon ternyata adalah....."
Firman yang tadi ketakutan pun menjadi berani,
"Lah elo Sep liat begituan aja takut liat gue gak takut." Ucap Firman, sambil ledek Dasep.
akan tetapi di dalam hati Firman.
"Untung temen-temen gue gak liat tadi gue ketakutan hehe, bisa malu dah gue sama Marni," Gumam Firman.
Nisa dan Marni yang sudah ketakutan dan berkeringat dingin kini jantung nya kembali normal seperti orang tak jatuh cinta, mereka berdua lega sekali saat mengetahui apa yang dilihat nya.
Andri yang sudah memantapkan untuk tidak takut saat mengetahui yang sebenarnya.
"Duh Dasar, kirain gue setan alas, ternyata temen nya si Dasep pantas dia gemetar dan ketakutan ternyata sodaranya ingin ngajak maen malam-malam begini." Gumam Andri.
Mawar yang menyorot hingga terlihat jelas, kini Mawar berbicara, dan sorot senter nya di matikan agar tidak menarik perhatian yang ada di atas pohon.
"Duh kalian ini, itu cuma moyet dan lutung yang ada di bawah Gunung Babadakan ini, yang lagi mencari makanan di atas pohon atau untuk beristirahat. Kamu Dasep belum juga memastikan sudah takut begitu, kamu itu laki bukan sih sama moyet aja takut." Ucap Mawar.
Dasep yang sudah menyadari apa yang dilihat nya itu monyet, kini Dasep tersipu malu karena sudah telanjur mengeluarkan air hangat.
"Aku laki lah, tetapi aku takut." Ucap Dasep sambil masih berigidig gemetar.
"Lah elo mengapa lagi Sep, lah ko jadi bau pesing sih dekat sama lo Sep." Ucap Andri.
"Maafkan gue ya, gue pipis saking takut nya tadi." Jawab Dasep.
"Bacot aja die gede in lu mah Sep, liat moyet aja takut dasar cowok setengah." Ucap Firman.
"Aku berani lah ngapain juga takut kaya Dasep tadi aku gak ketakutan kan." Jawab Firman.
"Sudah-sudah, kita jangan saling ledek lagi kita harus segera mencari jasad Arwah pendaki secepatnya karena aku yakin jasad nya masih ada di sekitar sini pasti sudah jadi tengkorak." Ucap Mawar.
"Lah ko jadi mencari jasad Arwah pendaki sih, kita harus cepat menyusul mereka." Ucap Firman.
"Iah Mawar kita sebaiknya menyusul mereka." Ucap Andri.
"Lebih baik dengar kata Mawar deh." Ucap Nisa.
"Ya sudah kita susul saja mereka ayo, gak usah menghiraukan ucapan gue, ayo kita susul jangan diem di sini terus ke buru jauh." Ucap Mawar.
"Jangan tersinggung yah Mawar." Ucap Andri.
"Enggak, ayo kita sama-sama ikutin jejak mereka pergi." jawab Mawar.
Kini Andri, Firman, Dasep, Nisa, Mawar dan Marni memutuskan untuk mengejar teman-teman nya. semak belukar pun di terobos, hanya mengandalkan cahaya senter untuk menyinari jalan. Andri dan Dasep di depan, untuk memastikan jalan aman untuk di pijak, Nisa, Mawar, Marni dibelakang Dasep dan Firman paling belakang.
Mereka terus menelusuri semak belukar akan tetapi saat sudah merasa jauh melangkah dan semuanya merasa lelah kini mereka tak tahu harus ke mana lagi karena semakin menerobos semak belukar semakin tak ada jalan untuk menembusnya, semak belukar yang tak bisa lagi untuk di tembus dan jejak Arwah pendaki pun menghilang, Kini semuanya di tempat yang tidak tahu di mana, di tengah hutan di dalam semak belukar.
"Andri bagaimana ini apa masih jauh lagi untuk mengejar mereka aku sudah lelah." Ucap Dasep.
"Aku juga lelah Sep, tetapi aku juga bingung mengapa gak ada ujung nya ini, lebih baik istirahat dulu di sini agar tenaga kita pulih." Ucap Andri.
"Aku takut, mengapa jadi begini sih, ingin happy di puncak malah tersesat begini, siapa yang harus di salahkan coba." gerutu Marni.
"Jangan marah-marah begitu Marni tak perlu ada yang di salahkan, kita tidak mau seperti ini, tetapi harus bagaimana lagi ini sudah terjadi." Ucap Mawar.
"Iah Marni jangan begitu, aku juga takut, tetapi meski gimana lagi." Ucap Nisa.
"Apa kita harus balik lagi ke jalur pendakian jangan terus memasuki semak belukar, lebih baik kita kembali ke pos 2 dan minta bantuan untuk mencari Sri, Sani dan yang lainnya." Ucap Firman.
"Iah kalau begitu kita istirahat dulu di sini." Ucap Andri.
Andri, Firman, Dasep, Nisa, Mawar dan Marni kini beristirahat sejenak di dalam semak belukar, hanya beralaskan tikar, udara yang semakin dingin, semuanya pun kedinginan. Saat semua tak ada yang berbicara terasa hening dan sunyi, hanya terdengar Suara hembusan angin.
"Andri jam berapa sekarang, mengapa terasa dingin seperti sudah larut malam saja." Tanya Marni.
Andri pun melihat jam tangan nya yang di pakai di tangan kanan nya, ternyata saat di lihat baru jam 8 malam tetapi sudah seperti larut malam.
"Ini masih jam 8 malam, kurasa kita harus kembali, apa kalian sudah tidak capai lagi, kalau sudah tidak capai lagi ayo kita balik arah." Ucap Andri.
ketika ingin balik arah jalan semak belukar, kini tidak ada bekas saat memasuki semak belukar, semuanya seperti biasa melihat di sekeliling tak ada jejak kini semuanya nya panik karena terjebak di dalam semak belukar.
Andri dan Mawar mencoba untuk menenangkan semuanya akan tetapi semua malah panik gak karuan, tetapi ketika mendengar suara meraung-raung semuanya terdiam dan saling memegang tangan karena takut. Suara meraung-raung kini semakin mendekat dan terdengar pula suara dari semak belukar suara yang berjalan menerobos semak belukar...,