
Samurai Around The World #31.
Aku, Allan, dan Joseph menuruni tangga menuju lantai 1. Saat di lantai 1, semuanya sudah berkumpul di bawah.
“Kalian bertiga baru bangun ternyata. Selamat pagi” Tuan Lerc pun menyapa kami saat kami tiba di lantai 1.
“Selamat pagi juga Tuan Lerc” balas kami bertiga bersamaan.
Ternyata saat kami bertiga turun, pas sekali saat masakan yang dimasak selesai.
“Makanan telah siap!!!” teriak Helen dari dapur.
Kami semua pun bergegas menuju meja makan untuk sarapan pagi. Kami bergotong-royong untuk mempersiapkan sarapan. Ada yang menyiapkan piring. Ada yang menyiapkan makanan. Dan ada yang menyiapkan minuman. Setelah selesai menyiapkan semuanya, kami semua pun duduk di kursi mengelilingi meja makan.
“Selamat makaaannn!!” seru kami semua bersamaan.
Kami semua pun langsung menyantap makanan yang telah disajikan oleh Helen tadi. Semua lauk pauk terasa enak di mulut. Asin manis pahit dan gurihnya terasa pas komposisinya di mulut.
“Enak sekali makanannya” kata Joseph memuji makanannya Helen.
“Memang masakan anak muda beda cita rasanya” Tuan Mark pun ikut menambahi.
“Terima kasih banyak kalau makanannya memang enak. Saya mengambil bahan-bahannya segar-segar dan itulah yang membuat makanannya terasa lebih lezat” Helen pun berterima kasih karena sudah dipuji makanan buatannya.
Kami pun melanjutkan kembali sarapan di pagi hari dengan lahap dan semangat. Tidak lama kemudian, makanan yang disajikan tadi pun telah habis tak bersisa.
“Heeeeekkkk!! Aduh kenyang sekali perutku ini” kata Allan sambil bersendawa.
“Persiapkan dirimu beserta perutmu Allan. Hari ini kita akan berpetualang ke markas Darkness dan Moon Devil. Mending kau, Joseph, dan Girou bergegas mandi. Karena yang lain sudah mandi. Lebih cepat berangkat akan lebih baik juga nantinya” Tuan Mark pun menyuruh kami untuk mandi pagi terlebih dahulu sebelum berangkat.
“Siap Tuan Mark” kata kami bertiga bersamaan.
Kami bertiga pun naik menuju kamar kami untuk mengambil peralatan mandi milik kami masing-masing. Setelah mengambil peralatan mandi, kami bertiga berpencar ke tiga kamar mandi yang masih kosong.
Tak sampai 10 menit, kami pun selesai mandi dan siap untuk berpetualang hari ini.
Setelah menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan saat misi nanti, tim Tuan Mark dan tim Tuan Mack pun memasuki 2 humvee yang kami bawa saat perjalanan ke Lakselv. Untuk supirnya masih sama seperti waktu keberangkatan menuju Lakselv. Jam 07.00 tepat, kami berangkat menuju tempat yang sudah ditentukan untuk mengintai.
Tak sampai setengah jam, kami semua tiba di tempat yang cukup jauh dari perkotaan. Tempatnya memiliki banyak pohon yang tinggi dan sedikit berhimpitan dan cocok untuk menjadi sebuah markas karena tempatnya sulit dijangkau jika memakai mobil biasa.
“Kita memakirkan Humvee nya disini saja. Sebenarnya kita bisa lebih dekat dengan markasnya, tapi jalan nya akan semakin sulit untuk dilalui, dan akan mengerikan jika terjadi sesuatu terjadi yang tidak kita semua inginkan. Jadi lebih baik kita jalan kaki saja menuju tempatnya” kata Tuan Mack kepada kami.
Kami semua pun mengikuti perintah dari Tuan Mack untuk berjalan menuju tempat untuk mengintai markas Darkness dan Moon Devil. Setelah berjalan sekitar 45 menit, kami pun sampai di tempat yang cukup tersembunyi tapi markas dari Darkness masih terlihat.
“Sebenarnya markas dari Moon Devil berada di daerah sekitar sini juga. Bedanya Markas Moon Devil itu dibagi di beberapa wilayah dan tidak berpusat di satu tempat. Tapi kalau Darkness ini hanya berpusat di suatu tempat seperti yang kalian lihat saat ini” Allan pun menjelaskan kepada kami semua.
“Untuk sekarang kita berpencar saja. Gunakan alat komunikasi ini jika ingin mengabarkan sesuatu atau yang lain bisa juga melaporkan hasil yang ditemukan” Tuan Mack pun memberikan sebuah Walkie-talkie kepada kami semua sebagai alat komunikasi saat mengintai.
Setelah semuanya mengambil Walkie-talkie, kami semua pun langsung berpencar mengelilingi markas dari Darkness. Aku pun ikut berpencar mencari tempat yang cocok untuk mengintai dan tidak terlihat oleh musuh. Dan aku memilih untuk mengintai di bagian timur laut dari markas Darkness. Aku pun mengambil teropong yang kubawa untuk melihat keadaan dari Markas saat ini.
Semangat di pagi hari terasa di markas itu. Semua anggota bekerja sebagai dirinya masing-masing. Ada yang membersihkan markas, ada yang menghitung stok senjata di gudang, ada yang berpatroli menjaga keamanan markas, ada juga yang mengecek keadaan artileri-artileri berat yang permanen, semi permanen, atau yang berjalan seperti tank dan lain-lainnya meskipun itu berada di ujung batas penglihatan teropongku karena markas yang dimiliki Darkness sangat luas, jadi sangat susah untuk melihat dari ujung ke ujung markas.
Aku pun terus menggunakan teropongku untuk melihat berbagai sisi dan sudut markas yang dapat kulihat. Masih belum ada informasi baru yang dapat kutemukan. Kami semua juga selalu memperbarui keadaan diri kami masing-masing. Terus kami lakukan hingga menjelang malam datang.
Dan malam yang gelap pun tiba. Aku dan yang lain pun masih belum menemukan informasi baru. Kami semua pun beristirahat di tempat kami mengintai dengan peralatan tidur yang seadanya dengan ditutupi beberapa penghalang seperti daun atau ranting agar keberadaan kami tidak terlihat oleh siapapun.
Pagi hari esoknya.
Jam 5.30. Aku pun terbangun dari tidur nyenyakku semalam. Aku pun bangun dengan keadaan dedaunan dan ranting yang sedikit menyelimutiku karena semalam ku pakai sebagai alat untuk menyamarkan keberadaan diriku. Karena akan menyusahkan jika sampai ketahuan oleh pihak musuh. Aku pun mencoba untuk meregangkan tubuhku agar tidak mengantuk lagi.
“Semuanya sudah bangun kah?” tanya Tuan Mack dari HT
“Sudah Tuan Mack” jawab Allan.
“Baguslah kalau begitu. Laporkan keadaan kalian dan jika ada informasi yang ditemukan bisa langsung di sampaikan di sini” suruh Tuan Mack kepada kami.
“Mulai dari diriku sendiri saja dulu. Nanti setelah itu baru kalian. Jadi saat ini kabarku masih baik-baik saja. Belum ada yang patrol pagi di sekitarku di pagi ini. Dan sampai saat ini masih belum ada informasi baru yang kutemukan. Silahkan yang lain ganti melapor” Tuan Mack pun mencontohkan kepada kami.
Kami semua pun mengikuti gaya melapor yang dicontohkan oleh Tuan Mack. Dan kami pun bergantian melaporkan keadaan kami saat ini.
Dan sampai yang terakhir melaporkan pun tidak ada informasi baru yang didapatkan.
“…….Tidak ada informasi baru yang kudapatkan Tuan Mack” kata Joseph sebagai yang melapor paling terakhir dari kami semua
“Haaahhhh. Ya sudah kalau belum menemukan informasinya. Tapi kita semua harus menghafal semua kebiasaan yang terjadi di markas ini dan kalau bisa ya mencari celah dari markas besar ini agar bisa kita manfaatkan saat ingin menyerang markas ini nantinya. Semua mengerti?” tanya Tuan Mack kepada kami.
“Mengerti Tuan Mack” kata kami semua bersamaan.
“Baguslah kalau semua sudah mengerti. Lanjutkan kembali pengintaiannya dan laporkan saja jika terjadi sesuatu” pesan Tuan Mack kepada kami.
Kami semua pun melanjutkan pengintaian kembali.
Aku pun mengambil teropong milikku yang kemarin kupakai untuk mengintai markas Darkness di hari kedua.
Sebenarnya hampir semua sama seperti hari kemarin. Aktivitas pagi hari di markas itu dimulai di jam 08.00. Tapi kali ini kami diberi tugas yang berbeda. Untuk menghafal setiap aktivitas yang terjadi di markas ini dan mencari celah serangan dari markas ini juga.
Beberapa waktu saat mengintai terdengar derap langkah penjaga yang berpatroli di sekitar tempatku mengintai. Tapi mereka tidak bisa melihat dan merasakan keberadaanku karena aku memakai beberapa alat kamuflase seperti dedaunan dan ranting yang ditempel di sebuah baju dan kupakaikan untuk menutupi sekujur badanku.
Dan saat ditengah-tengah mengintai
“Hei Girou, apakah kau ingat tentang rahasia Darkness yang membuat artileri mereka tetap bertahan walaupun di musim dingin?” tanya Allan tiba-tiba kepadaku melalui Handie Talkie.
“Hmmmm yang mana maksudmu Allan?” tanyaku balik karena masih bingung.
“Yang saat itu kutunjukkan bersama yang lain saat masih di Oslo. Tentang dugaan kita terkait adanya suatu sistem mekanisme kenapa artileri berat mereka seperti tank tetap bertahan untuk berlalu lalang di salju yang tebal….”
Aku pun mencoba untuk mengingatnya.
…..Dan sesuai yang dikatakan Allan, di sekitar benteng mereka terdapat meriam-meriam yang tertutupi oleh salju, yang mungkin sebagai bentuk penyamaran mereka. Dan saat Allan menujukkan gambar yang lain, terdapat tank yang diparkirkan rapi. Dan saat Allan menggeser gambar yang lain, terdapat barisan tank yang kemungkinan sedang patroli menjaga benteng tersebut.
“Mungkin mereka memiliki sebuah sistem untuk menjaga agar artileri-artileri mereka agar tidak membeku dan tidak bisa beroperasi karena salju. Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang sistem artileri seperti itu?.......”
“Oh yang itu ya. Ya ya ya. Tapi jarak pandang teropong ku tak bisa menjangkau barisan tank yang kau bicarakan. Sebenarnya bisa sih melihatnya tapi kabur kalau dari sini. Kau pindah saja ke area artileri itu kalau kau tak melihatnya. Tempat itu nampaknya berada di wilayah barat markas. Tapi kalau kau mau pindah ke sana, hati-hati saja. Pasti untuk wilayah artileri seperti itu akan dijaga ketat oleh para penjaga. Itu pesanku untukmu” aku pun memberikan himbauan kepada Allan jika ingin melihat lebih jelas wilayah yang ada artileri.
“Siap Girou. Tapi nampaknya itu bisa nanti saja. Karena di sekitarku banyak tentara yang berpatroli” kata Allan kepadaku.
“Ya sudah kalau begitu. Lanjutkan lagi pengintaianmu”
Sambungan Handie Talkie pun terputus.
Saat mengintai, aku menghafal berbagai macam kebiasaan yang terjadi di markas itu. Bahkan kebiasaan penjaga yang berpatroli di sekitarku pun aku mulai menghafalnya. Tapi untuk saat ini aku masih belum menemukan celah pertahanan dari markas Darkness. Dari yang kulihat, tidak ada celah pertahanan yang nampak. Aku pun hanya bisa menghela napas.
Aku pun terus mengintai dan mengintai. Dan tiba-tiba, Joseph pun berteriak melalui HT miliknya.
“Itu dia itu dia!!!”
-To Be Continued-