Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 33: Aku, Saint, dan Tuan Mack



Samurai Around The World #33.


“Malam sudah datang untuk menggantikan siang. Cepatlah berkumpul untuk melakukan misi di malam hari ini” kata Tuan Mack terdengar di Handy Talky milik kami semua.


Kami semua pun mengambil barang-barang yang dibutuhkan saat penyusupan nanti. Senjata, teropong, dan barang-barang yang lain yang akan dibutuhkan jika terjadi sesuatu yang berbahaya. Setelah memastikan semuanya yang dibutuhkan sudah ada di tas, aku pun menenteng tasku untuk menuju titik pertemuan.


Berjalan melewati rute yang sama yang kulalui pagi tadi. Karena utu satu-satunya jalan yang kuketahui keamanannya. Dan setelah 50 menit berjalan, aku pun tiba di titik pertemuannya. Saat aku datang, semuanya sudah menungguku. Dan Allan pun sudah berada di mobil sambil membawa laptopnya.


“Sip. Girou sudah datang. Allan juga sudah berada di tempatnya. Sebelum kita berangkat, mari berdoa untuk keselamatan kita masing-masing. Berdoa mulai” Tuan Mack pun memandu kami berdoa untuk kelancaran misi penyusupan malam ini.


Kami semua pun menundukkan kepala dan berdoa dengan takzim.


Tuan Mark Tuan Zack Allan Joseph Girou Guzz Tuan Mack Lowenn dan Saint


“Ok. Sebelum berangkat misi, kita membagi-bagi tugas kita masing masing. Lihat peta ini, kita bagi timnya menjadi tiga. Ada yang sisi kanan, ada yang di sisi kiri, dan ada yang di tengah. Yang berada di sisi kiri bertugas menyusup ke pusat informasi mereka yang berada di titik ini. Dan yang berada di tengah bertugas untuk ke parkiran artileri pertama yang lebih jauh dari pusat informasi tadi. Dan yang berada di sisi kanan bertugas untuk mencari informasi di parkiran artileri yang menjadi tempat berhentinya konvoi artileri kemarin. Dan yang bertugas di sisi kiri adalah Tuan Mark dan Guzz. Yang bertugas di sisi tengah adalah  Tuan Zack, Lowenn, dan Joseph. Dan yang berada di sisi kanan adalah aku, Girou, dan Saint. Bagaimana?” tanya Tuan Mack kepada kami.


Kami semua pun mengangguk yang berarti menyetujui pembagian tugasnya tadi.


“Baguslah kalau semua setuju. Ayo angkat tas kalian. Kita harus bergerak cepat saat ini” perintah Tuan Mack kepada kami semua.


Kami semua pun segera mengangkat tas bawaan milik kami semua. Dan karena timku adalah yang paling jauh tempatnya, jadi tim ku adalah yang paling depan saat misi. Diikuti oleh Tim Tuan Zack yang menyusup di parkiran Artileri yang pertama. Dan yang paling belakang adalah Tim Tuan Mark yang menyusup di pusat informasi milik Darkness.


Aku, Saint, dan Tuan Mack berjalan menyusuri hutan menuju tempat yang menjadi tujuan kami saat menyusup. Markas Artileri yang menjadi tempat parkir dari konvoi artileri kemarin


“Maju terus Girou. Sekitar 50 meter dari tempatmu sekarang ada 2 penjaga yang nampaknya sedikit mengantuk. Tapi tetap berhati-hatilah Girou” kata Allan dari HT yang ku taruh di pinggang.


Aku pun hanya mengangguk.


Aku pun terus berjalan menyusuri hutan menuju tempat artileri yang kemarin melakukan konvoi itu dipakirkan. Dan benar sesuai perkataan Allan tadi, ada 2 penjaga yang sedang mengawasi markas dan sedikit mengantuk dari melihat gelagatnya.


“Ssssttttt, hati-hati Girou. Tetap tenang dan lewati saja penjaga itu dari samping kirinya. Karena samping kiri penjaga itu kemungkinan adalah titik paling buta dari penglihatan penjaga itu. Dan tidak ada cahaya yang menyinari titik itu” kata Saint dari belakangku dengan berbisik.


Aku pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Saint. Untuk tetap tenang saat melewati 2 penjaga itu dan mengambil sisi kiri untuk melewati penjaga itu.


“Hoooaamm, malam ini dingin sekali kawan. Tapi kudengar bahwa Eropa sudah melewati musim salju dan sekarang adalah musim semi. Tapi nampaknya tak terlalu berpengaruh untuk markas kita ini. Dia tetap dingin dan dingin seperti biasanya” kata salah satu penjaga itu.


“Iya. Hal itu tidak berpengaruh untuk tempat kita ini” balas penjaga yang disampingnya.


Aku pun tidak memperdulikan percakapan 2 penjaga itu. Aku pun tiarap dan melewati kedua penjaga itu.


Dan akhirnya aku telah melewati kedua penjaga itu. Saint dan Tuan Mack pun berhasil melewati kedua penjaga itu. Sebenarnya kami bertiga bersama Tim Tuan Mark dan Tim Tuan Zack. Tapi di tengah jalan kami memisahkan diri di suatu persimpangan karena tujuan kami, Tim Tuan Mark, dan Tim Tuan Zack berbeda satu sama lain.


Setelah melewati 2 penjaga tadi, kami bertiga pun terus berjalan menyusuri hutan tersebut karena tujuan kami masih cukup jauh.


Dinginnya angin malam serasa masuk menerobos baju tebalku dan terasa menusuk kulitku. Dan saat berbicara, mulutku mengeluarkan uap karena udara yang dingin. Kami bertiga juga terus melakukan komunikasi dengan Allan untuk berjaga-jaga jika ada penjaga atau sesuatu yang berbahaya di depan kami.


“Kalian bertiga berhati-hatilah. Didepan kalian ada penjaga di atas menara yang berpatroli dengan menggunakan lampu sorot. Jangan sampai kalian tersorot oleh lampu itu atau kalian akan mati ditembaki oleh mereka” Allan pun memperingatkan kepada kami tentang penjaga yang ada di depan kami bertiga.


Kami pun sedikit kaget saat mendengarnya. Tapi kami pun terus berjalan pelan-pelan sambil terus menatap kedepan.


Dan benar saja, ada satu menara yang memiliki satu lampu sorot besar di ujung atasnya. Dan kami melihat ada satu moncong senjata mesin yang nampak siap untuk memberedel musuh yang terlihat oleh lampu sorot.


“Ssstttttt. Jangan bergerak dulu. Kita lihat dulu arah lampu itu bergerak. Jika dia sudah menyinari depan kita ini, kita maju mengendap sedikit-sedikit dari satu pohon ke pohon yang ada di depan kita memanfaatkan celah waktu yang ada. Oke?” tanya Tuan Mack kepada aku dan Saint.


Kami berdua pun mengangguk paham.


Kami bertiga pun menunggu lampu sorot melewati tempat kami. Dan saat ada celah waktu lampu sorotnya menyinari tempat kami, kami pun maju mengendap dari satu pohon ke pohon yang lain.


Dan setelah sinar lampu itu menyinari tempat lain, kami bertiga layaknya ninja melompat dari satu batang pohon ke pohon yang lain.


“Kreeekkk!!” kaki ku pun menginjak ranting yang jatuh di tanah.


Kami pun melakukan aksi mengendap-endap itu hingga kami bertiga melewati menara itu dengan aman.


Setelah berhasil melewati menara lampu sorot itu, kami pun berjalan lagi dengan tenang sambil tetap berhati-hati.


“Kurang berapa jauh lagi Allan hingga kami tiba di parkiran artileri itu?” tanya Tuan Mack kepada Allan.


“Sebentar. Hmmmmmm, kemungkinan sekitar 400 meter lagi Tuan Mack. Terus berhati-hati dengan bahaya yang mengancam Tuan” suara Allan pun terdengar keras dari Handie Talkie milik Tuan Mack.


“Siap Allan” balas Tuan Mack.


Aku, Sanit, dan Tuan Mack pun terus berjalan menyusuri hutan rimba yang gelap dan diterpa oleh dinginnya malam. Dan saat kami berjalan sesuai rute yang diberikan oleh Allan, tidak ada lagi hal berbahaya yang terjadi seperti tadi. Aman terus hingga jarak kami dan tempatnya hanya sekitar 100 meter lagi.


“Ayo Girou Saint. 100 meter lagi kita akan sampai” kata Tuan Mack menyemangati kami.


Kami berdua pun hanya mengangguk saja.


Dan saat kami rasa tujuan kami sudah sangat dekat, terlihat bangunan yang memiliki lampu yang terang di seluruh bagiannya da nada satu lapangan besar yang berisi berbagai tank dan artileri berat. Kami melihatnya dari atas suatu batu yang cukup tinggi dan tempat itu sudah terlihat. Dan kami rasa itu adalah tempat artileri-artileri itu diparkirkan dan itu adalah tujuan kami.


“Nah kalian lihat bangunan yang terang di tengah sana? Kemungkinan itu adalah tujuan kita. Ayo kita cari informasi penting disana” Tuan Mack pun turun dari batu besar yang dia naiki untuk melihat tempat itu.


“Siap Tuan Mack” kata kami berdua bersamaan.


“Hei Allan. Kami sudah berada di parkiran artileri itu. Nanti kami akan masuk lewat mana?” tanya Tuan Mack kepada Allan melalui HT miliknya.


“Maju saja terus sekitar 100 meteran lagi. Nanti ada satu tiang lampu dan ada penjaga di bawahnya. Setelah itu kalian belok kanan. Setelah itu nanti kuberitahu lagi-“ Allan pun memutuskan sambungannnya.


Setelah mendengar instruksi Allan, kami bertiga pun berjalan lagi.


Dan setelah berjalan kurang lebih 5 menit. Kami pun menemukan satu tiang lampu da nada satu penjaga dibawahnya, sesuai kata Allan tadi.


“Ssssttttt” instruksi Tuan Mack kepada aku dan Saint


Kami pun berjalan mengendap-endap seperti tadi.


Kami pun berjalan ke arah kanan sesuatu instruksi Allan tadi.


Setelah aku, Tuan Mack, dan Saint berjalan mengendap-endap, kami pun melihat satu gerbang yang cukup besar di ujung penglihatan kami. Dan kami rasa itu adalah gerbang masuk ke parkiran artileri yang kami tuju.


“Pinjam teropong milikmu Girou” kata Tuan Mack untuk meminjam teropong milikku.


Aku pun mengambil teropong yang kutaruh di tas yang kutenteng sejak tadi. Dan menyerahkannya kepada Tuan Mack.


Tuan Mack pun mengambil teropongku, dan langsung menggunakannya untuk melihat area sekitar gerbang besar parkiran artileri itu.


“Hmmmmm, penjagaan di sana cukup ketat ya. Bagaiman cara kita untuk masuk kedalam? Apakah menyamar atau melalui jalan masuk yang lain?” kata Tuan Mack sambil meneropong area gerbang itu.


Kami bertiga pun terus menatap gerbang besar yang seakan menyuruh kami masuk ke dalamnya sambil terus memikirkan cara untuk masuk kedalam sana.


“Hei Allan. Apakah ada jalan masuk lain selain yang kami temui ini? Ini nampaknya terlalu ketat untuk kami masuk ke dalamnya” tanya Tuan Mack kepada Allan.


“Sebentar kulihat petanya dulu. Hmmmmmm. Tidak ada jalan lain Tuan. Anda harus melalui gerbang besar itu” Allan pun menjawab pertanyaan dari Tuan Mack


Jawaban Allan semakin membuat kami bingung. Karena kami masih bingung bagaimana masuk disana dengan aman walau dijaga oleh banyak penjaga yang berseragam dan bersenjata lengkap seperti itu.


“Bagaimana untuk masuk kesana Tuan Mack?” tanyaku kepada Tuan Mack.


“Kita akan menyamar untuk masuk kesana”


-To Be Continued-