Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chpater 45: Di Dalam Tanah



Samurai Around The World #45.


“Kita semua akan memasuki lubang ini dan menuju jalan bawah tanah untuk melanjutkan perjalanan kita malam ini” kata Tuan Mark kepada semua.


“Bagaimana Tuan Mark bisa memastikan bahwa memang ini jalan keluar dari masalah kita sekarang?” tanya Saint yang nampaknya ragu-ragu dengan perintah Tuan Mark tadi.


“Aku sudah masuk ke dalamnya dan terdapat petunjuk bahwa memang itu jalurnya. Sudahlah waktu kita tidak banyak dan sudah terbuang banyak di sini” aku menjawab pertanyaan Saint sambil sedikit nada jengkel.


“Ya sudah deh. Aku akan masuk duluan” Saint pun melangkah mendekat ke lubang masuk itu.


Tubuh Saint pun langsung masuk  ke dalam dan dapat sampai di lorong jalan bawah tanahnya dengan aman.


Yang lain juga langsung memasuki lubang dengan mudah karena memang lubangnya yang pas.


Tuan Mark pun akhirnya masuk dan diikuti olehku yang juga menutup lubang itu karena aku berada di paling akhir.


Brrrep! Bbreep! Kedua kakiku pun menapak tanah dari jalan bawah tanah yang aku dan Allan temukan tadi.


“Kita langsung berjalan mengikuti lorong ini. Aku yang akan memimpin di depan. Yang lain bisa berjalan di belakang untuk berjaga-jaga” kata Tuan Mack kepada kami semua.


“Siap Tuan Mack”


Aku dan yang lain pun berjalan menyusuri jalan bawah tanah sambil menatap sekeliling untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.


“Nampaknya lorong ini adalah jalur yang digunakan untuk melanjutkan perjalan yang terhambat di atas tadi. Karena lorong ini tidak terlalu buruk di bagian tembok-temboknya yang menandakan bahwa masih sering dipakai. Bagaimana kau bisa menemukan lorong ini Girou?” tanya Saint kepadaku tentang lorong bawah tanah yang kutemukan sambil berjalan.


“Awalnya saat kita terhambat di atas tadi, aku berjalan-jalan di sekitar barisan pohon yang menjadi halangan kita untuk mencari sesuatu atau petunjuk yang bisa membantu. Dan saat aku berjalan, tiba-tiba kaki milikku terbenam ke dalam tanah seperti terkena jebakan. Tapi untungnya kakiku yang masuk ke dalam tanah tadi bisa diangkat kembali setelah dibantu oleh Tuan Mark dan Allan. Atas rasa penasaran ada apa di dalam tanah yang sampai membuat kakiku terbenam tadi, aku pun menggali dan akhirnya menemukan lorong ini. Begitu Saint” akupun menjelaskannya kepada Saint sekaligus menjawab pertanyaannya barusan.


“Oh karena itu kau dapat menemukan tempat ini. Kau beruntung berarti kalau begitu. Untunglah kakimu terbenam di dalam tanah” kata Saint yang tampaknya senang karena kejadian kakiku masuk ke dalam tanah tadi.


“Ya begitulah”


Kami semua pun terus mengikuti arah jalan dari lorong bawah tanah tempat kami berjalan sekarang. Sampai saat ini kami belum menemukan kesulitan dalam perjalanan bawah tanah ini. Kami juga belum menemukan sebuah persimpangan yang membingungkan. Semua berjalan baik-baik saja.


Kami terus berjalan selama 30 menit kemudian dan lorong tempat kami berada masih belum selesai  kami lewati.


“Haduh nampaknya lorong ini terlalu panjang dan melelahkan. Dari tadi kita menyusurinya dan sampai sekarang belum terlihat ujung lorongnya. Apakah memang ini jalannya Allan?” tanya Saint yang sudah merasa kecapekan.


“Memang ini Jalannya Saint. Kau lihat di peta juga begitu. Di tempat kita menemui jalan buntu tadi tertulis di petanya seperti gambar barisan pohon sesuai. Dan kalau menurut peta, aka nada jalan lanjutan di balik pohon itu. Tapi kita tidak menemui jalan apapun di baliknya dan kita malah menemukan jalur bawah tanah ini dan jalannya terlihat baik seperti biasa dipakai. Jadi memang ini jalannya Saint. Kita ikuti saja jalurnya. Sama seperti tadi kita menyusuri jalan yang panjang sebelumnya. Kalau capek kita istirahat dulu saja. Bagaimana kalau kita beristirahat dulu? Kalau sudah siap kita melanjutkan lagi perjalananya” Allan pun menawarkan kepada Saint dan yang lain.


“Ya deh kita istirahat saja dulu. Kakiku nampaknya harus diselonjorkan juga” Saint pun mengiyakan tawaran dari Allan.


Karena Saint memutuskan untuk istirahat, yang lain juga ikut untuk duduk dan mengisi tenaga karena merasa lelah juga. Di dalam tanah terasa cukup hangat walau di malam yang dingin.


Aku pun mengambil minuman berenergi yang kubawa agar tidak mengantuk serta bersemangat untuk melanjutkan perjalanan setelah beristirahat.


“Kemungkinan berapa menit lagi kita akan datang ke tempat tujuannya Allan?” tanyaku kepada Allan.


“Kemungkinan jam setengah dua nanti atau 30 menit setelah ini kita sudah sampai di tempatnya dan itu kalau tidak ada halangan yang berarti. Semoga perjalanan kita dilancarkan karena waktu terus berjalan dan waktu kita juga tidak banyak” kata Allan memberi jawaban kepadaku.


“Ya semoga saja” kataku ikut mengaminkan.


Setelah sudah dirasa selesai untuk mengisi tenaga serta beristirahat, kami semua pun berdiri dan melanjutkan perjalanan untuk menyusuri lorong bawah tanah itu.


“Ayo berdiri. Kita lanjutkan lagi perjalanannya” kata Tuan Mark menyuruh kami semua.


Setelah semua sudah siap, kami pun berjalan beriringan untuk berjalan untuk melewati sisa dari lorong bawah tanah tempat kami berjalan sekarang.


Pemandangan yang kami lihat dari tadi hampir sama semua. Hanya dinding yang terbuat dari tanah. Kadang beberapa terlihat hewan bawah tanah yang keluar dari dalam tanah.


30 menit berlalu, kami masih belum menemukan jalan keluar dari lorong itu. Kami pun masih berjalan dan menunggu munculnya pintu keluar untuk kembali ke atas tanah.


“Katamu tadi 30 menit saja Allan. Ini kita sudah kelebihan sekitar 15 menit dari perkiraan mu tadi. Bagaimana ini?” tanya Saint yang nampaknya mulai panik karena kami belum menemukan jalan keluar itu.


“Kita ikuti saja jalannya. Dari tadi kita tidak menemui sebuah persimpangan yang dapat membingungkan kita. Jadi kita ikuti jalannya dan nanti akan menemukan pintu keluar itu. Sabar saja. Kita akan menemukan jalan keluar itu dan melanjutkan ke misi selanjutnya” Allan pun menjawab dengan optimis.


Saint pun hanya menghela napasnya.


Nampaknya harapan itu telah menghampiri kami setelah 15 menit kemudian. Jalur yang kami lewati tiba-tiba menjadi buntu. Tapi tergantikan oleh sebuah tangga untuk menuju ke permukaan.


“Ah akhirnya kita telah menemukan jalan keluar itu. Kita menggunakan tangga ini untuk naik ke atas. Setelah sampai ke atas permukaan, kemungkinan besar kita telah sampai di komplek tempat yang kita tuju. Semoga apa yang dikatakan oleh peta ini benar” kata Allan senang setelah melihat sebuah tangga untuk keluar dari lorong tempat kami sekarang.


“Tapi di atas sana ada gerbang seperti tadi Allan. Kemungkinan akan sedikit sulit untuk membukanya. Bagaimana mengatasinya?” tanyaku kepada Allan.


“Biar aku saja yang membukanya. Aku sepertinya bisa” Allan pun menjawab dengan percaya diri.


Allan pun langsung melangkah ke depan sambil membawa sebuah botol yang sama seperti yang digunakan untuk membuka gerbang yang sebelumnya.


Allan pun menaiki tangga dan menggunakan jarinya untuk menyentuh sisi pinggir dari gerbangnya agar mudah dibuka.


“Apa yang dilakukan Allan itu Girou?” tanya Tuan Mack yang berada di sampingku.


“Allan itu sedang menggunakan cairan pelumasnya untuk melicinkan gerbang yang berkarat di pinggir-pinggirnya itu agar dia tidak sulit membukanya. Untuk membuka gerbang masuk yang sebelumnya, dia juga menggunakan cairan di tangannya itu dan berhasil. Semoga yang kali ini juga sama” aku pun menjelaskannya kepada Tuan Mack.


“Oh jadi begitu. Ya ya ya” Tuan Mack pun mengangguk-angguk paham.


Tidak lama kemudian, Allan pun turun lagi untuk menunggu cairan itu bekerja.


“Kita tunggu kurang lebih satu setengah menit agar cairan pelicin milikku bekerja dengan sempurna” kata Allan sambil mengelap peluh di dahinya.


Satu setengah menit berlalu, Allan pun kembali naik untuk mengecek gerbang tadi apakah sudah bisa dibuka atau belum.


Allan pun memegangi pegangan dari gerbang dan mencoba untuk memutarnya dengan segenap tenaga miliknya.


“Heeemmmhhh!!” Allan pun berusaha dengan kuat untuk memutar gerbang itu.


Tapi pintunya masih belum berputar dan masih dalam posisi awalnya. Tidak berubah sedikitpun.


“Fuuuhh! Masih belum mau bergerak gerbang yang satu ini. Mungkin seseorang bisa membantuku?” Allan pun meminta bantuan kepada yang lain.


“Bagaimana kami dapat membantumu Allan? Hanya ada satu tangga untuk ke gerbang di atasmu itu” tanya Saint kepada Allan.


“Kau bisa mengambil tangga tambahan di tas yang kubawa tadi. Kau bisa memakainya” Allan pun memberikan solusi kepada kami.


Saint pun mengecek tas ransel Allan yang tergeletak di sekitarnya. Dan  benar apa yang dikatakan oleh Allan. Terdapat sebuah tangga lipat yang jika dibuka akan membentuk suatu tangga yang dapat digunakan untuk membantu Allan.


Seett! Sseet!  Ssseet! Saint pun membuka lipatan dari tangga itu dan menggunakannya untuk membantu Allan membuka pintu keluar yang masih sulit dibuka.


“Ah baguslah ada yang membantuku. Kau pegang yang bagian yang satunya Saint. Nanti kita putar bersama agar bisa dibuka” kata Allan mengarahkan Saint.


Allan dan Saint pun langsung mencoba untuk memutar gerbang itu.


“Heeemmmmhh!! Heemmmmh!!” Gerbang itu tampaknya masih sulit untuk dibuka.


“Coba sekali lagi Saint. Tapi coba putar dengan lebih kuat lagi. Sepertinya pintu yang ini lebih sulit dibanding yang sebelumnya”


Allan dan Saint pun mencoba memutar pintunya sekali lagi.


Dan akhirnya pintu itu pun bergeser.


-To Be Continued-