Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 48



Samurai Around The World #48.


“Oi” seseorang pun menepuk pundak badanku.


Tanganku pun langsung melepaskan teropong yang dipegang dan aku pun melompat karena saking kaget serta paniknya.


“Santai saja, jangan panik. Aku baru bangun tidur tadi. Tidurku nyenyak sekali. Dan aku penasaran melihat kau yang memperhatikan keadaan sekitar ini dengan lensa teropongmu. Kau tidur nyenyak semalam?” dan ternyata orang itu adalah Allan yang mengucek matanya.


“Ah ternyata kau Allan. Kukira siapa orang barusan. Aku tidak tidur setelah mendirikan tenda ini karena tidak ngantuk sebab sebelum berangkat tadi aku tidur dulu. Aku berjaga dari jam setengah empat semalam hingga pagi ini. Aku berinisiatif saja untuk berjaga untuk memastikan keamanan kita disini. Takutnya kalau aku ikut tidur, tiba-tiba sesuatu terjadi pada kita semua. Dan aku menggunakan alat ini untuk lebih detail serta lebih jelas dalam melihat sekeliling hutan ini. Aku juga sedang mengintip di pusat bangunan yang membuat kita berjalan di tengah malam hingga sejauh ini” aku pun menjelaskannya kepada Allan kenapa aku tidak ikut tidur bersama yang lain semalam.


“Kau menemukan apa saja disana?” Tanya Allan kepadaku.


“Aku tidak menemukan apa-apa. Hanya sebuah bangunan besar yang memiliki menara penjaga dimana-mana. Aku juga tidak menemukan pintu atau sebuah celah yang dapat kita gunakan untuk masuk ke dalam sana. Mungkin aku yang belum bisa menemukannya. Aku lebih fokus untuk berjaga mengawasi area ini daripada memperhatikan bangunan yang menjadi pusat markas itu” aku tidak menemukan  sesuatu yang menguntungkan dari markas di depan tenda kami.


“Ya sudah kalau tentang itu bisa kita urus nanti. Untuk sekarang kau bantu saja aku untuk memasak sarapan. Kita buatnya sekarang agar nanti kalau yang lain bangun, sarapannya tinggal dihidangkan saja. Kau ambil alat-alat yang kubawa serta beberapa makanan instan di dalam tas milikku yang ada di dalam tenda” Allan pun menyuruhku untuk membantunya memasak sarapan instan.


“Siap. Akan kuambilkan” aku pun berdiri untuk mengambil alat masak dan makanan instan yang bisa dimasak dengan cepat.


Tanganku pun membuka pintu tenda yang menggunakan resleting dan mengambil yang dimintakan Allan tadi.


Aku pun mengambil kompor portabel, panci, dan peralatan lain yang kurasa perlu, serta beberapa wadah ransum makanan yang ada di tas bawaan milik Allan. Setelah dirasa sudah cukup, aku pun keluar dari tenda dan menyerahkan alatnya kepada Allan.


“Bagus. Pas sekali kau membawa air, karena beberapa ransum akan kita rebus nanti. Semua  wadah makanan tadi kau bawa semua Girou?” tanya Allan kepadaku.


“Tidak semua. Hanya beberapa saja yang kurasa cukup dimakan untuk sarapan” jawabku.


“Ya sudah kalau begitu langsung kita mulai saja”


Saat memasak sarapan di pagi hari, kami berdua membagi tugas masing-masing. Allan bertugas untuk merebus beberapa ransum yang harus direbus dan memasak sup. Sedangkan aku bertugas memasak lauk seperti daging dan lain-lainnya. Aku serta Allan memasak sarapan cukup banyak karena anggota tim kami juga banyak.


Karena tugasnya dibagi dan dikerjakan oleh dua orang, acara masak-masak kami pun selesai tak lebih dan tak kurang dari 30 menit atau setengah jam.


“Puhh! Akhirnya selesai juga. Nah sekarang kau yang bertugas membangunkan yang lain. Aku akan menyiapkan tempat untuk sarapannya” utus Allan kepadaku.


Aku pun menganggukkan kepalaku dan melangkahkan kakiku untuk mengajak yang lain untuk tersadar dari tidur nyenyaknya.


“Srrreeekk! Sreeekk!” suara pun keluar dari resleting tenda yang terbuka.


Untuk yang pertama aku mencoba membangunkan Saint terlebih dahulu.


“Puk! Puk! Puk! Bangunlah Saint. Sarapan sudah dimasak dan kau tinggal memakannya saja. Cepatlah bangun!” aku pun menepuk-nepuk bahunya berharap dia terbangun dari tidurnya.


“Heemmm!” Saint pun malah berbalik arah menjadi membelakangi diriku.


Aku pun berusaha  mencoba membangunkannya lagi. Tapi dengan lebih keras.


“Buuukkk! Bangunlah Saint, ini sudah pagi!” aku pun memukulnya cukup keras agar terbangun.


“Aduuhh!” Nampaknya caraku berhasil. Saint mengaduh kesakitan karena dipukul tadi.


Aku pun hanya nyengir melihatnya memegangi bahunya dengan wajah yang kesakitan.


“Oh ternyata kau Girou. Santai saja kalau mau membangunkan. Tidak perlu sampai memukulku seperti ini” Saint pun duduk dan sudah tersadar dari tidur nyenyaknya.


“Kulakukan karena kau susah sekali dibangunkan. Ya sudah kau keluar dari tenda ini dan menemui Allan di luar tenda untuk meminta sarapan pagi, karena kau dan yang lain sudah dimasakkan olehnya. Cepatlah karena aku ingin membangunkan yang lain” kataku memberitahu kepada Saint.


“Oke aku akan keluar” Saint pun berdiri dan melangkah keluar.


Aku pun lanjut membangunkan Joseph dengan cara yang sama. Tapi untungnya untuk Joseph tidak sesusah membangunkan Saint tadi. Begitu juga dengan yang lain. Semua bisa bangun tanpa perlu kupukul seperti yang kulakukan ke bahu Saint barusan.


Setelah membangunkan semua anggota tim kami, aku pun keluar bersamaan dengan Tuan Mack yang kubangunkan di paling terakhir.


Aku pun berjalan dan duduk di tempat yang ditunjuk oleh Allan barusan.


“Baiklah karena semua sudah lengkap. Bisa langsung dimulai saja sarapannya”


Semua pun memakan sarapan dengan lahap. Aku pun mencoba merasakan masakan yang kumasak sendiri tadi.


“Tidak buruk. Enak juga ternyata” ucap didalam hatiku saat mengunyah lauk.


Semua pun menyendok lauk serta yang sup yang dihidangkan dengan nikmat.


Dan tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan semua makanan yang ada, hanya 45 menit saja waktu yang dibutuhkan untuk melahap menu sarapan yang aku dan Allan masak. Padahal kami kira porsi yang disiapkan terlalu banyak,  tapi ternyata cukup dan bahkan beberapa dari kami menambah porsi hingga tiga kali.


“Bagaimana sarapannya? Enak atau bagaimana?” tanya Allan kepada kami semua yang sedang merapikan bekas makanannya.


“Enak. Seperti biasa Allan. Yang memasak tadi siapa ya?” tanya Tuan Mack sambil membawa piring serta mangkuk yang ia gunakan untuk makan.


“Saya dengan Girou Tuan. Saya yang memasak supnya, sedangkan Girou yang lauknya” jawab Allan.


“Oh begitu ya. Makanannya enak tenang saja”


Setelah selesai sarapan, kami semua membersihkan peralatan makan serta peralatan masak yang kotor dengan alat pembersih yang kami bawa untuk keadaan yang cukup darurat seperti ini.


“Nanti kita masuk ke sana jam berapa Allan?” tanyaku sambil membersihkan panci yang kupakai.


“Tengah malam nanti kita akan melanjutkan misi yang terputus kemarin. Untuk saat ini kita menyiapkan barang-barang yang akan berguna nantinya” Allan pun memberikanku jawaban.


“Nanti malam ya? Berarti setelah ini aku mempersiapkan tas milikku beserta isinya, dan aku bisa beristirahat dulu biar pas tengah malam nanti tidak mengantuk dan tetap terjaga” kataku mengatur rencana aktivitas setelah sarapan.


“Ya terserah dirimu lah. Atur sesukamu”


Setelah dibersihkan, alat-alat masak yang digunakan kukembalikan ke tempat sebelumnya.


Setelah acara sarapan bersama selesai, aku pun mengambil tas milikku dan mengecek apakah barang-barang yang kubawa sebelumnya masih lengkap atau tidak.


“Senterku mana ya? Tadi sudah aku taruh disini. Teropongku juga kemana ya? Kok tidak ada” aku pun mengacak seisi tas untuk mencari dua barang itu.


Tapi ku bongkar semua isinya pun teropong dan senter milikku tidak ada.


“Ini barangmu ya Girou?” tiba-tiba Joseph bertanya di belakangku saat aku kebingungan.


“Heh! Ah iya benar kedua barang ini milikku. Dimana kau menemukan barang-barang ini Joseph?” tanyaku dengan kaget karena Joseph bertanya secara mendadak.


“Aku menemukannya di bawah pohon besar itu. Dan kebetulan aku melihatmu seperti kebingungan mencari suatu benda. Ya sudah aku coba tanya kepadamu. Dan kebetulan benar kalau teropong serta senter kecil ini milikmu. Kau kalau punya barang jangan dibiarkan berceceran Girou. Untunglah kalau aku yang menemukan, tapi jika yang menemukan adalah orang lain maka akan sulit nanti” jawab Saint sambil memberikan peringatan kepadaku.


“Siap Joseph. Terima kasih sebelumnya sudah menemukan barangku. Untunglah ketemu” aku pun mengucapkan ucapan terima kasih kepada Joseph.


“Santai saja. Kau menyiapkan barang-barang di pagi hari ini ada keperluan apa?” Joseph pun bertanya balik kepadaku.


“Barang-barang ini kusiapkan sekarang agar nanti malam sudah siap. Dan aku bisa beristirahat dengan tenang untuk menyiapkan tenaga yang cukup. Karena aku merasa misi nanti malam akan menghabiskan banyak tenaga jadi mungkin lebih baik untuk beristirahat sekarang” aku pun memberikan jawabanku kepada Joseph.


“Oh begitu ya. Ya sudah segeralah beristirahat. Nanti kubangunkan jika sudah ada waktunya”


Setelah menyiapkan semua barang yang kemungkinan kugunakan nanti, aku pun berjalan ke dalam tenda dan segera tidur.


Dan akhirnya malam pun datang.


-To Be Continued-