
Samurai Around The World #29
Aku pun berjalan mengikuti Joseph menuju ruang makan karena Lewis sudah memasakkan makanan untuk kami. Saat aku sampai di ruang makan, sudah tersaji berbagai macam makanan yang tampaknya lezat. Dan di ruang makan, yang lain pun sudah duduk melingkari meja makan.
“Ayo ayo kesini Girou. Pas sekali makannya sudah matang. Makanannya enak loh” Lewis pun memanggilku sambil membawa sebuah baskom berisi makanan yang masih berasap di tangannya.
Aku pun mengambil satu kursi yang masih kosong dan duduk.
“Selamat makan semuanya!!!” Ucap Tuan Mark.
“Selamat makan!!” balas kami semua bersamaan
Kami semua pun mengambil makanan yang tersaji dan menaruhnya di piring. Kami semua termasuk aku pun memakan lauk yang disajikan dengan lahap. Dan makanan yang tersaji pun habis tak bersisa dengan cepat.
“Bagaimana rasa makanannya? Enak kan?” tanya Lewis kepada kami semua.
“Enak makanannya Lewis. Seperti biasa” Puji Allan.
Kami semua pun mengangguk setuju dengan perkataan Allan.
Setelah sarapan, kami pun membersihkan piring milik kami. Setelah kami makan, kami pun bersantai di ruang tengah karena dari kemarin kami full bekerja tiada henti. Hanya beristirahat saat tidur malam saja. Dan itu pun singkat. Jadi untuk hari ini kami memutuskan untuk sedikit bersantai saja.
“Apa kalian sudah mempersiapkan barang-barang bawaan yang dibutuhkan saat misi nanti?” tanya Tuan Mark.
“Kalau aku sih sudah, kalau Joseph, Allan , dan Girou apakah sudah?” jawab Tuan Zack.
“Aku sudah mempersiapkan barang-barangnya sudah dari jauh-jauh hari. Jadi aku siap jika kita berangkat kapan saja.” Jawab Joseph.
“Aku juga sudah” Allan pun sudah mempersiapkan barang-barang bawaannya.
Aku juga mengganguk karena aku sudah mempersiapkan barangnya dari beberapa hari yang lalu.
“Baguslah kalau begitu. Kalau dari Tuan Zussman apakah tidak ada kabar Lewis?” Tuan Mark pun bertanya kepada Lewis.
“Tuan Zussman akan mengirimkan beberapa informannya untuk membantu kita dalam misi ini. Kata Tuan Zussman, kalian bisa tentukan tanggal keberangkatan kapan saja. Karena pasukan yang akan menemani kalian sudah siap sejak rencana ini kuberitahukan kepada Tuan Zussman. Kalian mau berangkat besok pun tidak apa. Yang penting nanti saat mau berangkat, bisa menelpon Tuan Zussman terlebih dahulu” Lewis pun menjawab pertanyaan Tuan Mark.
“Hmmmmmmm, kalau kita berangkat besok mungkin akan lebih baik. Bagaimana kalau kita berangkat besok saja?” tanya Allan mendadak pada kami.
“Kalau aku sih bebas, mau berangkat besok juga ayo” jawab Joseph yakin
“Kalau Tuan Mark dan Tuan Zack apakah bisa?” tanya Allan.
“Bisa” jawab Tuan Zack singkat.
“Aku juga sama dengan Zack. Bisa” jawaban Tuan Mark pun sama dengan Tuan Zack.
“Kalau Girou?” Allan pun berganti tanya kepadaku.
Aku pun hanya mengangguk. Bertanda aku bisa kalau berangkat besok.
“Baguslah kalau semua bisa. Kau bisa telepon Tuan Zussman untuk memberitahu kalau kita akan berangkat Lewis? Kalau bisa kau saja yang menelpon dan memberitahu Tuan Zussman” tanya Allan kepada Lewis.
“Bisa Allan. Sebentar kutelponkan dulu” jawab Lewis sambil menekan tombol nomor di handphone miliknya.
Kami semua pun menunggu telepon Lewis tersambung.
Dan telepon Lewis pun akhirnya tersambung.
“Halo Lewis. Ada keperluan apa kau sampai menelponku?” tanya Tuan Zussman langsung kepada Lewis.
“Langsung saja Tuan Zussman. Kan kemarin Tuan bilang kepada saya kalau rombongan Tuan Mark akan berangkat untuk menelpon Tuan terlebih dahulu. Jadi disini menyampaikan bahwa tim dari Tuan Mark sudah siap untuk berangkat besok Tuan Zussman. Jadi untuk pertemuan dengan tim yang anda buat sendiri nanti bagaimana?” tanya Lewis kepada Tuan Zussman.
“Hmmmmm, cukup cepat ya untuk siap berangkat besok. Ya sudah kalau Tim Tuan Mark sudah siap akan kuberitahu timku nanti untuk bersiap untuk esok. Dan untuk pertemuannya nanti di benteng saja. Jadi nanti berangkatnya bisa bareng. Untuk lebih jelasnya akan kujelaskan nanti saja. Ya sudah suruh tim mereka untuk beristirahat lebih awal karena mereka akan melakukan perjalanan panjang esok. Nanti ku telpon lagi ya Lewis. Tut tut tut” Tuan Zussman pun menutup teleponnya.
“Sip semua sudah siap untuk berangkat besok. Lebih baik kalau kita beristirahat saja agar besok kita lebih segar menjalani perjalanan yang cukup panjang” saran Allan untuk kami semua.
Sesuai kata Allan, kami pun hanya beristirahat untuk hari esok.
Esok pagi harinya.
“Kami berangkat dulu ya!!! Jaga diri kalian baik-baik juga ya!!” Tuan Mark pun berpamitan sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Ya kalian juga jaga diri dan hati-hati ya” Lewis pun membalas lambaian tangan Tuan Mark.
Dan pas di pukul 6, kami berempat berangkat meninggalkan penginapan kami menuju benteng milik Tuan Zussman.
Jalanan kota Oslo yang biasanya selalu padat sekarang masih sepi. Tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Mungkin karena masih pagi dan orang-orang baru ingin memulai aktifitas di pagi hari mereka. Karena jalanan yang cukup sepi, kami sampai dengan cepat di benteng milik Tuan Zussman. Udara di sekitar benteng terasa dingin karena banyak pohon hutan yang rindang dan menaungi benteng bercampur udara pagi yang dingin.
Kabut tipis yang menyelimuti benteng membuat udara menjadi lebih terasa dingin di kulit. Kami pun berjalan dari mobil menuju ruangan Tuan Zussman karena kemarin malam Allan ditelpon dan kami disuruh untuk di ruangannya saat datang ke bentengnya di pagi hari.
“Tok tok tok, apakah Tuan Zussman ada di dalam?” Tuan Mark pun mengetuk pintunya.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Tuan Mark pun mencoba mengetuk pintu nya lagi.
“Tok tok tok, apakah ada orang di dalam?” Tuan Mark pun mengetuk pintu lebih keras lagi.
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam
“Apakah benar Tuan Zussman ada di dalam? Katamu kemarin kita disuruh berkumpul disini sebelum berangkat” tanya Tuan Mark kepada Allan
“Entahlah Tuan Mark. Aku juga tidak tahu” jawab Allan yang bingung juga
Dan tiba-tiba ada suara derap kaki dari arah belakang kami.
“Hei kalian ternyata sudah datang. Ayo berkumpul di ruanganku” Tuan Zussman pun memanggil kami dan mengajak untuk berkumpul di ruangannya.
Kami semua pun berjalan mengikuti Tuan Zussman dan dibelakang Tuan Zussman ada beberapa orang berbadan tinggi besar yang nampaknya adalah tim pengintai yang disiapkan oleh Tuan Zussman untuk membantu kami saat misi nanti. Setelah masuk ke dalam ruangan, kami semua pun duduk di kursi yang sudah tersedia di dalam ruangan milik Tuan Zussman.
“Tak kusangka kalian datang sepagi ini. Oh ya, ini adalah tim pengintai yang ku bicarakan kemarin dan mereka akan membantu kalian saat misi nanti. Kalian bisa saling memperkenalkan diri” Tuan Zussman pun mempersilahkan kami untuk saling berkenalan.
“Perkenalkan namaku Mack, dan yang disebelah kananku ini namanya Lowenn, dan yang disebelah kananku ini namanya Guzz, dan yang berada di sebelah kanan Lowenn adalah Saint. Kami hanya berempat saja dalam misi ini karena menurut Tuan Zussman kami berempat adalah yang terkuat jadi kami dipilih.” Mack pun memperkenalkan dirinya beserta teman satu tim pengintainya.
Dan ternyata salah satu teman Lewis. Lowenn. Ikut dalam tim pengintai yang dibentuk oleh Tuan Zussman
“Perkenalkan juga namaku Mark, dan di sebelahku ini namanya Zack. Dan yang disebelah Zack itu namanya Allan, yang disebelah Allan itu namanya Joseph, dan yang berada di paling ujung itu bernama Girou. Kami berlima akan bekerja sama dengan kalian dalam misi ini” Tuan Mark pun mengenalkan kami semua.
Kami semua pun saling bersalaman satu sama lain.
“Ok kalau sudah saling berkenalan, kita akan bahas secara singkat rencananya. Jadi sesuai namanya, tim pengintai ini akan mengintai dan mencari informasi saat kita melakukan misi disana. Mereka juga bisa diandalkan jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Dan untuk pembagian tugasnya, kalian bisa bicarakan saat misi nanti. Keberangkatan kalian kesana akan menggunakan jalur darat, atau menggunakan kendaraan darat. Saya sangat tidak menyarankan kalian untuk berangkat menggunakan pesawat atau kapal karena alasan keamanan. Memang akan lebih cepat sampainya tapi juga akan lebih besar juga bahayanya untuk kalian nanti. Kita semua ingin operasi kali ini tak diketahui musuh dan masyarakat umum, jadi jangan macam-macam saat perjalanan dan saat misi yang kalian lakukan. Ingat pesan itu ya” Tuan Zussman pun mengingatkan kami semua sebelum berangkat.
“Siap Tuan Zussman. Kami semua akan pulang dengan aman dan selamat beserta sukses menjalankan misi nanti” kata Mack.
“Ya sudah kalau begitu, sekarang cepatlah menuju mobil dan berangkat karena matahari semakin lama semakin naik dan nanti jalan-jalan akan padat dengan orang yang berangkat kerja di pagi hari. Ini kunci mobilnya” Tuan Zussman pun meletakkan sebuah kunci mobil di meja di depan.
“Nanti siapa yang akan menyetir mobil?” tanya Allan penasaran.
“Aku saja yang menyetir. Aku sudah pernah menjelajahi Norwegia, jadi aku sudah tahu jalannya untuk menuju ke sana” Mack pun mengajukan dirinya untuk menyetir.
“Ok nanti kau saja yang menyetir kami ikut saja”
Kami semua pun mengangkat barang-barang bawaan kami menuju mobil yang akan digunakan selama perjalanan nanti. Dan mobil yang akan digunakan ternyata diparkir cukup jauh dan kami harus berjalan lebih lama lagi.
Mobil yang kami gunakan adalah Mini Humvee. Sebenarnya tadi ingin ditawari untuk naik Humvee dalam ukuran sebenarnya. Karena yang ikut dalam perjalanan cukup banyak, jadi Humvee yang digunakan tidak hanya 1 tapi 2 sekaligus. Kami pun bergotong royong mengangkat barang-barang kami ke dalam bagasi Humvee. Karena kendaraan yang dipakai dua, jadi kami harus menentukan satu sopir untuk menyetir Humvee yang kedua.
“Kan ini Humvee nya ada dua, yang menyetir satu lagi siapa?” tanya Mack kepada kami semua.
Kami pun diam mencari siapa yang cocok untuk menyetir Humvee yang kedua.
“Aku saja deh yang menyetir. Nanti aku ikut dibelakang Tuan Mack saja” Allan pun mengajukan dirinya untuk menjadi supir di Humvee yang kedua.
“Ok lah kalau begitu. Cepat semua naik ke dalam Humvee, kita harus bergegas berangkat” Tuan Mack pun menyuruh kami untuk naik ke dalam kendaraan.
Dan pada pukul tujuh tepat, kami bersembilan pun berangkat.
-To Be Continued-