
Samurai Around The World #22.
“Aku ingin memberangkatkan kalian ke Norwegia untuk berperang mengalahkan Lux Magnum bersama Mark dan Zack.” Jawab Tuan Carl.
Kami pun tersentak saat mendengarnya.
“Kami berangkat ke Norwegia untuk mengalahkan Lux Magnum, Tuan Carl?” tanyaku memastikan.
“Iya. Kita harus bergerak cepat jika ingin mengalahkan Silhouette beserta jaringannya, sebelum pengaruhnya berkembang lebih besar lagi.” Jawab Tuan Carl.
“Apa tidak terlalu cepat untuk pergi kesana, Jenderal Carl?” tanya Allan.
“Tidak, Allan. Kita memang harus cepat mengalahkan mereka. Waktunya juga pas, Mark dan Zack juga sudah berada disini. Jadi mereka bisa membantu kalian untuk mengalahkan Lux Magnum.” Jawab Carl.
Ruangan pun mendadak hening saat. Aku pun hanya menghembuskan napas pelan saat mendengar kami akan berangkat berperang melawan Lux Magnum.
“Kapan kami akan berangkat, Tuan Carl?” gantian Mark yang bertanya.
“Kalian akan berangkat secepatnya kesana. Mungkin beberapa hari lagi. Nanti akan ku kabari lagi. Kalian juga bisa mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan saat menjalankan misi disana.” Jawab Carl.
Mendadak hening kembali.
“Apakah tidak ada yang ditanyakan lagi? Sudah jelas semuanya?” tanya Carl memastikan.
“Mungkin sudah jelas, Tuan Carl. Tidak ada yang ditanyakan lagi.” Jawab Allan.
“Ya sudah kalau sudah jelas kita sudahi saja pertemuan kita kali ini. Mungkin Mark dan Zack bisa kembali kembali ke tempat penginapan yang sebelumnya dan mempersiapkan barang atau alat yang dibutuhkan. Dan yang lain juga dipersilahkan kembali.” Tutup Tuan Carl.
Kami semua pun langsung membubarkan diri dari ruangan Tuan Carl. Kami pun berpamitan dengan Mark dan Zack, karena mereka tidak menginap di rumah Allan seperti Joseph. Kami semua pun kembali pulang ke rumah masing-masing. Bersiap untuk misi besar selanjutnya.
Dua hari kemudian.
Lagi-lagi telepon rumah Allan berdering berisik. Dan aku terbangun karena suara telepon itu. Aku pun berjalan gontai mendekati telepon itu dan mengangkat gagang teleponnya.
“Halo. Siapa disana?” tanyaku duluan.
“Kau sudah bangun, Girou?" terdengar suara Tuan Carl di seberang sana.
“Kalau aku bangun siapa yang menjawab telepon ini, Tuan Carl?” jawabku sedikit asal.
“Ya ya benar juga. Jadi begini Girou langsung saja, untuk keberangkatan kalian ke Norwegia sudah diurus dan kalian akan berangkat hari ini bersama Mark dan Zack.” Jelas Tuan Carl.
“Yang benar, Tuan Carl?” tanyaku memastikan.
“Ya benar, Girou. Kau sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa kan, Girou?” tanya Tuan Carl.
“Tentu sudah, Tuan Carl. Sudah kusiapkan dari kemarin. Santai saja.” Jawabku.
“Ya sudah mungkin begitu saja, Girou. Sampaikan ini kepada yang lain, untuk dokumen yang akan dibawa saat misi nanti dan beberapa dokumen yang akan kau dan yang lain butuhkan sudah kukirimkan ke Allan. Nanti tinggal memintanya saja.” kata Tuan Carl mengingatkanku.
“Iya siap, Tuan Carl. Nanti akan kusampaikan kepada yang lain.” Kataku yakin.
“Ya sudah kalau begitu, sampai jumpa nanti.”
Tut tut tut. Tuan Carl pun telah memutus sambungan teleponnya. Aku pun berjalan kembali ke kamarku untuk membangunkan Wilhiemma dan Yamazaki. Mereka harus segera kubangunkan, karena hari ini kita semua akan berangkat. Jadi mereka harus bangun secepatnya. Dan kabar baiknya, mereka berdua tidak rewel saat dibangunkan. Setelah membangunkan mereka berdua, aku pun mengambil peralatan mandiku dan bersegera mandi dan bersiap berangkat.
Dan setelah menuruni tangga menuju lantai 1, ternyata yang lain juga sudah bangun.
“Eh, Girou sudah bangun. Selamat pagi.” sapa Allan setelah melihatku turun dari tangga.
“Iya, Allan. Selamat pagi juga.” balasku.
“Aku mendapat pesan dari Mark, kita akan berangkat ke Norwegia hari ini. Apakah benar itu?” tanya Joseph.
“Ya itu benar, Joseph. Barusan tadi pagi aku mendapat telepon dari Tuan Carl kalau kita akan berangkat hari ini. Tadi katanya Tuan Carl, dokumen-dokumen yang akan dibutuhkan saat misi sudah dikirimkan ke Allan. Apakah sudah dikirimkan, Allan?” tanyaku gantian kepada Allan.
“Tadi sih saat mengecek laptopku sih ada pesan dari Jenderal Carl, dan itu berisi beberapa dokumen. Mungkin itu dokumen yang dimaksud.” Jawab Allan.
Setelah Allan menjawab pertanyaanku, Nona Gloria pun keluar dari kamar mandi dan pas saat Wilhiemma dan Yamazaki turun dari tangga.
“Tadi saat di kamar mandi, aku mendengar kalian membahas tentang dokumen-dokumen penting begitu. Itu apa?” tanya Nona Gloria.
“Iya. Aku juga sempat mendengarnya tadi. Apa itu, Allan?” sahut Yamazaki.
“Oh itu, dokumen-dokumen yang dibahas tadi itu adalah dokumen yang akan dibutuhkan kita nanti saat perjalanan misi ke Norwegia. Dokumen itu dikirimkan Jenderal Carl kepada kita. Gitu, Yamazaki.” Jawab Allan.
“Oh iya iya, ini ga ada yang mau mandi lagi nih? Aku mandi duluan ya?” kata Yamazaki.
“Hei hei hei, kau jangan menerobos antrian. Kau terakhir turun kesini berarti kau yang terakhir mandi. Aku yang lebih dahulu turun kesini, jadi aku yang berhak mandi duluan.” Bantah Joseph duluan.
“Ya sudah deh aku belakangan saja. Yang bangun duluan saja yang mandi duluan.” Yamazaki pun menuruti perkataan Joseph.
Kami semua pun berangkat ke bandara menggunakan mobil Allan, dan untungnya barang yang kami bawa muat untuk ditaruh di bak mobil milik Allan. Tak membutuhkan waktu yang lama, kami pun telah sampai di Bandara Internasional Kota Bonn. Kami pun berjalan menuju terminal khusus untuk keberangkatan internasional. Setelah sampai di terminal internasional tersebut, kami pun melihat Tuan Carl beserta Mark dan Zack dan diikuti oleh beberapa tentara. Kami pun berjalan sedikit cepat untuk mendekati Tuan Carl.
“Hei, Jenderal Carl!!” panggil Allan dari jauh.
Tuan Carl pun menoleh kepada kami.
“Oh ternyata kalian sudah datang. Pas sekali, karena setengah jam lagi pesawat kalian akan berangkat.” balas Tuan Carl.
“Tuan Carl tidak ikut ke Norwegia?” tanyaku penasaran.
“Kalau aku ikut berangkat bersama kalian, nanti siapa yang akan berjaga disini? Aku masih belum mendapatkan pengganti yang tepat kalau aku ikut melakukan misi keluar Jerman.” jawab Tuan Carl.
“Ya sudah kalau begitu, kalian bergegaslah berangkat, pesawat kalian akan berangkat sebentar lagi. Kalian harus kembali dengan lengkap dan berhasil saat misi nanti. Semoga kalian semua selamat saat misi nanti.” Tuan Carl pun berpamitan kepada kami.
“Iya, Tuan Carl. Kami akan pulang lengkap semuanya. Tak ada yang kurang satu pun. Doakan kami ya, Tuan Carl.” Balas Joseph.
“Iya, Joseph. Akan ku doakan kalian selalu.” Kata Tuan Carl.
Kami pun melambaikan tangan dan berpamitan sekali lagi sebelum keberangkatan. Setelah berpamitan, kami semua pun berjalan tegap menuju garbarata pesawat. Misi Baru.
Perjalanan menggunakan pesawat memakan waktu sekitar 10 jam perjalanan, dan menempuh jarak sekitar 700 kilometer. Kami tidak langsung mendarat di kota Oslo, ibukota Norwegia. Melainkan mendarat di kota Stockholm. Dan melanjutkan perjalanan darat menuju Oslo. Perjalanan darat menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Dan kami pun tiba di Oslo, pada pagi hari berikutnya. Dan total menghabiskan waktu hampir satu hari perjalanan.
“Kita harus menemui seseorang yang akan membantu kita saat disini.” kata Tuan Mark kepada yang lain setelah sampai di Oslo.
“Siapa orang itu, Tuan Mark?” tanya Joseph.
“Ada lah, kita temui saja orangnya. Dia tinggal di pinggiran Oslo.” Jawab Tuan Mark.
Sebelumnya, Allan meminta kepada Tuan Carl untuk dipinjamkan satu Humvee untuk transportasi mereka saat misi. Dan saat kami datang di Oslo, mobil itu sudah ada di salah satu tempat. Allan pun langsung membawa mobil itu untuk menemui Orang yang dibilang Mark akan membantu dalam misi ini. Mark pun mengarahkan Allan dimana tempat tinggal orang itu.
Rumah orang itu sederhana, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, biasa-biasa saja. Memiliki halaman yang cukup luas dan asri. Dan memiliki berbagai macam tanaman yang ditanam di rumah itu, yang menjadikan rumah itu teduh untuk ditinggali. Mark pun mengetuk pintu rumah itu.
“Tok tok tok, dirumah ada orang?” kata Mark sambil mengetuk pintu rumah itu.
Tak ada jawaban dari dalam rumah.
“Haduh, apakah di dalam ada orang ya. Tadi pas kuhubungi, katanya ada di rumah.” keluh Tuan Mark
“Coba kau ketuk pintunya sekali lagi, Mark. Bisa saja di tidak mendengar ketukanmu tadi.” saran Tuan Zack.
“Iya bisa saja. Coba kuketuk sekali lagi.” Tuan Mark pun mengiyakan perkataan Tuan Zack.
“Tok tok tok. Halo, aku Mark. Kau ada disana?” ketuk Tuan Mark sekali lagi.
Lagi-lagi tak ada jawaban.
“Hmmmmmmm, tidak ada jawaban lagi.” keluh Tuan Mark lagi.
“Apakah benar rumahnya disini, Mark?” tanya Tuan Felix.
“Kalau dari terakhir aku kesini, benar rumahnya disini.” jawab Tuan Mark.
“Nah, bisa saja dia sudah pindah rumah. Coba kau hubungi dia sekali lagi dan tanyakan alamat rumahnya.” saran
Tuan Felix kepada Mark.
“Ah iya juga. Sebentar kutanyakan dulu sebentar.”
Kami pun menunggu jawaban alamat rumah dari orang yang kami cari itu.
Dan tak lama kemudian. Tuan Mark pun berseru senang.
“Sudah dijawab nih sama orangnya. Benar kata Tuan Felix tadi, dia pindah rumah karena suatu alasan. Tapi katanya masih dekat dengan rumahnya yang lama. Dia sudah memberikan alamatnya kepadaku.” kata Tuan Mark senang.
“Syukurlah. Ayo semuanya kembali ke dalam mobil lagi. Kita berganti tujuan sekarang. Kau yang menyetir ya, Tuan Mark. Kau kan yang memegang alamatnya.” Pinta Allan kepada Tuan Mark.
“Siap. Akan kusetirkan mobilnya.”
Kami semua pun kembali ke dalam Humvee untuk berpindah tempat. Tapi yang menyetir bukan Allan, melainkan Tuan Mark. Sesuai dengan permintaan Allan tadi.
Alamat baru orang yang dibicarakan oleh Tuan Mark terletak tak jauh dari rumah lamanya. Hanya berjarak kurang lebih 5 km. Dan hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai kesana.
Setelah sampai ke rumahnya, Mark pun langsung turun dan mengetuk pintu rumah itu. Yang lain pun hanya menunggu di dalam Humvee
“Tok tok tok, apakah kau didalam sana, kawan?” Tuan Mark pun mengetuk pintu rumah itu.
Seseorang pun keluar dari dalam rumah itu.
-To Be Continued-