
Samurai Around The World #14.
“Aye-Aye, Mikail.” balas Alexander yakin.
Nikolaj, Alexander, Gloria, Wilhiemma dan Stainslav pun dengan sigap turun dari persembunyiannya menuju sekat diantara ruangan Private yang menjadi sasaran mereka. Saat Girou dan yang lainnya sibuk melerai pers dari Presiden, Nikolaj dan timnya pun sudah berada di sekat ruangan itu. Presiden dan Dubes beserta Menterinya pun telah melangkah menuju Ruangan Pribadi untuk beristirahat sejenak setelah selesai diskusi. Girou dan timnya yang telah selesai melerai para pers pun bergegas mengikuti Presiden dan rombongannya. Setelah sampai di depan ruangan, Girou pun memberitahu Alexander.
“Bersiaplah. Mereka akan masuk” kata Girou untuk memberitahu Alexander.
Alexander hanya mengangguk.
Alexander pun memberi aba-aba ke timnya untuk bersiap. Alexander dan Gloria berada di sisi kanan ruangan. Nikolaj, Stainslav, dan Wilhiemma berada di sisi kiri. Saat Presiden dan para Dubesnya beserta Menterinya sudah berada di dalam ruangan. Sergei pun segera menutup pintu ruangan. Girou, Yamazaki, dan Alexander pun memastikan di dalam ruangan itu tidak ada yang mencurigakan.
“Hei, kenapa kalian ikut ke dalam kesini. Kalian seharusnya berjaga di luar saja. Tidak perlu masuk ke dalam. Pergi kalian!” Presiden mengusir Girou dan timnya.
“Untuk alasan keamanan, Tuan Presiden. Kami melipatgandakan penjagaan, di dalam dan di luar, Tuan Presiden. Di luar sudah ada beberapa pasukan yang sudah berjaga. Tenang saja, Tuan Presiden” jawab Sergei.
“Kalian berjaga saja di luar. Kami ingin berbicara pribadi dengan Presiden. Hush hush, kalian mengganggu saja” Kata sala satu Dubes yang ikut dalam pertemuan.
“Iya benar, kalian mengganggu saja. Cepat pergi dari ruangan ini! Waktuku tidak banyak.” balas Presiden.
“Hei, bung. Bukan begitu cara menyuruh orang. Tch.” Leov pun mulai tersulut emosi.
“Hei Hei, kau pikir kau siapa, Hah? Kau hanya penjaga saja, tidak lebih tidak kurang. Kau tidak pantas berkata seperti itu. Kau harus menurutiku sebagai seorang penjaga yang baik.” kata Presiden dengan sedikit kaget.
“Oh ya? Berarti aku bukan penjaga yang baik, Tuan.” Leov pun melangkah mendekat ke Presiden.
“K-kau siapa? Kau bukan Paspampres yang menjagaku biasanya. Siapa kau?” Presiden pun takut setelah didekati oleh Leov.
“Mikail!! Siapa dia?! Dia bukan temanmu kan? Jawab aku, Mikail.” Presiden yang gemetar pun menoleh ke arah Girou.
“Aku juga bukan penjaga yang baik, Tuan Presiden.” Girou pun melepaskan penyamarannya.
Yang lain pun ikut melepaskan penyamarannya.
“Alexander, masuklah.” pinta Sergei kepada Alexander.
Mereka pun disambut dengan suara berisik. Tak lama kemudian, tembok di sisi kanan dan sisi kiri pun jebol. Alexander dan Gloria pun keluar dari sisi kanan, Nikolaj, Stainslav, dan Wilhiemma pun keluar dari sisi kiri. Girou pun menyeringai setelah melihat teman-temannya telah muncul. Sergei dan Yamazaki pun melepas penyamarannya dan menodongkan senjatanya kepada Targetnya.
“Sebenarnya kami hanya ingin mengumpulkan informasi dari Tuan. Jadi cepat saja. Oh ya, agar kalian tidak melawan dan tidak membahayakan kami, kalian nampaknya harus diikat dulu. Ayo teman-teman, kita ikat mereka.” suruh Leov.
Gloria pun mengeluarkan tali dari tasnya dan memberikannya kepada Leov dan yang lain. Mereka pun dengan cekatan mengikat Presiden dan para rombongannya.
“Ya, langsung saja. Tuan Presiden. Apakah kalian memiliki hubungan dengan salah satu Organisasi kriminal?” Leov
bertanya kepada Presiden.
“Cuih.” Presiden pun malah meludah di depan Leov.
“Oh jadi begini ya. Kuberi satu kesempatan lagi, apakah kalian semua ini memiliki hubungan dengan salah satu organisasi kriminal yang besar? Jawablah, Tuan Presiden.” tanya Leov lagi.
“Cih. Sialan kau. Aku sepertinya mengenal wajahmu. Apa kau salah satu anggota Militer?” Presiden malah berbalik tanya.
“Tuan tidak perlu tahu siapa saya dan dari mana saya. Cepatlah jawab pertanyaan yang kuberikan, Tuan.” Leov tidak menjawab pertanyaan Presiden.
“Harghhhgh! Brengsek!” teriak salah satu Menteri yang berada di belakang Presiden.
“Cepatlah jawab. Atau pelatuk ini akan kutarik dan menembus kepalanya.”ancam Girou sambil menekan pistolnya ke pelipis Menterinya yang menggeram
“Aku tidak bisa menjawabnya.” jawab Presiden.
“Okeh. Mungkin boleh juga jawabannya. Kutanya lagi. Kau tahu sebuah organisasi yang bernama Silhouette?" tanya Leov lagi.
“Hrgrhrgrh.” Presiden pun menggeram kesal.
“Oh ya sudah. Mungkin itu jawaban yang cukup. Apakah kalian bekerja sama barang haram dan senjata berbahaya dengan mereka?” tanya Leov kembali.
“Cuih. Brengsek.”
“Ok. Kalian apakah berhubungan dengan kelompok lain juga?” gantian Alexander yang bertanya.
Presiden hanya menggeleng lemah.
“Apakah kau tahu pemimpin dari Silhouette?” tanya Leov.
Presiden pun hanya diam membisu.
“Apakah Silhoutte memiliki jaringan organisasi kriminal yang lebih besar di dunia ini?” Gloria pun bertanya.
“Arggrhhhhghhghghh” Presiden pun menggeram panjang dan menghentak-hentakkan tubuhnya ke lantai.
“Ya sudah. Yang lain ada yang ingin bertanya lagi?” Leov pun menawarkan kepada yang lain.
“Aku ingin bertanya. Kau tahu dimana pemimpin dari Silhouette berada?” tanya Girou.
Presiden pun hanya menggeleng pelan.
“Ok. Mungkin sudah cukup pertemuan kali ini. Terima kasih, Tuan Presiden atas informasinya.” Leov pun berterima kasih kepada Presiden.
“Sebentar. Aku ingin bertanya satu hal lagi. Apakah kamu kemarin ikut campur dalam rapat rencana Reunifikasi Jerman kemarin, Tuan Presiden?” tanya Gloria.
“Hrgghhghh.” Presiden pun menggeram keras.
“Hei hei hei, aku dari tadi hanya menggeram dan meludah saja. Mungkin tadi hanya menggeleng pelan saja. Dari mana kau bisa tahu jawaban dariku.” Presiden pun heran dengan respon dari Leov.
“Ini namanya The Next Level dalam Interogasi, Tuan Presiden. Kita tidak perlu menggunakan pisau dan senapan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Geraman dan diam itu berarti benar. Ludahan dan gelengan berarti salah, ya sudah. Kuperingatkan ya, Tuan Presiden. Kau lakukan sebisamu untuk membuat negeri ini Berjaya seperti dulu lagi dengan cara yang baik dan benar, dan jangan juga mencampuri urusan Negara orang lain.
Jika tidak, kau dan beserta rezimmu akan runtuh dengan sendirinya. Ingat itu, Tuan Presiden. Kuucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya. Jangan kau bilang kepada siapapun terkait insiden ini. Selamat tinggal.” Leov pun meninggalkan Presiden dan Menteri beserta Dubesnya.
“Oh ya. Sebelum kita pergi, lebih baik kita lepaskan ikatan tali itu dari mereka, untuk menghilangkan jejak kita.” Suruh Leov.
Alexander dan Nikolaj pun dengan cekatan melepaskan ikatan tali dari tubuh Presiden dan yang lainnya. Setelah selesai melepas ikatannya, kedua tim pun bergegas meninggalkan Presiden dan yang lainnya melalui lubang yang sudah dibuat oleh Nikolaj dan timnya. Tim Nikolaj tidak hanya menyusup dari sekat ruangan saja, mereka juga membuat jalur kabur untuk Timnya dan Tim Girou. Setelah berjibaku melewati jalur tikus itu, Kedua tim pun
bergegas menuju mobil masing-masing. Jerry dan Alexandrina yang menyamar menjadi pemimpin pasukan dan diikuti Igor di belakangnya pun berlarian mendekati mobil. Mereka pun bergantian memasuki mobil dengan sedikit terburu-buru. Setelah semuanya telah naik, mereka pun langsung tancap gas untuk pergi dari Gedung Presiden secepatnya. Mereka pun merasa sangat lega karena mereka berhasil melakukan misinya.
“Hahhh, lega banget rasanya. Keringat dingin aku tadi ngomong sama Presiden. Untung aku pandai dalam berakting, jadi aku lebih berani saat interogasi tadi.” Leov pun membangga-banggakan dirinya.
“Yeah. Interogasi tadi mengesankan, Leov. Kita berhasil seluruh informasi yang kita inginkan.” kata Sergei sambil menggenggamkan tangannya.
“Mereka sudah salah kira. Mereka sebenarnya tidak ingin memberikan jawaban apapun. Eh, mereka malah memberikan jawaban yang sebenarnya. Keren banget kamu, Leov.” Gloria pun memuji Leov.
“Iya lah. Leov gituloh.” kata Leov sambil sedikit membusungkan dadanya.
“Kerja bagus, anak-anak.” Igor pun memuji hasil misi tadi yang memuaskan.
Mereka pun saling bercanda satu sama lain tentang misi tadi.
“Tadi lucu banget lihat Sergei marah-marah. Biasanya dia kan sabar terus sering bercanda juga. Aneh kan lihat dia tadi marah-marah?” kata Leov.
Sergei pun hanya tertawa mendengar perkataan Leov tentangnya.
“Kan sifat penjaga yang kugantikan kan seperti itu, Leov. Suka marah-marah. Wajar jika aku meniru perilakunya. Memang agak aneh dan sedikit kagok saat menirukannya. Benar juga katamu, Leov.” Sergei yang membenarkan perkataan Leov.
Girou dan Yamazaki pun hanya mengangguk-angguk.
Mereka semua pun melaju cepat menjauh dari kerumunan yang terjadi di Gedung Presiden dan dengan cepat tiba di rumah Alexander. Mereka pun dengan cepat mengemasi senjatanya untuk dibawa ke brankas milik Alexander
agar tidak mencurigakan. Mereka pun segera memasuki rumah Alexander. Mereka semua pun beristirahat setelah menjalani misi yang berat.
Satu hari kemudian.
Seperti biasa, Girou pun membangunkan teman-temannya di pagi hari. Girou juga membangunkan Sergei, Leov, dan Alexander. Mereka pun gotong royong untuk membangunkan yang lain. Setelah bangun, mereka semua pun
sarapan dengan makanan sisa kemarin malam yang dipanaskan. Setelah sarapan, Nikolaj dan timnya berpamitan kepada Girou dan yang lainnya.
“Misiku disini sudah selesai. Izinku juga sudah habis. Waktunya aku kembali bekerja seperti biasa. Terimakasih Alexander sudah memberikan tempat tinggal dan makanan saat kami tinggal disini. Dadah semuanya.” Nikolaj
melambaikan tangannya kepada Girou dan yang lainnya.
“Iya, Hati-hati dijalan, Niko.”balas Alexander.
Yang lain juga melambaikan tangan kepada Sergei dan timnya. Sergei dan timnya pun melesat meninggalkan rumah Alexander dengan Jeep yang dia bawa. Setelah melihat Sergei dan timnya pulang, Igor pun bertanya
kepada Leov.
“Kau tidak kembali pulang dengan timmu, Leov? Bekerja seperti biasa” tanya Igor.
“Mungkin aku akan kembali nanti malam. Aku sudah bilang kepada atasanku untuk kembali nanti malam. Perjalanan ke kota ku membutuhkan waktu banyak, jadi aku memilih perjalanan malam karena jalanan sepi, Tuan Igor.” jawab Leov.
“Oh jadi seperti itu ya. Ya sudah kalau begitu.” kata Igor.
“Ya sudah, kalau Nikolaj pulang nanti malam. Istirahat saja dulu, buat tenaga saat nyetir nanti.” Saran Alexander.
“Ya mungkin aku akan istirahat terlebih dahulu.” Nikolaj yang mengiyakan saran Alexander.
Yang lain pun kembali ke dalam setelah berpamitan dengan Sergei dan timnya. Setelah semuanya sudah di dalam, Girou pun berinisiatif untuk menelpon Carl, untuk memberi kabar padanya.
“Ah, aku punya ide. Bagaimana kalau kita menelpon Tuan Carl yang berada di Jerman? Kita sudah lama tidak memberi kabar padanya. Kita juga dapat memberitahu keberhasilan kita di misi kali ini. Bagaimana? Setuju?” tanya
Girou.
“Wah, ide bagus tuh. Boleh boleh.” jawab Gloria.
Yang lain pun mengangguk menyetujui ide dari Girou.
“Baguslah kalau semuanya setuju. Tapi aku tidak tahu nomor telepon dari Tuan Carl. Ada yang tahu nomor telepon miliknya?” tanya Girou.
“Serahkan saja padaku. Aku tahu nomer miliknya.” jawab Gloria yakin.
Gloria pun melangkah mendekati Girou. Girou memberikan gagang telepon itu kepada Gloria. Gloria pun dengan cepat memencet tombol telepon. Beberapa saat kemudian, telepon sudah tersambung.
“Halo. Ini dengan siapa?”tanya salah satu pembantu Carl yang mengangkat telepon.
“Saya Gloria. Saya ingin berbicara sebentar dengan Jenderal Carl. Apakah beliau bisa?” jawab Gloria.
“Oh ini Gloria ya. Tunggu sebentar.”
Tak berselang lama kemudian.
“Halo, Gloria.”
-To Be Continued-