
Samurai Around The World #9
Setelah pagi hari tiba, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Ahmed Volk. Igor memberitahu alamat rumahnya kepada Alexander sebagai petunjuknya. Ternyata rumah milik Volk terletak di dekat Kazan Kremlin, yaitu salah satu tempat bersejarah di Kota Kazan. Tidak sulit menemukan rumah milik Volk. Rumah itu berada di salah satu komplek perumahan terkenal di Kazan. Rumah itu sedikit luas, tidak seperti rumah Alexander dan Igor yang minimalis. Rumah itu memiliki arsitektur yang indah, dan desain rumah yang sedikit unik. Girou pun merasa sedikit aneh setelah melihat rumah itu.
“Bukankah rumah ini terlalu bagus untuk seorang pengintai, Tuan Igor?”tanya Girou.
“Awalnya kau akan merasa aneh saat melihat rumah ini. Dia memiliki selera seni yang bagus, jadi dia menyukai hal-hal yang seperti ini. Mungkin ini juga sebagai sedikit kamuflase, orang-orang tidak akan mengira dia tinggal di rumah sebagus ini.” jawab Igor
“Oh jadi seperti itu ya. Ya ya ya.”
Mereka pun mengetuk pintu rumah tersebut.
Tidak ada jawaban.
Mereka pun sedikit bingung, karena tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah itu. Igor pun berinisiatif mengetuknya lagi.
“Tok tok tok. Hei Volk!! Apakah kau masih disana?” Teriak Igor.
Walaupun sudah diketuk berkali-kali dan sudah dipanggil namanya, Volk pun belum kunjung keluar. Igor menyuruh Allan untuk mengintip dari jendela. Allan pun segera mengintip ke dalam rumah Volk.
“Apa?! Aku melihat seorang mayat dari dalam sana. Aku tidak tahu dia siapa. Dobrak pintunya. Kita masuk ke dalam.” teriak Allan kepada yang lain.
“Hah? Kalau begitu, cepat dobrak pintunya!” seru Igor.
Girou pun mencoba mendobrak pintunya, tapi pintu rumah itu pun masih belum terbuka.
“Rumahnya dikunci, Tuan Felix!!” Girou memberi tahu Felix.
“Cih, minggir semuanya.” suruh Felix.
Dor Dor!! Suara tembakan pistol pun menggema menggema. Gembok pintu itu pun hancur. Girou pun mencoba mendobrak pintu itu lagi. Pintu itu pun akhirnya terbuka. Mereka pun langsung berlarian masuk ke dalam. Dan ternyata Allan benar, seorang mayat tergeletak di dalam rumah. Igor pun segera mengangkat mayat itu.
“Astaga! Mayat ini adalah Volk yang kita cari. Kenapa hal ini bisa terjadi?” Igor terkejut karena mayat yang dipegangnya adalah Volk.
Yang lain pun ikut terkejut mendengar hal tersebut.
“S-siapa yang melakukan ini?” tanya Gloria dengan sedikit bergetar.
“Aku pun tidak tahu, Gloria. Mungkin pemerintah yang melakukannya, itupun aku tidak. Haahhh, malang sekali nasibmu Volk.” keluh Igor.
“Kita cari segala sesuatu di rumah ini yang berhubungan dengan pembunuhan ini. Bisa jadi para pembunuh itu meninggalkan jejak atau bahkan mengirimkan informasi tersirat.” usul Girou.
“Ya, mungkin itu akan sedikit membantu.” Igor pun berdiri sambal mengusap matanya yang sedikit sembap.
Mereka pun menelusuri bukti-bukti yang mungkin ada kaitannya dengan matinya Volk. Girou pun menemukan salah satu sobekan kertas yang bertuliskan ‘Иди с миром, Волк'. Girou pun membaca tulisan tersebut, dia sedikit-sedikit paham huruf rusia. Dia melihat diakhir tulisan itu tertulis nama Volk. Girou pun memanggil yang lain untuk menunjukkan sobekan kertas itu.
“Aku menemukan bukti yang mungkin berhubungan dengan kematian Volk. Kemarilah.” panggil Girou.
Yang lain pun bergegas mendekat
“Di tulisan ini tertulis nama Volk dibelakangnya, di depan nama Volk itu aku tidak tahu apa yang ditulisnya. Bisa kau artikan, Tuan Igor?” pinta Girou sambal menyerahkan kertas itu.
“Hmmmm, disini tertulis’ pergilah-dengan-damai, Vo-lk’. Itu arti tulisan dikertas itu. Apa artinya itu? Berarti pembunuhan ini sudah direncanakan sebelumnya?” tanya Igor.
“Mungkin saja Volk sudah dikirimkan kertas ini sebelum dia dibunuh. Kenapa dia tidak menyadarinya?” kata Allan.
“Kalau kita lihat dari mayatnya sih ini dia ditembak. Sebentar ada yang aneh.” Yamazaki mengangkat mayat Volk.
“Grasak-grusuk, mana ya? Aku tadi melihatnya sekilas. Nah ini dia ketemu. Lihatlah ada sobekan kertas lagi di dalam saku baju Volk. Sebentar, di sini tertulis kata-kata dalam huruf rusia mungkin. Bisa anda artikan, Tuan Igor?” pinta Yamazaki.
“Ya, akan ku artikan. Tapi agak sulit karena ini huruf Ukraina, kalau yang Girou tadi huruf Rusia. Tapi santai saja, aku bisa sedikit-sedikit bahasa Ukraina. Sebentar, di sini tertulis ‘Soviet memberitahuku. Mereka memanggilku Serigala Alpha dari Barat’ seperti itu tulisannya, Yamazaki” Igor yang mengartikannnya kepada Yamazaki.
“Soviet memberitahuku? Berarti Soviet ikut dalam pembunuhan ini. Maksud memberitahu disini maksudnya seperti apa?” Tanya Allan.
“Aku tidak mengetahuinya, Allan. Tapi rasanya aku pernah mendengar seorang pembunuh dengan panggilan ‘Serigala Alpha dari Barat”. Hmmmm, sebentar aku ingat dulu. Kalau tidak salah dia adalah pembunuh yang menguasai berbagai senjata. Pistol, shotgun, senapan serbu, sniper, bahkan rudal dan nuklir pun dia dapat menguasainya dengan baik. Aku tidak ingat namanya siapa. Tapi seingatku dia adalah salah satu anggota elite Spetsnaz (pasukan unit khusus di Uni Soviet atau sekarang Rusia) Dia salah satu pasukan yang diandalkan di Spetsnaz. Dia keluar dari Spetsnaz karena suatu alasan, dan aku pernah mencari informasinya, bahwa setelah keluar dari Spetsnaz, dia beralih menjadi pembunuh bayaran. Aku mendapat informasi itu beberapa tahun yang lalu.” jawab Alexander.
“Aku juga pernah mendengar nama panggilan itu. Aku pernah mendengar bahwa dia pernah mengirimkan beberapa rudal saat perang dingin terjadi, dan rudal itu tepat sasaran ke target yang dituju, tidak melenceng sekalipun. Bahkan aku juga pernah mendapat kabar dia ikut dalam proyek pembuatan beberapa bom hidrogen milik Soviet, dan dia diberi akses untuk melakukan sesuatu tentang bom itu. Tapi aku hanya mendengar kabar dari beberapa informanku.” tambah Igor.
“Mengerikan sekali. Aku pernah mendengar tentang kekuatan bom hidrogen yang dibuat oleh Soviet. Digadang-gadang kekuatan ledakannya berkali-kali lebih mengerikan dibandingkan bom atom Amerika yang dijatuhkan di Perang Dunia ke 2 di Hiroshima dan Nagasaki. Kita harus mencari orang itu secepatnya.” imbau Felix.
“Ya, sekarang kita kembali ke Moskow saja. Kota ini sudah tidak aman lagi bagi kita. Ayo masuk ke mobil, kita berangkat kembali ke Moskow secepatnya.” Alexander yang melangkah cepat menuju mobil.
Yang lain pun mengikuti langkah Alexander, mereka pun tancap gas menuju Moskow. Setelah menempuh perjalanan selama 9 jam, mereka pun sampai di Moskow pada malam hari. Mereka pun langsung menuju kamarnya masing-masing untuk beristirahat karena capek pulang-pergi Moskow-Kazan.
Esok harinya. Seperti biasa, Girou bangun yang paling pagi. Tapi kali ini Girou tidak membangunkan Yamazaki dan Wilhiemma beserta yang lainnya. Girou membuka salah satu tas yang selalu dibawanya tapi jarang dibuka. Tas itu berisi buku-buku yang dibawa Girou sejak keberangkatan dari Jepang. Girou pun mengambil salah satu buku dari tas tersebut. Buku itu berisi tentang kode etik kesatriaan seorang samurai atau biasa disebut Bushido. Bushido terdiri dari tujuh kode etik: Kejujuran, Kebenaran, Berbuat baik, Menghormati Kejujuran, Kehormatan, dan Loyalitas. Girou sudah membaca buku itu berkali-kali. Girou kagum dengan kepribadian seorang samurai di zaman dahulu yang berwibawa. Saking takzimnya membaca, Girou pun tidak sadar bahwa Yamazaki sudah bangun dari tidurnya.
“Eh, ternyata kau sudah bangun duluan, Girou. Selamat pagi.” sapa Yamazaki.
“Eh, selamat pagi juga, Yamazaki.” balas Girou.
“Buku apa yang sedang kau baca itu, Girou? Kau sampai tidak membangunkanku dan Wilhiemma seperti biasanya, bahkan kau tidak sadar bahwa aku sudah bangun.” tanya Yamazaki penasaran.
“Oh, buku tentang Bushido. Kau mendapatkannya dari ayahmu ya, Girou?” tanya Yamazaki lagi.
“Kok kamu tau, Yamazaki?”
“Buku itu nampaknya sudah lama sekali. Bahkan kertas-kertas buku itu mulai menguning.” kata Yamazaki.
“Iya, aku diberikan buku ini saat aku berumur 12 tahun, awalnya aku tidak terlalu paham dengan isi dari buku ini. Tapi setelah dijelaskan lebih lanjut oleh ayahku, aku pun mulai kagum dengan samurai dan prinsip-prinsipnya. Aku pun selalu membawa buku ini kemanapun aku pergi.” tambah Girou.
“Oh jadi seperti itu ya, mangkannya kau selalu membawa tas itu. Ya ya ya, kau segera ke bawah untuk mandi mumpung masih sepi belum ada yang mandi. Aku akan membangunkan Wilhiemma.” usul Yamazaki.
“Ya, aku akan mandi di bawah. Semoga kau tidak mendapat masalah dengan Wilhiemma di pagi ini, Yamazaki. Semoga berhasil.” Girou pun meninggalkan Yamazaki.
Girou pun melangkah santai sambil membawa bukunya menuruni tangga menuju lantai pertama. Di lantai 1 itu sepi, tidak ada siapa-siapa. Menurut Girou, dia mungkin bangun terlalu pagi. Jadi Girou melanjutkan membaca bukunya sambil menunggu yang lain bangun. Tidak lama kemudian setelah Girou turun, Alexander pun bangun.
“Hoammmm. Eh kau ternyata sudah bangun Girou? Dan buku apa yang sedang kau baca itu?” tanya Alexander.
“Iya, Tuan Alexander. Saya sudah bangun dari tadi. Sambil menunggu yang lain bangun, saya membaca buku yang saya bawa. Buku ini berisi tentang Kode Etik seorang Samurai, Tuan Alexander.” jawab Girou smbil mengangkat buku yang sedang dibacanya
“Oh, tentang Bushido ya? Memang buku itu cocok dengan dirimu, Girou. Ya sudah kalau kau sudah selesai membacanya, kau bisa bantu aku membangunkan yang lain. Aku akan memasak sarapan untuk pagi ini.” Alexander meminta tolong kepada Girou.
“Iya, Tuan Alexander. Saya akan membangunkan yang lain” kata Girou sambil menutup bukunya.
Alexander langsung balik kanan dan memasang celemek kesukaannya, bersiap untuk memasak. Girou pun berdiri dari duduknya untuk membangunkan yang lain yang masih tidur.
Girou pun berjalan menuju kamar yang menjadi tempat Allan dan Felix tidur. Karena enggan membangunkan Felix, Girou pun membangunkan Allan terlebih dahulu.
“Hoi, Allan. Cepatlah bangun! Sudah pagi nih.” Girou yang berteriak di telinga Allan sambil menggoyangkan badannya.
“Hooamm heehhhh, sudah pagi ya. Iya ya aku bangun, hhooamm.” Allan yang berusaha bangun dari tempat tidurnya sambil menggeliat.
Karena suara hentakan kasur dari Allan saat menggeliat tadi, Felix pun jadi ikut bangun.
“Ada apa tadi?? Gempa Gempa!!” teriak Felix panik yang mengira entakan kasurnya tadi adalah gempa.
“Santai saja ayah, getaran tadi berasal dari getaran menggeliat ku tadi. Jadi jangan takut.” Allan yang mencoba menenangkan Felix.
“Kukira tadi gempa, ternyata suaranya Allan. Haduh bikin panik saja kamu.”
“Hehe, maaf yah.” kata Allan sambil menyeringai.
“Ya sudah kalau sudah bangun, ayo ke ruang makan. Tuan Alexander memasakkan kita sarapan.” suruh Girou kepada Felix dan Allan.
“Ya, Girou”
Girou pun meninggalkan kamar terlebih dahulu, dan disusul oleh Allan dan Felix di belakangnya. Saat Girou, Felix, dan Allan sampai di ruang makan, mereka melihat Wilhiemma yang sudah bangun beserta Yamazaki.
“Kenapa kau bangunkan aku pagi-pagi, Yamazaki? Hooamm.” teriak Wilhiemma kepada Yamazaki sambil menguap.
“Kan tidak apa-apa kalau kau sekali-kali bangun lebih pagi, kau bisa merasakan segarnya udara pagi. Bukannya tidur mulu.” balas Yamazaki.
“Ya ya deh. Eh, Allan dan Tuan Felix sudah bangun? Guten Morgen.” sapa Wilhiemma.
“Guten Morgen” jawab Allan singkat.
“Kau tidak membuat masalah dengan Yamazaki lagi kan, Wilhiemma?” tanya Girou kepada Wilhiemma dengan sedikit menyentak.
“Ya ada sedikit konflik tadi. Tapi ya tidak apa-apa, itu hanya perdebatan biasa.” jawab Wilhiemma santai.
“Syukurlah, kalau begitu. Kau selalu saja membuat masalah di pagi hari, Wilhiemma. Kenapa sih?” tanya Girou geram.
“Ya tidak apa-apa. Yang membikin masalah itu sendiri, kenapa kalian memaksa membangunkanku? Kalau kau biarkan aku tetap tidur, tidak ada lagi masalah di pagi hari seperti yang kalian harapkan.” balas Wilhiemma.
“Kita harus membiasakan diri bangun pagi hari, Wilhiemma. Kalau kau masih terus tidur, nanti di pagi harinya kau akan malas. Begitu loh.” kata Girou.
“Ya ya ya.”
Tak lama kemudian Gloria pun bangun.
“Nah pas sekali kau bangun Gloria, makanannya sudah jadi. Ayo ayo kesini, mari kita makan bersama.” ajak Alexander.
Mereka semua pun dengan cepat berkumpul di meja makan.
“Selamat Makan!!” seru mereka bersamaan.
Mereka pun seperti biasa, dengan lahap memakan makanan yang dimasak oleh Alexander. Dan dalam waktu sekejap sarapan yang disajikan Alexander pun habis tak bersisa. Setelah makan, Igor pun mengajak diskusi Girou dan lainnya di ruang tengah.
“Kalau yang sudah selesai makan, segera berkumpul di ruang tengah ya. Aku ingin berdiskusi tentang sesuatu dengan kalian.”
-To Be Continued-