
Samurai Around The World #49.
Malam pun telah tiba. Dan aku pun dibangunkan oleh Joseph seperti janjinya tadi pagi.
“Baguslah badanku sudah segar dan bugar setelah tidur tadi dan sudah siap untuk melanjutkan ke step selanjutnya” kataku bersemangat.
Sebelum berangkat, kami pun merapikan tenda kami dan semua sisa-sisa makanan atau lainnya yang menandakan bahwa kami pernah tinggal disini.
Dan tak butuh waktu lama, tempat yang ditinggali sebelumnya sekarang telah kembali ke keadaan awal dan tidak ada tanda atau petunjuk jika ada orang yang tidur disana.
“Semua persiapan sudah selesai. Tenda juga sudah dirapikan. Tapi sebelum berangkat, aku akan memberitahukan rencana nantinya kepada kalian. Sebentar” Allan pun berniat mengambil sesuatu yang ada di tasnya untuk ditunjukkan kepada kami.
Tiba-tiba Allan membentangkan sebuah kertas yang cukup besar yang berisi sebuah blue print dari bangunan yang akan kami masuki.
“Bangunan di kertas ini adalah bangunan yang ada disana. Dan ini adalah tujuan dari perjalanan panjang kita kemarin dan akan ditutup dengan hasil sempurna, semoga. Jadi kita akan berjalan mengitari bangunan ini dan masuk melalui pintu belakang, karena sangat tidak memungkinkan melalui gerbang depan yang dijaga oleh banyak penjaga bersenjata lengkap. Dan titik ini, kemungkinan adalah titik buta dari penjaga yang berjaga di tower-tower sekeliling pusat markas ini. Jadi kita akan masuk melalui jalan ini” Allan pun menjelaskan kepada kami semua terkait plan yang akan digunakan.
“Setelah berhasil masuk, ada dua tangga di balik pintu ini dan ada jalur lurus untuk melangkah ke ruangan yang lebih tengah di lantai 1. Kita bagi timnya menjadi dua. Ada yang naik ke tangga kanan. Dan ada juga yang naik melalui tangga kiri. Mungkin untuk saat ini rencana yang ku jelaskan sedikit saja. Nanti akan kujelaskan lebih lanjut jika sudah berada di tempatnya. Kita langsung berangkat saja. Kita tidak boleh membuang waktu” Allan pun memasukkan kertas blue print ke tas miliknya.
Kami pun berangkat pukul 11 malam tepat.
Yang memimpin rombongan kali ini adalah Tuan Mark. Sedangkan aku sama seperti yang sebelumnya. Berada di barisan paling belakang bersama Lowenn dengan membawa teropong yang selalu kuandalkan akhir-akhir ini.
Kami berjalan sesuai rute yang sudah dijelaskan. Berjalan memutari pusat markas yang jika dilihat sekilas memiliki ukuran yang cukup besar.
Aku mendengar suara seperti dengkuran orang yang sedang tidur di atas kepalaku.
“Suara apa itu?” tanya Lowenn kepada diriku.
“Itu suara orang yang sedang tidur nyenyak. Tenang saja. Kita masih aman dan belum ada sesuatu yang mencurigakan dan membahayakan Lowenn” kataku kepada Lowenn untuk menjawab pertanyaannya.
Jalan yang kami lalui saat ini lebih sempit dari yang malam kemarin. Dan banyak semak-semak yang menumpuk serta cukup mengganggu kami saat melewatinya.
“Aduh aduh!” aku pun beberapa kali mengaduh sakit karena betis milikku tertusuk oleh semak-semak yang lancip.
“Aduuuhh!” aku pun mengaduh kesakitan tapi rasa sakitnya berbeda dengan yang sebelumnya.
“Apa yang menusuk kakiku kali ini? Kurasa ini bukan duri yang ada di semak tadi” aku pun bertanya-tanya di dalam hatiku.
“Ada apa Girou? Kau tertusuk lagi?” tanya Lowenn karena mendengar suara mengaduhku yang lebih keras.
“Aku juga tidak tahu Lowenn”
Aku pun menoleh untuk melihat apa yang terjadi pada betisku kali ini.
Dan darah merah yang merona pun keluar mengucur dari betis kanan milikku. Dan aku rasa kakiku sakit karena ditembak.
“Kakiku sepertinya tertembak Lowenn!” kataku melaporkan yang terjadi kepada Lowenn.
Rasa sakit di kakiku terasa lebih perih setelah kuketahui kemungkinan penyebabnya.
Lowenn pun memberikan salah satu pistolnya kepadaku untuk berjaga-jaga serta membantuku untuk tetap berdiri.
“Akhirnya keberadaan kita diketahui”
Semuanya pun panik setelah mendengar rintihanku serta perkataan Lowenn barusan dan memberhentikan langkahnya
“Apa katamu tadi Lowenn? Kita sudah diketahui?” tanya Joseph dengan panik.
“Nampaknya seperti itu. Karena kaki kanan Girou sudah ditembak. Tapi aku tidak tahu dimana penembak itu. Berhati-hatilah semuanya. Dibalik kegelapan seperti ini banyak bahaya yang menyertai” Lowenn pun memperingatkan kepada yang lain untuk tetap waspada.
Aku mencoba mencari siapa orang yang membuat kakiku bersimbah darah hingga seperti ini dengan night vision yang ada di teropong yang kubawa.
“Ssseet! Seeet! Seettt!” aku pun memutar-mutar tombol zoom untuk dapat melihat lebih jauh.
“Bagaimana Girou? Apakah kau sudah menemukan sosoknya?” tanya Lowenn.
“Belum. Aku tidak menemukan siapapun disana. Perjalanan kita bagaimana? Dilanjutkan apa tidak? Kalau dilanjutkan, maka aku akan tertinggal karena kakiku susah digerakkan karena masih terasa sakit
Semua pun terdiam untuk memikirkan langkah yang tepat.
“Mending kita lanjutkan saja. Lebih baik kita berjalan pelan-pelan saja daripada terdiam disini. Untuk orang yang menembak Girou itu bias urusan nanti. Toh orangnya sekarang juga tidak ada. Jadi kita prioritaskan ke tujuan awal kita. Jika orangnya tadi sudah muncul, baru kita selesaikan urusannya” Tuan Mack pun mengeluarkan usul miliknya.
“Kalau untuk kaki milik Girou yang terluka bagaimana Tuan?” Allan pun bertanya terkait usulan tadi.
“Ya bisa kita obati saja dahulu. Aku membawanya di tas milikku. Sebentar” Tuan Mack pun merogoh-rogoh tas miliknya untuk mengambil kit P3K yang dia bawa.
Setelah menemukan kit P3K miliknya, Tuan Mack pun mengambil perban dan obat merah untuk memberikan pertolongan pertama pada betisku.
“Aduuuhhhh!” aku pun berteriak kesakitan saat Tuan Mack mengobati kakiku.
Tuan Mack pun menekan betisku dan mencoba mengeluarkan besi panas yang masuk ke betis kananku.
“Adduuuhhhhh!! Aduh duh duh!!” aku pun berteriak lebih keras karena ditekan oleh Tuan Mack.
“Tahan Girou, sebentar lagi keluar” Betisku pun ditekan lebih kuat untuk mengeluarkan pelurunya.
Ttiiingg! Peluru yang masuk tadi pun mengeluarkan suara saat mengenai batu di tanah.
“Akhirnya sudah keluar. Sekarang akan ku obati lukanya. Tahan lagi sakitnya Girou” Tuan Mack pun memberitahu kepadaku untuk menahan sakitnya sekali lagi
Tuan Mack pun meneteskan obat merahnya di lubang bekas peluru di betisku tadi. Setelah lukanya selesai di beri obat, Tuan Mack pun menyelimuti seluruh betisku dengan perban agar lebih aman dan agar pengobatan lukanya lebih efektif.
“Fiuuhh! Sip baguslah. Lukanya sudah ditutupi dan diobati. Kau coba gerakkan kakinya dulu Girou, kalau sudah tidak sakit, kita akan lanjutkan perjalannya” Tuan Mack pun memasukkan kit P3K ke tas miliknya.
Aku pun mencoba berdiri dan menggerakkan kaki kananku yang sudah diobati barusan. Dan rasa sakitnya terasa berkurang dan tidak separah sebelumnya.
Tuan Mack pun langsung berjalan untuk memimpin barisan dan diikuti oleh yang lain termasuk diriku.
Kami termasuk diriku berjalan lebih pelan dan senyap karena kejadian tembakan tadi dan sambil menggunakan teropongku yang masih mencari keberadaan siapa orang yang membuat betisku berdarah-darah sebelumnya.
“Berapa lama lagi kita harus melewati jalur memutar ini Allan?” aku pun bertanya kepada Allan yang berjalan di depanku.
“10 menit lagi kemungkinan kita akan sampai di tempatnya. Semoga saja sesuai dan tidak molor seperti kemarin” Allan pun menjawabnya dengan jawaban yang jelas.
“Oh begitu ya” aku pun mengangguk-angguk paham.
Kami pun terus berjalan hingga jalan yang kami susuri menemui sebuah bangunan yang menjadi akhir jalurnya
“Nah ini adalah akhir dari jalurnya. Kita masuk melalui pintu ini” Ternyata bangunan ini adalah tujuan kami.
Allan pun membuka pintu bangunannya. Dan di balik pintunya terdapat dua tangga di samping kanan serta kiri
Wuuuzzz!! Tiba-tiba sesuatu terbang di belakang kepalaku.
“Apa itu?!” kataku sambil menoleh kebelakang.
“Ada apa Girou?” tanya Joseph kepadaku setelah melihatku menoleh karena kaget.
“Aku merasakan sesuatu melesat di belakangku tapi aku tidak tahu itu apa” kataku menjawab pertanyaannya.
Wuuuuzzz! Bleeeepp! Ternyata tadi itu adalah peluru yang ditembakan kepadaku.
-To Be Continued-