Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 47



Samurai Around The World #47.


Kami pun terdiam memikirkan usulan dari Joseph.


“Kalau aku sih setuju untuk melewati penjaga-penjaga ini tapi dengan cara mengendap-endap saja. Untuk masalah tiba-tiba keluar, kita bisa mengawasinya dari belakang dan depan sebelum melangkah maju. Yang lain bagaimana?” aku pun setuju dengan pendapat Joseph.


Allan, Saint, Tuan Mack, serta Tuan Mark pun mengangguk setuju.


“Ya sudah aku ikut saja” Tuan Zack memutuskan untuk setuju dan ikut dengan usulan dari Joseph.


“Sisanya ngikut” kata Guzz dan lainnya.


“Baguslah kalau semua sudah sepakat. Mungkin akan lebih baik yang membawa teropong atau alat bantu melihat untuk malam hari bisa berjalan di paling depan dan paling belakang dari barisan kita. Karena yang berada di depan dan belakang akan mengawasi rumah kayu di atas kita. Siapa yang membawa alat seperti tadi?” tanya Joseph kepada kami lagi.


Aku pun mengacungkan tanganku. Allan, Tuan Mack, serta Lowenn pun mengacungkan tangannya juga.


“Yang lain apakah ada lagi?” Joseph pun memastikan.


Hanya ada 4 tangan saja yang terangkat.


“Ada 4 ya. Begini, Allan dan Tuan Mack akan berada di barisan paling depan. Girou dan Lowenn berjaga di barisan belakang. Bagaimana?” Joseph pun mengatur barisan untuk melanjutkan perjalanan yang sudah tertunda beberapa menit.


Aku, Allan, Tuan Mack, dan Lowenn pun menganggukan kepala yang berarti setuju.


“Ya sudah kalau begitu. Kita langsung melanjutkan perjalanan malam ini” kata Joseph kepada kami semua.


Allan dan Tuan Mack langsung melangkah untuk memimpin rombongan. Yang lain pun langsung berjalan di belakangnya. Setelah semua sudah berjalan dalam satu barisan, aku dan Lowenn pun bergabung di barisannya dan menjadi penjaga di barisan paling belakang.


Saat berjalan, aku pun terus memandangi keadaan di sekitarku untuk memastikan apakah ada penjaga yang sedang mengawasi kami di malam yang gelap gulita seperti ini.


Dan untungnya tidak ada seseorang pun dari rumah-rumah di atas kami yang menampakkan dirinya. Sepertinya mereka sedang tertidur atau bagaimana. Tapi hal itu dapat menguntungkan bagiku dan yang lain.


Barisan kami pun terus melangkah maju melewati satu persatu ancaman yang ada di atas ubun-ubun kami hingga setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit, kami melihat sebuah cahaya yang menembus pepohonan dari depan kami.


“Apakah itu bangunan yang kita cari Allan?” tanya Joseph menanyakan tentang cahaya itu.


“Nampaknya memang itu Joseph. Kita lanjutkan saja dan memastikan apakah memang itu tempatnya” Allan pun melanjutkan langkah kakinya lagi.


Kami pun berjalan mendekati cahaya yang dilihat untuk memastikan apakah itu bersumber dari bangunan yang menjadi tujuan kami atau hanya lampu penerangan di hutan ini saja.


Dan untunglah ternyata dugaan dari Joseph benar. Cahaya yang kami lihat sebelumnya berasal dari sebuah bangunan yang ada di depan kami sekarang.


“Ya akhirnya kita sampai. Ini lah akhir dari perjalanan panjang kita semalaman menyusuri kegelapan bawah tanah dan gulitanya hutan ini. Tapi kalau melihat keadaan sekarang, lebih baik kita bertempat dulu disini. Karena sekarang sudah jam setengah empat pagi. Jikalau kita masuk kedalam untuk mendapatkan sesuatu yang kita cari, waktu kita sangat sedikit. Karena sebentar lagi matahari akan naik dan geliat aktivitas markas ini akan dimulai lagi” kata Allan kepada kami untuk menetap dulu dan tidak menyusup ke dalam terlebih dahulu.


“Iya juga ya. Kita menetap disini saja terlebih dahulu. Mungkin besok malam kita lanjutkan misi kita” Tuan Mark pun setuju dengan pendapat Allan.


Kami semua pun mencari tempat yang cocok untuk beristirahat sementara di tengah hutan dan tidak terlihat oleh siapapun di sekitar sini. Setelah menentukan tempat untuk memasang tenda yang pas, kami pun gotong royong untuk mendirikan tenda yang bisa digunakan untuk tidur serta beristirahat hingga esok malam.


“Hoooamm! Akhirnya selesai juga tendanya. Aku mau tidur karena sudah mengantuk, hampir semalaman berjalan di tengah pepohonan dan gelap seperti ini membuat kantuk mendatangiku” Joseph pun langsung merebahkan tubuhnya di dalam tenda karena mengantuk.


Disaat yang lain tertidur, aku pun duduk di bawah sebuah pohon yang sangat tinggi karena tidak ada sisa tempat di dalam tenda.


Terdengar suara jangkrik yang memenuhi semua sisi dari hutan yang kami tempati sekarang. Suara hewan malam juga bersenandung dan bersahutan bersama suara jangkrik tadi. Suara tadi terdengar seperti sebuah alunan musik yang menemaniku di dini hari seperti ini.


Tidak lama setelah semua tertidur, terdengar suara dengkuran yang cukup keras dari Allan dan Joseph yang tertidur di dalam tenda. Aku pun berjalan mendekatinya dan menutup mulut mereka berdua dengan sehelai kain agar suara dengkurannya tidak terdengar oleh seseorang di luar tenda dan dapat menimbulkan kecurigaan yang dapat membahayakan kami saat ini.


“Puuuhh! Ada-ada saja. Semoga tidak ada yang mendengar dengkuran Allan dan Joseph tadi” kataku berjalan keluar dari tenda setelah menyumpal kedua mulut temanku yang mendengkur.


Aku pun kembali duduk di bawah pohon yang sempat kutinggalkan tadi sambil mengamati keaadan sekitar tenda yang aku dan lain bangun tadi. Kami tadi hanya membuat satu tenda saja karena tenda yang kami buat berukuran cukup besar dan muat untuk diisi hingga 12 orang. Dan agar lebih tidak terlihat oleh para penjaga, kami memasang penutup daun, ranting, dan semak-semak di sekeliling tenda kami yang dapat mengecoh penglihatan penjaga yang ada disekitar kami.


Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Di dekat kami terdengar suara-suara yang menandakan aktivitas serta geliat dari seluruh bagian dan sisi dari markas ini sudah dimulai sejak pagi hari.


Aku pun berjalan mendekati asal suara yang kudengar barusan atas rasa penasaran.


Dan ternyata suara itu berasal dari sebua bangunan di tengah hutan yang nampaknya bertugas mengumpulkan kayu-kayu bakar di hutan belantara ini untuk disebar ke seluruh penjuru markas yang berguna untuk menjaga suhu badan karena daerah markas ini memiliki suhu yang dingin walau di tempat lain sedang kedatangan musim semi karena adanya gunung di belakang markas ini.


“Mereka sudah bekerja sejak pagi. Mereka tampak bersemangat untuk melakukan pekerjaannya. Mereka juga nampak bersenang-senang dalam menjalani pekerjaannya. Semoga setelah misi ini selesai aku dapat bersenang-senang seperti mereka dan semoga misi kali ini berhasil dengan sukses” kataku sambil memperhatikan para pekerja yang bersemangat mencari kayu bakar di pagi hari.


Setelah merasa puas memperhatikan penjaga tadi, aku pun berjalan kembali ke tenda dan menunggu hingga pagi datang


Aku pun membangunkan para anggota tim kami yang beristirahat kemarin malam untuk memulai aktivitas di pagi hari.


“Hei bagunlah ini sudah pagi. Kau tidur sangat nyenyak kemarin sampai dengkuranmu terdengar keras hingga keluar tenda” aku pun menyuruh Allan bangun terlebih dahulu.


Allan pun hanya menggeliat dan malah berbalik badan dariku.


Aku pun mencoba lagi untuk membangunkannya. Tapi sama saja, Allan tidak kunjung bangun dari tidur nyenyaknya. Karena sudah putus asa, aku pun berganti membangunkan Joseph. Tapi hasilnya sama saja, Joseph juga tidak bangun.


Dan karena dua orang susah sekali dibangunkan, aku pun keluar dari tenda. Membiarkan yang lain untuk tidur lebih lama.


“Ya sudah mungkin karena kecapekan berjalan semalaman kemarin. Kubiarkan saja untuk tidur lebih lama. Biar nanti bisa semangat lagi”


Setelah gagal untuk membangunkan yang lain, aku pun berjaga lagi dan memperhatikan keadaan di sekitarku. Teropong yang kubawa pun kupakai untuk mengawasi area sekitar tenda kami lebih jauh dan lebih jelas.


Terpaan sinar matahari yang mengenai badanku membuat tubuhku terasa lebih hangat setelah melalui malam yang dingin. Dan membuat badanku lebih nyaman karena aku masih belum terlalu terbiasa dengan cuaca dingin di eropa seperti yang kurasakan beberapa hari ini. Kami semalam juga tidak menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh karena alasan keamanan juga.


Dengan menggunakan teropong milikku ini, aku pun memantau setiap sisi yang dapat dilihat oleh lensa teropong yang kubawa. Ada seorang pekerja yang sedang sarapan dengan salah satu temannya. Ada juga yang sedang memunguti dahan serta ranting pohon yang jatuh. Kemungkinan dia adalah salah satu di antara pekerja yang kulihat sebelumnya. Dan para tentara yang bertengger di atas pohon pun terus memantau situasi dan memastikan tidak ada gangguan di komplek bangunan utama dari markas ini. Para pasukan itu memantau area komplek ini menggunakan cara yang sama denganku, dengan menggunakan teropong.


Dan dari pengawasanku, di dalam satu gubuk kayu ya bisa dibilang, terdapat 2 orang atau tentara yang berjaga. Mereka bergantian sesuai waktu yang disepakati. Mungkin ada yang berjaga dari pagi hingga petang dan ada juga yang berjaga dari petang hingga pagi esok harinya.


Mataku pun menatap sekeliling hutan yang sudah tidak gelap seperti kemarin malam dengan teliti dan sedikit tidak peduli dengan keadaan yang ada didekatku.


“Oi”


-To Be Continued-