Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 7: Nizhny Novgorod.



Samurai Around The World #7.


Allan, Alexander, Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki pun pergi menemui seseorang yang dikatakan Allan sebagai ‘Orang penting’ selanjutnya dalam misi ini.  Mereka pun menaiki mobil menuju ke Kota Nizhny Novgorod. Mereka menempuh jarak sekitar 450 km dan menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan. Mereka pun sampai di Kota Nizhny Novgorod di sore hari. Setelah sampai di sana, mereka pun langsung menuju di Stasiun Kereta Kota Nizhny Novgorod. Setelah sampai di stasiunnya, Alexander pun langsung bergegas turun dari mobilnya, Girou dan lainnya juga ikut bergegas mengikuti Alexander. Di tempat tunggu penumpang, ada seseorang berbadan jangkung,  memakai baju militer, dan berwajah ngeri. Saat melihat orang itu, Alexander pun langsung menyapa orang itu.


“Hei, Tuan Igor.” panggil Alexander.


Orang yang dipanggil Igor itu pun menoleh kepada Alexander.


“Oh, akhirnya kau sudah datang, Alexander.” balas Igor.


Setelah saling menyapa, mereka pun berpelukan satu sama lain. Alexander pun mengenalkan para rombongannya.


“Perkenalkan, Tuan Igor. Di sebelah saya ini, namanya Allan, dia adalah perwakilan dari Jerman Barat dalam misi ini. Di sebelah Allan, tiga pemuda ini bernama Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki, Tuan Igor. Mereka adalah tiga pemuda yang saya maksud pada anda tadi malam, Tuan.” Alexander mengenalkan rombongan yang ikut dengannya.


“Oh, jadi ini yang kau maksud tadi malam. Hmmmm, pemuda-pemudi yang cukup menarik ya. Ya ya, dan ini Allan


yang anak dari Felix ya. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan Felix, bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja? Aku khawatir teman tuaku itu sudah tak kuat berjalan lagi.” tanya Igor


“Ayah baik-baik saja, Tuan Igor. Bahkan dia ikut pergi ke Soviet.” jawab Allan.


“Syukurlah jika dia masih sehat. Masih kuat saja dia, bahkan masih bisa ikut kesini.” kata Igor.


“Ya sudah, Alexander, karena kau sudah disini, mari pergi ke rumahku untuk membahas rencana ini lebih lanjut.” tawar Igor.


“Dengan senang hati, Tuan Igor.”


Mereka pun menuju parkiran untuk kembali ke mobil dan langsung berangkat menuju rumah menuju rumah milik Igor. Jarak Stasiun ke Rumah Igor kurang lebih sekitar 2 km dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Mereka pun akhirnya sampai di rumah Igor. Bentuk rumah Igor memiliki bentuk minimalis dan sederhana. Hampir sama seperti rumah milik Alexander. Mereka pun langsung dipersilahkan masuk ke rumah oleh Igor. Saat mereka masuk ke rumah Igor, mereka sedikit terkejut, karena rumah Igor berantakan sekali. Kertas-kertas dokumen berceceran kesana kemari. Karena hal itu, Igor pun langsung meminta maaf kepada para tamunya.


“Waduh, mohon maaf semuanya, rumahnya masih berantakan sekali, belum sempat dibersihkan.” Igor meminta maaf kepada tamunya.


“Tidak apa-apa, Tuan Igor. No problem” kata Alexander


“Ya, Alexander. Terima kasih.”


“Sebentar ya, saya mau merapikan kertas-kertas ini sebentar. Kalian semua boleh duduk dulu di kursi itu.” pinta Igor kepada para tamunya.


Girou dan rombongan langsung duduk di kursi-kursi yang sudah disiapkan oleh Igor sambil menunggunya merapikan beberapa dokumen. Wilhiemma yang sejak tadi merasa lapar pun langsung mencomot salah satu jajan yang tersaji di depannya.Girou pun mengingatkan Wilhiemma untuk tidak rakus saat makan.


“Wilhiemma, aku tahu kamu lapar. Tapi makannnya jangan rakus dong, malu tuh dilihat sama yang punya.” Girou mengingatkan Gloria.


“Iya, Gggirou, siapphh.” balas Wilhiemma sambil mengunyah makanannya


“Yare yare daze.”


Setelah selesai menunggu Igor merapikan dokumennya, Igor pun mengajak Girou dan yang lainnya makan siang di ruang makannya. Di sana sudah tersaji berbagai makanan khas Rusia yang kelihatannya lezat, ada  Sup Borscht, yaitu sup kental berisi daging yang disajikan bersama roti dan keju. Ada juga Stroganoff, yang terbuat dari daging sapi yang ditumis bersama saus smetana, paprika, bawang bombay, dan bubuk oregano. Mereka semua pun lahap


memakan makanan yang telah disiapkan oleh Igor. Dalam waktu sekejap, makanan yang tersaji pun habis. Bahkan Wilhiemma yang sejak perjalanan menahan lapar sampai menambah 2 porsi. Setelah makan siang selesai, Igor pun langsung mengajak diskusi para tamunya.


“Hmmmm, Alexander. Kamu kenapa pergi kesini bersama para rombongan ini?” tanya Igor kepada Alexander.


“Kami kesini untuk meminta bantuan dari Tuan Igor. Jadi begini, barusan tadi pagi kami berdiskusi bersama Gloria dan Felix terkait rencana penyusupan di acara Presiden minggu depan, Tuan. Gloria, Allan, Felix, beserta Girou dan teman-temannya ini utusan dari Jerman Barat untuk misi penyusupan kali ini, Tuan. Mereka adalah termasuk


golongan yang menginginkan reunifikasi Jerman terjadi. Nah mereka ini mengira bahwa Soviet berurusan dengan rencana reunifikasi Jerman tersebut. Mereka ini menyusup untuk mencari informasi terkait hubungan sebenarnya dari Soviet dan rencana tersebut.” jawab Alexander.


“Oh jadi seperti itu ya, boleh saja kamu meminta bantuan. Tapi kamu meminta bantuan seperti apa?” Igor bertanya lagi kepada Alexander.


“Kan Tuan Igor ini kan salah satu pejabat penting di Soviet, kami meminta bantuan agar Tuan Igor mengawasi para pejabat di Soviet, laporkan pada kami jika ketemu pejabat yang berhubungan dengan rencana tadi.” pinta Alexander.


“Iya iya, akan kulakukan sebisanya. Kalau boleh, beritahukan kepadaku tentang masalah dari reunifikasi Jerman yang membuat kalian sampai menyusup di Acara Pertemuan Presiden minggu depan.” Igor yang penasaran tentang masalah Reunifikasi Jerman.


“Jadi gini, Tuan Igor. Awalnya kami tidak pernah terlintas pikiran tentang rencana Reunifikasi. Setelah itu datanglah Girou dan teman-temannya yang mengusulkan rencana ini kepada kami, sampailah rencana itu kepada Jenderal kami, Jenderal Carl. Jenderal kami pun setuju kepada rencana Girou dkk dan menandai bahwa Jerman Barat setuju dengan rencana Reunifikasi Jerman tersebut. Untuk menindak lanjuti rencana tersebut, kami pun mengajukan rencana ini melalui negosiasi kepada pihak yang bersangkutan, yaitu pihak dari Jerman Timur. Tapi anehnya, pihak Jerman Timur menolak mentah-mentah rencana tersebut. Kami yang penasaran pun mencari sebab mengapa Jerman Timur menolak rencana itu, dan mengejutkannya kami menemukan bahwa pihak Jerman Timur memiliki hubungan dengan salah satu organisasi kriminal yang bernama “Silhouette”. Sebenarnya Silhouette ini kelompok kriminal kelas tengah sebenarnya tapi mereka ini entah mengapa susah sekali ditangkap. Setelah kami cari lagi tentang mereka, ternyata mereka juga berhubungan dengan Soviet. Kemarin kan sempat di sini ramai terkait isu negosiasi Jerman, nah kami menyusup ke sana untuk mendapat kebenaran terkait hal tersebut, Tuan Igor.” jawab Gloria.


“Hmmmm, cukup rumit ya masalahnya. Ya sudah aku akan membantu kalian mengawasi para pejabat di Soviet.” kata Igor.


“Loh, kenapa Tuan Igor bisa semudah itu mau dengan rencananya? Bukankah Soviet menentang reunifikasi Jerman, Tuan Igor?” tanya Girou kaget.


“Sebenarnya di kubu pemerintahan terbagi dua pihak, ada yang setuju rencana Reunifikasi, dan ada yang tidak setuju. Aku ikut kubu yang setuju itu, karena menurutku Jerman akan lebih baik jika bersatu, itu saja sebenarnya.” jawab Igor.


“Kenapa ada yang tidak setuju dengan rencana itu, Tuan?” tanya Yamazaki.


“Aku pun tidak terlalu tahu alasan mereka terkait itu, mungkin karena perang masa lalu atau bisa jadi karena hasutan Silhouette tadi.”Igor menjawab pertanyaan Yamazaki.


“Bener kan kata Jenderal Carl waktu itu.” celetuk Wilhiemma.


“Oh yang waktu Gloria ke Jerman ya, iya sih benar juga.” balas Allan.


Ruangan itu pun hening sejenak. Igor yang berinisiatif pun memecah keheningan tersebut.


"Dengan senang hati aku akan mengantarkan Tuan Igor mau ikut kesana" Alexander mengangguk takzim.


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan bersiap-siap terlebih dahulu." Igor pun berdiri dari tempat duduknya.


Yang lain ikut berdiri untuk segera menyiapkan barang bawaan untuk kembali ke Moskow.


Setelah semuanya telah siap dengan barang-barangnya, pada sore harinya, Igor, Alexander, Allan, Girou, dan teman-temannya pun langsung berangkat ke Moskow pada sore harinya. Perjalanan ke Moskow menghabiskan waktu sekitar 6 jam perjalanan. Dan mereka akhirnya sampai di Moskow pada malam hari. Gloria dan Felix pun menyambut Igor dan rombongannya.


“Selamat datang, teman lamaku.” Felix menyapa Igor dengan menyeringai.


“Wah kau ternyata sudah tua sekali ya, Felix. Padahal kau hanya beda sedikit denganku.” balas Igor.


Setelah saling menyapa, mereka pun saling berpelukan erat. Allan yang masih bingung pun bertanya kepada ayahnya.


“Tuan Igor dan ayah bertemu dimana? Kok kayaknya sudah kenal lama sekali?” tanya Allan kepada Felix.


“Nanti saja aku jelaskan di dalam. Ayo semuanya masuk dulu, kalian pasti capek kan karena perjalanan dari Novgorod.” Felix yang menunda menjawab pertanyaan Allan.


“Ya sudahlah. Ayo masuk semuanya.” kata Allan.


Saat masuk ke dalam rumah, Mereka melihat beberapa kasur tipis yang ditata di ruang tengah. Girou beranggapan bahwa kasur itu dikeluarkan karena mereka kedatangan tamu. Dan saat di ruang makan, sudah tersaji makanan yang sudah disiapkan untuk mereka.


“Ayo-ayo makan, kalian harus makan untuk energi bepergian besok.” suruh Felix.


“Ok, karena sudah disiapkan makan, jadi selamat makan!” seru Wilhiemma semangat.


Mereka semua pun memakan makanannya dengan lahap. Hampir semuanya menambah porsi, dan dalam waktu kurang dari 45 menit makanan di meja sudah habis. Wilhiemma yang kekenyangan pun langsung bersendawa dengan keras. Seisi ruangan itu pun kaget dengan suara sendawa Wilhiemma, Girou yang kaget juga langsung mengingatkan Wilhiemma.


“Hei Wilhiemma, kalo sendawa ditutup lah.” Girou menasehati Wilhiemma.


“Iya iya, Girou.” balas Wilhiemma.


Setelah selesai, Girou pun menguap lebar dan langsung menanyakan pada Gloria dimana tempat tidurnya.


“Hoooaamm, dimana tempat tidurnya ya, Nona Gloria?.” tanya Girou.


“Di lantai 2, Girou. Tempat tidurnya ada di lantai 2. Naiklah, Girou. Yang lain kalo sudah ngantuk juga tidur di atas ya.” jawab Gloria.


“Iya deh, aku ke atas. Hooaamm.” kata Girou sambil menguap.


Wilhiemma dan Yamazaki yang sudah mengantuk pun membuntuti Girou ke lantai 2. Setelah Girou dan teman temannya masuk ke kamar. Igor, Alexander, Allan, Felix, dan Gloria langsung berkumpul di ruangan utama di rumah Alexander.


“Nah, Igor. Kau kesini bukan hanya karena ingin berkunjung kan?” tanya Felix.


“Hmmmm. Ya seperti yang kau bilang, Felix. Aku kesini tidak semata-mata karena ingin bertemu dengan kalian. Aku juga ingin bertemu kalian terkait rencana penyusupan yang dibicarakan Alexander saat dia berkunjung kesana.” jawab Igor.


“Aku sebenarnya penasaran sama kamu, Igor. Kenapa kamu bisa dengan mudahnya bergabung dengan aliansi kami? Apakah kamu utusan dari Soviet?” tanya Felix dengan mata menyelidik.


“Tidak mungkin lah, kawanku. Aku beraliansi dengan kalian karena aku sudah muak dengan negaraku ini. Suka sekali mereka mencampuri urusan Negara lain, seolah mereka adalah yang terkuat. Aku hanya ingin membantu kalian membuat kedamaian di Negara kalian. Seperti itu, kawan.” jawab Igor lagi.


“Jabatan militer anda nanti bagaimana, Tuan Igor?” Tanya Allan.


“Peduli amat. Aku sudah tidak terlalu menginginkan jabatan itu lagi sebenarnya. Berat sekali tanggungannya, aku masih  sering mendapat tawaran suap dari berberapa pihak, dan aku menolaknya. Dan tawaran itu kadang-kadang  menggiurkan sekali dan itu datang berkali-kali, tapi aku sudah bersumpah akan bertanggung jawab pada jabatan yang aku emban saat ini.” Jelas Igor.


“Oh jadi seperti itu ya,Tuan Igor. Iya iya. Nah Tuan Igor, apa Tuan Igor punya jaringan yang dapat dipercaya seperti tuan di Soviet? Mungkin itu bisa membantu kita semua.” tanya Alexander.


“Hmmm, sebentar. Aku ingat-ingat dulu. Ada sih sebenarnya, kalau tidak salah dia berada di Kazan. Dia bernama Ahmed Volk. Dia adalah mantan bawahanku yang dapat dipercaya, dia dulu adalah salah satu pengintai handal yang pernah kutemui. Temuilah dia, semoga itu dapat membantu kalian.” Igor menjawab pertanyaan Alexander.


“Apakah dia masih bekerja sebagai pengintai, Igor?” tanya Felix.


“Aku dengar-dengar dia sekarang sudah menjadi salah satu pembunuh bayaran. Aku pun tidak dapat memastikannya.” jawab Igor.


Seisi ruangan itu pun hening. Suara hembusan angin saja yang terdengar.


“Nah, daripada diam-diaman dan nanti nagntuk, kubuatin minuman ya.” usul Gloria.


“Ya boleh deh, aku teh saja ya.” kata Allan.


“Aku juga deh” sahut Alexander.


“Semua dibuatkan teh, Gloria.” jawab Felix.


“Ok, tunggu sebentar ya”


-To Be Continued-