Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 43



Samurai Around The World #43.


Aku serta yang lain pun berjalan beriringan melalui jalan yang kecil untuk menuju ke suatu tempat yang penting. Kami berjalan secara berjarak antara satu dengan yang lain agar berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Aku berada di barisan tengah dan yang berada di belakangku adalah Joseph. Aku pun terus berjalan sesuai dengan jalur yang tertulis di selembar kertas yang diberikan satu-satu oleh Allan yang berisi rute tercepat dan ditandai juga menara penjaga atau semacamnya  yang ada di sepanjang jalan rute tercepat tadi, agar bisa berjaga-jaga dari jauh.


Tuan Mack pun berjalan paling depan memimpin rombongan serta diikuti oleh Tuan Mark, Tuan Zack, Lowenn, Guzz, Aku, Joseph, Saint, dan Allan yang paling belakang.


Kami pun berjalan membelah hutan rimba yang gelap. Cahaya bulan terhalang oleh ranting dan daun pohon karena saking tinggi dan lebatnya pepohonan di hutan ini. Saat menyusuri hutan yang gelap, aku dan yang lain hanya menggunakan senter kecil yang ditaruh di kepala. Karena dirasa sudah cukup memakai senter yang kecil dan juga agar tidak terlalu terlihat mencolok oleh musuh.


“Lebat sekali pohon yang ada disini. Bulan pun tak terlihat karena ranting menutupinya. Dan cukup aneh di tengah hutan seperti ini ada jalan kecil dan masih enak untuk dilalui seperti ini. Berarti jalur ini masih sering dipakai untuk lalu lalang tentara dalam hutan ya Girou? Karena kalau tidak dipakai, biasanya tertutup oleh rumput liar dan semak-semak bahkan” tanya Joseph kepada ku yang berjalan di depannya.


“Ya kemungkinan itu benar. Bisa juga jalan ini dipakai saat terjadi pertempuran atau bagaimana. Karena bisa menjadi jalur persembunyian yang lumayan bagus juga. Tapi entahlah, aku baru berjalan di jalan yang sesempit ini. Jadi aku tidak bisa menyimpulkan banyak” aku pun menjawab sesuai yang aku tahu.


“Bukankan saat menyusup kemarin, kau melewati jalan yang seperti ini juga kan? Kau kan juga masuk ke hutan juga” Joseph pun bertanya memastikan lagi.


“Memang benar aku melewati jalur yang seperti ini, atau jalur dalam hutan lah. Cuma yang kali ini berbeda. Jalur yang kita lewati ini lebih sempit dan memiliki hawa yang lebih dari yang kemarin. Aku tidak tahu hawa itu seperti apa, mencekam atau menakutkan. Tapi aku hanya merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya ukuran jalannya tapi hawanya juga” aku pun mengeluarkan jawaban yang cukup membingungkan karena aku sendiri masih sedikit was-was.


“Kalau tentang jalan yang menyempit aku bisa memahaminya karena jalur ini sempit sekali. Tapi hawa yang lebih itu seperti apa? Aku masih  kurang memahaminya tadi.” Joseph pun nampaknya masih bingung.


“Aku juga tidak tahu seperti apa bentuk perasaan itu Joseph. Aku hanya merasa ada hawa yang lebih dari pada yang kemarin” aku malah semakin bingung menjelaskannya kepada Joseph.


“Ya sudahlah. Memang kalau masalah perasaan seperti itu akan susah dijelaskan dan digambarkan. Ya sudah sekarang kembali fokus lagi saja”


Aku pun mengiyakan perkataan Joseph dan mencoba menghilangkan perasaan bingung tadi jauh-jauh.


Kami pun terus berjalan selama kurang lebih 45 menit dan pemandangan masih sama-sama saja. Hutan belantara dengan suara jangkriknya. Belum ditemukan tanda-tanda keberadaan dari tujuan kami itu.


“Tanda-tanda itu kok masih belum ada ya? Kita dari tadi hanya menatap pohon-pohon yang tinggi saja. Apakah memang jalurnya akan terus seperti ini Allan?” pertanyaan Saint kepada Allan terdengar olehku.


“Kemungkinan jalurnya akan terus seperti ini Saint. Aku mendapatkan rute ini dari sistem informasi yang mereka punya. Mereka terkadang menyimpan beberapa file yang berisi jalan-jalan yang sering mereka lalui untuk berbagai macam kebutuhan. Jadi kurasa aku sudah mendapatkan informasi yang valid untuk ini. Kita ikuti saja jalan ini” kata Allan menjawab pertanyaan Saint.


“Ya sudah mungkin kita harus sabar”


5 menit kemudian, semuanya pun beristirahat  karena merasa capek serta untuk mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan.


“Kemungkinan setelah ini kita akan melewati sebuah persimpangan. Ada dua pilihan nantinya, yaitu melewati persimpangan yang memasuki sebuah gua. Atau persimpangan yang satunya lagi akan melewati jalan yang sama seperti ini lagi, jalur sempit yang dibatasi oleh pohon tinggi dan semak-semak di pinggir-pinggirnya” Allan pun memberitahu tentang jalan yang akan kami lewati setelah beristirahat ini.


“Lebih cepat lewat mana Allan?” aku pun bertanya setelah Allan menjelaskannya.


“Kalau masalah lebih cepat, kita akan masuk ke gua. Kalau masalah keamanan dan menghindari rasa was-was, mungkin lebih baik ke persimpangan yang satunya lagi. Semua ada kelebihannya. Kalau menurutku karena kita juga mengejar waktu, jadi kita lewat gua saja” Allan pun lebih memilih untuk masuk ke gua karena lebih cepat dari pada jalur yang satunya lagi.


“Ya aku setuju dengan usulanmu Allan” Tuan Mark pun mengangguk setuju.


Yang lain hanya mengangguk saja.


“Baguslah kalau semua mengiyakan. Kita akan langsung melanjutkan perjalanan setelah semua selesai istirahat”


Selang tak lama kemudian, setelah selesai mengisi energi dan  tenaga dan dirasa semua telah siap, kami pun melanjutkan lagi perjalanannya.


Setelah berjalan sebentar, akhirnya kami menemui sebuah persimpangan. Persis seperti yang diceritakan Allan tadi. Bercabang dua, terdapat mulut gua di salah satu cabang yang seperti menyambut kami untuk masuk ke dalamnya, dan terdapat lanjutan jalan sempit di cabang keduanya.


Saat di dalam gua, suasana di dalam sana cukup mencekam, mungkin karena gelapnya malam serta hutan ditambah lagi oleh gelapnya gua. Untungnya beberapa dari kami membawa obor sebagai alat penerangan di gua.


Gua itu memiliki ukuran yang cukup panjang. Kami baru sampai ke ujung gua 30 menit kemudian. Setelah keluar dari gua, kami disambut oleh jalan yang lebih lapang daripada yang kami lewati tadi.


Kami pun berjalan beriringan lagi hingga akhirnya kami menemui barisan pohon yang lebih tinggi dan besar dibanding pohon yang lainnya.


“Sepertinya perkiraanku benar. Semoga kemungkinan yang dibalik pohon ini juga sama dengan yang aku gambarkan tadi” aku pun bergumam senang.


Tapi kami menemui satu masalah baru, jalanan yang kami lewati buntu. Tertutup oleh barisan pohon yang tinggi itu.


“Haduh! Jalan ini sudah buntu. Terhalang oleh pohon ini. Bagaimana cara untuk melanjutkan perjalanan ini?” tanya Joseph sedikit panik.


“Kau lihat saja di peta yang diberikan oleh Allan. Bisa saja ada jalur lanjutannya” saran Tuan Mack kepada Joseph.


Joseph pun mengambil kertas yang tergambarkan peta rute perjalanan malam ini.


“Kalau di peta ini jalur yang kita lewati saat ini ada lanjutannya lagi Tuan. Dan tidak dituliskan bahwa ada penghalang seperti pohon ini. Apakah peta ini benar Allan?” Joseph pun menanyakan tentang kebenaran dari peta yang diberikan.


“Peta yang kita semua pegang itu kudapatkan di tempat informasi tentang Darkness berada. Dan aku mendapatkannya dengan cukup sulit dan lama. Dan informasi yang biasa kudapatkan tentang Darkness sama dengan informasi peta ini berada. Jadi peta yang kau pegang itu sudah pasti benarnya Joseph!” kata Allan dengan nada meninggi.


Situasi pun menjadi tegang.


“Sudahlah. Daripada kita ribut tentang jalan buntu ini, lebih baik kita cari solusi untuk melanjutkan misi malam kita hari ini” Tuan Mack pun mencoba menenangkan situasi yang menegang.


“Ya mungkin itu lebih baik” Allan pun sudah tenang kembali setelah hampir terpicu emosinya tadi.


Kami semua pun mendekati barisan pohon itu. Bisa jadi ada jalur lain dibaliknya.


Aku pun memperhatikan dengan seksama barisan-barisan pohon yang ada di depanku.


“Hmmmmmmm belum ada tanda aneh yang kutemukan” aku berjalan lagi untuk memperhatikan lebih dekat.


Tuk! Tuk! Tuk! Aku mengetuk batang dari salah satu pohon untuk mengecek apakah ada sesuatu yang aneh.


Tanganku terus mengetuk-ngetuk batang pohon dari satu pohon ke pohon yang lain. Tapi semua mengeluarkan suara yang sama. Tidak ada perbedaan yang besar.


“Dimana ya jalan keluarnya?” aku pun masih bertanya-tanya di dalam hatiku.


Tanganku terus mengetuk-ngetuk batang pohon dari satu pohon ke pohon yang lain. Tapi semua mengeluarkan suara yang sama. Tidak ada perbedaan yang besar.


Aku pun mencari lagi dengan berjalan dari ke sisi yang lain sambil mematap keadaan sekitar.


Dan saat aku berjalan, tiba-tiba sesuatu terjadi.


-To Be Continued-