
Samurai Around The World #46.
Akhirnya gerbang untuk kami keluar dari dalam tanah pun terbuka setelah Saint ikut membantu.
“Fiiiuuhhh!! Akhirnya terbuka. Kau keluar dulu Saint. Coba cek keadaan di sekitar sana. Kalau sudah aman, kau bisa memberitahu kami” Allan pun memberikan tugas kepada Saint.
“Siap. Akan ku lihat dulu”
Saint pun naik menggunakan tangga yang ada.
Aku pun berjalan mendekati tangga yang digunakan Saint untuk melihat lubang tempat kami keluar nanti.
“Hmmmmmm panjang lubangnya hampir sama dengan tempatku masuk tadi. Baguslah semoga memang ini jalan keluarnya” kataku di dalam hati.
Sekitar beberapa menit kemudian, Saint pun masuk lagi untuk melaporkan apa saja yang dia lihat.
“Bagaimana keadaan di atas sana Saint?” tanya Allan kepada Saint.
“Aman untuk keluar Allan. Tidak ada siapa-siapa disana” Saint pun menjawab keadaan di atas sana sudah aman.
“Sip. Biar aku dulu yang keluar. Yang lain bisa keluar setelahku” Allan pun keluar dari lorong bawah tanah melalui gerbang barusan.
Setelah Allan keluar, Saint pun keluar dan yang lain juga ikut keluar termasuk aku. Kami keluar secara bergantian karena lebar lubangnya hanya muat untuk satu orang dewasa saja.
Setelah keluar dari jalan bawah tanah tadi, keadaan sekitar menjadi lebih dingin. Mungkin karena sudah dini hari juga.
“Kau tutup lubang itu dulu Allan. Biar tidak ada jejak yang tertinggal” kata Tuan Mark kepada Allan.
“Siap Tuan Mark. Akan kututupi dengan cepat” kata Allan sambil membawa sekop untuk menutup lubang tempat kami keluar tadi.
Allan pun menutup lubangnya dengan tanah hingga tidak terlihat bahwa di tempat itu terdapat sebuah lubang.
“Sip. Mari kita lanjutkan perjalanannya. Ini sudah jam dua lebih” Tuan Mack pun langsung berjalan untuk memimpin rombongan.
Aku dan yang lain pun mengikuti Tuan Mack.
Kalau menurut peta yang diberikan oleh Allan, setelah keluar dari lubang bawah tanah tadi, kami sudah masuk di komplek tempat tujuan kami.
“Kita harus berhati-hati disini. Karena tempat kita ini sudah masuk di kompleknya. Kita ikuti saja jalur sempit ini karena nanti akan sampai di tempatnya” Allan pun memperingatkan kami untuk berhati-hati.
Yang lain pun hanya mengangguk paham.
Keadaan sekitar kami cukup berbeda dari yang tadi. Pohon yang ada disini disinari oleh lampu-lampu. Sepertinya memang jalur yang kami lewati saat ini sering dipakai. Pohonnya juga tampaknya sedikit lebih tinggi dibanding yang tadi.
Kami semua pun terus menyusuri jalur yang tertulis di peta yang diberikan oleh Allan kepada kami semua.
Tiba-tiba kami menemui suatu masalah. Saat kami sedang berjalan di tengah malam kami mendengar suara seseorang yang sedang berbicara.
“Malam ini rasanya sepi sekali. Aku baru pertama kali berjaga di malam hari seperti ini dan di tengah hutan belantara seperti ini. Kau sudah pernah berjaga malam sebelumnya Thomas”
Kami semua pun langsung panik dan memberhentikan langkah setelah mendengar suara orang yang sedang mengobrol itu.
“Siapa yang berbicara tadi?” tanya Joseph yang berdiri di belakangku.
“Aku juga tidak tahu. Kemungkinan sih pasukan yang sedang berjaga malam. Cuma aku masih bingung dimana asal suara itu” aku pun menjawab pertanyaan dari Joseph.
“Ssssttt jangan bergerak serta mengeluarkan suara sedikitpun. Stay low and sharp” Allan pun menaruh telunjuk di bibirnya untuk mengisyaratkan kami agar tetap diam dan tidak mengeluarkan suara.
Kami semua pun memperhatikan keadaan di sekitar kami untuk mencari dimana asal suara seseorang yang berbicara tadi.
Tiba-tiba mataku melihat sebuah bayangan hitam yang diterpa oleh cahaya lampu di jalur yang kami lewati sekarang.
Ssseettt! Aku pun menoleh dimana aku melihat bayangan tadi.
Tapi disana tidak ada apa-apa.
“Yang kulihat tadi apa ya? Atau mungkin itu hanya pikiranku saja ya?” aku pun bingung.
Dan saat aku masih bingung memikirkan apa bayangan hitam tadi, Joseph pun menepuk bahuku dan membuatku kaget.
Telunjuk Saint menunjuk ke atas. Nampaknya dia berkata “Lihatlah ke atas”
Kepalaku mendongak sesuai dengan arah dari telunjuk Joseph.
Dan betapa kagetnya aku, ternyata di atas pohon-pohon yang tinggi itu, terdapat sebuah rumah kayu yang berukuran cukup kecil.
“Suaranya berasal dari sana” kata Joseph kepadaku.
Dan rumah kayu itu tidak hanya satu, mereka tersebar di pohon sekitar kami juga. Rumah kayu itu dibangun berjarak 3 pohon antara satu dengan yang lain. Dan aku merasa seperti di kurung oleh sekumpulan rumah kayu tersebut.
“Dugaanmu tadi benar Girou. Mereka berjaga di atas pohon. Kita tadi melewati mereka tanpa sadar atas kehadiran penjaga di atas sana” kata Joseph memperjelas keadaannya kepadaku dengan sedikit berbisik.
Aku pun masih terkaget dengan adanya rumah kayu serta penjaga di atas sana yang seperti mengepung kami di jalan sempit di tengah hutan ini.
“Bagaimana cara kita untuk melanjutkan perjalanan malam ini Joseph?” tanyaku kepada Joseph.
“Aku juga masih belum mengetahuinya Girou. Aku dari tadi memikirkan caranya”
Aku pun hanya menghela napas karena sadar posisi kami terdesak oleh adanya penjaga yang bertengger di atas pohon yang mengelilingi kami.
Semua pun akhirnya tersadar akan adanya penjaga di atas pohon setelah diberitahu oleh Allan.
“Suara pembicaraan yang kita dengarkan berasal dari atas sana. Dugaan Girou beberapa jam yang lalu itu benar. Mereka menggunakan pohon untuk menjaga wilayah ini” kata Allan memberitahu kami semua.
“Bagaimana jika sudah terjadi seperti ini Allan? Kita semua sudah terkepung oleh mereka” tanya Tuan Mark yang menunjukkan wajah sedikit panik.
Allan pun hanya diam saja. Tidak ada jawaban darinya.
“Apa mungkin kita terobos saja jalan ini? Tapi dengan mengendap-endap agar tidak mengeluarkan banyak suara. Bukankah kita melewati kumpulan rumah kayu ini dari tadi? Apakah rumah kayu ini hanya ada disini atau bagaimana? Karena sejak kita keluar dari lubang tadi kita tidak melihat penjaga di atas pohon seperti ini” pertanyaan beruntun pun langsung dikeluarkan oleh Saint kepada Allan yang nampak masih bingung.
Aku pun baru tersadar oleh pertanyaan Saint barusan. Sejak keluar dari lorong bawah tanah tadi, aku tidak melihat rumah kayu yang berada di atas kami.
“Aku juga tidak tahu Saint. Aku tadi memang tidak merasakan adanya hawa keberadaan dari penjaga yang bertempat di atas pohon-pohon ini. Mungkin saja perkataan mu benar. Tapi aku tidak bisa memastikannya”
Kami pun masih bingung untuk melanjutkan perjalanan atau menunggu terlebih dahulu karena waktu yang berjalan dengan cepat tapi di atas kami terdapat bahaya yang mengancam jika kami tidak berhati-hati.
Dan saat dalam keadaan yang membingungkan ini, tiba-tiba terbesit pikiran di kepalaku untuk mengambil sebuah teropong yang bisa digunakan untuk melihat di tengah gelapnya malam untuk mengecek pohon-pohon yang sudah kami lewati untuk memastikan apakah penjaga-penjaga ini sudah ada dari tadi atau tidak.
“Untuk memastikan sesuatu yang kau tanyakan tadi biar kulihat menggunakan alat ini. Semoga bisa” kataku kepada Saint.
Saint pun hanya menganggukan kepalanya.
Aku pun langsung mengaktifkan mode tengah malam dari teropong yang kupunya. Kekurangan dari digunakannya mode tengah malam adalah membuat sesuatu yang dilihat oleh teropong menjadi sedikit blur atau tidak jelas. Tapi hal itu tidak terlalu bermasalah denganku karena aku sudah terbiasa memakainya.
Setelah diaktifkan, aku pun memasang teropong itu di kedua bola mataku. Untuk melihat sesuatu yang jauh, aku pun memperpanjang jangkauan penglihatan teropong milikku menjadi lebih jauh.
“Apa yang kau temukan Girou? Apakah rumah kayu itu sudah ada dari tadi? Atau kau menemukan sesuatu yang lain?” Saint pun berganti melancarkan pertanyaan secara bertubi-tubi.
Aku belum memberikan jawaban kepadanya karena masih fokus.
Dan berdasarkan penglihatan dari benda yang kupakai ini, di atas pohon-pohon tinggi yang kami lewati tadi, tidak ada rumah kayu atau penjaga di atasnya. Mungkin hanya sarang burung yang menggunakan pohon sebagai tempat tinggalnya. Menurut hipotesaku, rumah-rumah kayu yang kami lihat yang mengelilingi kami sekarang hanya ada di daerah tempat kami berada hingga pusat pertahanan dari Darkness itu yang menjadi tempat tujuan kami.
“Nope. Tidak ada apa-apa di atas sana Saint. Kemungkinan perkataan mu tadi benar Saint. Rumah kayu yang berisikan penjaga ini hanya ada di daerah sekitar sini saja. Dan mungkin rumah-rumah ini ada terus sampai tempat tujuan kita nantinya” kataku memberi jawaban kepada Saint dan terdengar di telinga yang lain.
“Untunglah kalau penjaga-penjaga ini hanya ada disini. Tapi permasalahan selanjutnya adalah bagaimana kita melanjutkan perjalanan malam ini sedangkan di atas kita dibayang-bayangi oleh mereka” tanya Saint kepada kami semua.
Semua pun langsung terdiam memikirkan caranya.
“Bagaimana kalau kita berjalan saja melewati mereka? Tapi berjalan secara mengendap-endap agar tidak menghasilkan suara” usul Joseph.
“Tapi bagaimana kalau mereka tiba-tiba keluar untuk mengawasi dan melihat kita? Posisi mereka ada diatas kita semua dan kita tidak dapat melihat mereka dengan jelas karena gelapnya malam” Allan pun berkomentar terkait usulan Joseph.
“Kalau hal itu kita bisa mengandalkan Girou dengan teropongnya yang dapat melihat walau gelap seperti di sekitar ini. Bagaimana?” tanya Joseph memastikan.
-To Be Continued-