Samurai Around The World

Samurai Around The World
Chapter 8: Kembali Ke Moskow.



Samurai Around The World #8


Sambil menunggu Gloria membuat teh untuk menemani pembicaraan, mereka pun melanjutkan diskusi yang sempat terputus tadi.


“Kalau boleh tahu, Ahmed Volk itu pernah melakukan misi seperti apa sih? Kok sampai kamu menyebutnya sebagai pengintai yang hebat, Igor?” Tanya Felix.


“Dia pernah mendapat informasi tentang berbagai alutsista rahasia AS saat perang dingin terjadi. Dia dengan mudah menyusup ke kantor CIA dan mendapat informasi yang diinginkan. Dia juga berkali-kali membobol sistem keamanan informasi dari FBI dan CIA untuk mendapat informasi yang dibutuhkan oleh militer Soviet. Dia berperan penting sebagai corong informasi Uni Soviet saat Perang Dingin berlangsung. Seperti itu sepak terjang mengerikannya di dunia informasi militer.” Igor menjelaskannya kepada Felix.


“Wow, mengerikan sekali. FBI dan CIA saja bisa ditembus. Ckckck, memang pantas dia mendapat gelar seperti itu.” Allan yang tersentak mendengar penjelasan Igor.


“Kalau dia sehebat itu, kenapa dia berhenti dari pekerjaannya?.” tanya Felix lagi.


“Aku juga kaget mendengar saat dia berhenti dari pekerjaannya. Aku tidak terlalu mengetahui alasannya. Tapi saat aku berkunjung ke Kazan beberapa tahun yang lalu, dia mengatakan padaku dia berhenti menjadi pengintai karena dia sangat kecewa kepadanya negaranya sendiri yang menyia-nyiakan usahanya saat perang dingin. Dan terbukti Uni Soviet bisa dibilang kalah di Perang Dingin dan itu membuat Volk sangat kecewa dan berhenti dari pekerjaannya.” jawab Igor.


“Dan karena kekecewaannya itu, aku menyarankan kalian bertemu dengannya. Mungkin dia dapat membalas kekecewaannya dan beraliansi dengan kalian.” tambah Igor.


Teh yang dibuat Gloria pun sudah jadi. Mereka semua pun menyeruput teh itu dalam-dalam. Mereka pun merasa hangat setelah meminum teh di malam di musim dingin tiba. Ternyata Gloria tidak hanya membuat teh, tapi juga membuat camilan hangat untuk menemani obrolan malam mereka. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka sampai tengah malam. Dan tidak terasa, teh dan camilan yang telah disajikan pun telah habis tak bersisa. Setelah makanan dan minuman habis, kantuk pun menyerang. Satu persatu dari mereka pun tumbang dan langsung menuju ke kamar. Felix dan Igor yang tetap bertahan sampai terakhir pun harus berakhir tidur di kasur di ruang tengah dan di sofa.


Di pagi hari di esok harinya, Girou yang bangun duluan pun melihat Allan, Alexander, Igor, Felix, dan Gloria yang masih tertidur di kasurnya. Girou pun enggan membangunkannya kembali lagi ke kamarnya mengambil peralatan peralatan mandi dan segera mandi. Mendengar suara grasak-grusuk dari Girou yang sedang mencari peralatan mandinya, Yamazaki pun ikut terbangun.


“Ehh, kau sudah bangun Yamazaki. Ohayou.”sapa Girou kepada Yamazaki.


“Selamat pagi juga Girou. Kau dari tadi grusak-grusuk ngapain sih?” tanya Yamazaki.


“Aku nyari peralatan mandi ku dimana. Dari tadi kucari kok nggak ketemu, apakah kamu melihat peralatan mandi milikku, Yamazaki?” Girou menanyakan dimana peralatan mandinya kepada Yamazaki.


“Kalau peralatan mandi tidak salah di koper yang diujung itu deh, coba kamu cari deh.”Jawab Yamazaki.


Girou pun langsung bergegas menuju ke koper yang ditunjuk oleh Yamazaki. Dan setelah membuka isi koper tersebut, ternyata peralatan mandi yang dicari Girou berada di koper itu. Setelah menemukannya Girou pun berterima kasih kepada Yamazaki.


“Terima kasih, Yamazaki” ucap Girou sambil tersenyum.


“Sama-sama, Girou.” balas Yamazaki.


Yamazaki pun bergegas mengambil peralatan mandinya dan mengikuti Girou untuk menuju kamar mandi. Di rumah milik Alexander memiliki 2 kamar mandi. Girou memakai kamar mandi yang kanan, sedangkan Yamazaki memakai kamar mandi yang kiri. Setelah selesai mandi, mereka melihat Felix dan Alexander yang sudah bangun.


“Eh, Tuan Felix dan Tuan Alexander sudah bangun, selamat pagi.” sapa Yamazaki kepada Felix dan Alexander.


“Selamat pagi juga, Yamazaki. Mana temanmu si Wilhiemma itu?” Felix menanyai Yamazaki dimana Wilhiemma.


“Biasalah, Tuan Felix. Anak itu masih nyaman berada di kasurnya. Aku tak ingin membuat masalah dengannya di pagi hari ini. Benarkan Girou?.” kata Yamazaki.


Girou pun mengangguk mengiyakan pernyataan Yamazaki.


“Memang kalian lebih baik tidak membuat masalah, dengan cara tidak membangunkannya terlebih dahulu. Kita kan


tidak mau pagi hari yang indah ini rusak olehnya. Kalian mau pagi hari yang indah kalian diisi oleh teriakannya? Kalau mau sih tidak apa-apa. Tapi aku sih mending menjauh darinya.” kata Felix sambil menyeringai.


“Ya mana mau pagi hari kami dirusak oleh Wilhiemma sialan itu” gerutu Yamazaki.


“Sudah-sudah gosip paginya. Mending kalian bangunin teman kalian Wilhiemma itu. Aku akan buatkan sarapan untuk kalian.”Alexander yang menenangkan Yamazaki.


“Ok lah kalau begitu aku akan mencoba membanunkan Wilhiemma. Tuan Felix membangunkan yang lain ya.” Yamazaki mengiyakan perintah Alexander.


“Haik, Yamazaki-sama.” celetuk Felix sambil tertawa.


Alexander, Girou, dan Yamazaki pun ikut tertawa mendengar celetukan Felix. Yamazaki pun langsung menuju kamarnya untuk membangunkan Wilhiemma. Girou pun mengikuti di belakang Yamazaki. Saat sampai di kamar, Yamazaki dan Girou melihat kasur yang berantakan akibat Wilhiemma yang mengigau. Yamazaki pun menghela napas melihat kamarnya berantakan. Yamazaki dan Girou pun langsung membangunkan Wilhiemma.


“Hei Wilhiemma. Ayo bangun sudah pagi!.” Yamazaki menggoyangkan tubuh Wilhiemma untuk membangunkannya.


Meskipun sudah digoyang-goyangkan oleh Yamazaki, Wilhiemma pun masih belum bangun dari tidurnya. Karena hal itu, Yamazaki pun geram melihat Wilhiemma yang masih belum bangun juga.


“Ayolah Wilhiemma, aku tidak ingin membuat masalah denganmu di pagi ini, jadi cepatlah bangun. Ini juga sudah pagi, jadi bangunlah, Wilhiemma.” Yamazaki memaksa Wilhiemma untuk bangun.


“Hoaaamm, iya iya aku bangun. Ah, ngantuk sekali!. Eh, kamu dan Girou sudah bersih dan rapi, kamu sudah


mandi?.” Tanya Wilhiemma.


“Aku dan Girou sudah mandi tadi. Mumpung belum ada yang mandi, kamu mandi sana. Enak kan mandi pagi-pagi, jadi kamu nggak ngantuk lagi.” saran Yamazaki


“Ya sudah aku akan mandi dulu, biar tidak ngantuk lagi. Hoooaamm!.” Wilhiemma pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan gontai mengambil peralatan mandinya.


“Ya sudah kalau kamu mau mandi, bergegaslah. Aku akan menunggu di bawah bersama Yamazaki.” kata Girou sambil berjalan keluar dari kamar Wilhiemma bersama Yamazaki.


“Ok, Girou.”


Saat Girou dan Yamazaki ke bawah, mereka melihat Igor, Allan, dan Gloria yang sudah bangun.


“Selamat pagi, Nona Gloria, Tuan Alexander, dan Allan.” Sapa Yamazaki.


“Selamat pagi juga, Yamazaki.” balas Gloria.


“Wilhiemma teman kalian itu mana? Masih belum bangun?.” tanya Alexander.


“Dia sudah bangun, dia masih mencari peralatan mandinya.” Jawab Yamazaki.


“Oh jadi seperti itu ya.”


Girou dan Yamazaki pun duduk di samping Allan yang masih mengantuk.


“Kenapa kamu masih mengantuk, Allan?” tanya Girou kepada Allan.


“Aku kemarin menemani ayahku begadang, jadi pagi ini aku masih mengantuk.” jawab Allan.


“Oh, karena itu kau masih mengantuk. Iya ya ya.”


Wilhiemma yang dari tadi mencari peralatan mandinya pun akhirnya keluar dari kamarnya.


“Ah, akhirnya kau keluar juga kau, Wilhiemma. Selamat pagi!” Felix menyapa Wilhiemma.


“Selamat pagi juga, Tuan Felix.” balas Wilhiemma.


Wilhiemma pun langsung pergi menuju kamar mandi. Karena melihat Wilhiemma mandi. Gloria pun berinisiatif juga untuk mandi dan bergegas kembali menuju kamarnya. Setelah Wilhiemma mandi, yang lain pun bergiliran mandi. Setelah semua selesai mandi, Alexander pun menyajikan makanan yang sudah dimasak.


“Nah pas sekali, makananku sudah jadi. Ayo semuanya sarapan pagi, makanannya enak loh.”panggil Alexander.


Mereka semua pun segera menuju ke meja makan yang sudah tersaji makanan di atasnya.


“Selamat makan.” ucap mereka bersama.


Mereka pun memakan dengan lahap. Bahkan Wilhiemma dan Allan sampai menambah porsi berkali-kali.


“Enak sekali makanannya, Tuan Alexander.” puji Wilhiemma.


“Iya, enak sekali makanannya.” sahut Allan.


“Ayo Wilhiemma tambah lagi makanannnya, Allan juga. Jangan mau kalah sama Wilhiemma.” kata Alexander.


“Siap, aku akan habiskan semua. Tenang saja.” celetuk Allan.


“Hei, kalau rakus bagi-bagilah. Bagi dua lah bos.” gertak Wilhiemma kepada Alexander.


“Iya iya kubagi dua, santailah bos.”


Dan dalam waktu sekejap makanan yang dimasak oleh Alexander. Melihat makanannya habis, Alexander pun merasa senang.


“Wah, habis tak bersisa. Emang makanannya enak banget ya?” tanya Alexander.


“Iya enak banget, beda dari biasanya, Alexander.” jawab Felix.


“Kau tambahkan apa di dalamnya, Alexander?” tanya Igor penasaran.


“Biasa aja sih, sebenarnya. Sama seperti biasanya.” jawab Alexander entreng.


"Mungkin perasaan kita aja yang membuat makanan ini enak.” kata Girou.


“Ya mungkin itu alasan kenapa makanan pagi ini lezat sekali.” Allan yang mengiyakan pernyataan Girou.


“Ya sudah kalau sudah selesai makannya, segera dibersihkan piring-piringnya.” suruh Igor.


“Siap”


Mereka pun membersihkan peralatan makan mereka secara bergantian. Setelah selesai membersihkan piring dan peralatan makan, Felix mengajak Girou dan lainnnya untuk berkumpul di ruang tengah.


“Yang sudah selesai bersih-bersih piringnya, ayo ikut aku ke ruang tengah. Aku ingin berbicara dengan kalian.” pinta Felix.


Girou dan Yamazaki pun saling berpandangan. Mau bicara tentang apa?


Setelah semua telah berkumpul di ruang tengah, Felix pun langsung membuka diskusi.


“Maaf ya, sedikit terburu-buru tadi. Tapi tidak apa, karena semuanya sudah disini. Nah, langsung kita mulai saja. Kemarin malam saya, Allan, Alexander, dan Gloria berdiskusi terkait tujuan Igor kemari, dan aku salah kira, ternyata niat Igor kesini murni dari kemauan dirinya sendiri. Dan kemarin Igor memberi tahu kami tentang salah satu mantan


bawahannya yang bernama Ahmed Volk, dia adalah pengintai atau pencari informasi yang handal. Volk sekarang sudah tidak bekerja lagi sebagai pengintai Soviet karena kecewa kepada negaranya sendiri karena sudah menyia-nyiakan usahanya waktu Uni Soviet masih berperang. Nah, mungkin kita dapat mengajak Volk beraliansi dengan kita, karena kita memiliki satu visi dengannya. Bagaimana?" tanya Felix.


“Ya aku sih setuju untuk mengajak Volk menjadi aliansi bersama kita. Tapi dimana kita dapat menemuinya?” tanya Girou penasaran.


“Aku pernah menemuinya di Kazan beberapa tahun lalu. Dan aku masih ingat dimana rumahnya. Semoga saja dia masih disitu.” jawab Igor.


“Oh jadi dia tinggal di Kazan. Kapan kita menemuinya?” tanya Wilhiemma.


“Secepatnya kita akan menemui Volk di Kazan. Bagaimana kalau hari ini kita ke Kazan?” usul Igor.


Ruangan pun hening seketika.


“Hmmm, boleh sih kalau kita kesana hari ini. Ok lah kalau kita pergi hari ini. Yang lain bagaimana?” Girou mengiyakan usul Igor.


Felix pun mengangguk, yang lain pun ikut mengangguk. Yang berarti mereka setuju untuk pergi ke Kazan hari ini. Igor pun menyuruh Alexander untuk menyiapkan mobil untuk digunakan untuk pergi menuju Kazan. Yang lain pun menyiapkan barang-barang bawaan yang dibutuhkan. Setelah siap, mereka pun segera memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Alexander.


“Kalau semua sudah siap, ayo berangkat!!” teriak Alexander.


“Ayo!!”


Mereka pun berangkat dari Moskow menuju Kazan pada pagi hari menjelang sore hari. Mereka pun menempuh jarak sekitar 850 km dan menghabiskan waktu sekitar 13 jam. Mereka pun sampai di Kazan pada tengah malam, mereka pun memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan menunggu pagi hari tiba. Mereka pun beristirahat sejenak di penginapan tersebut hingga pagi hari tiba. Pada pagi hari tiba, mereka pun bergegas berangkat menuju rumah milik Ahmed Volk.


-To Be Continued-