Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 35: Gelap Gulita.



Samurai Around The World #35.


Setelah berjalan mengendap-endap, aku dan Tuan Mack pun melihat satu gerbang besar yang terlihat tank di dalamnya.


“Nampaknya itu tempat yang kita tuju Girou” kata Tuan Mack kepadaku.


“Iya benar Tuan Mack. Terlihat ada tank di dalam sana” kataku seolah menyakinkan.


“Ayo kita masuk kesana dan ambil informasi yang kita butuhkan. Informasi tentang bagaimana tank-tank mereka tetap bertahan walau diterpa musim dingin” kata Tuan Mack kepadaku dengan semangat.


“Sebentar Tuan. Bagaimana cara kita untuk masuk ke dalam sana? Walaupun kita sudah menggunakan baju yang sama seperti penjaga gerbang sana. Tapi mereka akan menyurigai kita karena seharusnya tidak ada orang yang berlalu lalang di sekitar sini kecuali para penjaga” tanyaku kepada Tuan Mack.


“Oh ya aku hampir melupakan hal itu. Sebentar kucoba tanyakan kepada Allan dulu apakah ada jalan lain untuk masuk ke dalam sana”


“Roger. Allan. Apakah kau masih ada disana?” tanya Tuan Mack kepada Allan.


“Sruuuuttt!! Hahhhh!!” terdengar suara menyeruput yang tampaknya berasal dari Allan yang meminum kopi agar dia tetap terjaga di malam hari.


“Ada apa Tuan Mack menghubungiku? Apakah Tuan sudah sampai di tempatnya?” tanya Allan kepada Tuan Mack yang terdengar oleh telinga ku


“Sudah Allan. Tapi aku dan Girou masih belum masuk ke dalam sana. Kami berjaga-jaga untuk tidak masuk kesana melalui gerbang utama, karena takut akan dicurigai nantinya. Dan untuk masuk kesana, apakah ada jalan lain Allan? Selain dari gebang besar di depan ini” tanya Tuan Mack setelah menjawab pertanyaan Allan.


“Hmmmmmm sebentar. Ada sebenarnya jalan masuk lain selain masuk melalui gerbang depan yang besar itu. Kalian bisa lewati bagian pinggir kiri wilayah parkiran itu. Dan terus maju hingga menemukan satu pintu kayu yang banyak lubangnya. Sebenarnya ada dua pintu yang bisa kalian temukan di pinggir kiri parkiran itu. Kalian bisa masuk melalui pintu yang kedua, karena pintu yang pertama adalah jalan masuk ke ruangan pusat sanitasi wilayah parkiran itu. Dan biasanya ada orang yang berjaga di sana. Kalau di pintu yang kedua itu adalah bekas gudang yang sekarang tidak terpakai dan tidak ada orang yang ada disana. Jadi kalian masuk ke sana saja. Setelah masuk ke pintu itu nanti ku tuntun lagi” Allan pun memberitahu jalan masuk lain selain melalui gerbang besar yang nampaknya berbahaya jika masuk lewat sana.


“Siap Allan” kata Tuan Mack setelah mendengar penjelasan dari Allan.


Tuan Mack pun memutuskan sambungan komunikasinya dengan Allan.


“Ayo Girou. Kita masuk melalui jalan masuk lain sesuai yang diberitahu Allan  yang kau dengar tadi dari HT milikku. Kita harus bergerak cepat agar saat matahari terbit, kita sudah mendapatkan informasinya. Ayo” Tuan Mack pun sudah berjalan menuju pintu yang diberitahu Allan kepada kami.


Aku pun berjalan juga mengikuti langkah Tuan Mack.


Kami pun berjalan mengendap-endap lagi agar tidak ada yang menyadari keberadaan kami.


“Terus berjalan mengendap-endap Girou. Karena sebentar lagi kita memasuki wilayah parkiran yang banyak orang disana” Tuan Mack pun mengingatkanku.


Aku pun hanya mengangguk dan terus berjalan mengendap-endap sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.


Dan setelah 5 menit berjalan mengendap-endap, kami pun melewati gerbang besar yang menjadi jalan masuk utama parkiran artileri itu.


“Kau lihat gerbang itu Girou. Banyak penjaga bersenjata lengkap yang masih tidak mengantuk. Jika kita masuk melalui sana, kita akan dicurigai dan penyamaran kita akan terbuka. Untung ada jalan lain untuk masuk ke dalam sana. Jadi kita tak perlu untuk masuk melalui gerbang itu” kata Tuan Mack kepadaku sambil melihat gerbang besar itu dari semak-semak.


Aku pun melihat gerbang itu dan sesuai yang dikatakan Tuan Mack tadi. Banyak penjaga yang masih segar dan tidak mengantuk yang membawa senjata lengkap.


Kami pun terus berjalan mengendap-endap melalui semak dan melewati gerbang besar dan penjaga-penjaganya itu.


Untuk saat ini penyamaran kami masih aman. Keberadaan kami pun masih belum diketahui.


Setelah mengendap-endap kurang lebih sekitar 15 menit, kami pun sampai di depan pintu yang dikatakan Allan tadi. Pintu kayu yang sudah lapuk dan berlubang.


“Nampaknya pintu yang diberitahu Allan tadi. Sebentar kubuka dulu pintunya. Kau berada dibelakangku dulu” Tuan Mack pun mencoba membuka pintu kayu itu.


“Krrreeekkk” suara kayu yang bergesekan dengan lantai terdengar pelan dan terdengar seperti jarang dibuka.


“Tidak ada siapa-siapa Girou. Masuklah” kata Tuan Mack kepadaku.


Aku pun masuk ruangan mengikuti Tuan Mack.


Di dalam gelap. Aku hanya bisa melihat satu tangga karena terkena cahaya lampu dari luar.


“Allan. Kami sudah berada di ruangan yang kau beritahu kepada kami. Setelah itu kami harus kemana?” tanya Tuan Mack kepada Allan.


Tidak ada jawaban dari Allan.


“Coba hubungi lagi sekali lagi Tuan Mack” kataku kepada Tuan Mack.


“Hei Allan. Apa kau ada disana?” Tuan Mack pun mencoba menghubungi Allan lagi.


“Iya Tuan Mack. Ada apa? Tadi aku masih dihubungi oleh tim Tuan Zack” tanya Allan kepada Tuan Mack.


“Kami berdua sudah datang di ruangan yang kau beritahu. Setelah ini kami harus kemana?” tanya Tuan Mack lagi kepada Allan.


“Tuan Mack dan Girou bisa langsung naik tangga yang ada di ruangan itu. Setelah naik melalui tangga, kalian akan melewati lorong lurus yang panjang. Sebentar kulihat lagi petanya. Oh ya, setelah melewati lorong yang panjang itu, ada satu pintu yang mengarah ke tangga. Kalian bisa menuruni tangga itu untuk ke parkiran artileri itu. Kalian bisa mendapatkan informasinya dari mengamati langsung atau ke ruangan pusat informasinya yang berada di ujung barat parkirannya. Bisa lurus saja melewati parkiran itu nanti akan ketemu ruangan pusat informasinya. Begitu Tuan Mack” Allan pun menjelaskan rute yang harus kami lalui menuju parkiran artileri yang kami tuju.


“Oh begitu ya. Terima kasih Allan” Tuan Mack pun mengucapkan terima kasih kepada Allan karena telah memberitahu rutenya kepada kami.


Tit! Tuan Mack pun mematikan alat komunikasinya.


“Ayo Girou kita menuju tempat yang kita tuju” Tuan Mack pun berjalan duluan di depanku dan aku pun mengikutinya.


Lorong itu memiliki panjang sekitar 250 meter dan gelap gulita di sekelilingnya. Hanya cahaya dari lampu luar yang masuk melalui jendela di sepanjang lorong itu.


Setelah berjalan sekitar 5 menit, kami pun sampai di satu-satunya pintu yang dikatakan Allan.


“Kita mengamati dari jendela disini atau kita menyusup ke pusat informasi itu Tuan Mack?” tanyaku kepada Tuan Mack.


“Kita bagi dua saja Girou. Ada yang mengamati dari jendela ini dan ada yang menyusup ke  pusat informasi itu. Hmmmmmmmm. Mungkin kau saja yang menyusup ke pusat informasinya. Aku berjaga-jaga disini saja. Bagaimana Girou? Apakah kau mau?” tanya Tuan Mack.


Aku pun memikirkan tawaran dari Tuan Mack tadi.


“Hmmmmmmmm bisa Tuan Mack. Aku akan mencoba untuk masuk kesana” Aku pun mengiyakan tawaran Tuan Mack.


“Ya sudah kalau kau mau. Tapi kau sudah tahu lokasinya kan?” tanya Tuan Mack kepadaku.


“Sebentar Tuan Mack. Ku teropong dulu tempatnya. Tadi kata Allan ada di seberang bangunan ini kan?” tanyaku.


“Iya”


Aku pun mengambil teropongku dan mencari tempat yang dikatakan Allan sebagai “Pusat Informasi” di markas besar ini.


Aku pun mengarahkan teropongku dengan pelan-pelan dari kanan ke kiri. Tapi aku masih belum menemukan tempat itu. Aku pun mencoba meneropong sekali lagi dengan pelan-pelan dan teliti dari kanan ke kiri. Dan aku menemukan satu pintu “Administration” atau bisa diartikan sebagai Administrasi. Aku pun berhenti di pintu ruangan administrasi itu. Dan aku berpikir bahwa bagian administrasi itu berhubungan dengan data atau statistik dan berbagai hal lainnya yang tertulis di atas kertas.


“Apakah ruangan administrasi itu adalah pusat informasinya Tuan Mack?” tanyaku memastikan kepada Tuan Mack.


“Sebentar kuhubungi Allan terlebih dahulu” Tuan Mack pun mengambil alat komunikasi miliknya yang ditaruh di samping pinggangnya.


“Roger. Hei Allan. Apakah kau ada disana?” tanya Tuan Mack kepada Allan melalui alat komunikasinya.


Tidak ada jawaban dari Allan.


“Coba kuhubungi sekali lagi. Allan. Apa kau ada disana?” tanya Tuan Mack sekali lagi.


Lagi-lagi tidak ada jawaban.


“Kok Allan tidak menjawab panggilanku dari tadi?” keluh Tuan Mack.


“Coba hubungi sekali lagi Tuan Mack. Bisa saja Allan tadi sedang berbicara dengan tim yang lain” saranku kepada Tuan Mack.


“Iya deh ku coba sekali lagi. Hei Allan. Apa kau ada disana? Jawab pertanyaanku” Tuan Mack pun mencoba memanggil Allan sekali lagi.


Dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari Allan.


“Hoi Allan. Jawab pertanyaanku!” Tuan Mack pun memanggil Allan dengan nada sedikit keras.


“A-da ap-a Tuan Ma-ck? Kreessskkkk” suara Allan pun terdengar putus-putus di telingaku.


“Apakah Ruang Administrasi itu adalah pusat informasi yang kau bilang kepada kami?” tanya Tuan Mack kepada Allan dengan nada sedikit cepat.


“A—paa Tuan Mack? Su-aranya terde-ngar putus-putus” Allan pun memberitahu bahwa suaranya putus-putus.


“Apakah Ruang Administrasi yang ada di barat parkiran itu adalah pusat informasi yang kami cari sesuai dengan petunjukmu tadi?” tanya Tuan Mack sekali lagi dengan lebih jelas.


“I---ya Tu-an Mack. Tit!” Allan pun menjawab pertanyaan Tuan Mack dan langsung terputus sambungannya.


“Benar Girou. Ruangan Administrasi yang kau temukan tadi adalah pusat informasinya. Kenapa ya tadi saat aku menghubungi Allan suaranya terdengar putus-putus? Padahal sebelumnya tadi tidak putus-putus dan terdengar jelas-jelas saja” Tuan Mack pun penasaran kenapa suara Allan tadi putus-putus.


“Aku juga tidak tahu Tuan Mack. Mungkin terkendala sinyal atau bagaimana” aku pun bingung kenapa suara Allan tadi putus-putus.


“Ya sudah Girou. Tempatnya tadi kau sudah tahu. Kau sekarang bisa menyusup kesana. Bagaimana? Apa kau bisa?” tanya Tuan Mack kepadaku.


“Bisa Tuan Mack” aku pun menjawab pertanyaan Tuan Mack.


“Ya sudah kau bisa menyusup ke sana sekarang. Aku akan berjaga-jaga dari sini. Semoga berhasil Girou” kata Tuan Mack menyemangatiku.


“Iya Tuan Mack”


Aku pun membuka pintu lorong itu dan menuruni tangga sambil mengendap-endap menuju Ruang Administrasi itu.


-To Be Continued-