
Samurai Around The World #23.
Dan tak lama setelah diketuk pintu rumahnya oleh Mark, orang itu pun keluar dari rumahnya. Orang itu bertubuh tinggi jangkung, memiliki kulit yang putih dan bersih, dan memiliki bola mata yang indah.
“Kau sudah datang, Mark. Maaf tadi sebelumnya tidak memberitahumu kalau aku sudah pindah rumah kesini. Ayo semuanya masuk masuk dulu. Lebih enak kalau kita mengobrol di dalam.” orang itu pun menyuruh kami masuk ke rumahnya.
Kami semua pun bergantian masuk ke dalam rumah Orang yang baru kami lihat itu. Ternyata di ruang tamu rumahnya, orang itu sudah menyuguhkan kami dengan teh hangat dan beberapa cemilan. Kami semua pun duduk di kursi tamu yang sudah disiapkan. Karena kami banyak orangnya, jadi kami ada yang duduk di lantai.
“Kalian tadi berangkat dari mana?” tanya orang itu sebagai pembuka obrolan.
“Kami semua tadi berangkat dari Bonn. Kami berangkat menggunakan pesawat, dan mendarat di Stockholm terlebih dahulu. Dan melanjutkan perjalanan kesini dengan menggunakan jalur darat.” Jawab Tuan Mark.
“Oh ya, kita belum saling berkenalan. Perkenalkan namaku Hugen, aku adalah mata-mata atau intel Militer Jerman Barat. Aku disini bekerja sama dengan Joseph dan beberapa pasukan disini untuk mengintai Lux Magnum. Kami senang mendengar kalian membantu kami untuk mengalahkan Lux Magnum. Aku sudah mengenalkan diriku, gantian kalian bisa memperkenalkan nama kalian terlebih dahulu.” Hugen pun mengenalkan dirinya.
“Perkenalkan nama saya Girou, disebelah kanan saya ini namanya Yamazaki, dan yang berada di sebelah kiri saya namanya Wilhiemma. Dan yang dibelakang itu namanya Allan. Yang berada di sebelah Allan itu ayahnya, namanya Tuan Felix. Yang duduk disebelah Tuan Felix itu namanya, Nona Gloria. Dan yang berada di ujung sendiri itu Tuan Hugen mungkin sudah mengetahuinya.” Aku pun memperkenalkan diriku dan yang lain.
“Iya iya. Kalian kan datang kesini untuk mengalahkan Silhouette, dengan mengalahkan anakannya terlebih dahulu, yaitu Lux Magnum. Apakah kalian sudah memiliki rencana untuk mengalahkannya?” tanya Tuan Hugen langsung.
“Kami sudah mengetahui markas utama dari Lux Magnum. Tapi kami tak ingin untuk menyerangnya secara langsung. Kami ingin mengalahkan pengaruh Lux Magnum terlebih dahulu. Jika sudah dikalahkan pengaruhnya terlebih dahulu, maka akan lebih mudah untuk mengalahkan Bosnya.” Jawab Allan.
“Hmmmmmm, cukup menarik ya. Aku sudah memiliki peta pengaruh dari Lux Magnum. Tapi aku masih bingung untuk menyerang yang mana terlebih dahulu. Mungkin peta pengaruh itu akan lebih bermanfaat jika kuberikan kepada kalian. Peta itu berisi tentang kelompok-kelompok kecil yang berhubungan dengan Lux Magnum. Mereka tersebar banyak di kota ini, jadi untuk mengalahkannya akan sedikit sulit. Mungkin kalian bisa mengalahkannya. Aku percaya pada kalian.” Kata Tuan Hugen sambil menyerahkan peta kekuasaan Lux Magnum itu kepada Allan.
“Terima kasih banyak atas bantuannya, Tuan Hugen.” Allan pun berterima kasih kepada Tuan Hugen.
“Sama-sama anak muda. Aku tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan mereka, jadi kuserahkan pada kalian saja yang kuyakin bisa mengalahkannya.” Balas Tuan Hugen.
“Kau tidak punya beberapa pasukan yang bisa membantu kami, Hugen? Atau beberapa artileri yang dapat digunakan?” tanya Tuan Mark.
“Kalau pasukan sih ada. Mereka adalah pasukan yang diberikan wewenang oleh Tuan Carl kepadaku, jadi istilahnya aku yang menanggung jawabkan pasukan itu. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, tapi mereka dapat
diandalkan dalam berbagai keadaan. Mereka juga setia kepadaku dan Jerman Barat. Aku yakin mereka dapat membantu kalian nantinya.” Tuan Hugen pun menjelaskan pasukannya kepada Tuan Mark.
“Untuk senjata atau Artileri, apakah ada, Hugen?” tanya Tuan Mark.
“Kalau itu sih jelas adanya, ada berbagai senapan, RPG, bahkan Machine Gun pun ada. Kalian bisa menggunakannya kapanpun.”Jawab Tuan Hugen.
“Iya iya, dimana kami dapat menemui pasukan beserta senjatanya itu, Tuan Hugen?” tanya kepada Tuan Hugen.
“Markas mereka berada di pinggiran Oslo. Sudah kutandai di peta itu. Kalian tinggal mengikutinya.” Jawab Tuan Hugen.
“Mungkin kalian bisa menemui mereka secepatnya. Semakin cepat maka akan semakin baik.” saran Tuan Hugen.
“Ya mungkin kita bisa mengunjungi mereka hari ini. Ayo semuanya kita berangkat lagi ke markas mereka. Terima kasih banyak sebelumnya atas bantuannya, Hugen. Kami berangkat dulu.” Tuan Mark pun berpamitan kepada Tuan Hugen.
“Ya Mark. Sama-sama. Semoga kalian selamat sampai markas mereka.” Balas Tuan Hugen.
Tuan Hugen pun mengantarkan kami sampai halamannya dan melambaikan tangan kepada kami saat mobil yang kami kendarai meninggalkan rumahnya. Kami pun menempuh perjalanan menuju markas pasukan yang diberitahu oleh Tuan Hugen. Sesuai yang dibicarakan oleh Tuan Hugen, markas pasukan itu berada di pinggiran kota. Kami menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari rumah Tuan Hugen. Dan saat kami tiba di Markas itu, ada beberapa penjaga yang mengecek kami. Tapi mereka sudah diberitahu oleh Tuan Hugen tadi bahwa kami akan datang kesana, jadi kami bisa melewati penjaga itu.
Markas itu berukuran sangat luas. Memiliki bentuk seperti benteng saat zaman Perang Dunia Kedua. Memang kalau dilihat dari jauh, markas itu terlihat seperti benteng tua yang sudah tak digunakan lagi. Tapi itu hanya penyamaran dari luar saja, dan didalamnya berbentuk seperti benteng biasanya yang terlihat gagah dan mengerikan. Kami pun memarkirkan mobil kami di suatu tempat. Dan setelah kami turun dari mobil, seseorang yang berbadan tegap pun mendatangi kami.
“Ini dengan Tuan Mark ya?” tanya orang itu kepada Tuan Mark.
“Benar. Ada apa?” tanya balik Tuan Mark kepada orang itu.
“Kami diberitahu oleh Tuan Hugen bahwa Tuan akan datang kemari bersama rombongannya. Kami sudah menunggu kedatangan Tuan kesini. Tuan Mark sudah ditunggu di ruangan komandan kami. Tuan bisa pergi kesana bersama yang lain.” Jawab orang itu.
“Nama saya Lewis, Tuan Mark. Nanti untuk lebih lengkapnya akan saya jelaskan di dalam bersama Komandan. Saya juga ditugaskan untuk menemani Tuan Mark dan yang lain.” Jawab Lewis.
Kami semua pun ditunjukkan dimana ruangan komandan itu oleh Lewis. Lewis memiliki badan yang berpostur tinggi dan tegap, kulitnya putih bersih, dan matanya berwarna biru. Setelah kami sudah berada di depan ruangan komandan itu, Lewis pun mengetuk pintunya.
“Tok tok tok, Tuan Mark dan yang lain sudah datang jenderal.” Kata Lewis sambil mengetuk pintu.
“Ya, Lewis. Kau masuk saja dengan Tuan Mark. Pintunya tidak dikunci.” Jawab Komandan itu dari dalam.
Kami pun masuk dan diikuti oleh Lewis. Di dalam ruangan itu, barang-barang di ruangan itu tertata rapi, hanya kertas-kertas saja yang berserakan dimana-mana.
“Ternyata tamu kita sudah datang. Selamat datang, Mark.” Sapa komandan itu.
“Ah, kau ternyata disini kawan. Senang sekali dapat melihatmu lagi. Bagaimana kabarmu dan keluargamu?” tanya Tuan Mark tak sabaran kepada teman lamanya. Mungkin.
“Kita duduk dulu daja, biar ngobrolnya lebih enak.” Kata Komandan itu menyuruh kami duduk.
Kami semua pun duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Kalian tadi habis bertemu dengan Tuan Hugen ya?” tanya komandan itu kepada kami.
“Ya benar, Tuan. Kalau boleh tahu siapa nama tuan sebenarnya?” tanya Allan
“Ya juga ya, kita belum saling berkenalan. Namaku Zussman, aku disini bertugas sebagai pemimpin pasukan Jerman yang dibawahi oleh Tuan Hugen. Aku lah yang akan membantu kalian dalam misi untuk mengalahkan
Lux Magnum. Mungkin kalau bisa ya sekalian Silhouette juga. Kan aku sudah memperkenalkan diri, gentian kalian yang mengenalkan diri kalian masing-masing.” Tuan Zussman pun mengenalkan dirinya.
Aku pun ingin mengenalkan diriku dan yang lain, tapi sudah didahului oleh Tuan Zack.
“Perkenalkan namaku Zack. Aku partner dari Mark saat kami menjalankan misi bersama. Dan yang berada di sebelahku ini kau sudah mengenalnya, dia Mark. Kalau yang berada disebelah Mark itu namanya Girou, dan yang disebelahnya Girou itu sahabatnya yang bernama Wilhiemma dan Yamazaki. Dan yang berada dibelakang itu yang dari kanan ke kiri itu namanya Allan, Gloria, Joseph, dan ayahnya Allan, namanya Tuan Felix.”Tuan Zack pun mengenalkan kami semua.
“Hmmmmmmmm, aku pernah mendengar namamu Girou. Kalau tidak salah kau pernah berhadapan dengan Serigala Alphanya Soviet ya? Aku mendengarnya dari Joseph. Apakah itu benar?” tanya Tuan Zussman kepadaku.
“Aku sebenarnya tidak bisa memastikan bahwa yang kuhadapi itu adalah Sang Serigala Alpha. Aku hanya tahu bahwa dia sangat handal dan mengerikan saat menggunakan belatinya. Tapi sayang, saat itu aku tidak bisa membunuhnya waktu itu, dia melarikan diri setelah meledakkan mobil nya sendiri. Ya memang sih kalau sedang bertarung, dia sangat ganas seperti seorang Serigala Alpha yang sedang mengamuk.” Jawabku.
“Hmmmm ya ya ya. Aku juga diberitahu oleh Tuan Hugen, bahwa kalian ditugaskan oleh Tuan Carl untuk mengalahkan anakan organisasi Silhouette, yaitu Lux Magnum. Kalian pasti sudah menyiapkan rencana atau strategi untuk mengalahkan Lux Magnum sebelum kalian datang kesini, apa strategi kalian untuk mengalahkan Lux Magnum?” tanya Tuan Zussman kepada kami.
“Kami sebelumnya sudah mengetahui beberapa dugaan tentang markas Lux Magnum. Tunjukkan gambarnya kepadanya, Allan.” Suruh Mark kepada Allan.
Allan pun mengambil berberapa kertas dari tasnya dan menunujukkannya kepada Tuan Zussman. Dan Tuan Zussman pun membaca kertas-kertas yang diberikan Allan sekilas.
“Hmmmmmm, ini informasi baru bagi kami. Darimana kau mendapatkan informasi ini, Allan?” tanya Tuan Zussman.
“Aku mendapatkannya informasi itu setelah membobol sistem keamanan organisasi mereka, ya meskipun dalam beberapa kasus, laptop yang kumiliki dibobol balik oleh mereka. Tapi beruntungnya tidak ada informasi penting yang bocor saat mereka membobol laptop milikku.” Jawab Allan.
“Hmmmmmm, berarti kamu termasuk orang yang hebat, Allan. Di timku ini pun tidak ada yang berhasil membobolnya. Dan kau berhasil membobolnya.” Puji Tuan Zussman kepada Allan.
Ruangan pertemuan itu pun hening seketika.
“Jadi apa yang kalian inginkan sebenarnya dari pasukan kami dalam misi ini?”
-To Be Continued-