
Samurai Around The World #41.
“Divisi Pimpinan. Pemimpin Darkness yang tidak ada namanya. Dibawahnya ada Jenderal Pasukan Darat, Laut, dan Udara. Dan lagi-lagi nama mereka diganti dengan sebutannya . Kalau yang darat memiliki nama samaran Sang Alpha. Yang di laut ditulis dengan nama Sang Pemangsa. Dan Jenderal Udara dikenal dengan nama Sang Peregrine Falcon Kau mendapatkan selembar kertas ini di bagian mana Saint? Maksudku kau mengambilnya rak yang berisi buku tentang apa?” tanyaku kepada Saint yang sedang membaca kertas yang dipinjamnya dariku.
“Di bagian rak apa ya? Kalau tidak salah di bagian Administrasi dan Pencatatan deh. Aku sedikit lupa” Saint menjawabnya dengan raut wajah yang tidak terlalu yakin.
“Ya sudahlah aku hanya penasaran saja.”
Aku pun melanjutkan membaca selembar informasi yang sedang kupegang.
“Di bawah nya para jenderal tadi, dibagi lagi menjadi 3 divisi yang berisikan 20.000 di setiap divisi, dan dari tiga divisi itu dibagi lagi dan disebar di 6 bagian markas besar ini. Dan di setiap divisi, dibagi menjadi 2 resimen lagi dan ditugaskan di 6 bagian markas lagi. Hmmmmmmm ternyata cukup besar juga ya.” Aku pun melihat gambar peta markas Darkness di bawahnya.
Aku pun melihat dengan detail dan serius gambar peta di lembar informasi yang berukuran cukup besar itu. Dan ternyata semua 6 bagian markas itu mengelilingi satu gunung yang diberitahu oleh Allan tentang jantung pertahanan yang dijaga ketat.
“Oh mungkin benar perkataan Allan soal pusat dari markas besar ini. Di pinggiran gunung besar itu dikelilingi oleh markas pelindung untuk menjadi benteng yang dapat melindunginya. Tapi gunung itu ada dimana ya? Dari kemarin belum pernah kulihat satu gunung di daerah sini. Hmmmmmmm” kataku bertanya-tanya di dalam hati.
Setelah memperhatikan denah pembagian resimen tadi, aku pun membaca tulisan yang ada di halaman belakangnya, dan tulisan yang ada di belakangnya hanyalah pembagian tentara lagi secara lebih detail hingga yang paling bawah. Dan di halaman di baliknya juga dituliskan beberapa nama strategi yang digunakan Darkness saat menghadapi pertempuran di bagian paling bawah.
“Blitzkrieg. Sandwich. Vengeance. Decoy dan lain sebagainya“ aku pun membaca jenis-jenis strategi yang dituliskan.
Dan tidak ada lanjutan penjelasan dari jenis strategi yang dipakai Darkness.
“Hei Saint, kau nampaknya melupakan satu informasi yang cukup penting deh. Kau lihat tulisan dibawah ini. Tertulis nama-nama strategi yang dipakai oleh Darkness. Dan kemungkinan ada penjelasan lebih lanjut soal strategi itu di halaman atau lembar selanjutnya, kenapa kau tidak mengambilnya?” tanyaku dengan sedikit protes kepada Saint.
Saint yang sedang serius membaca pun menoleh kepadaku.
“Informasi yang kau bilang barusan itu tidak ada Girou. Aku juga tidak bodoh dan terburu-buru saat mengambil informasi itu. Di halaman selanjutnya atau lembar selanjutnya informasi itu tidak ada. Mungkin di lembar yang kuambil itu hanya dituliskan nama strateginya saja. Penjelasan lebih lengkap itu kemungkinan ada di suatu tempat yang lebih aman lagi. Karena itu sesuatu yang penting untuk Darkness” Joseph pun menjawab pertanyaanku.
Aku pun hanya mengangguk-angguk cukup setuju dengan pendapat Saint.
Setelah membaca seluruh isi dari kertas informasi yang dipinjamkan Saint kepadaku, aku pun mengembalikan kertasnya.
“Apakah memang sesedikit ini informasi yang ada di tempat kau menyusup kemarin malam?” tanganku pun menyerahkan kertas yang kupinjam kepada Saint sambil bertanya kepadanya.
“Saat aku menyusup kesana kemarin malam, aku melihat beberapa brankas yang masih dikunci dan kemungkinan berisi sesuatu yang penting dan berharga. Dan bisa saja di dalam brankas-brankas itu berisi kelanjutan informasi dari kertas yang kau pinjam tadi. Tapi untuk informasi yang lebih berharga lagi, ya carilah di puncak gunung yang menjadi jantung pertahanan dari Darkness ini” kata Saint menjawab pertanyaan yang aku tanyakan.
“Tapi apakah kau sudah melihat gunung itu ada dimana Saint? Aku sampai saat ini masih bingung dimana gunung yang dibicarakan Allan. Kan dari peta yang ada di kertas milikmu serta peta yang dimiliki Allan juga menunjukkan bahwa jantung pertahanan itu ada di tengah dari markas ini dan secara tak langsung markas ini menjadi bentengnya” aku pun bertanya bingung.
“Entahlah ada dimana. Mungkin markas ini terlalu luas atau bagaimana. Tapi kata Allan kita sudah mengetahui banyak tentang markas ini saat mengintai 2 hari lalu dan saat misi kemarin. Tapi aku juga masih bingung. Entahlah” Saint ternyata juga masih bingung dimana gunung yang menjadi tempat berdirinya titik paling ‘vital’ dari markas ini.
Setelah selesai membaca selembar kertas yang didapat Saint, aku pun menyandarkan punggungku ke batang pohon dibelakangku karena entah kenapa badanku terasa capek dan lesu lagi di bagian punggung dan kaki, padahal tadi sudah tidur dan istirahat sebentar sebelum sarapan. Mungkin istirahatnya kurang atau bagaimana, aku juga tidak tahu.
Angin semilir di pagi hari dan udara yang sejuk membuat rasa kantuk menghampiri mataku. Beberapa kali aku menggeleng-gelengkan kepala karena mengantuk.
“Heiiii!! Kalian sedang apa? Kau nampak lemas Girou, kau kenapa?” tanya Allan kepadaku.
“Entah kenapa badanku terasa lemas, padahal aku tadi sudah istirahat” aku pun menjawab sambil mengusap mataku yang berair karena mengantuk.
“Ya sudah lah kau bisa beristirahat lagi. Nah Saint, kertas-kertas yang menumpuk ini apa?” Allan bertanya ganti ke Saint sambil duduk setelah berlarian tadi.
“Kertas-kertas ini berisi informasi yang ditemukan oleh Girou semalam. Kalau dibanding dengan yang kutemukan sih lebih banyak. Lihatlah yang kutemukan hanya selembar kertas saja” Saint pun mengangkat selembar kertas berisi informasi yang dia ambil semalam.
“Kenapa bisa sesedikit itu? Kau kan kemarin bertugas dengan Tuan Zack dan Lowenn, apakah kau dan mereka juga tidak menemukan informasi yang lebih banyak Saint?” Allan pun mencecar Saint dengan pertanyaannya.
“Kami bertiga sudah mencari di seluruh sudut ruangan tempat kami menyusup. Dan kami hanya menemui beberapa brankas besar yang dikunci saja, kemungkinan kami akan mendapatkan informasi lebih banyak jika berhasil membukanya. Tapi ya begitulah, sayangnya tidak bisa dibuka karena kami tidak menemukan caranya. Jadi hanya selembar inilah yang aku dan Tuan Mack serta Lowenn bawa” kata Saint menjawab pertanyaan beruntun Allan.
“Ah ternyata itu masalahnya. Ya sudahlah kalau begitu. Kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak nantinya. Ditunggu saja, jangan terburu-buru” kata Allan kepada Saint.
“Hei Allan. Aku mau bertanya. Kau tadi kan menyebut tentang gunung yang menjadi pusat dari seluruh Markas besar milik Darkness ini. Dan dari peta yang ada, menggambarkan bahwa gunung itu ada di tengah markas ini. Tapi sampai saat ini aku tak melihatnya, apa kau tahu gunung itu ada dimana?” aku menanyakan pertanyaan yang sama saat aku menyanyai Saint kepada Allan.
“Gunung itu aku juga masih belum melihatnya. Kemungkinan memang disembunyikan sedemikian rupa agar tidak terlihat. Kan gunung itu menjadi tempat berdirinya bagian terpenting dari Markas sebesar ini. Jadi dibuat tidak agar lebih aman. Aku masih belum melihatnya Girou” ternyata Allan juga belum mengetahui tentang dimana gunung yang kutanyakan.
“Habis melakukan misi kemarin, langkah selanjutnya apa Allan? Mencari gunung itu atau bagaimana?” Allan ditanya lagi oleh Saint.
“Kemungkinan sih akan melakukan hal itu. Cuma nanti akan dibicarakan bersama yang lain” kata Allan menjawab pertanyaan Saint.
“Ya sudah lah kalau begitu”
Tiba-tiba Tuan Mark pun memanggil aku, Saint, dan Allan untuk berkumpul dengan yang lain.
“Hei kalian yang ada disana! Cepatlah kesini” teriak Tuan Mark pun memanggil kami bertiga.
Kami bertiga pun berdiri dari duduk dan berjalan ke tempat berkumpul.
Setelah semuanya berkumpul, Tuan Mark pun langsung berbicara.
“Kita sudah berhasil melakukan misi semalam. Sukses besar bahkan, semuanya berhasil untuk tidak kembali dengan tangan kosong. Semuanya membawa sesuatu yang dibutuhkan. Semuanya juga dapat kembali dengan selamat sentosa, meskipun ada beberapa dari kita yang terluka. Walaupun misi semalam telah berhasil, kita disini tidak akan berleha-leha cukup lama. Jika lebih cepat maka akan lebih baik. Kali ini kita akan melanjutkan misi untuk mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan saat menyerang markas ini nantinya. Kalian semua pasti sudah mendengar tentang gunung yang menjadi tempat berdirinya jantung pertahanan dari Darkness. Yang kemungkinan berisi tentang berbagai macam informasi penting yang akan sangat menguntungkan bagi kita saat menyerbu Darkness nantinya. Mungkin juga berisi berbagai macam rahasia dari seluruh markas ini beserta isi-isinya. Cuma yang menjadi hambatan bagi kita adalah akses ke tempatnya kemungkinan akan sulit. Dan saat ini kita hanya mengetahui tempatnya dari peta yang dimiliki oleh Allan saja, belum melihat bentuk dari gunungnya secara langsung. Jika mencari dari setiap sudut markas ini akan memakan waktu yang sangat lama dan sia-sia bagi kita. Apa sudah ada yang melihat gunung itu?” tanya Tuan Mark kepada kami semua yang berkumpul.
Kami semua pun menggeleng-gelengkan kepala yang mengartikan bahwa tidak ada yang tahu dimana tempat dan bagaimana bentuk dari gunung yang menjadi tempat berdirinya pusat dari markas ini.
“Tidak ada yang tau tempatnya ya. Barangkali dari kalian sudah ada yang mendapat kemungkinan gambaran tempatnya?” tanya Tuan Mark.
Aku pun mengangkat tangan.
-To Be Continued-