
Samurai Around The World #36.
Aku pun menuruni tangga dibalik pintu lorong gelap itu sambil berjalan mengendap-endap. Dan saat sudah menuruni tangga, aku melihat berbagai macam artileri yang berjejer rapi di parkiran yang luas itu. Dan aku melihat dimana letak dari tank yang kulihat saat konvoi beberapa hari yang lalu yang memiliki bagian badan yang terkelupas. Aku berpikir bahwa disini mungkin tempat reparasi atau menservis artileri-artileri yang rusak itu.
Aku pun berjalan lurus ke arah barat menuju tempat pusat informasi itu. Aku pun mengendap-endap dari satu tank ke tank yang lain. Aku melihat beberapa tentara yang terus menjaga artileri itu. Tapi aku tetap tenang dan melewati penjaga itu satu persatu.
Dan setelah mengendap-endap dari satu tank ke tank yang lain selama kurang lebih 20 menit, aku akhirnya sampai di ujung barisan dari tank atau artileri yang berjejer itu.
“Fiiuhhh! Akhirnya!” aku pun menghela napas lega.
Tapi perasaan lega itu seakan hilang karena setelah barisan tank yang berjejer tadi adalah bangunan dimana ruang administrasi itu berada. Dan dari barisan terakhir dari tank yang berjejer itu menuju bangunannya ada celah kosong berupa jalan sekitar 10 meter yang jika ada seseorang berjalan disana pasti akan terlihat karena terkena cahaya lampu yang cukup terang di sekelilingnya. Dan juga di bangunan itu ada sekitar 7 pasukan yang berjaga dan kulihat dari raut wajahnya masih belum ada yang mengantuk dan masih tetap terjaga.
Aku pun merasa bingung. Bagaimana caraku untuk ke bangunan itu, melewati celah kosong tadi, dan bisa tidak diketahui oleh penjaga bangunan juga. Otakku pun terus memikirkan bagaimana cara agar bisa melewati penjaga itu. Harus berjalan mengendap-endap kah? Atau menunggu sampai penjaga itu mengantuk kah? Atau cara lain kah? Aku pun bingung.
“Haduh! Ada celah untuk menuju ke bangunan itu. Ada yang berjaga pula. Hmmmmmm. Atau aku bisa berjalan melalui pinggirnya ya? Hmmmmmm” aku pun bergumam pelan.
Aku pun mencoba berpindah ke tank yang paling ujung sebelah kiri. Mencoba mencari sudut yang pas agar aku bisa menyusup.
“Ssseett! Settt!” aku pun melompat dua kali untuk sampai ke bagian kiri barisan tank yang berjejer di parkiran.
“Hmmmmmm. Di sisi sini pun ada penjaganya juga. Walaupun hanya satu sih” ucapku dalam hati.
Aku pun terus memperhatikan keadaan sekitar dan terus berjaga-jaga jika ada celah yang dapat dimanfaatkan.
Dan saat mataku menyisir bangunan yang ada didepanku, aku melihat celah di sisi kiri bangunan yang ada di depanku. Dan posisi celah itu berada di depanku meringkuk. Celah itu berupa satu jalan kecil gelap di sisi kiri bangunan.
Dan aku berpikir bahwa aku bisa memanfaatkannya dengan membelakangi satu penjaga yang ada di depanku ini. Dan kulihat dia adalah penjaga yang paling mengantuk diantara penjaga yang lain.
Dan di sisi kiri celah kosong yang memiliki panjang 10 meter itu tidak terlalu terkena cahaya lampu dan cukup gelap dan tidak terlalu terlihat walau aku berjalan melalui jalan itu jika aku mampu memanfaatkan situasi dimana para penjaga teralihkan pandangannya.
“Hmmmmmmm. Untunglah sekarang aku menemukan celahnya. Tapi walau aku memanfaatkan celah itu pasti akan tetap terlihat karena jalan 10 meter ini. Walau juga di sisi ini jalannya rada gelap sih” aku pun menggumam bingung.
Aku pun terus memikirkan bagaimana cara untuk tidak terlihat saat berjalan di jalan panjang itu.
Dan tiba-tiba sesuatu terjadi.
Aku mendengar ada suara keributan di bagian dekat gerbang utama. Aku pun melongok untuk melihat apa yang terjadi.
Dan suara keributan itu terjadi karena ada satu rombongan artileri yang kembali dan ingin diparkirkan di parkiran besar itu. Dan seketika semua penjaga bangunan yang kutuju itu teralihkan karena datangnya rombongan artileri itu. Semua penjaga itu fokus untuk mengatur parkirnya artileri-artileri yang baru datang itu. Aku pun memanfaatkan kesempatan emas itu.
“Ssseettt! Seettt! Setttt!” Aku pun melompat tiga kali dengan teknik yang diajarkan ayahku kepadaku.
Aku pun akhirnya sampai di celah sempit di pinggir bangunan itu tanpa dilihat oleh para penjaga.
“Fiuuhh!” aku pun menghela nafas lega sekali lagi.
Aku pun mengendap-endap di celah sempit itu.
Aku pun terus berjalan mengendap-endap hingga sampai di ujung bangunan itu.
Dan bangunan itu memiliki 2 lantai. Ruangan yang kutuju tadi ada di lantai satu.
Dan setelah sampai di ujung bangunan, aku melihat ada satu jendela kecil dari satu ruangan dan hanya ruangan itu yang masih menyala dari tiga ruangan di lantai satu itu. Dan disebelah jendela itu ada satu tangga menuju lantai 2. Aku pun mencoba melongok untuk melihat apa yang ada dibalik jendela kaca itu.
Saat aku melongok kan kepalaku di jendela itu. Aku melihat satu orang yang nampaknya masih kerja di ruangan yang cukup kecil itu. Dan setelah kuperhatikan ruangan itu dari jendela kecil, ada banyak buku-buku tebal, banyak kertas ditempel di dinding yang diberi tali merah yang nampaknya sebagai penanda garis merah antar kertas yang ditempel, dan banyak juga kertas-kertas yang berceceran di lantai.
Dan setelah kuperhatikan lagi, ada satu plang di pintu ruangan itu yang bertuliskan “Administrasjon/ Administration”
“Nahh! Ruangan ini yang kutuju dari tadi. Baguslah sudah kutemukan ruangannya” kataku senang dari dalam hatiku.
Tapi ada satu permasalahan lagi. Masih ada orang di dalam ruangan itu. Tidak mungkin aku bisa masuk seenaknya saat ada orang di dalam. Aku pun memutar otak sekali lagi memikirkan cara agar dapat masuk ke dalam sana dan mendapatkan informasinya.
“Haduh! Ada orang lagi di dalam sana” keluhku di dalam hati.
Derap langkah kaki yang terdengar tadi pun semakin lama terdengar semakin dekat.
“Ahhhhh aku akhirnya bisa tidur dengan nyenyak sampai esok pagi” suara seseorang terdengar di telingaku.
“Iya aku juga sama” kata satu temannya lagi.
Dan nampaknya kedua orang tadi berjalan menaiki tangga yang ada di sebelah jendela kecil tadi menuju lantai 2 yang nampaknya menjadi kamar tidur untuk pasukan disini. Aku pun menunggu hingga kedua penjaga itu naik ke lantai 2 dan aku bisa mengintip jendela kecil tadi.
Setelah kutunggu dan menunggu, kurasa sudah cukup aman untuk mengintip lagi.
Aku pun berjalan jongkok ke jendela kecil itu. Dan orang yang ada di dalam nya nampak sudah mengantuk terlihat dari gelagatnya. Kepalanya terayun-ayun ke depan dan orang itu masih kukuh untuk tetap bekerja di dalamnya. Aku pun terus menunggu.
Dan setelah sepuluh menit berjuang melawan kantuk di matanya, orang di dalam ruangan itu pun akhirnya menyudahi kerjanya untuk malam ini. Orang itu pun merapikan tempat kerjanya tadi dan mematikan lampu dan keluar melalui pintu yang ada di depan.
“Yesss! Akhirnya aku bisa masuk dan mengambil informasi yang kucari” kataku senang.
Aku pun mencoba membuka jendela kecil yang kugunakan untuk mengintip tadi.
“Sreeetttt!!” suara jendela yang sedikit tersendat saat dibuka karena ada salju di samping jendelanya.
Aku pun mencoba masuk melalui celah saat jendela itu dibuka. Karena badanku tidak terlalu besar, aku bisa masuk ke sana dengan cukup mudah.
“Baguslah aku sudah di dalam”
Aku pun mengambil senter di tas kecil yang kuselempangkan di punggungku agar aku dapat melihat di ruangan gelap itu.
Aku pun mencari-cari informasi tentang sistem tank-tank besar mereka tetap berjalan walaupun di tempat yang bersalju. Karena jika sudah diketahui maka akan mudah untuk mengalahkan Darkness nantinya.
Kucari-cari di lemari tempat buku-buku tebal berjejer. Kucari dari satu kolom lemari ke kolom lainnya.
“Buku perhitungan. Buku laporan keuangan. Buku catatan anggota. Buku pembagian tugas. Ck, tidak ada buku yang sesuai dengan yang kucari. Dimana ya?” aku pun masih belum menemukan buku tentang informasi yang kucari.
Aku pun mencari informasi di sekeliling ruangan itu dengan senter kecilku.
Aku pun mencoba mendekati meja dan kursi yang berada di tengah ruangan dan menjadi tempat bekerja orang yang kulihat tadi.
Ada satu lembar kertas di atas meja itu. Aku pun mencoba membacanya dengan menggunakan senter kecilku.
“Surat Perjanjian Kerjasama Pasokan Senjata Berat” aku pun membaca judul yang tertulis di atas kertas itu.
“Hmmmmmmm ternyata kertas perjanjian kerja sama. Kerjasama antara Darkness dengan Moon Devil” aku pun membaca dengan siapa kerjasamanya.
Aku pun membaca kertas perjanjian itu sampai bawah.
Dan saat sampai di bawah tanda tangannya, aku pun sedikit terkejut.
“Matt Juhhaer. Pemimpin Darkness” aku membaca nama yang tertulis di bagian tanda tangan organisasi Darkness yang nampaknya adalah pemimpin dari organisasi ini
“Oliver” aku juga membaca nama orang yang bertanda tangan atas nama organisasi Moon Devil.
“Berarti Matt tadi adalah pemimpin Darkness? Hmmmmmm berarti apakah Oliver yang bertanda tangan disebelahnya adalah pemimpin dari Moon Devil” aku pun mencoba untuk menyimpulkan apa yang aku temukan.
Karena terlalu fokus dengan surat perjanjian tadi, aku sedikit teralihkan oleh tujuan utamaku. Yaitu mencari informasi terkait sistem artileri yang bisa tetap beroperasi.
Aku pun berjalan di lemari buku yang satunya lagi. Siapa tau ada informasi yang kucari.
“Catatan Tentang Senjata dan Artileri milik Darkness”
-To Be Continued-