Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 16: Akhirnya Pulang.



Samurai Around The World #16.


Orang itu pun tumbang seketika setelah menerima luka dada yang berat setelah terkena tebasan memutar dari Girou. Girou sengaja tidak membunuhnya secara langsung agar dapat mendapat informasi dari orang itu.


“Hei, brengsek. Bangunlah.” Kata Girou sambil menggoyang-goyangkan tubuh orang itu.


“Aduh aduh duh. Menyakitkan sekali tebasan memutar mu itu. Aduh aduh sakit sekali rasanya.” Keluh orang itu sambil memegangi dadanya yang bersimbah darah.


“Kau sepertinya bukan menteri yang sebenarnya, Tuan. Aneh rasanya seorang menteri memiliki kekuatan bertarung yang seperti itu. Kau sebenarnya orang lain yang menyamar kan?”tanya Girou tegas.


“Sudah kubilang aku ini Menteri, nak. Aku adalah Menteri Pertahanan Rusia, Georlinski. Aku adalah mantan anggota Spetsnaz, nak. Jadi wajar saja jika aku memiliki kekuatan bertarung seperti itu. Kau tidak dapat menyangkalnya, nak.”Jawab orang itu.


“Ahhhhh, kau alasan saja.”


Girou pun memegangi kepala orang yang mengaku sebagai Menteri itu. Dan menarik rambutnya. Dan alangkah mengejutkan, ternyata wajah Menteri itu hanya samaran saja, seperti perkataan Girou.


“Sudah kubilang. Kau hanya seseorang yang menyamar saja, Tuan.” Girou pun terkekeh melihat dugaannya benar.


“Cuih.” orang itu pun meludah di depan Girou karena kesal penyamarannya terungkap.


“Kau akan kutanya. Kau suruhan pihak mana?” tanya Girou menginterogasi orang itu.


“Kau tidak perlu menanyakannya. Aku sudah pasti disuruh oleh Soviet untuk membunuh kalian. Aku tahu siapa kalian. Kau Girou kan? Seorang pemuda Jepang yang memiliki semangat yang membara. Teman mu ini bernama


Wilhiemma dan Yamazaki. Dibelakang sana ada Felix dan Allan, ayah dan anak yang menjadi seorang Informan yang handal. Dan aku tidak tahu siapa yang berada di belakang sendiri itu. Aku disewa dan dibayar untuk membawa kepala kalian semua.” Jawab orang itu dengan santainya.


Girou pun sedikit kaget mendengarnya.


“Hmmm. Ok kalau begitu. Apakah  kau mengenal seorang Informan juga yang bernama Volk?” tanya Girou lagi


“Mana kutahu siapa dia. Aku tak mengenalnya.” Jawab orang itu.


“Kau jangan berbohong.” Girou pun menatap tajam orang itu.


“Aku tidak berbohong. Sungguh brengsek dirimu, Cuih.” orang itu pun meludah sekali lagi.


“Aku tidak percaya kepadamu. Kau sudah berbohong padaku sekali, dan aku tidak mempercayaimu lagi. Kau bilang dirimu Mantan anggota Spetsnaz kan? Aku ingat salah satu pembunuh bayaran handal yang sama sepertimu, yaitu mantan anggota Spetsnaz. Dan dia bergelar Hmmm, siapa ya? Apa itu kau?” tanya Girou lagi.


Orang itu pun hanya diam.


“Hei, brengsek. Jangan hanya diam saja!!” Girou pun menendang kaki orang itu.


“Aduh duh. Kau tidak melihat diriku mengalami luka berat, brengsek.” balas orang itu.


“Aku tidak peduli. Cepatlah jawab!! Kau sekarang tidak bisa melakukan apapun. Jadi cepatlah jawab, brengsek!!” paksa Girou.


“Ckckckck, kau sepertinya terlalu meremehkan ku, bocah bodoh.” Kata orang itu sambil mengangkat sebuah remote dari tangannya.


“Apa itu?!” tanya Girou panik.


Orang itu pun menekan tombol remote di tangannya.


Boooommm!! Mobil yang digunakan orang itu pun meledak berkeping-keping. Asap kepulan pun membumbung tinggi.


“Cepat padamkan apinya!!” suruh Felix.


Igor pun segera mengambil alat pemadam kebakaran yang berada di kap belakang mobilnya. Igor pun langsung menyemprotkannya ke arah api. Dalam waktu sekejap, api pun padam. Tapi orang yang tadi diinterogasi Girou


menghilang tanpa jejak.


“Kemana perginya orang itu? Harusnya dia mati, karena ledakan mobil itu berada di jangkauannya. Aneh sekali dia bisa menghilang tanpa jejak seperti itu?” tanya Gloria.


“Cih, dia memang seorang pembunuh bayaran yang handal. Pantas Soviet percaya kepadanya. Mengesankan.” Girou pun memuji kelihaian orang itu.


“Apakah tadi dia memang seorang pembunuh yang membunuh Volk di Kazan itu, Girou?” tanya Igor.


“Entahlah, aku hanya mengikuti firasat ku saja. Tapi saat aku menanyakannya dengan pertanyaan itu, dia seperti gugup dan gentar. Aku merasakan hawanya seperti itu. Tapi entahlah itu benar atau tidak.”Jawab Girou.


“Ya mungkin saja dia pembunuhnya. Karena dia sangat mengerikan saat menggunakan belatinya, mirip seorang serigala Alpha yang menggunakan cakarnya.” Kata Allan membenarkan perkataan Girou.


“Kalian segera pergi dari Negara ini. Tempat ini sudah tidak aman untuk kalian. Itu hanya satu dari banyaknya ancaman dari Soviet. Untuk kejadian ini aku yang akan mengurusnya.” Igor memberikan saran kepada Girou dan yang lainnya.


“Ya mungkin kita harus segera kembali ke Jerman. Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk kita. Ayo cepat naik ke mobil. Kita akan berangkat.” Suruh Allan.


Yang lain pun segera memasuki mobil. Mereka semua pun melambaikan tangan ke arah Igor sebagai tanda perpisahan. Mereka pun segera menuju kota Kiev untuk melakukan penerbangan mereka. Sama seperti waktu


keberangkatan dahulu. Karena mereka terburu-buru karena kejadian tadi, waktu perjalanan yang seharusnya memakan waktu sekitar 12 jam menjadi 10 jam. Mereka melakukan perjalanan non stop agar cepat sampai di tujuan mereka. Mereka pun akhirnya sampai di Bandara Internasional Kiev. Mereka pun segera menuju garbarata dan masuk di pesawat yang sudah disiapkan oleh Carl jauh-jauh hari menjelang kepulangan mereka. Mereka pun menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam untuk sampai dan mendarat di Kota Bonn. Dan mereka mendarat di Kota Bonn pada malam hari


Sebelum mereka naik ke atas pesawat, Gloria sempat menelpon Carl untuk memberitahu keadaan mereka. Gloria pun meminta agar mobil jemputan mereka tiba lebih awal untuk berjaga-jaga dari serangan mendadak seperti yang terjadi di Moskow tadi. Dan benar, mobil yang menjemput mereka pun datang lebih awal sebelum kedatangan mereka. Setelah mendarat, mereka pun berpencar di ketiga mobil yang berbeda. Ada yang mengantar ke rumah Gloria, ada yang mengantar ke rumah Felix di Hamburg, ada yang mengantarkan ke rumah kontrakan milik Girou. Allan masuk ikut ke dalam mobil Girou, karena letak rumah mereka dekat dan searah. Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki pun sampai di rumahnya pada dini hari jam 1 malam. Mereka pun melempar begitu saja barang bawaan milik mereka masing-masing, dan bergegas untuk istirahat di kamar mereka masing-masing. Beristirahat setelah melalui hari-hari yang berat.


Lusa esok harinya. Atau sehari setelah kepulangan Girou dkk.


Telepon dari Carl membangunkan Girou dan teman-temannya di pagi hari. Girou pun bangun dari tempat tidurnya dengan malas-malasan untuk mengangkat telepon itu.


“Haduh, siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini? Hooaamm.” kata Girou sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Halo. Ini dengan siapa? Hoamm.” Girou mengangkat telepon itu sambil menguap.


“Iya halo Girou. Aku Carl. Mohon maaf mengganggu pagimu. Kalau hari ini—“


“Eh, maaf Tuan Carl. Tadi saya menguap karena baru bangun tidur. Tidak apa-apa, Tuan Carl, telepon anda tidak mengganggu kok.” Girou kaget karena yang menelponnya pagi-pagi adalah Carl.


“Bisa-bisa, Tuan Carl. Omong-omong nanti sama siapa saja pertemuan di ruangannya Tuan Carl?” tanya Girou kepada Carl.


“Hmmmm, mungkin ada Einhard, salh satu perwira yang kau temui dulu. Mungkin juga ada beberapa petinggi militer lah. Karena di pertemuan ini membahas hasil dari misimu kemarin, Girou. Yang pasti ada Gloria, Allan, beserta ayahnya, yaitu Tuan Felix.” jawab Carl.


Mendengar nama peringgi militer disebut oleh Carl. Girou pun terdiam.


“Halo halo, Girou. Kau masih disana?” tanya Carl memecah hening.


“Eh eh iya, Tuan Carl. Ada apa?” jawab Girou kaget.


“Kenapa kau terdiam tadi? Kamu grogi karena mendengar nama Petinggi militer disebut?” tanya Carl kepada Girou.


“Tidak apa-apa, Tuan Carl. Saya hanya melamun sebentar tadi.” Jawab Girou.


“Oh ya sudah kalau begitu. Jangan lupa ya nanti jam setengah 8 sudah tiba di ruanganku ya.” Carl mengingatkan kembali kepada Girou.


“Iya siap, Tuan Carl”


Carl pun langsung menutup teleponnya. Girou pun melangkah meninggalkan tempat teleponnya untuk membangunkan teman-temannya.


“Ya semoga hasil dari misi kemarin dapat memuaskan Tuan Carl dengan para petingginya nanti.” Kata Girou dalam hati.


Girou pun sampai di depan kamar milik Yamazaki.


“Hei Yamazaki. Ayo bangun, sudah pagi. Kita nanti ada pertemuan dengan Tuan Carl loh. Cepat bangun!” Girou membangunkan Yamazaki sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


“Hah?! Jam berapa pertemuannya, Girou?” tanya Yamazaki kaget.


“Nanti jam setengah 8. Jadi cepatlah bangun.” Jawab Girou.


“Iya iya deh aku bangun. Hoooamm.” Yamazaki pun menggeliat karena masih mengantuk.


“Wilhiemma bagaimana? Dia sudah bangun?” tanya Yamazaki.


“Belum. Kalau dia kuserahkan padamu. Karena kau yang biasanya berurusan dengannya.” jawab Girou.


“Ya sudah biar aku yang membangunkannya. Kau mandi saja dulu.” Usul Yamazaki.


“Ok lah kalau begitu. Ya sudah aku mandi dulu.” Girou pun meninggalkan Yamazaki di kamarnya.


Girou pun melangkah kembali ke kamarnya untuk mengambil peralatan mandinya. Setelah mengambil peralatan mandinya, Girou pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk melakukan bersih diri di pagi hari. Tak lama kemudian, Girou pun keluar dari kamar mandi dan mendengar suara gaduh dari kamar Wilhiemma.


“Sudah kubilang aku masih mengantuk, Yamazaki!” Wilhiemma pun meneriaki Yamazaki.


“Nanti ada pertemuan dengan Tuan Carl, Wilhiemma. Pertemuannya itu jam setengah 8. Sekarang ini sudah hampir jam 7, kalau kamu masih belum bangun, kita akan terlambat, Wilhiemma. Kamu tau nggak sih?!” balas Yamazaki tak mau kalah.


“Hei, kalian. Pagi-pagi kok sudah ribut. Berisik tahu!! Wilhiemma, kau cepatlah bangun, kita ada pertemuan penting nanti. Yamazaki juga. Kalian cepat lah turun. Kita sarapan bersama.” Kata Girou mengingatkan Yamazaki dan Wilhiemma yang sedang bertengkar.


“Eh?! Iya iya, Girou. Kami kebawah.” Jawab Yamazaki.


Tak berselang lama kemudian. Girou, Yamazaki, dan Wilhiemma pun memakan sarapan mereka dengan lahap. Setelah makan, Girou pun kembali ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan saat pertemuan nanti. Yamazaki dan Wilhiemma pun mandi menggunakan kamar mandi yang berbeda. Yamazaki di kanan. Wilhiemma di kiri. Setelah mandi, meniru Girou, Yamazaki dan Wilhiemma pun kembali ke kamar masing-masing untuk menyiapkan barang bawaannya nanti. Setelah semuanya telah siap, mereka pun segera keluar


rumah dan mencari bus untuk menuju ke kantor Carl. Tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat berhenti di depan mereka. Girou pun sudah bersiap memegang pistolnya jika sesuatu yang berbahaya akan terjadi. Dan ternyata itu adalah Allan.


“Hei, tidak perlu panik begitu, Girou. Masuklah kalian. Kalian ingin bertemu dengan Jenderal Carl bukan?” tanya Allan.


“Iya, Allan. Kukira siapa tadi, ternyata dirimu.” Jawab Girou.


Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki pun masuk ke dalam mobil milik Allan. Beruntungnya mobil itu pas untuk 4 orang.


“Hei, Allan. Ini mobil milik siapa? Rasa rasanya kau selalu berangkat ke kantormu menggunakan bisa atau taksi bahkan terkadang numpang sama siapa gitu. Ini mobilmu?” tanya Girou kepada Allan.


“Ya jelas dong, tapi tidak sepenuhnya milikku. Ini mobil pinjaman dari Jenderal Carl. Biar kalau kemana-mana gak ribet nyari bis sana sini.” Jawab Allan.


“Oh jadi seperti itu. Ya sudah lah.”


Dan tak lama kemudian, mereka pun telah tiba di kantor tentara Jerman Barat. Allan pun memarkirkan mobilnya dengan mulus. Setelah diparkirkan, Allan dan yang lain pun segera turun dari mobil. Mereka pun disapa oleh satpam penjaga tempat itu.


“Halo, Allan. Selamat pagi. Kayaknya mobil baru nih.” Sapa penjaga itu.


“Ya jelas dong. Namanya orang penting harus punya mobil ya kan.” balas Allan.


“Oh ternyata ada Girou dan yang lain. Selamat pagi juga.” Satpam itu juga menyapa Girou dan teman-temannya.


“Selamat pagi juga, pak.” balas Girou.


“Kalian sudah ditunggu Tuan Carl dan petingginya di ruangannya. Bergegaslah kesana.” Suruh orang itu.


Allan dan yang lain pun bergegas menuju ke ruangan pertemuan diadakan. Setelah sampai mereka pun disambut oleh Carl dan yang lain.


“Ah, akhirnya Allan dan yang lain sudah datang. Ayo masuk-masuk.” Sapa Carl.


Allan, Girou, dan yang lain pun segera duduk di kursi yang kosong. Setelah semua tamu peserta pertemuan telah datang, Carl pun memulai pertemuannya.


“Langsung kita mulai saja kalau begitu.”


-To Be Continued-