Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 51: Sosok Misterius



Samurai Around The World #51.


“…Kami sudah menemukan sosoknya” jawaban Allan pun terdengar oleh telingaku melalui Handie Talkie milik Tuan Mack.


“Sebentar? Kau benar menemukan pelakunya?” tanya Tuan Mack memastikan.


“Iya benar. Kemarilah. Aku ada dijalan yang kalian lalui tadi. Ikuti saja. Nanti akan ketemu” Allan pun memberikan petunjuk posisinya kepada kami.


“Ok ok. Aku akan kesana. Tunngu disana Allan. Tit!” Suara HT yang dimatikan pun terdengar dengan jelas.


“Ayo cepat kesana. Allan sudah menunggu kita” Tuan Mack pun segera bergegas berjalan dan aku serta Tuan Mark pun mengikuti dibelakangnya.


Tapi berbeda dengan Tuan Mack yang antusias dan senang,  naluri badan serta secara tiba-tiba menjadi takut serta curiga. Tapi aku tidak tahu penyebabnya. Dan aku berpura-pura untuk biasa saja serta terus berjalan mengikuti Tuan Mack yang ada di depanku.


“Ada apa dengan perasaan ini? Kenapa aku menjadi ketakutan seperti ini?!” kata hatiku bertanya.


Tiba-tiba keringat dingin menetes mengenai tanganku. Aku pun mencoba mengusap dahiku. Dan benar saja, keringat dingin sudah berkumpul disana dan membuatnya menjadi basah.


“Ada apa ini!?” aku pun semakin merasa panik dengan keadaanku sendiri.


“Ada apa Girou?” tanya Tuan Mark yang mendengar suaraku barusan.


“Tidak apa tidak apa Tuan” kata diri ku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat.


Aku melihat ke arah jam tanganku dan jarum panjang serta kecilnya menunjukkan pukul 02.00. Dan kurasa misi mala mini akan ditunda ke esok hari lagi karena terbatasnya waktu yang ada.


Kami bertiga pun terus berjalan hingga tiba-tiba kami melihat sesosok yang berada tidak jauh dari kami.


“Siapa itu? Apakah itu Allan?” Tuan Mack pun bertanya memastikan.


“Sepertinya sih iya. Ayo kita dekati sosok itu” Tuan Mark pun menyakinkan.


Tuan Mack dan Tuan Mark pun berjalan mendekati orang itu. Tapi aku tidak berjalan dan malah meneropong sosok itu dari tempatku.


“Hmmmm aku menunggu disini saja deh. Aku merasa tidak yakin soalnya” aku pun memutuskan untuk berdiam diri di tempatku saat ini.


Saat aku memutar lensa untuk melihat lebih jelas, aku merasa bahwa sosok itu tidak mirip dengan Allan.


“Itu memang Allan ya? Kok tidak mirip dari bentuk badannya?” kata hatiku bertanya-tanya.


Dan terpikirkan sesuatu yang membahayakan melintas di benakku. Memang sosok itu bukanlah Allan. Tapi penembak itu sendiri.


“Ah!! Memang dia bukanlah Allan. Tuan Mack dan Tuan Mark berhenti disana!! Dia adalah penembaknya!” aku pun berteriak memperingatkan.


Tapi Tuan Mark dan Tuan Mack sudah terlanjur jauh dan sudah berada sangat dekat dengannya. Melihat hal itu, aku pun berlari menuju tempat dimana sosok hitam itu berada dan mencoba menghindari bahaya yang akan terjadi.


Dar! Dar!


Suara tembakan pistol pun merambat tiba di daun telingaku. Aku pun memberhentikan langkah kakiku. Semuanya telah terlambat. Dan tampak Tuan Mack dan Tuan Mark yang terjatuh ke tanah.


“Terlambat sudah. Misi kali ini berakhir begitu saja” ucap mulutku pasrah.


Dan sosok itu masih belum beranjak dari tempatnya. Tetapi aku melihat sepasang mata yang menatap tajam ke arahku.


Dar!


Lagi dan lagi peluru dilesatkan. Tapi untunglah, untuk yang kali ini aku lebih siap dan aku bisa menghindarinya dengan melompat ke kanan.


“Oh begitu ya. Dia ingin menghabisi kita semua. Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi” rasa takut serta was-wasku pun tiba-tiba menguap dan bergegas berlari dan menghampiri sosok itu.


Drrrapp! Drraappp! Drraapp! Suara langkah kakiku terdengar meyakinkan.


Terlihat tangannya terangkat untuk kesekian kalinya.


Langkah kakiku terus bergerak dengan mantap tanpa memperdulikan suara itu. Karena aku adalah petarung jarak dekat yang baik, aku dapat menangkis salah satu dari tiga peluru itu. Sisanya hanya ku hindari.


“Tinnggg!” salah satu peluru yang mengarah kepalaku pun dapat ku tangkis.


“Ziinggg! Ziiing!” dua peluru sisanya hanya bergerak membelah udara kosong.


Aku pun semakin dekat dengan sosok hitam itu.


Zap!


Dan saat dia berada di dalam jarak seranganku. Dia pun melompat menjauhi diriku dan seperti menghilang


Aku pun berhenti dan memutar kepalaku 360 derajat untuk mencari keberadaannya.


Sekarang sosok misterius itu pun telah hilang entah kemana.


“Ah sialan! Sekarang dia telah hilang, dia tidak bertanggung jawab atas perilakunya yang membuat kami seperti ini” aku pun berjalan gontai mendekati tubuh Tuan Mack dan Tuan Mark  yang terkapar di atas tanah.


Terlihat tubuh Tuan Mack yang tidak bergerak sama sekali. Tubuh Tuan Mark terlihat masih bergerak tangannya.


“Tuan Mark, apakah masih bisa bangun?” tanyaku kepada Tuan Mark yang masih memegangi bagian tubuhnya yang sakit karena ditembak sebelumnya.


“Dadaku masih sakit Girou. Untuk saat ini aku masih bisa tiduran begini saja. Lebih baik sekarang kau tanyakan keadaan Tuan Mack yang dari tadi tidak bergerak itu” kata Tuan Mark menjawab pertanyaan dariku.


Aku pun beranjak ke Tuan Mack.


Aku pun mencari dimana tempat peluru tadi masuk.


Setelah kucari-cari, terlihat sebuah lubang di dada sebelah kiri Tuan Mack. Tapi untuk yang kali ini aku rasa tidak bisa diambil, karena letaknya yang terlalu dalam berbeda dengan kasusku beberapa jam lalu.


“Tuan Mack, apakah Tuan Mack masih sadar?” tanyaku sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.


Hening. Tidak ada jawaban.


Aku pun mulai berpikir yang macam-macam terkait keadaan Tuan Mack saat ini.


“Girou, kau coba cek dadanya Tuan Mack. Jantungnya masih berdetak atau tidak” saran Tuan Mack kepadaku.


Aku pun mendekatkan telingaku ke tengah dada Tuan Mack untuk mendengar suara jantungnya.


Dep! Satu detak jantung pun terdengar sesaat setelah aku mencoba untuk mendengarkan suara jantung Tuan Mack.


Tapi setelah itu situasi menjadi hening kembali. Aku pun mencoba mengecek keadaan nadi di pergelangan tangan Tuan Mack. Tapi hasilnya sama saja. Tanganku tidak merasakan aliran nadi itu.


Diriku pun menjadi sedikit was-was tentang keadaan yang membingungkan ini. Dari sosok misterius itu. Dan karena itu kami bertiga terpisah dengan yang lain. Ditambah dengan keadaan Tuan Mack dan Tuan Mark yang terkena tembakan beberapa menit yang lalu.


Tapi untuk saat ini aku lebih baik berfokus terhadap keadaan Tuan Mack saat ini.


Aku pun mencoba cara lain. Yaitu menekan dada Tuan Mack dan memaksa jantungnya untuk berdetak secara normal sedia kala.


Kedua tanganku pun kuletakkan pas di atas dada Tuan Mack. Setelah dirasa tanganku sudah pas, aku pun menekankan tanganku dengan kuat dan cepat.


Beeppp! Beebbb! Bep! Aku pun terus menekan dada Tuan Mack selama 30 kali.


Setelah mencapai tekanan yang 30 kali, aku pun mengangkat tanganku dan mendekatkan telingaku ke dada dan juga memegangi pergelangan tanganya untuk mengecek kembali detak jantung serta nadinya Tuan Mack.


Tapi tanganku lagi dan lagi tidak merasakan detakan di area pergelangan tangan milik Tuan Mack. Dan telingaku juga tidak mendengar suara yang kuharapkan akan kudengar.


Aku pun sedikit tidak percaya hal ini akan terjadi.


-To Be Continued-