
Samurai Around The World #38.
"Hei Saint. Kami sudah kem–“
Aku melihat tubuh Saint yang berlumuran darah.
"What the!!! Ada apa ini?!" Kataku terkaget.
Aku pun berjalan mendekati tubuh Saint yang terkapar.
Tiba-tiba terdengar suara dari semak belukar yang ada disekitar kami.
"MATILAH KALIAN SEMUA!!! PARA PENYUSUP BRENGSEK!!" dua orang melompat ke arah kami dari semak semak itu sambil memegang pisau di tangannya.
Aku dan Tuan Mack pun terkejut mendengar suara itu.
Dua penjaga tadi pun menyabetkan pisaunya kepadaku dan Tuan Mack.
Aku pun langsung mengambil pisau yang ada di pinggangku.
"Traannggg!!" suara kedua pisau pun beradu yang memekakkan telinga.
Tuan Mack tak sempat mengambil senjata yang dimilikinya dan hanya menangkis serangan lawan satunya dengan tangan kosong.
"Bukkk!! Bukkk!!" Tuan Mack pun menangkis serangan lawannya.
Dalam celah waktu yang singkat, Tuan Mack pun mengambil pisau yang ada di sabuk nya untuk melawan musuh yang ada di depannya.
Situasi pun langsung berubah 180 derajat menjadi menegangkan. 2 lawan 2.
Penjaga yang ada di depanku pun mengambil pisau lagi yang ada di pinggangnya dan menggunakan teknik 2 pisau untuk melawanku.
""Ayo lah kita selesaikan urusan kita disini, orang brengsek!" kata musuh yang ada di depanku.
"Majulah, akan kubuktikan siapa yang terkuat" aku pun membalas perkataan musuhku.
Lawanku pun langsung maju dan mengarahkan kedua pisaunya kepadaku.
Tapi aku tidak panik walau hanya menggunakan satu pisau.
"Tiiinggg!!" Aku pun menangkis serangan dengan pisauku.
Dan yang pisau satunya lagi, kutangkis menggunakan tangan.
"Bukkk!!" Aku pun menyerang balik dada musuhku dengan cepat setelah menangkis serangannya.
"HAHA MATILAH KAU BRENGSEK!!!" aku pun membalas serangan menggunakan pisauku.
"Sseeetttt!!" Lawanku pun tidak sempat menangkis seranganku dan menyebabkan luka yang cukup dalam di dadanya yang membuatnya tersungkur ke belakang karena kesakitan.
"Bagaimana? Apa kau sudah ingin berhenti dan menyerah?" Aku pun mengejek lawanku yang tersungkur di hadapanku.
"Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan kemenangan, anak muda. Baru satu serangan saja, brengsek" lawanku pun berdiri dan siap untuk bertarung lagi.
Orang yang ada di depanku itu pun mengacungkan pisaunya sekali lagi kepadaku tapi dengan lebih cepat.
“KALI INI KAU AKAN MATI BRENGSEK!!” orang itu pun menyabetkan pisau kepadaku dengan lebih cepat dari serangan yang pertama.
Aku pun melompat menghindar ke belakang agar tidak terkena serangannya.
“TERLALU LAMBAT BODOH!!” aku pun membalas serangannya yang tidak berhasil dengan tinju tangan kiriku.
Musuhku pun merunduk menghindari tinju tangan kiriku.
“Ssseeet!!” tinjuku pun hanya meninju angin.
“Haha seranganmu meleset bodoh!!” olok musuhku yang ada di depanku setelah melihat seranganku yang meleset.
Kami pun beradu serangan satu sama lain. Saling menangkis satu sama lain.
“Traanggg!!” pisau kami pun beradu satu sama lain.
Musuhku pun menyabetkan pisau satu lagi yang ada di tangan kirinya kepadaku.
“Sssrreeettt!!” serangan pisaunya pun mengenai dadaku dan membuatku mundur satu langkah kebelakang.
“Kau tidak bisa menangkisnya bodoh! Kau akan kalah karena aku menggunakan dua pisau dan kau hanya satu pisau saja. Kau akan kalah dan mati seperti temanmu itu jika tidak bisa bertahan melawanku. Aku akan membalas tinjuanmu yang membuatku pingsan tadi” kata lawanku setelah berhasil melukai dadaku.
Aku pun sedikit kaget karena dia mengatakan akan membalas tinjuan yang membuatnya terpingsan. Berarti dia adalah penjaga yang dipukul sikut Tuan Mack yang membuatnya pingsan.
“Aku akan mengakhiri hidupmu sekarang jugabodoh!!” penjaga itu pun mencoba menyerangku lagi dengan pisaunya.
Aku pun mencoba menggunakan teknik bela diri yang pernah diajari oleh orang tuaku.
Aku pun memasang kuda-kuda bertahan
“Bentuk pertahanan pertama. Tentakel mematikan” aku pun menyambut serangan penjaga itu dengan teknik pertahananku
“Bukkkkk!!! Bukkkkk!!” aku pun menangkis serangan dua pisau penjaga itu dengan kedua tanganku dengan cepat seperti tentakel gurita yang bergerak dengan cepat.
“Bukkkkk!!” aku pun meninju dada orang itu setelah menangkis serangannya dengan cepat dan membuatnya mundur dua langkah ke belakang.
Aku pun mencoba menyerang lagi tapi menggunakan pisau yang ada di tangan kananku.
“Ssssrreeeetttt!!!” pisauku pun menyabet dada penjaga di depanku sekali lagi di luka yang kubuat sebelumnya dan membuatnya lebih parah.
Aku pun tidak berhenti menyerang. Aku pun ganti menyerang menggunakan kedua kakiku.
“Bukkkkk!!” aku pun mengangkat kakiku cukup tinggi dan berhasil menendang kepalanya.
Bruuuuukkkkk!! penjaga yang ada di depanku pun tersungkur ke tanah setelah kepalanya terkena tendanganku.
“Cih. Hanya segini saja kekuatanmu bodoh”
“Bukkkk!! Bukkk!!” aku pun menyikut muka penjaga yang tersungkur itu dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Setelah berhasil melawan penjaga itu, aku pun berjalan mendekati Tuan Mack yang bertarung melawan penjaga yang satunya lagi.
Aku pun melihat Tuan Mack yang masih bertarung dengan pisaunya melawan penjaga satunya lagi
Srreettt!! Aku pun melihat pisau penjaga itu melukai dada Tuan Mack.
Bukkkk!!! Penjaga itu pun lagsung menendang dada Tuan Mack membuatnya tersungkur.
“Tuaaann Mackkk!!” aku pun berteriak melihat Tuan Mack tersungkur.
Penjaga yang sedang melawan Tuan Mack pun menoleh ke arahku.
“Hei hei hei, ternyata anak muda satu ini masih bisa bertahan. Mari kita selesaikan sekarang anak muda” penjaga itu pun langsung mencoba menyerangku dengan kedua pisau di tangannya.
“Bentuk Pertahanan kedua. Lesatan Bintang” aku pun melesat dengan cepat dan seperti menghilang jika dilihat oleh orang biasa.
Aku pun menghindari serangan penjaga itu dengan teknik bela diri yang kumiliki dan tiba-tiba ada di belakang penjaga itu.
“Hah? Menghilang? Dimana kau brengsek?!” penjaga yang menyerangku pun berteriak panik.
Tanpa banyak omong, aku pun menyerang balik dengan menyabet bagian tengkuk penjaga itu dengan pisauku.
Sreeettttt!!! Pisauku pun menyabet bagian tengkuk leher dengan cukup dalam.
Buuuukkkk!! Aku pun menyerang lagi dengan menendang kaki penjaga itu dan membuatnya terjatuh.
“Apa!? Kau ada dibelakangku? Bagaimana bisa kau tiba-tiba ada di belakangku dan menyerang ku!?” tanya penjaga itu panik sambil memegangi tengkuknya yang terluka.
Aku tak menjawab pertanyaannya.
Bukkkk!! Aku pun langsung menendang wajah penjaga yang terjatuh itu agar dia terpingsan dan tidak sadarkan diri.
Setelah membuat kedua penjaga itu pingsan, aku pun mendekati tubuh Tuan Mack yang berlumuran darah di bagian dadanya.
“Apa kau masih sadar Tuan Mack?” tanyaku kepada Tuan Mack yang terkapar sambil kutepuk badannya.
Tuan Mack pun mulai mengerjap-erjap kan matanya dan mencoba untuk duduk.
“Kau masih hidup Girou? Dua penjaga itu tadi bagaimana?” tanya Tuan Mack setelah membuka matanya.
“Sudah kubuat pingsan Tuan Mack” jawabku.
“Baguslah kalau begitu. Kau datangi dulu Saint yang badannnya terluka tadi. Biarkan aku mengobati lukaku lebih dulu” Tuan Mack pun menyuruhku untuk mengecek Saint yang sangat terluka karena menghadapi dua penjaga tadi.
Aku pun mengangguk dan berjalan dimana tubuh Saint tadi berada.
“Hei Girou. Uhuukk!” Saint pun terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Aku pun berlari mendekatinya.
“Hei hei. Kau jangan memaksakan dirimu untuk duduk Saint. Kau masih terluka sangat parah. Rebahkan tubuhmu. Akan kutangani lukamu terlebih dahulu. Setelah itu kau bisa menceritakan kronologi kejadian tadi” aku pun menyuruh Saint untuk tidur agar aku bisa mengobatinya.
Aku pun mengambil kotak P3K untuk mengobati luka yang ada di tasku. Aku pun membersihkan luka yang ada di tubuh Saint. Setelah itu kuobati dan kuberikan perban agar darah tidak mengalir lagi dan lukanya tertutup.
“Fuhhh!! Baguslah sudah selesai kuobati. Tapi jangan kau paksakan untuk duduk terlebih dahulu jika masih terasa sakit” kataku kepada Saint setelah kuobati lukanya.
“Iya Girou”
“Apakah Saint baik-baik saja Girou?” Tuan Mack pun mendekati kami setelah mengobati luka di tubuhnya.
“Saint baik-baik saja Tuan. Cuma terluka di badannya saja. Itu pun sudah kupakaikan perban jadi semua baik-baik saja” aku menjawab pertanyaan Tuan Mack.
Aku melihat Tuan Mack mendekati kami sambil menyeret dua tubuh penjaga yang menyerang kami tadi.
“Dua tubuh penjaga ini lebih baik kita apakan?” tanya Tuan Mack kepada kami.
Aku dan Saint pun berpikir.
“Kalau kita bunuh bagaimana Tuan Mack?” Saint pun mengeluarkan usulnya.
“Mungkin akan buruk juga jika dibunuh sekarang. Akan menimbulkan kecurigaan. Dan akan menjadi tantangan yang cukup sulit untuk kita” kata Tuan Mack yang nampak kurang setuju dengan usulan Saint.
Kami bertiga pun memikirkan kembali bagaimana cara mengatasi kedua penjaga yang masih pingsan itu. Jika dibiarkan akan menyebabkan keberadaan kami dan yang lain diketahui.
“Bagaimana kalau kita bunuh saja tapi itu sebagai pesan palsu dari Moon Devil kepada Darkness?” mulutku pun mengeluarkan usulan yang ada di otakku.
“Pesan palsu bagaimana Girou?” tanya Tuan Mack untuk memperjelas.
“Mungkin seperti pesan adu domba antara kedua pihak, kita gunakan kedua penjaga ini sebagai fitnah kita kepada Darkness agar curiga kepada Moon Devil, dan nantinya akan terjadi peperangan jika mereka menganggap hal itu serius. Dan akan menguntungkan bagi kita” aku pun memperjelas usulku tadi.
Keadaan pun menjadi senyap seketika.
“Mungkin boleh juga usulmu Girou. Aku setuju dengan idemu. Tuan Mack bagaimana?” Saint pun menyetujui usulanku.
Tuan Mack pun masih diam dan berpikir.
“Ya mungkin bisa kita lakukan. Jika kita lakukan maka lakukanlah secepatnya” Tuan Mack pun menyetujui usulanku juga.
Aku pun mengambil pisauku yang kugunakan untuk melawan penjaga tadi dan berjalan mendekati dua tubuh penjaga yang pingsan itu.
“Bunuh secepatnya Girou. Pagi akan segera datang” kata Tuan Mack.
Aku pun langsung menggorok leher kedua penjaga itu. Darah mengalir deras dari leher penjaga itu.
Setelah aku menggorok kedua penjaga itu, Tuan Mack pun mendatangiku sambil memberikan secarik kertas.
“Taruh kertas ini di sekitarnya, Girou” kata Tuan Mack sambil memberikan kertasnya.
Aku pun membaca kertas itu.
“Untuk Darkness agar berhati-hati. Dari Iblis yang diterpa cahaya bulan”
-To Be Continued-