
Samurai Around The World #44.
Tiba-tiba sesuatu terjadi. Kaki ku pun tiba-tiba masuk ke dalam tanah.
Bleeepp!! Kaki kananku terperosok ke tanah.
“Heiii!!” Allan pun mendekatiku karena terkaget.
Allan pun langsung menggenggam tanganku dan membantu untuk mengangkat badanku.
Tapi sekeras apapun usaha yang dilakukan untuk mengeluarkan kaki ku dari dalam tanah, kakiku tetap di dalam dan malah tambah merosok ke dalam.
“Ada apa di dalam sini?!” aku pun masih terus berusaha untuk mengangkat kakiku.
“Ayo keluarlah!!” Allan pun menggenggam tanganku lebih erat.
Yang lain pun menggenggam tanganku dan membantuku mengeluarkan kakiku yang makin masuk ke dalam tanah.
Kakiku pun mulai terangkat sedikit demi sedikit.
“Ayo sedikit lagi keluar!!” kata Allan menyemangati yang lain.
Akhirnya kaki kananku berhasil keluar dan meninggalkan sebuah bekas lubang di tanah.
“Fiuhh! Untunglah masih bisa keluar. Tapi ada yang aneh disini, ada apa di dalam tanah ini yang membuat kakiku masuk? Hmmmmm” kata diriku sambil bertanya-tanya.
“Coba digali saja tanahnya. Bisa jadi ada petunjuk di dalamnya. Aku akan meninggalkan kalian untuk mencari petunjuk di sekitar sini. Nanti beritahu saja aku jika menemukan sesuatu” Tuan Mark memberi jawaban setelah ikut membantu tadi.
“Siap Tuan Mark”
Aku pun menuruti perkataan dari Tuan Mark.
Allan juga ikut membantu
Srreek! Sreek! Srreek! Aku dan Allan pun menggali tanah tempatku kakiku tadi terperosok.
Setelah digali selama 5 menit, aku dan Allan pun menemukan pegangan bundar seperti setir kapal yang tampaknya menjadi kunci dari suatu pintu.
“Coba kau buka Girou. Bisa jadi ada sesuatu” Allan menyuruhku untuk membuka kunci setir yang ditemukan.
Kedua tanganku pun langsung mencoba memutar pegangan yang berbentuk seperti setir kapal itu.
Tapi lagi-lagi masalah datang kembali, pegangan itu tidak bisa diputar sama sekali. Kucoba dengan sekuat tenaga pun masih belum bisa diputar.
“Wow! Pegangan ini terlalu kuat untuk diputar dengan tenagaku. Mungkin kita bisa menggunakan cara lain” kataku menyerah sambil mengibas-ngibaskan tangan karena sakit setelah mencoba untuk membuka gembok bundar itu.
“Mungkin karena sudah terlalu lama berada di bawah tanah dan juga tidak dibuka dalam waktu yang panjang membuatnya tertutup rapat. Tunggu, aku punya satu alat yang kemungkinan bisa digunakan untuk membukanya” Allan pun langsung merogoh-rogoh isi tasnya.
Dan tangan Allan keluar dengan memegang satu botol berisi cairan yang tidak ku ketahui apa jenis cairan itu.
“Ini adalah cairan penghilang karat dan bisa digunakan sebagai pelicin juga. Coba ku tetes kan di sekeliling benda bundar ini. Semoga bisa terbuka” tangan Allan sudah siap untuk meneteskan cairan miliknya.
Saat tutup dari botolnya dibuka, cairan itu mengeluarkan bau yang tidak mengenakkan. Seperti bau busuk. Aku pun langsung menutup batang hidungku agar aku tidak terganggu karena bau cairan yang Allan bawa.
Tess! Teess! Tess!! Tess! Cairan itu pun keluar sedikit demi sedikit dari botol dan masuk di sela-sela sempit gembok bundar itu. Allan pun terus meneteskannya hingga dirasa semua bagian telah terkena cairannya.
“Tunggu sebentar agar cairan ini bekerja untuk menghilangkan karat di gemboknya” kata Allan kepadaku.
Aku pun hanya mengangguk-angguk.
Setelah 1 menit berlalu, Allan pun berdiri dan meminta tolong kepadaku.
“Nampaknya cairan tadi sudah cukup meresap di dalamnya. Bantu aku Girou untuk membukanya”
“Siap” Aku pun langsung berdiri dan membantu Allan.
Allan dan aku berdiri berhadap-hadapan sambil memegangi gembok bundar yang sudah diberi cairan.
“1 2 3 Putar!” kata Allan memberi aba-aba.
Tanganku pun memutar gembok itu. Dan akhirnya gembok bundar itu akhirnya berputar sedikit.
“Baguslah. Cairan tadi sudah bekerja. Putar lebih kuat Girou” kata Allan dengan raut muka senang.
Kami berdua pun memutar gembok itu lebih kuat agar bisa terbuka.
Ciitt! Ciittt! Ciitt! Suara besi yang bergesekan keluar dari gembok yang kami putar itu.
Setelah kurang lebih 5 menit kami berjibaku dengan benda bundar itu, akhirnya gembok itu pun terbuka. Dan saat gembok itu terbuka, batu dan tanah yang menutupi pintunya pun bergerak.
“Angkat gemboknya Girou. Pintu masuknya ada di bawah tanah disekitar gembok ini” Allan pun menyuruhku untuk mengangkat gembok.
“Siap”
“Heemmmhhh!!” Gembok itu memiliki bobot yang berat dan membuatku sedikit kewalahan saat mengangkatnya.
Tapi untungnya aku bisa mengangkatnya
Dan sebuah bongkahan batu pun bergerak keluar dari tanah yang menutupinya bersamaan dengan terangkatnya gembok itu. Serta meninggalkan sebuah lubang yang cukup besar.
“Coba kau masuk ke sana Allan bisa jadi ada jalur rahasia atau sesuatu yang lain” kataku kepada Allan untuk masuk ke lubang bekas bongkahan yang kuangkat barusan.
“Oke lah aku akan masuk kesana” Allan pun mengambil senter kecil dari tasnya.
“Aku titipkan tas ini kepadamu ya”
“Siap. Sekarang masuklah ke dalam”
Tubuh Allan pun masuk sedikit demi sedikit ke dalam lubang. Ukuran lubang itu cukup lebar sehingga bisa dimasuki oleh orang dewasa.
“Ada apa di dalam tanah itu Girou? Apakah ada sesuatu?” tanya Tuan Mark kepadaku.
“Kami menemukan sesuatu Tuan Mark. Sebuah pintu bawah tanah. Allan baru saja masuk ke dalam sana. Semoga galian ini dapat membuahkan hasil” aku pun menjawab pertanyaan Tuan Mark.
“Oh baguslah kalau begitu. Semoga saja”
“Tuan Mark tadi menemukan apa saja saat berjalan-jalan di sekitar sini tadi?” ganti aku yang bertanya.
“Aku tidak menemukan apa-apa Girou. Aku berharap galian ini menjadi petunjuk kita untuk melanjutkan perjalanan lagi. Karena kita sudah disini hampir 30 menit. Dan waktu kita tidak—“
“Aku menemukan sesuatu di bawah sini Girou. Sebuah jalan” kata Allan memberitahuku dari dalam tanah.
“Untunglah kita sudah menemukan jalannya” kata Tuan Mark senang.
“Jalan seperti apa Allan?” tanyaku memastikan.
“Nampaknya jalan di bawah sini adalah jalan yang bisa kita gunakan untuk melewati barisan pohon tadi. Oleh karena itu kau cepatlah kesini biar kutunjukkan” Allan pun memastikan dan menyuruhku untuk masuk ke lubang tadi.
“Ok lah kalau begitu. Aku akan kebawah. Tuan Mark di atas saja ya. Nanti bisa ikut kebawah kalau yang dikatakan Allan tadi benar” pesanku kepada Tuan Mark.
“Siap Girou”
Kakiku pun masuk ke lubang yang ditemukan tadi. Badanku dapat masuk dengan mudah karena badanku sedikit lebih kecil dibanding Allan. Jadi aku dapat ke tempat Allan masuk tadi dengan cepat.
Drreepp! Suara kakiku yang menghentak tanah setelah melewati lubang tadi. Dan benar apa yang dikatakan oleh Allan. Terlihat sebuah lorong seukuran orang dewasa yang memanjang seperti jalan.
“Ah yang kau katakan benar ternyata. Tapi apakah ini jalannya Allan?” tanyaku memastikan lagi.
“Iya Girou. Kau lihat papan tulisan itu, Disitu tertulis informasi mengenai lorong yang kita lihat ini” Allan pun mengarahkan jari telunjuknya ke suatu papan kayu.
Aku pun berjalan mendekatinya.
“Hmmmmmm menggunakan bahasa apa ini? Aku tidak bisa mengartikannya karena bahasanya asing bagiku” aku pun kebingungan membaca tulisannya.
“Kukira kau bisa membacanya, ya sudah biar ku artikan kepadamu. Bahasa yang ditulis itu adalah bahasa nordik Girou” Allan pun bersedia untuk membantuku.
“Lorong ini dapat digunakan untuk melanjutkan perjalanan. Itu yang tertulis di papan itu Girou. Mungkin maksud dari melanjutkan perjalanan adalah jalan lanjutan dari jalan buntu yang diatas tadi. Di bawah sini juga ada tangga untuk naik ke atas lagi. Kau bisa naik ke atas untuk memberitahu yang lain terkait lorong ini” Allan pun menyuruhku untuk ke atas lagi.
“Ya sudah aku akan keatas untuk mengatakan kepada yang lain terkait lorong ini” aku pun mengambil tangga yang dikatakan Allan tadi untuk ku gunakan untuk ke atas.
Saat tangga sudah dipasang dan bisa dinaiki, tangan serta kakiku pun menapak ke tangga dengan pas.
Jarak antara lorong bawah tanah tadi dengan permukaan di atas tidak terlalu jauh. Hanya 30 meter saja. Mungkin karena masuknya sedikit susah jadi terasa lebih panjang.
Saat sudah sampai di atas tanah, Tuan Mark langsung membantuku untuk keluar dari lubang masuknya lorong itu.
“Bagaimana keadaan di bawah Girou?” tanya Tuan Mark kepadaku.
“Ada lorong di bawah sana Tuan Mark. Kalau dari tulisan di bawah sana, di bawah sana adalah jalur lanjutan dari jalan yang buntu ini” kataku sambil membersihkan bajuku yang terkena tanah.
“Bagus sekali kalau begitu. Kita bisa menggunakannya untuk melanjutkan perjalanan malam ini”
“Kalian semua bisa mendekat kesini! Kita sudah menemukan jalan untuk melewati hambatan pohon ini!” Tuan Mark pun memanggil yang lain untuk mendekat.
Yang lain pun mendekatiku dan Tuan Mark yang berdiri di samping lubang ku keluar tadi.
“Bagaimana jalan keluar dari hambatan ini Tuan Mark?” tanya Tuan Mack.
“Kita masuk ke dalam lubang ini karena ada jalan rahasia di dalamnya”
-To Be Continued-