Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 50: Menemukan.



Samurai Around The World #50.


Dan secara tiba-tiba bahuku mengeluarkan darah segar dengan derasnya.


Allan dan yang lain pun mendekat ke arahku.


“Kita belum tahu dimana orangnya dimana dan siapa. Tapi dia sudah menembakkan pelurunya yang kedua. Sekarang kita cari di sekitar area ini. Karena jika tidak ditemukan maka akan menimbulkan masalah. Semua berpencar” Tuan Mack pun memberikan perintah kepada yang lain.


Semua pun mengangguk dan langsung berpencar ke berbagai arah untuk mencari sosok penembak itu. Dan hanya menyisakan Tuan Mack dan Tuan Mark yang masih menetap untuk merawat lukaku serta menjagaku dari bahaya yang lain. Aku pun langsung berjalan mendekati dahan pohon untuk bersandar dengan tangan yang memegangi bahu yang terus menerus mengeluarkan darah merah sambil dibopong oleh Tuan Mack dan Tuan Mark


“Kau tidak apa-apa Girou? Kau tahu dari mana arah pelurunya datang Girou?” tanya Tuan Mark sambil mengambil alat-alat pertolongan pertama untuk luka.


“Nampaknya dari belakang Tuan. Peluru itu datang saat aku ingin berjalan melewati pintu itu. Sebenarnya sebelum peluru yang ini mengenai bahuku ini, aku merasakan sebuah benda yang melesat dengan cepat di belakang kepalaku. Dan kemungkinan itu adalah peluru yang disasarkan di kepalaku dan untungnya meleset” aku pun menjelaskan semua yang kutahu dan kurasakan.


“Untung saja yang pas sasaran adalah yang di bahu. Kalau yang peluru sebelumnya yang kena maka akan sangat merepotkan. Tapi kenapa kau yang dari tadi terkena tembakannya ya?” Tuan Mark pun terus bertanya sambil merawat lubang di bahu kananku.


“Aku juga tidak tahu Tuan. Mungkin karena dari tadi, aku berdiri di barisan yang paling belakang”


Tangan Tuan Mark pun dengan lihai mengambil peluru yang masuk ke dalam badanku dengan cepat.


“Aduh!” aku pun mengaduh kaget.


“Tahan sebentar. Heemmmmhh!! Nah akhirnya keluar juga penyebab masalahnya” sebuah peluru pun keluar dari bahu kananku.


Setelah peluru yang masuk tadi berhasil dikeluarkan Tuan Mack pun memberi perawatan terhadap luka bahu ku yang meninggalkan lubang yang cukup dalam.


“Puuuhh! Akhirnya selesai juga. Luka ini kemungkinan akan lama dalam pemulihannya Girou. Jadi ditunggu saja. Mana peluru tadi Girou?” Tuan Mark pun bertanya kepadaku dimana keberadaan peluru tadi.


“Untuk apa Tuan Mark?” aku pun malah bertanya balik.


“Mau kulihat-lihat saja bentuknya seperti apa. Kau tau itu ada dimana Girou?” Tuan Mark pun bertanya lagi kepadaku.


“Disitu pelurunya Tuan” aku mengarahkan telunjuk ke sebuah batu yang cukup besar.


Tuan Mark pun mengambilnya dan memeratihatikan peluru yang bersimbah darah di permukaannya itu dengan teliti serta seksama.


“Peluru ini nampaknya memiliki caliber yang besar. Sebentar kuambil peluru pistolku dulu” Tuan Mark pun mencoba membandingkan peluru tadi dengan peluru miliknya.


“Nah kan ukurannya lebih besar. Kalau ukuran ini, ,biasanya digunakan untuk senapan jenis apa, Mack? Aku kurang tahu kalau yang seperti ini” Tuan Mark pun ganti bertanya kepada Tuan Mack.


“Sebentar. Sini pelurunya, biar kulihat dulu. Hmmmmmmm sepertinya ini peluru yang digunakan di senapan seperti Sniper begitu. Kalau untuk senapan serbu begitu biasanya ukurannya hanya setengah dari ini.Ya, jadi peluru ini adalah peluru dari sebuah Sniper. Cuma untuk jenisnya aku tidak tahu yang mana, karena peluru ini adalah ukuran standar dari sniper. Bukan caliber khusus yang dibuat untuk sebuah senapan” Tuan Mack pun menjawabnya dengan panjang dan jelas.


“Waw! Berarti kau memiliki badan yang kuat Girou. Peluru seberbahaya ini kau masih bertahan dan hanya seperti kemasukan peluru biasa” Tuan Mark pun memujiku karena masih bertahan dengan keadaan tertembak oleh peluru sniper barusan.


“Kalau peluru yang masuk di betisku tadi apakah peluru sniper juga Tuan?” aku pun bertanya setelah mendengar peluru yang masuk tadi memiliki caliber yang besar.


“Sepertinya yang masuk ke betis kananmu itu lebih kecil dibanding yang ini. Mungkin itu peluru pistol biasa. Aku juga tidak terlalu ingat kejadian tadi” Tuan Mark pun memberikan jawabannya.


“Oh pantas yang sekarang lebih terasa sakit dibanding yang tadi” kataku di dalam hati sambil mengangguk-angguk.


“Coba kau hubungi yang lain Mack, sudah ketemu atau belum pelakunya. Sudah lama soalnya. Kita tidak boleh menghabiskan banyak waktu kita disini” Tuan Mark pun memberikan perintah kepada Tuan Mack.


“Iya akan kuhubungi”


“Brrtt! Brrrtt! Halo Allan. Apa kau sudah menemukan orangnya? Ganti.” Tuan Mack pun mencoba menghubungi Allan terlebih dahulu dengan menggunakan Handie Talkie miliknya.


Tidak ada suara balasan. Senyap.


“Halo Allan. Kau ada disana?” Tuan Mack bertanya kembali.


“I-iya Brrtt! Tua-an M-mack. A-ada A-pa? Brrttt!” Suara Allan terdengar putus-putus.


“Kau sudah menemukan orang yang menembak tadi?” Tuan Mack pun mengulang pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya.


“A-pa Tuan? Suar-a anda tidak je-elas!” Suara Tuan Mack tadi terdengar tidak jelas oleh Allan dan suara Allan sendiri pun masih putus nyambung.


“Cih! Ada saja masalahnya. Halo halo. Tes tes. Apakah suaraku terdengar jelas olehmu Allan?” Tuan Mack pun mencoba lagi untuk kesekian kalinya.


“Lebi-ih mending Tu-an” Suara Allan terdengar lebih baik sekarang.


“Baguslah kalau begitu. Aku bertanya padamu terkait tugas yang diberikan tadi. Apakah sudah kau temukan orang itu?” Tuan Mack pun bertanya lagi untuk kesekian kalinya.


“Oh itu. A-ku hanya me-nemukan sebu-uah jejak disini. Kalau orangnya masih belum ditemukan. Nampaknya yang lain pun hanya menemukan jejak keberadaannya saja. Karena aku sudah menghubungi yang lain juga sebelumnya” Allan pun menyampaikan sesuatu yang sedikit kurang memuaskan.


“Puh! Begitu ya. Kau coba cari lagi Allan. Kalau dalam 10 menit, kau tidak menemukannya. Kembali saja ke titik awal oke. Ya sudah aku hanya ingin bertanya tentang itu” Tuan Mack pun menutup sambungannya kepada Allan.


HT milik Tuan Mack pun diletakkan kembali di saku celana yang ia pakai.


“Kita tunggu saja. Jika ada perkembangan, kita bagi saja nanti menjadi dua. Jika tidak ada perkembangan tentang sosok yang menyebabkan kita seperti, kita lanjutkan saja dan jangan pedulikan ia. Karena sosok yang seperti itu sangat rawan membunuh dan merusak semua rencana dan hasil yang kita dapatkan disini. Luka bahu dan betismu apakah sudah mulai membaik Girou?” tanya Tuan Mack kepadaku terkait luka tembakan beberapa waktu lalu.


“Rasa sakit dan perihnya sedikit demi sedikit mulai memudar. Cuma tidak sepenuhnya hilang. Kalau digerakkan secara masif, kemungkinan akan tetap sakit. Tapi mungkin kalau dipakai jalan mungkin masih bisa. Semoga luka ini dapat sembuh dalam waktu yang cepat serta tidak bertambah lagi luka atau sakitnya” aku membeberkan apa yang kurasakan.


Tuan Mack dan Tuan Mark pun hanya mengangguk-angguk saja.


Dan 10 menit yang terasa lambat hingga Tuan Mack kembali mengangkat HT-nya untuk mengabarkan Allan lagi.


“Halo Allan. Kembalilah jika tidak ketemu orangnya.”


“Sebentar Tuan. Kita menemukan pelakunya”


-To Be Continued-


Samurai Around The World #50.


Dan secara tiba-tiba bahuku mengeluarkan darah segar dengan derasnya.


Allan dan yang lain pun mendekat ke arahku.


“Kita belum tahu dimana orangnya dimana dan siapa. Tapi dia sudah menembakkan pelurunya yang kedua. Sekarang kita cari di sekitar area ini. Karena jika tidak ditemukan maka akan menimbulkan masalah. Semua berpencar” Tuan Mack pun memberikan perintah kepada yang lain.


Semua pun mengangguk dan langsung berpencar ke berbagai arah untuk mencari sosok penembak itu. Dan hanya menyisakan Tuan Mack dan Tuan Mark yang masih menetap untuk merawat lukaku serta menjagaku dari bahaya yang lain. Aku pun langsung berjalan mendekati dahan pohon untuk bersandar dengan tangan yang memegangi bahu yang terus menerus mengeluarkan darah merah sambil dibopong oleh Tuan Mack dan Tuan Mark


“Kau tidak apa-apa Girou? Kau tahu dari mana arah pelurunya datang Girou?” tanya Tuan Mark sambil mengambil alat-alat pertolongan pertama untuk luka.


“Nampaknya dari belakang Tuan. Peluru itu datang saat aku ingin berjalan melewati pintu itu. Sebenarnya sebelum peluru yang ini mengenai bahuku ini, aku merasakan sebuah benda yang melesat dengan cepat di belakang kepalaku. Dan kemungkinan itu adalah peluru yang disasarkan di kepalaku dan untungnya meleset” aku pun menjelaskan semua yang kutahu dan kurasakan.


“Untung saja yang pas sasaran adalah yang di bahu. Kalau yang peluru sebelumnya yang kena maka akan sangat merepotkan. Tapi kenapa kau yang dari tadi terkena tembakannya ya?” Tuan Mark pun terus bertanya sambil merawat lubang di bahu kananku.


“Aku juga tidak tahu Tuan. Mungkin karena dari tadi, aku berdiri di barisan yang paling belakang”


Tangan Tuan Mark pun dengan lihai mengambil peluru yang masuk ke dalam badanku dengan cepat.


“Aduh!” aku pun mengaduh kaget.


“Tahan sebentar. Heemmmmhh!! Nah akhirnya keluar juga penyebab masalahnya” sebuah peluru pun keluar dari bahu kananku.


Setelah peluru yang masuk tadi berhasil dikeluarkan Tuan Mack pun memberi perawatan terhadap luka bahu ku yang meninggalkan lubang yang cukup dalam.


“Puuuhh! Akhirnya selesai juga. Luka ini kemungkinan akan lama dalam pemulihannya Girou. Jadi ditunggu saja. Mana peluru tadi Girou?” Tuan Mark pun bertanya kepadaku dimana keberadaan peluru tadi.


“Untuk apa Tuan Mark?” aku pun malah bertanya balik.


“Mau kulihat-lihat saja bentuknya seperti apa. Kau tau itu ada dimana Girou?” Tuan Mark pun bertanya lagi kepadaku.


“Disitu pelurunya Tuan” aku mengarahkan telunjuk ke sebuah batu yang cukup besar.


Tuan Mark pun mengambilnya dan memeratihatikan peluru yang bersimbah darah di permukaannya itu dengan teliti serta seksama.


“Peluru ini nampaknya memiliki caliber yang besar. Sebentar kuambil peluru pistolku dulu” Tuan Mark pun mencoba membandingkan peluru tadi dengan peluru miliknya.


“Nah kan ukurannya lebih besar. Kalau ukuran ini, ,biasanya digunakan untuk senapan jenis apa, Mack? Aku kurang tahu kalau yang seperti ini” Tuan Mark pun ganti bertanya kepada Tuan Mack.


“Sebentar. Sini pelurunya, biar kulihat dulu. Hmmmmmmm sepertinya ini peluru yang digunakan di senapan seperti Sniper begitu. Kalau untuk senapan serbu begitu biasanya ukurannya hanya setengah dari ini.Ya, jadi peluru ini adalah peluru dari sebuah Sniper. Cuma untuk jenisnya aku tidak tahu yang mana, karena peluru ini adalah ukuran standar dari sniper. Bukan caliber khusus yang dibuat untuk sebuah senapan” Tuan Mack pun menjawabnya dengan panjang dan jelas.


“Waw! Berarti kau memiliki badan yang kuat Girou. Peluru seberbahaya ini kau masih bertahan dan hanya seperti kemasukan peluru biasa” Tuan Mark pun memujiku karena masih bertahan dengan keadaan tertembak oleh peluru sniper barusan.


“Kalau peluru yang masuk di betisku tadi apakah peluru sniper juga Tuan?” aku pun bertanya setelah mendengar peluru yang masuk tadi memiliki caliber yang besar.


“Sepertinya yang masuk ke betis kananmu itu lebih kecil dibanding yang ini. Mungkin itu peluru pistol biasa. Aku juga tidak terlalu ingat kejadian tadi” Tuan Mark pun memberikan jawabannya.


“Oh pantas yang sekarang lebih terasa sakit dibanding yang tadi” kataku di dalam hati sambil mengangguk-angguk.


“Coba kau hubungi yang lain Mack, sudah ketemu atau belum pelakunya. Sudah lama soalnya. Kita tidak boleh menghabiskan banyak waktu kita disini” Tuan Mark pun memberikan perintah kepada Tuan Mack.


“Iya akan kuhubungi”


“Brrtt! Brrrtt! Halo Allan. Apa kau sudah menemukan orangnya? Ganti.” Tuan Mack pun mencoba menghubungi Allan terlebih dahulu dengan menggunakan Handie Talkie miliknya.


Tidak ada suara balasan. Senyap.


“Halo Allan. Kau ada disana?” Tuan Mack bertanya kembali.


“I-iya Brrtt! Tua-an M-mack. A-ada A-pa? Brrttt!” Suara Allan terdengar putus-putus.


“Kau sudah menemukan orang yang menembak tadi?” Tuan Mack pun mengulang pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya.


“A-pa Tuan? Suar-a anda tidak je-elas!” Suara Tuan Mack tadi terdengar tidak jelas oleh Allan dan suara Allan sendiri pun masih putus nyambung.


“Cih! Ada saja masalahnya. Halo halo. Tes tes. Apakah suaraku terdengar jelas olehmu Allan?” Tuan Mack pun mencoba lagi untuk kesekian kalinya.


“Lebi-ih mending Tu-an” Suara Allan terdengar lebih baik sekarang.


“Baguslah kalau begitu. Aku bertanya padamu terkait tugas yang diberikan tadi. Apakah sudah kau temukan orang itu?” Tuan Mack pun bertanya lagi untuk kesekian kalinya.


“Oh itu. A-ku hanya me-nemukan sebu-uah jejak disini. Kalau orangnya masih belum ditemukan. Nampaknya yang lain pun hanya menemukan jejak keberadaannya saja. Karena aku sudah menghubungi yang lain juga sebelumnya” Allan pun menyampaikan sesuatu yang sedikit kurang memuaskan.


“Puh! Begitu ya. Kau coba cari lagi Allan. Kalau dalam 10 menit, kau tidak menemukannya. Kembali saja ke titik awal oke. Ya sudah aku hanya ingin bertanya tentang itu” Tuan Mack pun menutup sambungannya kepada Allan.


HT milik Tuan Mack pun diletakkan kembali di saku celana yang ia pakai.


“Kita tunggu saja. Jika ada perkembangan, kita bagi saja nanti menjadi dua. Jika tidak ada perkembangan tentang sosok yang menyebabkan kita seperti, kita lanjutkan saja dan jangan pedulikan ia. Karena sosok yang seperti itu sangat rawan membunuh dan merusak semua rencana dan hasil yang kita dapatkan disini. Luka bahu dan betismu apakah sudah mulai membaik Girou?” tanya Tuan Mack kepadaku terkait luka tembakan beberapa waktu lalu.


“Rasa sakit dan perihnya sedikit demi sedikit mulai memudar. Cuma tidak sepenuhnya hilang. Kalau digerakkan secara masif, kemungkinan akan tetap sakit. Tapi mungkin kalau dipakai jalan mungkin masih bisa. Semoga luka ini dapat sembuh dalam waktu yang cepat serta tidak bertambah lagi luka atau sakitnya” aku membeberkan apa yang kurasakan.


Tuan Mack dan Tuan Mark pun hanya mengangguk-angguk saja.


Dan 10 menit yang terasa lambat hingga Tuan Mack kembali mengangkat HT-nya untuk mengabarkan Allan lagi.


“Halo Allan. Kembalilah jika tidak ketemu orangnya.”


“Sebentar Tuan. Kami menemukannya”


-To Be Continued-