Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 11: Pembentukan Aliansi.



Samurai Around The World #11.


“Selamat pagi, Tuan Igor.”


“Eh, ternyata kamu sudah datang, Nikolaj. Ayo masuk-masuk.”Igor menyuruh Nikolaj masuk.


Di belakang Nikolaj, ada berberpa orang yang memakai baju tentara lengkap seperti Nikolaj.


“Hei! Kalian ternyata ikut datang.” Igor ikut menyapa orang yang berada di belakang Nikolaj.


“Niko menyuruh kami untuk ikut kesini, ini rumahnya Alexander kan? Dimana kau, Alexander?” tanya salah satu orang yang ikut bersama Nikolaj.


“Hei, aku disini, Sergei!!” Alexander pun bergegas  berlari memeluk orang yang disebut Sergei itu


Mereka pun saling berpelukan erat satu sama lain.


“Ayo semuanya cepat masuk.” pinta Alexander kepada para tamunya yang baru datang.


Rumah sederhana pun menjadi ramai karena kedatangan tamu baru. Mereka pun saling berkenalan satu sama lain.


“Perkenalkan nama saya Nikolaj, di sebelah kanan saya ini namanya Sergei,  di sebelah Sergei namanya Volk--“


Bukankah Tuan Volk itu sudah mati?!” sergah Girou kaget.


“Dia bukan Volk yang di Kazan, Girou. Dia adalah adik dari Volk yang terbunuh itu.” jawab  Igor.


“Oh jadi seperti itu, mohon maaf karena sudah memotong perkataannya Tuan Nikolaj tadi.” Girou yang meminta maaf kepada Nikolaj.


“Cih, dasar bocah. Kau tidak tahu sedang berbicara kepada siapa.” kata Nikolaj kejam.


“Sudah lah, Niko. Maafkan saja.” Igor yang menenangkan Nikolaj yang emosi.


“Ya sudah. Hei, bocah. Lain kali kalau bicara yang sopan.” tatap Nikolaj tajam kepada Girou.


“Eh, i-iya Tuan Nikolaj. Tidak akan saya ulangi lagi.” kata Girou sambil menunduk dalam-dalam.


“Ya sudah. Silahkan dilanjutkan lagi perkenalannya.” Igor yang berusaha mendamaikan situasi kembali.


“Di sebelah kiri saya ini namanya Alexandrina, dia adalah adik dari Alexander, sang tuan rumah ini. Itu saja sih perkenalan kami. Mungkin anggota pasukan yang lain akan datang nanti, jadi ditunggu saja. Gantian dong sekarang yang kenalan.” Nikolaj melanjutkan perkenalannya kembali.


“Oh jadi Alexandrina itu adikmu, Alexander? Mantap. Satu keluarga tentara semua.” Felix pun mengatakan hal tersebut sambil menyeringai.


“Iya, Tuan Felix. Ayah saya seorang marinir. Ibu saya dokter. Jadi bisa dibilang saya dan adik saya mengikuti jejak Ayah kami.” jawab Alexander.


“Ya sudah. Perkenalkan semua, nama saya Igor. Di sebelah kanan saya ini namanya Girou. Dan di sebelah Gir—“


“Oh nama bocah brengsek itu Girou rupanya.” potong Nikolaj.


“Sudahlah, bung. Kau seperti anak kecil saja.” Sergei mengingatkan Nikolaj.


Setelah disebut namanya oleh Nikolaj dan dimaki, Girou pun sedikit gentar dengan perangai Nikolaj.


“Tidak apa-apa, Girou. Nikolaj memang seperti itu orangnya. Tapi kalau kau selalu berbuat baik kepadanya, dia tidak akan memakimu bocah brengsek lagi.” kata Sergei untuk menenangkan Girou.


“Iya, Tuan Sergei.”


“Ya sudah, kulanjutkan lagi ya perkenalannya. Di sebelah Girou itu namanya Yamazaki. Dan yang di sebelah kanan sendiri itu bernama Wilhiemma. Mereka bertiga adalah sahabat dekat yang datang dari Jepang untuk misi perdamaian.” Igor melanjutkan perkataannya yang diputus oleh Nikolaj tadi.


“Oh ini yang Tuan Igor ceritakan waktu di telepon itu ya. Nah, Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki ini pergi jauh-jauh dari Jepang kesini menjalankan misi perdamaian karena apa? Disuruh pemerintah Jepang? Atau karena hal lain?” tanya Sergei spontan.


“Mereka kesini atas kemauannya sendiri, Sergei. Mereka diajarkan pengetahuan tentang seorang Samurai yang memiliki wibawa dan kepribadian yang baik. Mereka ingin menjadi seorang samurai yang menjaga perdamaian di dunia. Seperti itu, Sergei.” jawab Alexander.


“Oh jadi seperti itu ya, tujuan yang mulia ya. Ya semoga saja kalian bertiga dapat membantu kami.” harap Sergei kepada Girou dkk.


“Iya, Tuan Sergei.” balas Girou.


“Cih.” cibir Nikolaj sambil meludah.


Melihat Nikolaj yang seperti itu, Sergei pun hanya menghela napas.


“Ya kulanjutkan lagi, di sebelah ki-“


“Tidak perlu, Tuan Igor. Kami sudah mengenal mereka semua. Allan, Gloria, Alexander, dan Tuan Felix kan?” tanya Sergei kepada Igor.


“Tunggu sebentar, dari mana kalian tahu namaku?” tanya Felix curiga kepada Sergei.


“Sebelum kami kesini, kami sebenarnya sudah tahu siapa-siapa kalian dan apa maksud tujuan kalian pergi ke Soviet. Kami hanya tidak mengetahui nama dari tiga pemuda ini. Sebelum Tuan Igor memberitahu kami tentang rencana penyusupan kalian di Gedung Presiden berberapa hari ke depan, kami sudah mengetahuinya dari dulu. Jadi mengingat nama-nama kalian tidaklah sulit.” kata Sergei enteng.


Mendengar perkataan tersebut, Girou dan yang lain pun sedikit terkejut. Apakah Soviet akan menentang rencana mereka dan menangkap mereka?


“Tenang saja, kami tidak menangkap kalian ataupun menghalangi kalian. Kami juga sudah muak dengan Negara kami sendiri, bahkan kami sampai ingin sesekali memberi pelajaran kepada pejabat-pejabat yang korup di negeri ini, tapi kami bingung bagaimana caranya. Mungkin kalian dapat membantu kami memberi pelajaran kepada pejabat itu.” kata Nikolaj.


“Ya. Terima kasih atas bantuannya, Nikolaj.” kata Igor sambil menyalami Nikolaj.


“Sama-sama, Tuan Felix.” balas Nikolaj.


“Ya sudah sudah cukup perkenalan namanya, Buat yang belum sarapan, silahkan duduk di meja makan ya. Sergei dan lainnya kan belum sarapan. Ayo ayo sarapan. Makanannya enak loh.” rayu Alexander.


“Eh, iya, Tuan Alexander. Kebetulan saya juga belum sarapan. Ayo teman-teman kita sarapan.” ajak Sergei.


Sergei bersama teman-temannya pun sarapan dengan makanan yang telah disiapkan oleh Alexander. Mereka pun memakan makanan yang disiapkan dengan lahap.


“Apakah makanannya enak, Sergei?” tanya Alexander kepada Sergei.


“Makanannya enak sekali, Alexander.” Jawab Sergei.


“Yang lain bagaimana, enak?” Alexander gantian bertanya kepada yang lain.


“Enak.” jawab Nikolaj pendek.


“Yang satu ini agak pedas sih, tapi enak.” ganti Alexandrina yang menjawab.


Sedangkan Volk hanya mengangguk, yang berarti makanannya Alexander enak.


Tak lama kemudian, makanan yang disajikan Alexander di meja makan habis tak bersisa. Selesai sarapan, Sergei dan teman-temannya pun bergabung dengan yang lain di ruang tengah untuk mengobrol sambil menunggu temannya yang lain. Ruangan tengah di rumah Alexander pun menjadi semakin ramai dengan kedatangan Sergei dkk. Mereka pun saling mengobrol satu sama lain. Tapi tetap saja, Nikolaj masih memasang mimik muka tidak suka dengan Girou. Saking asiknya ngobrol, tidak terasa waktu sudah siang, tapi tamu yang ditunggu pun tidak kunjung datang.


“Haduh. Teman-temanmu yang lain belum datang juga, Sergei?” tanya Igor kepada Sergei.


“Mohon maaf, Tuan Igor. Temanku yang lain masih belum datang. Mereka berkata akan datang siang ini. Kok belum datang ya?” keluh Sergei.


“Ya sudah tidak apa-apa. Tidak usah terlalu buru-buru. Kita tunggu saja mereka.” kata Igor.


“Ya, Tuan Igor. Eh, namamu Gloria bukan?” tanya Sergei sambil menunjuk Gloria.


“Kau yang mengusulkan rencana penyusupan bukan? Bisa kau ceritakan padaku sedikit terkait rencana tersebut?” tanya Sergei semangat kepada Gloria.


“Jadi begini, Sergei.—“


Gloria pun menjelaskan secara singkat  terkait rencana penyusupan tersebut. Nikolaj, Volk, dan Alexandrina pun ikut mendengarkan. Setelah selesai dijelaskan rencana singkat tersebut, Sergei pun memberikan beberapa saran kepada Gloria.


“Kuberi saran sedikit, Gloria. Kalau kamu ingin menyusup ke ruangan Private itu. Jangan hanya penjaga kebersihan dan tentara saja yang diganti. Pengawal Presidennya pun diganti. Biar lebih gampang menyusupnya.” Sergei yang memberi saran kepada Gloria.


“Iya juga ya. Iya deh nanti rencananya begitu saja.” Gloria yang setuju dengan perubahan rencana oleh Sergei.


Tak lama kemudian, tamu yang ditunggu selanjutnya pun tiba.


“Eh ada yang datang tuh. Mungkin dia sudah sampai.” kata Alexander sampai menoleh kearah pintu.


“Iya, sebentar tak lihat dulu.” Alexander yang berinisiatif pun melangkah ke arah pintu.


Alexander pun bergegas menuju pintu tersebut. Dan saat sampai di depan daun pintu, Alexander pun membukanya.


“Siapa disana?” tanya Alexander sambil kepalanya melongok keluar melongok ke luar.


“Eh?! Ternyata kau Alexander. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan dirimu lagi, kawan.” balas salah satu dari teman-teman Sergei yang baru saja datang.


“Leov!! Ternyata kau ikut datang kesini juga. Ayo masuk-masuk.” teriak Alexander girang.


“Yang lain juga masuk ya. Sergei dan yang lain juga sudah menunggu kalian.” Alexander juga mengajak yang lain.


Leov beserta yang lain pun memasuki kediaman Alexander. Mereka pun langsung disambut oleh yang lain.


“Weehh! Tamu yang sudah ditunggu pun tiba.” Kata Sergei untuk menyambut kedatangan Leov dan yang lain.


“Wah, tamunya makin banyak nih. Entar rumahnya Alexander nggak cukup gimana?” celetuk Felix.


“Santai saja, kalau rumahnya gak cukup, tidur diluar ya.” balas Alexander.


Mereka semua pun tertawa mendengar candaan Alexander dan Felix. Suasana rumah Alexander pun menjadi bertambah ramai lagi dengan kedatangan Garvii dan teman-temannya yang lain. Mereka pun langsung saling mengobrol satu sama lain.


“Eh, Leov. Kenapa kau sangat lama tadi?” tanya Igor kepada Garvii.


“Aku tadi sebenarnya makan dulu, jadi agak sedikit lama.” jawab Leov


“Masak makan saja lama begitu? Kau keliling ya?” gantian Sergei bertanya.


“Ya aku tadi agak lupa dimana alamat rumahmu, Alexander. Jadi aku tersesat tadi, jadi ya benar sih kalau keliling sebentar tadi. Hehe.” jawab Leov sambil menyeringai.


“Ya wajar sih kalau kau lupa. Kau kan sudah lama tidak kemari.” kata Alexander.


“Oh ya, kau kesini sudah membawa barang yang kuminta kan, Garvii?” tanya Igor memastikan.


“Pasti sudah saya bawa, Tuan Igor.” jawab Garvii.


“Barang-barang apa sih? Aku penasaran.” serobot Wilhiemma.


“Ada lah nanti. Kau lihat saja, Wilhiemma.” jawab Igor.


“Disini yang namanya Gloria yang mana yah?” tanya Garvii, salah satu teman Leov yang ikut ke Moskow


“S-saya” jawab Gloria sambil angkat tangan.


“Kamu yang mengusulkan rencana itu kan?” tanya Garvii lagi.


“Iya. Sebelum bertanya boleh saya tahu nama anda, Tuan?” Gloria yang bertanya nama Leov.


“Eh, iya ya. Namaku Garvii. Dan disebelah saya ini namanya Jerry, di sebelah Jerry itu namanya Mathev, dan yang paling kanan itu namanya Stanislav.” jawab Leov.


“Ya sudah karena tuan-tuan sudah saling berkenalan, saya akan memberitahu rencana penyusupannya nanti, jadi


nanti rencana nya bla-bla.” Gloria pun menjelaskan secara singkatnya kepada Garvii dan lainnya.


Setelah mendengar rencana dari Gloria, Garvii pun mengangguk-angguk dengan rencana Gloria.


“Hmmm, menarik sekali. Rencana yang bagus, Gloria. Saya akan ikut dengan idenya Gloria. Yang lain bagaimana?” tanya Garvii


“Ya aku sih setuju.” balas Leov


Yang lain pun ikut mengangguk yang menandakan rencana tersebut disetujui oleh Leov dan teman-temannya yang lain.


“Haduh, maaf nih. Aku sudah capek dari tadi muter-muter cari rumahmu.” Leov yang meminta izin kepada Alexander.


“Ya sudah kalau capek, kau istirahat saja diatas.” kata Alexander.


“Yang lain kalau capek bisa istirahat di kamar atas ya.”


“Iya, Alexander.”


Mereka semua pun menjalankan aktivitasnya. Ada yang membaca buku, ada juga yang sedang tidur-tiduran. Dan tidak terasa malam hampir tiba. Alexander pun yang sudah selesai memasak pun memanggil yang lain untuk turun ke bawah, karena makan malam telah tersaji di meja makan.


“Girou, Yamazaki, Wilhiemma, Niko, dan yang lain! Segera berkumpul di meja makan, karena makan malamnya sudah siap. Cepat, makanannya keburu dingin.” seru Alexander untuk memanggil para tamu-tamunya untuk makan malam.


Yang merasa terpanggil pun bergegas menuju meja makan. Hanya Leov yang masih belum turun.


“Leov kemana sih? Kok belum turun?” tanya Alexander penasaran.


“Dia tadi masih tidur di kamar atas. Aku sudah bangunin dia, tapi dia tidak kunjung bangun. Dia bilang kalau masih mengantuk” jawab Stainslav.


“Ya sudah kalau begitu. Kita bisa bangunkan dia nanti. Yang penting, kita makan saja dulu. Selamat makan, semuanya!" seru Alexander.


“Selamat makan!!” balas yang lainnya.


Mereka semua pun makan dengan lahap. Tak lama setelah mereka makan, Leov pun terlihat menuruni tangga.


“Hei, kalian kok sudah makan duluan sih? Aku nggak diajak.” kata Leov sambil menggerutu.


“Kau kan tadi masih tidur, Leov. Ya sudah cepat kesini mumpung makanannya masih ada.” Alexander yang menenangkan Leov yang menggerutu.


Leov pun segera mendekati meja makan dan mengambil kursi untuk duduk. Kini meja makan itu telah lengkap. Tak butuh waktu lama, makanan yang tersaji pun telah habis. Mereka bahkan sampai bersendawa secara bersamaan. Setelah makan malam selesai, Sergei pun meminta waktu sebentar.


“Kalau kalian ada waktu malam ini, aku ingin berdiskusi dengan kalian terkait rencana penyusupan itu. Bagaimana? Kalian bisa?”


-To Be Continued-