
Samurai Around The World #40.
“Bangunlah Girou. Kita sarapan pagi dulu. Sudah hampir siap makanannya” Allan pun menggoyang-goyangkan badanku.
Aku pun mencoba menegakkan tubuhku dan kulihat ada kompor yang diatasnya ada panci berisi sup. Di Sebelah kompor yang sedang memasak sup, terhidang roti yang sudah siap disantap jika sup sudah matang.
“Alat-alat masak ini dari mana Allan?” tanyaku kepada Allan.
“Di mobil yang kita gunakan untuk berangkat yang ada disitu” Allan pun menunjuk mobil yang ada disekitar kami.
Dan aku baru ingat bahwa kemarin malam sebelum keberangkatan misi, aku dan yang lainnya berkumpul di tempat dipakirkannya mobil kami saat baru datang beberapa hari kemarin.
“Sedikit lagi matang Girou. Tunggulah sebentar” kata Allan kepadaku sambil menambahkan garam ke panci yang berisi sup itu.
Aku pun hanya melihat Allan, Tuan Mack, Tuan Mark, dan Tuan Zack yang memasak sarapan untuk kami semua.
“Kau duduklah di sana bersama yang lain sambil menunggu sarapannya siap” Tuan Zack pun mengarahkan telunjuknya ke tempat dimana yang lain berkumpul menunggu sarapan.
“Iya Tuan Zack” aku pun berdiri dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Tuan Zack.
Di tempat itu, Joseph, Saint, dan yang lain duduk di atas terpal yang sudah di gelar di atas tanah sambil mengobrol satu sama lain.
“Hei Girou. Cepatlah kemari! Kami sudah menunggumu dari tadi” Joseph pun melambai-lambaikan tangannya untuk memanggilku.
Aku pun berjalan mendekati. Aku pun duduk disebelah Joseph yang masih kosong.
“Kau mungkin kecapekan Girou. Kau terlihat tertidur sangat pulas tadi. Kau juga bangunnya paling terakhir diantara yang lain. Memang ada apa kemarin saat kau menyusup?” tanya Joseph kepadaku.
“Berjalan seperti biasanya Joseph. Cuma tadi ada pertarungan yang tidak diinginkan terjadi. Yang membuat Saint terluka parah sampai seperti itu” aku pun menjelaskannya kepada Joseph.
“Kenapa bisa terjadi pertarungan? Kalian kan menyusup? Kalian ketahuan atau bagaimana?” Joseph masih penasaran dan bertanya lagi.
“Awalnya kami bertiga ingin masuk ke komplek parkiran artileri yang menjadi tujuan kami menyusup. Tapi kami menemui suatu masalah. Yaitu banyaknya tentara yang masih berjaga di pintu utama komplek itu. Dan masalahnya hanya pintu yang dijaga itulah satu-satunya jalan untuk masuk. Kami bertiga pun memikirkan caranya agar bisa masuk. Dan akhirnya aku dan Tuan Mack menyamar masuk ke dalam dengan menyekap dua penjaga di sekitar kami dan mengambil bajunya untuk menyamar ke dalam. Setelah mengambil baju penjaga dan memakainya, aku dan Tuan Mack masuk ke dalam komplek parkiran itu, sedangkan penjaga yang disekap dan dalam kuserahkan kepada Saint yang disuruh Tuan Mack untuk berjaga di tempatnya dan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu tidak diinginkan terjadi” aku pun mengambil air dan meminumnya karena maerasa haus.
“Penjaga itu kau apakan Girou? Masa disekap doang?” Joseph pun yang tak sabaran bertanya lagi kepadaku.
“Sabar dong kalau aku cerita, aku minum dulu. Saat kuserahkan ke Saint itu dalam keadaan pingsan karena disikut oleh Tuan Mack. Dan kami sudah berpesan kepada Saint jika penjaganya bangun lagi, maka dipukul lagi saja biar terpingsan lagi. Tapi entah kenapa malah melawan balik dan membuatku aku, Saint, dan Tuan Mack terluka seperti yang kau lihat. Kau kenapa tidak membuat penjaga itu pingsan Saint?” aku bertanya kepada Saint setelah menjelaskannya kepada Joseph tentang kronologinya.
“Kalau tidak salah aku saat itu mengantuk karena angin malam. Dan aku sedikit tidak sadar saat itu,, dan kantuk ku hilang ketika badanku sudah berdarah. Aku hanya melawan sebentar karena melawan dua orang secara langsung dan aku baru tersadar. Dan setelah banyak luka dalam di tubuhku, aku pun mencoba berpura-pura mati saja agar tidak diserang lagi. Tapi ternyata cara itu tidak terlalu berhasil. Setelah mencoba berpura-pura, dua penjaga itu menusuk punggungku untuk memastikan agar aku beneran mati. Aku pun menahan sakit dan tidak bergerak kesakitan agar berhasil pura-puranya” Saint pun menunjukkan luka dalam yang ada di punggungnya kepada kami.
“Benar luka dalam kelihatannya. Selain di punggung, lukanya dimana saja Saint?” Guzz bertanya kepada Saint.
Saint pun mengangkat bajunya dan terlihat luka di dada, perut, punggung, paha, leher, tangan, dan kaki.
“Wuuhh! Banyak juga lukanya.Apa yang terjadi setelah dua penjaga itu setelah membuat Saint terluka seperti ini?” tanya Guzz lagi.
“Saat aku dan Tuan Mack kembali setelah menyelesaikan misi dan kembali ke tempat Saint berjaga tadi, kami berdua melihat tubuh Saint yang terkapar karena pura-pura tadi. Dan saat kami kembali, tiba-tiba dua penjaga itu melawan aku dan Tuan Mack. Untungnya dua penjaga itu berhasil dikalahkan. Setelah mengalahkan para penjaga yang melawan tadi, kami langsung membunuhnya agar keberadaan kami tidak tersebar jika tidak dibunuh” aku pun melanjutkan ceritanya lagi.
“Bukankah jika dibunuh malah menimbulkan kecurigaan ya Girou?” ganti Lowenn yang bertanya kepadaku.
“Kami menggunakan dua penjaga yang dibunuh itu untuk mengadu domba antara pihak Moon Devil dan Darkness. Jadi kami menuliskan kertas bertuliskan bahwa yang membunuh penjaga itu adalah Moon Devil. Itu cara yang kami gunakan agar tidak diketahui”
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki di belakangku.
“Sarapan sudah siap!!” ternyata suara langkah kaki itu adalah Tuan Mark yang membawa makanan yang sudah matang.
Dan dibelakang Tuan Mark, terlihat Allan, Tuan Mack, dan Tuan Zack yang membawa makanan dan peralatan makan.
“Selamat makan!!” kata kami semua bersamaan.
Aku pun mengambil satu ikan yang telah terhidang sebagai lauk, dan mengambil sup hangat sebagai penghangat tubuh di tengah dinginnya markas Darkness.
“Enak sekali makanannya hahaha! Tidak sia sia aku tidak melupakan resep yang diberikan ibuku” kata Tuan Mark memuji makanannya sendiri.
“Berarti ibu Tuan Mark pintar memasak ya?” Allan yang berada di samping Tuan Mark pun bertanya setelah mendengar perkataannya tadi.
“Ibuku pintar sekali memasak. Karena makanan yang dibuatnya selalu lezat, ayahku tidak pernah telat pulang kerja karena selalu kangen dengan enaknya makanan yang dibuat ibuku. Ibuku juga memberikan beberapa resep makanan yang simpel saat aku menjadi pengintai agar aku dapat selalu merasakan makanan lezat dimanapun aku berada” Tuan Mark pun menjelaskannya kepada Allan.
“Hmmmmmmm iya juga sih. Sup ini juga lezat kuahnya. Berarti jika ada misi bersama, Tuan Mark selalu memasakkan makanan untuk timnya ya?” Allan pun bertanya lagi.
“Iya begitulah”
Kami pun melanjutkan makan sarapan lagi. Dan makanan yang telah disajikan pun habis tak bersisa kurang dari satu jam kemudian.
“Hheeekkk! Kenyang sekali sarapan kali ini. Aku makan banyak sekali pagi ini” aku pun mengeluarkan sendawa karena merasa kenyang.
“Kau mungkin makan banyak sekali karena kemarin belum makan apa-apa. Dan ditambah juga karena kau mengeuarkan energi berlebih saat misi kemarin. Ya tidak apa-apa sih. Itu normal saja, yang penting habis sarapan ini kau tidak lemas dan mengantuk karena kekenyangan. Kalau kau ingin berjaga-jaga dari lapar, kau bisa mengambil persediaan makan yang ada di mobil yang kita gunakan saat menuju kesini.” Saran Tuan Mack kepadaku.
“Siap Tuan Mack. Nanti akan kuambil sebagai jaga-jaga” aku pun mengangguk mengiyakan saran Tuan Mack.
Setelah sarapan pagi selesai, kami semua pun saling bantu-membantu untuk merapikan dan membersihkan peralatan makan yang digunakan seperti panci tempat sup, centong, wadah lauk, dan piring yang digunakan untuk makan.
10 menit kemudian, semua peralatan makan yang digunakan sudah bersih dan sudah rapi tertata di mobil sesuai tempat sebelumnya. Dan aku pun duduk bersandar di pohon karena kenyang.
“Habis ini kita ngapain Allan. Kembali ke tempat kia kemarin atau bagaimana?” tanya Joseph kepada Allan.
“Hmmmmmm mungkin kita beristirahat dulu disini. Mungkin kita bisa menelaah lebih dalam informasi yang kita temukan semalam”
Aku pun mengambil kertas-kertas sobekan buku yang kudapatkan tadi di tasku. Dan tiba-tiba Joseph datang mendekatiku.
“Banyak juga hasil yang kau dapatkan kemarin. Apa saja memang yang kau dapatkan?” tanya Joseph sambil duduk disampingku.
“Kalau tidak salah itu ada tentang pelindung yang dipasang di alat-alat tempur Darkness agar tetap beroperasi dengan baik walau diterpa salju. Habis itu apalagi ya? Hmmmmmm” aku pun mencoba mengingat apa yang kudapatkan.
Joseph pun menunggu jawaban dariku.
“Ah iya, aku baru ingat. Informasi yang kudapatkan itu ada jumlah artileri, kekuatan artileri, dan mekanisme kerja artilerinya” aku pun berhasil mengingat apa saja yang kudapatkan malam kemarin.
“Nah kalau kau mendapatkan informasi apa saja? Apakah hanya pembagian tugas yang kau bilang tadi?” aku pun bertanya balik ke Joseph.
“Tidak ada sih. Hanya segini” Joseph pun mengangkat selembar kertas yang dia dapatkan.
“Masa hanya segitu? Memang tidak ada informasi lain yang lebih penting?” tanyaku kaget setelah mendengar jawaban dari Joseph.
“Disana buku nya tidak terlalu banyak Girou. Dan informasi yang ada disana juga tidak terlalu penting dan kemungkinan bisa dicari sendiri oleh Allan. Dan walaupun aku mencari informasinya di tempat yang diduga banyak informasi, aku tidak bisa menemukan informasi penting seperti ini.” Joseph pun menjawabnya sambil menghela napas.
“Aku pinjam kertas-kertas mu sebentar Girou” kata Joseph sambil mengambil kertas-kertas berisi informasi yang kuambil tadi.
Aku juga meminjam selembar kertas yang tertulis pembagian tugas dari setiap anggota Darkness saat berperang melawan pihak lain yang didapat Joseph.
-To Be Continued-