Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 15: Kepulangan yang Tertunda.



Samurai Around The World #15.


“Halo, Gloria.” sapa Carl.


“Halo juga, Jenderal Carl. Bagaimana kabarnya?” tanya Gloria kepada Carl.


“Kabar ku baik-baik saja, Gloria. Eh iya, kudengar dari Felix, kau dan yang lain selesai menjalankan misi ya? Ceritakan padaku dong.” pinta  Carl.


“Iya benar, Jenderal Carl. Jenderal tahu kalau kemarin di Moskow diadakan pertemuan penting?” tanya Gloria.


“Iya, aku tahu. Kalian melakukan misi disana? Kemarin aku melihat berita kerusuhan di Gedung Presiden di Moskow. Itu kalian?” tanya Carl.


“Heeh. Kemarin kami menyusup di sana untuk mendapatkan informasi disana. Untuk informasi yang kami dapatkan akan Allan kirimkan nanti, Jenderal. Ditunggu saja.” Jawab Gloria.


“Oh ya. Girou dan teman-temannya bagaimana?” tanya Carl lagi.


“Jenderal ingin berbicara dengan Girou?” Gloria memastikan.


“Boleh-boleh. Mana anaknya?” pinta Carl.


“Sebentar.”


Gloria pun memberikan gagang teleponnya kepada Girou.


“Halo, Tuan Carl.” sapa Girou.


“Ah, halo juga, Girou. Sudah lama sudah tidak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu dan tamanmu?” tanya Carl.


“Kabarku dan teman-temanku baik dan sehat, Tuan Carl.” jawab Girou.


“Kudengar dirimu dan yang lain bertemu dan berkerja sama dengan pejabat militer disana ya, Girou?'' Tanya Carl.


“Ya benar, Tuan Carl. Kami bekerja sama dalam misi ini dengan Jenderal militer Soviet, Tuan Carl. Mungkin tuan sudah mengetahui namanya.'' Jawab Girou.


“Hmmm, siapa ya. Sebentar kuingat-ingat dulu. Oh, dia bernama Igor ya? Yang benar saja kalian bekerja sama dengannya?" tanya Carl kaget.


“Ya, Tuan Carl. Kami bekerja sama dengannya. Tuan Igor -sangat membantu kami dalam misi ini. Mereka ingin bekerja sama dengan kami karena Tuan Igor ingin memberi pelajaran sekali-kali kepada negaranya sendiri. Jadi kami pun saling bantu-membantu dalam misi ini.”jawab Girou.


“Wow mengesankan. Kapan kalian kembali kesini? Apakah masih lama, Girou?” tanya Carl.


“Kami akan kembali kesana secepatnya. Mungkin minggu depan kami akan pulang setelah menyelesaikan beberapa urusan disini. Ditunggu saja, Tuan Carl.” jawab Girou.


“Ya sudah kalau begitu, akan kutunggu kalian disini. Eh iya, kalau boleh aku ingin berbicara dengan Jenderal Igor? Aku juga ingin berbicara dengan yang lain.” pinta Carl.


“Hmmmm, sebentar akan ku tanyakan terlebih dahulu.”


“Tuan Igor, ini Tuan Carl ingin berbicara dengan Tuan. Apakah bisa?” tanya Girou memastikan.


“Itu Carl mantan Jenderal Wehrmacht itu kan?” tanya Igor.


“Iya, Tuan Igor.” jawab Allan yang duduk disebelahnya.


“Oh, boleh-boleh. Mana telponnya, Girou.” Igor pun melangkah mendekat ke arah Girou.


“Ini, Tuan Igor.” Girou pun memberikan telponnya kepada Igor.


“Halo, ini dengan Igor. Ini dengan Carl ya?” tanya Igor.


“Iya benar. Aku Carl, Jenderal Militer Jerman Barat. Salam kenal, Tuan Igor.” Carl pun mengenalkan dirinya.


“Perkenalkan juga, namaku Igor, aku juga Jenderal Militer Uni Soviet, Salam kenal juga.” balas Igor.


“Mohon maaf, Tuan Igor. Mungkin ini sedikit lancing. Kenapa tuan ingin bekerjasama dengan pihak kami dalam misi ini?” tanya Carl.


“Hmmm, mungkin aku hanya menuruti hati nurani ku saja. Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada Negara brengsek ini. Mungkin itu alasan ku, Carl.” Jawab Igor.


“Oh jadi seperti itu ya. Terima kasih sudah banyak membantu kami dalam misi ini.”Carl pun berterima kasih kepada Igor.


“Sama-sama, Tuan Carl.” balas Igor.


“Mungkin aku hanya ingin bertanya itu, Tuan Igor. Terima kasih banyak atas waktunya. Semoga Tuan selalu  dilindungi. Oh ya, telpon ini jangan diputus terlebih dahulu, Tuan Igor. Saya ingin berbicara kepada Allan. Apakah bisa?” tanya Carl.


“Bisa. Sebentar aku panggilkan terlebih dahulu.”


“Allan, bisa kau kesini? Carl ingin berbicara denganmu sebentar.” suruh Igor.


“Iya. Sebentar.” Allan pun bergegas mendekati Igor.


Igor pun menyerahkan telponnya kepada Allan.


“Iya, Tuan Carl. Ada apa?” tanya Allan.


“Allan, hasil informasi dari misi kemarin secepatnya kirimkan kepadaku. Aku yakin informasi itu penting untukku, jadi kirimkan secepat mungkin. Satu lagi, kau sudah menemukan data-data tentang pejabat Soviet yang terlibat dengan Silhouette, Allan?” tanya Carl.


“Sudah ketemu, Jenderal.” jawab Allan singkat.


“Bagus sekali, Allan. Kirimkan juga daftar dan list namanya juga bersama Informasi dari misi kemarin. Ya sudah mungkin itu saja. Eh, iya, kabar ayahmu bagaimana, Allan. Apakah penyakitnya kambuh atau terjadi hal yang buruk lainnya?” tanya Carl.


“Syukurlah, Jenderal. Ayah disini malah terlihat lebih sehat dan segar. Mungkin beberapa misi membuatnya merasa muda kembali,  Jenderal Carl.”Jawab Allan.


“Iya iya. Syukurlah kalau begitu. Ya sudah mungkin itu saja, Allan. Sampaikan salamku kepada Ayahmu dan kepada yang lain. Kutunggu di Jerman, Allan.” Tutup Carl.


“Ya, Jenderal Carl. Akan saya sampaikan salam anda.”Jawab Allan.


“Ok lah kalau begitu, Sampai jumpa, Allan”


“Sampai jumpa juga, Jenderal." balas Allan.


Carl pun menutup sambungan teleponnya dengan Allan.


“Tadi Jenderal Carl berpesan apa denganmu, Allan?” tanya Gloria.


“Jenderal menyuruhku untuk mengirimkan ringkasan file dari hasil misi kemarin dan kumpulan list nama Pejabat yang berhubungan dengan Silhouette. Mungkin itu saja sih. Oh ya, tadi Jenderal Carl menitipkan salam pada kalian tadi. Itu aja sih.” jawab Allan.


“Oh jadi seperti itu. Ya sudah. Oh ya, kapan kalian akan pulang kembali ke Jerman?” tanya Alexander.


“Mungkin secepatnya, Alexander.” jawab Gloria.


“Kalau kalian balik besok bagaimana?” tanya Alexander.


“Mungkin itu terlalu cepat, Alexander. Mungkin aku akan kembali lusa saja. Aku akan memastikan terlebih dahulu agar jejak kita tidak di dilacak bahkan lebih buruk kita ditangkap.” jawab Gloria.


“Ya. Mungkin itu lebih baik.”


“Kalau Leov akan pulang nanti malam?” tanya Igor kepada Leov.


“Ya kalau sempat. Mungkin aku akan beristirahat terlebih dahulu. Ya sudah aku akan beristirahat di kamar terlebih dahulu.” Leov pun melangkah menuju kamar untuk istirahat.


Malam hari pun tiba.


Leov dan timnya pun yang telah bersiap-siap tadi pagi pun menenteng tas bawaannya.


“Aku akan pulang malam ini. Terima kasih Alexander sudah menerima kami di sini. Ya sudah aku berangkat dulu ya. Bye bye." Leov pun melambaikan tangannya kepada Alexander dan yang lainnya.


“Hati-hati dijalan, Leov. Semoga selamat sampai tujuan.” balas Alexander.


Leov dan timnya pun melesat meninggalkan rumah Alexander. Alexander dan yang lain pun masuk kembali ke rumah untuk beristirahat.


Lusa esok harinya.


Girou, Wilhiemma, Yamazaki, Allan, Felix, dan Gloria pun bersiap untuk pulang kembali ke Jerman Barat. Mereka pun naik mobil bersama Igor karena mobil mereka berada di tempat yang lain.


“Kami pulang dulu ya, Tuan Alexander. Sampai bertemu lagi ya.  Dadah!” Wilhiemma melambaikan tangannya kepada Alexander dan Igor.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah Alexander. Tak berselang lama kemudian, mereka pun sampai di tempat mobil mereka diparkir.


Mereka pun berpamitan dengan Igor.


“Kami akan kembali ke Jerman Barat, Tuan Igor. Terima kasih sudah banyak membantu kami saat disini. Semoga kita dapat bertemu lagi.” Gloria pun berpamitan kepada Igor.


“Ya. Terima kasih juga atas bantuanmu, Gloria. Terima kasih  banyak juga untuk Girou, Yamazaki, Wilhiemma, Allan, dan Felix. Semoga kalian selamat sampai tujuan kalian.” balas Igor.


Girou dan yang lainnya melangkah mendekati mobil mereka. Tiba-tiba ada mobil yang mendekat ke arah mereka. Girou pun melihat mobil itu semakin mendekat ke arah mereka.


“Mobil itu nampaknya akan mendekat ke arah kita. Mungkin mereka mencurigakan. Kalian cepat masuk ke dalam mobil. Bisa saja mobil itu berbahaya. Ayo cepat-cepat!” suruh Girou.


Igor pun segera masuk ke dalam mobilnya kembali. Girou dan yang lainnya pun segera bergegas untuk masuk kedalam mobil mereka. Tapi terlambat, mobil itu sudah mendekati mereka. Orang-orang yang memakai baju jas pun turun dari mobil itu dan menodongkan pistol kearah Girou dkk.


“Diam di tempat. Dan angkat tangan kalian!!” suruh orang itu.


Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki yang panik pun refleks mengangkat tangannya. Allan yang sudah siap di kursi kemudi pun ikut turun karena datangnya rombongan itu. Beserta Igor dengan memegang pistol di tangannya


“Ada apa ini? Kalian siapa?” tanya Felix kaget.


Dari mobil itu, turun satu orang lagi. Memakai jas tapi tidak memegang pistol. Mungkin yang memegang pistol adalah penjaga orang tersebut.


“Selamat pagi. Mohon maaf mengganggu waktu kalian. Tidak, kalianlah yang pertama kali mengangguku. Kalian lah adalah pengganggu di Pertemuan waktu itu kan?” tanya orang itu.


“Hmmm, sepertinya aku mengenal dirimu, Tuan. Kalau tidak salah dirimu adalah salah satu Menteri yang muncul di berita kemarin ya?” Tatap Girou menyelidik.


“Kalian sudah jelas tahu siapa aku. Kalian penyusup sampah di Gedung Presiden waktu itu kan?” tanya orang itu galak.


“Sepertinya kau salah orang tuan. Kami saja tidak tahu ada apa di Gedung Presiden saat ini. Kami hanyalah turis yang sedang berkunjung di sini. Anda seharusnya menyambut tamu dengan baik. Bukan malah seperti ini.” Kata Girou beralasan


“Jangan beralasan! Aku mengenali wajah-wajah kalian. Jangan berbohong!” teriak orang itu.


“Sepertinya kau panik, Tuan. Sepertinya kau dilanda kepanikan karena kau salah. Kami bukanlah orang yang kau cari. Kau salah besar, Tuan.” Girou pun malah mengangkat pistolnya.


Dor!! Dor!! Girou pun menarik pelatuk pistol di sakunya. Dua penjaga pun terjatuh dengan luka tembak tepat di kepala.


Penjaga yang lain membalas tembakan. Girou pun dengan cepat menarik katana di pinggangnya yang sudah disiapkan sebelumnya. Ajaibnya, Girou berhasil menangkis peluru pistol yang ditembakkan dengan tepat dengan menggunakan katananya. Penjaga itu pun terkejut melihat kehebatan Girou dalam menggunakan katana. Tak ambil ragu, Girou pun merangsek maju menebas para penjaga itu.


Ttssaahhh!! Tinggg!! Girou pun berhasil menebas satu penjaga, dan penjaga yang lain mencoba menahan tebasan katana milik Girou. Tapi terlambat, katana Girou sudah menebasnya


Dor!!! Dor! Dor!! Felix pun menembakkan pistolnya tiga kali berturut-turut. Tiga penjaga pun tumbang dengan luka tepat di kepala. Hanya tersisa satu penjaga tersisa, Girou pun mengangkat pistolnya.


Dor!! Penjaga terakhir itu pun tumbang. Girou pun mengacungkan pedangnya kepada orang yang menuduhnya tadi.


“Pergilah dan anggap ini semua tidak pernah terjadi. Atau pedang ini akan menembus lehermu.”ancam Girou sambil mengacungkan pedangnya ke arah leher orang itu.


“Wow, mengesankan, nak.


Orang itu pun mengeluarkan belati dari sakunya dan mencoba menebas Girou dengan belatinya.


Tinggggg!! Tingg!! Suara dentingan belati pun terdengar keras. Orang itu ternyata ahli dalam menggunakan belati di tangannya. Girou pun mencoba menangkis dan bertahan dari serangan belati tersebut. Mereka pun saling beradu serangan. Girou pun mulai kewalahan menghadapi serangan belati orang itu.


“Nampaknya kau masih kuat, nak. Coba yang satu ini.” orang itu pun mengayunkan kedua belati kearah Girou.


Girou pun sedikit kaget melihat dua belati itu menuju ke arahnya. Girou pun refleks mengangkat katananya untuk menangkis belati tersebut. Girou pun berhasil menangkis salah satu belati yang menyerang ke arahnya, tapi Girou tidak berhasil menangkis belati yang satunya.


Sreeett!! Belati tersebut pun melukai pelipis Girou.


“Yare yare. Nampaknya pertarungan ini tidak akan mudah.” Kata Girou sambil memegangi pelipisnya.


Girou pun mencoba menyerang balik dengan katananya. Tapi orang itu pun lagi-lagi menangkis serangan Girou. Mereka pun saling beradu serangan. Suara dentingan pedang dan belati pun terdengar berkali-kali.


Dor!! Dor!! Igor pun mencoba membantu Girou dengan menembak musuhnya dengan pistolnya.


Orang itu pun berkelit dari serangan Girou dan menebas peluru yang ditembakkan oleh Igor. Sama persis yang dilakukan oleh Girou sebelumnya.


Dor! Dor! Dor! Gantian Igor yang menembak ke arah orang itu.


Tinggg!! Tttinggg!! Tinggg!! Lagi-lagi peluru itu pun ditangkis dengan mudahnya oleh orang itu.


“Cih. Susah sekali menembaknya.” keluh Felix.


Tapi tanpa disadari, Yamazaki dan Wilhiemma sudah berada di belakang orang yang sedang dihadapi oleh Girou. Mereka pun meloloskan katana dari sarungnya. Orang itu pun menyadari seseorang telah berdiri dan siap menyerangnya. Yamazaki dan Wilhiemma pun menyerang orang itu bersamaan dengan Girou.


Tinggg!! Tinggg! Tinggg! Dengan mengesankan, orang itu pun menangkis serangan dari Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki.


“Segini saja kekuatan kalian. Cih, sungguh lemah sekali.” ejek orang itu.


Setelah menangkis serangan mereka bertiga, orang itu pun menyerang balik Girou dkk.


Girou, Wilhiemma, dan Yamazaki pun terhempas karena diserang balik oleh Orang itu.


“Yare yare daze. Ok lah jika maumu begitu.”


Girou pun mundur selangkah untuk menyiapkan kuda-kuda untuk menyiapkan serangan terakhir untuk menebas orang itu.


“Bentuk Seni Katana Pertama. Death Round Slash.” Girou pun melesat dan menebas dada orang itu.


Sreettt!!


Dada orang itu pun terluka parah terkena sabetan katana Girou.


Girou pun memasukkan Katananya kembali.


-To Be Continued-