
Samurai Around The World #13.
Mereka semua pun mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan saat misi penyusupan nanti. Suara grasak-grusuk pun memenuhi seisi rumah. Beberapa jam kemudian, Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang sedikit lesu karena capek.
“Aduh, capek banget nyiapin barangnya. Tadi nyari senjata Wilhiemma yang keselip tadi bikin capek soalnya. Haduh haduh.” keluh Girou sambil mengusap dahinya.
“Iya. Sialan kau, Wilhiemma. Kebiasaan banget senjatanya sendiri saja nggak dijaga. Huuu!!” olok Yamazaki.
“Iya iya. Maaf maaf.” Wilhiemma yang meminta maaf kepada Girou dan Yamazaki.
“Minta maaf saja tidak cukup. Wilhiemma. Walaupun kau meminta maaf sampai kiamat pun yang harus diubah adalah kebiasaanmu. Kalau Cuma minta maaf, semua orang mah bisa.” Yamazaki yang menasehati.
“Kamu kok tiba-tiba berkata seperti itu, Yamazaki. Biasanya Girou yang berkata seperti itu, kau cuma marah dan memaki saja biasanya. Ada apa dengan dirimu, Yamazaki? Apakah perjalanan ini mengubah perangaimu, hah?” tanya Wilhiemma dengan sedikit melotot.
“Kau memang keras kepala, Wilhiemma. Dinasehati kok ngelunjak. Kujitak juga kau lama-lama.” ancam Yamazaki.
“Ayo sini, biar ku balas.” balas Wilhiemma galak.
“Sudah-sudah, masih pagi kok sudah ingin baku hantam, kalian bisa saja merusak mood ku yang baik di pagi hari ini loh.” kata Girou sambil sedikit melotot untuk melerai Wilhiemma dan Yamazaki.
“Memang mereka masih ABG, Girou. Biarkan saja.” teriak Felix dari lantai bawah.
“Ah, benar juga ya. Ya sudahlah.” kata Girou.
Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki pun turun ke lantai 1 setelah menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan saat misi nanti. Ternyata di bawah sudah ada Alexander, Sergei, Leov, Gloria, dan yang lainnya yang terlihat lesu dan capek setelah menyiapkan barang.
“Eh, Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki sudah turun. Kalian kenapa lama sekali? Sampai berteriak-teriak tadi.” tanya Alexander.
“Si Wilhiemma tuh tadi senjata-senjatanya kececeran, jadi susah nyarinya.” jawab Yamazaki dengan sedikit kesal.
“Oalah, memang dari dulu Wilhiemma selalu gitu ya. Menyusahkan orang lain.” Kata Alexander dengan sedikit menyeringai.
“Eh, iya, Tuan Alexander. Entah kebiasaan dari dulu seperti itu. Aku ingin berubah sebenarnya, tapi entah kenapa sikapku yang seperti itu kembali lagi.” Wilhiemma pun beralasan dari pernyataan Alexander.
“Kamu jangan selalu beralasan, Wilhiemma.” Girou mengingatkan Wilhiemma.
“Ya memang begitu, Girou. Aku ingin berubah sebenarnya, cuma kembali lagi sifatnya.” Wilhiemma beralasan lagi.
“Halah. Terserah kamu, Wilhiemma.” Girou pun menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Eh, Tuan Igor. Saya mau bertanya, sebenarnya Tuan Igor dengan Tuan Felix ini berteman darimana? Maksudnya anda bertemu dengan Tuan Felix itu dimana?” tanya Girou kepada Igor.
“Hmmm, mulai dari mana ya? Kalau tidak salah, kami bertemu di pertemuan antara Blok Sekutu dan Poros setelah Perang Dunia 2 selesai. Kami juga bertemu dengan ayahmu, Girou. Kami awalnya bermusuhan, tapi setelah diskusi lebih dalam, kami dapat saling berteman. Kami saling berbagi pendapat satu sama lain tentang nasib dunia kedepannya. Kami saling mengobrol lama sekali, bahkan kami berdiskusi semalaman. Ah, malam itu. Indah sekali
untuk diingat. Seperti itu awalnya, kami bertiga bertemu, Girou.” jawab Igor.
“Ah iya, kejadian itu sudah lama sekali. Aku sudah kangen bertemu dengan Ichirou. Kapan-kapan kita kesana ya, Igor? Apakah Jepang masih indah, Girou? Aku ingin sekali berkunjung ke Gunung Fuji.” Tanya Felix penasaran.
“Masih indah dan asri, Tuan Felix. Mungkin ayah akan senang sekali jika Tuan Igor dan Tuan Felix berkunjung ke sana.” jawab Girou.
Mereka semua pun saling berbagi pengalaman masa lalu kepada satu sama lain.
Hari-H penyusupan pun tiba.
Di dini hari, kesibukan pun mulai terasa di rumah Alexander. Girou, Yamazaki, Sergei, dan Leov pun berada di kamar Stainslav untuk di make up penyamaran seperti Paspampres yang akan menjaga Presiden nanti. Stainslav pun dengan telaten memberi penyamaran yang sempurna kepada Girou, Yamazaki, Sergei, dan Leov. Yang lain juga bersiap-siap juga. Alexander yang memasak bekal makanan saat misi nanti. Allan menyiapkan alat komunikasi yang akan digunakan nanti. Gloria dan Felix menyiapkan alat-alat yang akan berguna saat penerobosan ruangan nanti. Igor, Mathev, dan yang lain menyiapkan beberapa senjata dan transportasi. Tak selang lama kemudian, mereka semua pun telah siap. Mereka pun bergantian memasuki beberapa mobil Jeep yang telah disiapkan. Setelah semua naik, mereka langsung tancap gas. Mereka tidak melakukan konvoi seperti di film atau cerita novel lainnya. Mereka berpisah dengan jarak yang sedikit jauh agar tidak terlalu mencolok. Alexander memimpin di depan, Sergei di tengah, dan Leov berada di belakang.
Mereka sampai di TKP sebelum acara tersebut dimulai. Mereka parkir di tempat yang sedikit jauh, agar sekali lagi, yaitu tidak menarik perhatian. Sesuai rencana, tim dibagi menjadi dua, tim Girou, dan tim Nikolaj. Jerry dan Alexandrina menyamar menjadi tentara yang mengamankan acara. Karena Igor diundang sebagai tamu terhormat dari Satuan Militer, dia akan bersikap seperti biasa. Allan, Volk, Mathev, dan Felix akan mengawasi dari Jeep dan
mengamankan jalur kabur untuk tim mereka.
Misi pun dimulai.
di salah satu tempat yang bagus untuk mengintai pergerakan target mereka, mereka akan menunggu di tempat itu, dan saat waktunya tiba, mereka akan memasuki sekat ruangan yang akan menjadi jalur penerobosan mereka.
Para Target pun telah tiba. Girou, Yamazaki, Sergei, dan Leov pun mengawal target mereka (atau Presiden), mereka harus berhati-hati dan bersikap setenang mungkin. Allan mencoba menghubungi Girou melalui alat komunikasi yang telah disiapkan.
“Roger, Tes. Mikail, kau masih disana? Ganti.”Allan mengganti nama Girou dengan Mikail sesuai nama anggota Paspampres yang digantikan oleh Girou.
“Ya aku disini sedang menjaga Tuan Presiden. Ganti.” Girou tidak menyebutkan nama Allan karena akan mencurigakan.
“Baguslah kalau begitu. Lanjutkan, Mikail.” gantian Felix yang berbicara.
Girou tidak menjawab. Hanya anggukan kecil.
Girou sempat menoleh kebelakang untuk melihat Igor yang ikut melangkah di belakangnya. Igor pun malah menatap tajam Girou, yang mengartikan “Jangan lengah, Girou. Bersikaplah setenang mungkin” Girou pun kembali fokus dalam tugasnya kali ini. Mereka pun sampai di depan ruangan pertemuan utama. Di sana banyak sekali para pers yang berebutan menyodorkan alat perekam untuk mewawancarai Sang Presiden tentang pertemuan ini. Sesuai dengan tugas seorang Paspampres, Girou dan timnya melerai para pers, dan memberikan jalan kepada Presiden. Saat melerai para Pers, penyamaran Yamazaki hamper terbuka, tapi dengan tenang, Yamazaki mengembalikan penyamarannya seperti semula. Hal itu membuat Girou dan timnya sedikit terkejut. Mereka berpandangan untuk sesaat, tapi mereka kembali tenang dan kembali fokus. Di ruang pertemuan tersebut, sudah duduk di kursi Menteri-Menteri dan Dubes Soviet dari berbagai Negara. Mereka semua pun merunduk takzim saat Presiden telah datang. Setelah mengantarkan Presiden di kursinya, Girou dan timnya pun keluar, karena pertemuan itu tertutup untuk semuanya. Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ke ruangan itu. Girou dan yang lainnya pun keluar dan berjaga di depan pintu ruangan pertemuan.
Meskipun sudah dijaga, gerombolan Pers pun masih memaksa untuk meliput pertemuan itu. Girou dan yang lain pun bersusah payah menjauhkan pers dari ruangan itu. Karena kewalahan, Girou pun meminta bantuan kepada
Alexandrina yang menyamar menjadi Komandan Peleton Pasukan yang mengamankan acara pertemuan tersebut.
“Hei, Dava!! Segera bantu kami menjauhkan gerombolan sialan ini! Cepet kesini dengan berberapa pasukanmu.” Girou memanggil Alexandrina dengan nama Komandan yang digantikannya.
“Siap, Mikail. Kami akan segera kesana. Ayo pasukanku! Mereka sepertinya membutuhkan bantuan kita.” seru Alexandrina mengkomando pasukannya.
Suara derap langkah pasukan yang dipimpin pun terdengar keras. Dengan cepat, Alexandrina dan pasukannya pun telah sampai. Mereka pun dengan tanggap membantu Girou dan yang lainnya menjauhkan para Pers dari ruangan tersebut. Dan kejadian yang sama pun hampir saja terjadi kembali, hamper saja penyamaran Girou dan Alexandrina terbuka. Dan mereka pun tidak memiliki kesempatan memperbaikinya.
“Mikail!! Dava!!” seru Yamazaki terkaget.
Girou dan Alexandrina pun memperbaiki penyamarannya dengan paksa. Mereka pun membiarkan tubuhnya menjadi sasaran empuk para Pers yang mengamuk ingin masuk ke ruangan itu. Akhirnya dengan usaha yang lebih,
penyamaran Girou dan Alexandrina pun kembali seperti semula, tapi sedikit tidak rapi saja. Karena sasana mulai tidak kondusif, Pasukan Alexandrina pun dengan cepat menangkap beberapa Wartawan yang dianggap sebagai provokator, dan dengan paksa mendorong bahkan memukul beberapa para Pers untuk menjauh dari ruangan
tersebut. Bahkan beberapa dari para Pers itu pun terluka dan berdarah. Dan beberapa pasukan itu pun berteriak keras untuk segera mengusir para Pers itu.
“Hei, kalian mau meliput berita atau mau gelut!!” teriak pasukan itu dengan ngeri
Para pers pun melihat pasukan itu dengan tatapan nanar.
“Kami ingin meliput berita di dalam. Kami memiliki hak wewenang untuk meliput. Berita itu gratis, Tuan Komandan. Kalian melupakan hal itu karena otak kalian telah diracuni oleh pemikiran sosialis yang menolak kebebasan.” Teriak salah satu wartawan yang meliput
“Mohon maaf, bukannya kami yang menolak kebebasan. Kami hanya menjalankan tugas sebagai penjaga acara ini. Kami sebenarnya tidak ingin ada konflik yang seperti ini. Dimohon untuk semua yang akan meliput, mewawancarai, atau mencari berita terkait acara ini, bisa dilakukan setelah pertemuan Presiden telah selesai. Jadi dimohon untuk menunggu.” kata Alexandrina menenangkan para Pers yang rusuh.
“Hanya alasan klise saja. Kalian merahasiakan ini dari media bukan?”balas Wartawan yang lain.
“Terserah kalian mau kayak begini mau kayak begitu, kita ini hanya warga Negara yang harus patuh terhadap aturan negeri ini. Paham?” sindir Leov.
“Tapi kalian tidak memiliki hak untuk melakukan seperti ini kepada kami. Petugas keamanan Negara macam apa kalian? Yang sampai melukai rakyat sipil yang hanya ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya dari segala kekacauan yang terjadi di negeri ini. Kalian hanya menghalangi hak masyarakat untuk mendapatkan berita dan kebenarannya. Kalian seharusnya—“
“Kami punya hak untuk melakukan itu, Tuan. Kau lihat kertas ini. Disini tertulis. ‘Jika terjadi kerusuhan, lakukanlah apapun untuk meredakannya. Utamakan keselamatan warga sipil’ Kami sudah melakukannya. Awalnya kami hanya
memperingatkan kalian, para Pers sialan. Kalian pun tidak menghiraukannya. Kami pun mendorong kalian sebagai balasannya. Kalian pun malah lebih rusuh untuk merangsek ke dalam. Ya, kami pun melakukan hal yang semestinya dong. Kami sudah mengutamakan keselamatan warga sipil, tapi kalian malah rusuh. Ya, balasannya
seperti ini. Pukulan, dorongan, tembak peringatan, dan penahanan beberapa tersangka yang diduga menjadi Provokator. Kalianlah sendiri yang membuatnya. Peduli amat kebebasan pers kalian, kalian telah melanggar peraturan yang ada. Kalian tidak pantas mendapat hak dan kebebasan itu. Ingat, prinsip hak adalah balasan jika telah melakukan kewajiban. Kalian tidak melakukan kewajiban itu.Maka hak itu tidak kalian dapatkan. Cih, para Pers sialan.”kata Sergei menceramahi Para Pers yang melawan.
Para pers yang dari tadi melawan pun terdiam seribu bahasa setelah diceramahi oleh Sergei. Mereka pun segera menjauh dari pintu ruangan pertemuan Presiden. Mereka tidak pulang, karena berita yang mereka cari belum mereka dapatkan. Berselang beberapa jam kemudian, Presiden dan para dubesnya pun keluar dari ruangan pertemuan karena pertemuannya telah selesai.
“Alexander. Segera beraksi. Ganti.”
-To Be Continued-