
Samurai Around The World #20.
Mereka semua pun pulang ke bersama Joseph ke rumah milik Allan. Joseph akan menginap di rumah Allan untuk sementara, sekalian membantu Allan dalam pencarian informasi tentang Silhouette. Setelah sampai di rumah, Allan pun menyuruh Joseph untuk mandi terlebih dahulu karena sejak datang dari Norwegia, Joseph belum mandi, hanya bilas muka. Joseph pun akhirnya mandi sesuai instruksi dari Allan. Tak lama kemudian, Joseph pun selesai mandi dan bingung memakai baju milik siapa, karena bajunya masih ketinggalan di hotel sebelum dia pergi ke rumah Allan.
“Haduh. Baju ku masih ketinggalan di hotel tadi. Kelupaan tadi. Aku pakai bajunya siapa ya?” tanya Joseph bingung.
“Aduh kau aneh-aneh saja, Joseph. Kau pake bajuku saja.” Usul Allan.
Joseph pun langsung berlari ke kamar Allan dan mencari baju yang pas untuknya. Tapi setelah berkutat selama 5 menit, Joseph masih belum menemukan baju yang pas untuknya.
“Allan!! Bajumu tidak ada yang pas untukku. Bagaimana ini?” tanya Joseph.
“Haduh. Ada-ada saja. Coba kau pakai baju milik Girou. Mungkin pas untukmu, karena badan Girou lebih besar dariku. Kau ambilkan baju untuk Joseph, Girou. Tak mungkin dia berjalan ke atas dengan keadaan setengah telanjang begitu.” Suruh Allan kepadaku.
“Eh, iya iya. Ku Ambilkan dulu.” Aku pun bergegas ke lantai 2 untuk mengambilkan baju dan celana Joseph.
Dan tak lama kemudian, aku pun membawa sepasang baju dan celana yang kuperkirakan pas dengan badan Joseph. Dan setelah sampai di depan kamar Joseph, aku pun menyerahkan baju dan celana itu kepada Joseph dan dia pun langsung mencobanya. Dan akhirnya, baju dan celana yang kubawakan pas dengan badannya. Joseph pun lega karena baju yang kuberikan pas untuknya. Setelah selesai dengan urusan baju, Aku dan Joseph pun bergabung dengan yang lain untuk membahas sesuatu lanjutan dari informasi Silhouette.
“Sebentar, aku mau mengambil laptopku terlebih dahulu.” Kata Joseph kepadaku.
“Oh ya sudah kalau begitu. Kutunggu di ruang tengah ya.”
Aku pun duduk di sebelah yang lain dan menunggu Joseph membawa laptopnya.
Dan 5 menit berlalu. Joseph pun tak kunjung muncul.
“Ngapain sih Joseph itu? Kok lama sekali? Kau kan tadi bersamanya Girou. Dia kemana sih?” tanya Allan kepadaku.
“Tadi sih katanya mau ngambil laptopnya. Cuma kenapa lama sekali. Entahlah, mungkin dia mencari kertas-kertas lain atau apalah itu.” Jawabku.
“Oh. Kalau begitu kita tunggu saja.”
Dan berselang setelah itu, Joseph pun muncul dengan membawa laptopnya dan beberapa kertas di tangannya. Dan Joseph pun duduk disampingku.
“Kau kenapa tadi lama sekali, Joseph?” tanya Allan kepada Joseph.
“Aku tadi mencari kertas-kertasku yang berisi beberapa informasi penting tentang Silhouette dan Lux…? Atau apalah itu. Tadi sudah kutaruh rapi di tasku. Tapi entah kenapa tadi keleleran dimana-mana. Jadi aku harus mencarinya sedikit lama.” jawab Joseph.
“Ya sudahlah kalau begitu. Untuk sekarang, informasi apa yang akan kau sampaikan, Joseph?” tanya Allan langsung.
“Sebentar. Informasi utamanya ada di laptopku soalnya.” Kata Joseph sambil membuka laptopnya.
Tak lama kemudian, Joseph pun menunjukkan sesuatu dari laptopnya. Disitu tertulis sesuatu dan sebuah gambar rumah yang berada di tengah hutan belantara.
“Ini apa Joseph?” tanya Allan terhadap sesuatu yang Joseph tunjukkan di laptopnya.
“Ini adalah petunjuk informasi dari Organisasi yang kalian sebut ‘Lux Magnum’ itu. Ini adalah kemungkinan kedua dari markas atau basecamp organisasi itu. Aku mendapatkan gambar ini setelah masuk ke sistem informasi milik mereka. Memang cukup mengejutkan ya, aku tak sehebat Allan dalam masalah pencarian informasi seperti ini, tapi sebagai gantinya, beberapa komputer milikku dibobol balik oleh mereka. Tapi tenang saja, informasi penting dan rahasia dari militer Jerman Barat masih tersimpan disini.” Joseph pun mengangkat hardisk yang berisi informasi penting dan rahasia.
“Hmmmmm, kau cukup mengerikan juga ya, Joseph. Tapi darimana kau bisa mengatakan bahwa basecamp besar di gambar ini adalah milik Lux Magnum? Kenapa?” tanya Allan kepada Joseph lagi.
“Jadi seperti ini. Aku menemukan gambar ini di sistem yang kuyakini milik mereka. Karena terdapat tulisan yang cukup besar di sistem itu yang bertuliskan Lux Magnum. Dan di gambar ini, terdapat beberapa orang yang memakai rompi anti-peluru lengkap dan memakai lencana yang bertuliskan kecil Lux Magnum. Jadi aku meyakini ini adalah markas kedua dari Lux Magnum itu.” jawab Joseph.
“Kalau yang di gambar ini lokasinya dimana, Joseph?” Aku pun bertanya tentang lokasi rumah itu kepada Joseph.
“Kalau tidak salah, ini lokasinya di daerah ujung utara Norwegia, Girou.” Joseph menjawab pertanyaan yang kuberikan.
“Mungkin bisa jadi benar bahwa ini, adalah markas kedua dari Lux Magnum. Karena kemungkinan markas yang kita temukan waktu itu terletak di daerah utara juga. Tapi ini sedikit berbeda dari foto yang kita temukan waktu itu. Menurutku seperti itu sih.” Celetuk Gloria.
“Salah, Nona Gloria. Foto basecamp yang pertama itu menurutku berada di daerah selatan, bukan utara. Karena 2 foto itu memiliki kontur hutan yang berbeda. Nah, hutan di daerah Utara itu memiliki pohon yang menjulang tinggi dan memiliki jarak antar satu pohon dengan yang lain. Sedangkan hutan di daerah selatan itu memiliki pohon yang tidak cukup tinggi tapi jarak antara satu pohon dengan pohon yang lain itu berdekatan dan berhimpitan. Tapi itu hanya perkiraanku saja sih, jadi bisa jadi salah.” Jawab Joseph.
“Hmmmmm, aku tidak terlalu mengetahuinya sih. Tapi menurutku itu sebagai pintu masuknya barang-barang ilegal kepada mereka. Mungkin untuk yang di Selatan itu sih sedikit masuk akal, tapi kenapa mereka sampai membangun basecamp yang berada di utara. Aneh sekali rasanya.” Jawab Joseph.
“Iya iya iya. Atau begini, mereka membangun basecamp yang di selatan itu untuk jalur masuknya barang, dan yang berada di utara, itu digunakan sebagai tempat tinggal utama dari pemimpinnya. Jadi bisa dibilang, bahwa basecamp yang terletak selatan di itu sebagai pagar lapis pertama mereka, sedangkan yang terletak di utara menjadi pagar lapis kedua atau benteng utama milik mereka. Sebenarnya masih banyak lagi kemungkinan lain dibalik kedua benteng itu.” Kataku untuk menambahkan informasi dari Joseph.
“Ya mungkin itu juga benar. Tapi kan itu hanya perkiraan semata, masih belum ada bukti validnya. Kita harus mencari informasi lebih dalam lagi terkait seluk beluk dari Organisasi Lux Magnum ini. Mungkin saja dari pencarian informasi Lux Magnum ini, kita dapat mendapatkan sedikit informasi dari Silhouette beserta anak-anakannya. Kita akan mencari informasi lagi sepertinya. Apakah hanya ini informasi yang kau ingin sampaikan, Joseph?” tanya Allan.
“Hmmmmmm. Nampaknya sudah itu saja. Kertas-kertas yang lain nampaknya isinya hampir sama dengan informasi yang kau sampaikan di pertemuan tadi.” Jawab Joseph.
“Ya sudah kalau begitu. Kita sudahi diskusi pagi ini. Nah Joseph. Apa kau datang kesini sendirian atau bersama yang lain? Karena aku dengar, beberapa informan lain juga datang kesini. Apakah benar?” tanya Allan.
“Hmmmmm, aku kesini tidak sendirian sih. Ada beberapa mata-mata yang lain yang ikut kesini. Kalau tidak salah, ada ‘Si Mata Elang’ dan ‘Si Mata Kucing’ yang ikut pulang juga. Jadi aku kesini tak sendirian.” Jawab Joseph.
“Siapa ‘Si Mata Elang’ dan ‘Si Mata Kucing’ itu, Joseph?”tanyaku penasaran.
“Mereka adalah salah satu mata-mata hebat yang dimiliki oleh Militer Jerman Barat. Mereka adalah mantan anggota elit dari Schutzstaffel, atau Satuan Pasukan Khusus di zaman Nazi masih memimpin. Memang umur mereka sudah tidak muda lagi. Tapi itu tidak membuat kemampuan intelijen mereka tumpul. Mereka berdua berperan besar dalam keberhasilan awal Jerman di Operasi Barbarossa, mereka hampir membawa Jerman dan Nazi dapat menaklukkan daratan besar Uni Soviet, tapi karena suatu hal, operasi itu pun malah berbalik gagal dan menyebabkan Berlin jatuh. Berlin Has Fallen.” Jawab Joseph.
“Hmmmmmm, cukup mengerikan ya. Kalau boleh tahu umur sebenarnya mereka berapa, Joseph?” tanyaku.
“Kalau tidak salah sekitar 50 atau 60 an gitu. Mereka bergabung di Schutzstaffel itu waktu masih muda sekali. Jadi sekarang ya tidak terlalu tua.” Jawab Joseph.
“Apa kau kenal dengannya, Joseph?” tanya Felix.
“Aku kenal dengan mereka. Aku pernah beberapa kali melakukan misi dengan mereka. Harusnya Allan juga pernah. Karena mereka senang jika melakukan misi bersama informan atau mata-mata yang masih muda dan memiliki bakat seperti Allan.” Kata Joseph.
“Hmmmmmmm. Nampaknya aku tidak pernah melakukan misi dengan mereka deh. Karena aku memiliki keahlian di bidang komputer dan sistemnya. Mereka kan ahli dalam misi spionase langsung yang berbahaya, jadi sangat berkebalikan satu sama lain. Nah, kalau sama kau mungkin cocok. Karena kau juga pandai dalam misi spionase dan pengintaian. Sama seperti mereka.” Bantah Allan.
“Masuk akal juga sih. Tapi kalau tidak salah ‘Si Mata Kucing’ itu juga pandai di bidang spionase informasi sistem,
sama sepertimu Allan. Tapi mungkin mereka tidak melihat bakat besar yang dimiliki oleh Allan untuk saat ini. Tapi mungkin suatu saat mereka akan mengetahuinya.” Joseph pun coba membesarkan hati Allan.
“Ya. Semoga saja.”
“Mereka sebelum datang kesini bertugas mengintai dimana, Joseph?” tanya Wilhiemma.
“Mereka bertugas di Amerika kalau tidak salah. Hanya mereka yang berani untuk pergi ke sana. Aku sebenarnya ditugaskan di sana ikut bersama mereka. Tapi aku menolaknya, karena disana sangat beresiko dan berbahaya. Karena Amerika sedang memperketat penjagaannya, dan menurut kabar yang kudengar, bahwa Informan atau mata-mata yang ketahuan akan disiksa secara keji dan kejam untuk mendapatkan informasi dan lain-lain. Jadi hanya Informan yang sudah sangat profesional dan berpengalaman saja yang pergi kesana.” Joseph pun menjelaskan nya kepada Wilhiemma.
“Hmmmmm, memang ada apa di Amerika? Kok sampai mengirim Informan Handal kesana?” tanya Gloria.
“Kemungkinan sih karena adanya dugaan dari Jaringan Kriminal yang seperti Silhoutte nampaknya. Aku pernah mendengarnya dari Jenderal Carl akan mengirim beberapa mata-mata kesana. Tapi aku juga tidak terlalu tahu juga sih.” Allan pun menjawab pertanyaan Gloria.
“Hmmmmmm, iya iya. Apakah kita bisa menemui Si Mata Elang dan Mata Kucing itu, Joseph?” tanyaku penasaran.
“Hmmmmm, kalau dari yang kudengar sih nanti kau dan teman-temanmu akan diperkenalkan dengan mereka. Jadi kemungkinan besar bisa.” Jawab Joseph.
“Wah, yang benar saja. Mantap.” Kata Yamazaki senang
“Sudah sudah. Apakah kau sudah cukup dengan penjelasanmu, Joseph?” tanya Allan.
“Ya mungkin aku sudah cukup. Aku sudah capek juga pengen istirahat. Oh ya, kamar yang maksud kosong itu dimana, Allan?” tanya Joseph.
“Di atas. Kamar yang sebelah kanan sendiri. Kau kalau mau istirahat disitu saja.” Jawab Allan.
“Ya sudah aku istirahat di atas deh. Aku belum istirahat sejak datang kesini.” Kata Joseph sambil menaiki tangga menuju kamar yang ditunjukkan oleh Allan.
Yang lain pun merebahkan sejenak dari pencarian Informasi sebentar. Mengisi energu untuk langkah selanjutnya.
-To Be Continued-